
Angin berhembus pelan, awan mendung menutup langit seolah ikut bersedih melihat tumpukan tanah basah yang ditaburi bunga. Siapa kita yang bisa menolak kematian? Siapa kita yang bisa mengatakan tidak saat orang yang kita sayangi dan cintai pergi kehadapan-Nya, rahasia tentang hidup dan mati sudah ada di tangan pencipta, manusia harus bisa menerima sekalipun hati belum ikhlas melepaskan
Begitulah kehidupan akan terus berjalan, ada yang datang dan ada yang pergi, sebagai pengingat kalau dunia ini memang sebagai panggung pentas dan manusia sebagai aktor, jika perannya usai maka ia akan keluar dari panggung
Isak pilu penuh air mata menghiasi kepergian sosok laki-laki yang sudah memberi warna untuk hidup banyak orang, laki-laki yang sedang berjuang untuk menghalalkan pilihan hatinya, namun perjuangan harus terhenti karena ternyata pencipta memilih memanggilnya terlebih dulu
"Ikhlaskan dia agar tenang disisi pencipta" mudah mengucapkan kata itu tapi merealisasikannya adalah hal yang sulit
"Sabar ya, artinya tuhan lebih menyayanginya" tak secepat dan semudah itu menerima, kadang hati perlu beberapa hari bahkan ada yang tak kunjung sembuh untuk menjalani dengan sabar tanpa dia
"Reyna" Aqila memegang pundak adiknya yang masih bergetar memeluk nisan putih yang tertulis 'Panil Ipnan Admajaya'. Orang yang ia cintai benar-benar telah pergi untuk selamanya
Aqila hanya memberi sebuah pelukan bukan kata-kata, karena untuk orang yang kehilangan kata-kata yang keluar dari mulut kita bagai angin lalu, ikhlas dan sabar yang terucap tak semudah itu untuk dilakukan
Regan, Naufal, Gempano, Vian juga beberapa anggota Felis Catus yang sempat hadir menundukkan kepala mereka, mengucapkan selamat jalan pada Panil, sosok yang telah memberi banyak warna dalam kisah pertemanan mereka
"Kenapa dia pergi?" Suara Reyna hanya lirih terdengar, cobaan ini begitu mendadak dan tak pernah terbayang dalam kepalanya. Ia hanya mengikuti Kirana kerumah sakit tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi, ia mencoba meminta penjelasan pada mereka yang duduk diam didepan UGD tapi semua tak sanggup bicara, Aqila hanya memintanya duduk disebelahnya dan menunggu. Tapi ia bingung harus menunggu apa? Terlebih ada orang tua panil yang juga turut hadir disana
Hingga pintu ruangan itu terbuka, dokter keluar dengan menangkupkan tangan dan menggelengkan kepala
__ADS_1
"Kerusakan pada bagian otak pasien sangat parah, maaf tuhan lebih menyayanginya"
Kalimat yang membuat ia bingung dan ingin melihat siapa yang dimaksud dokter disana, Ibu Panil langsung pingsan setelah dokter mengatakan itu, Reyna menolak apa yang terbesit dalam pikirannya, ia menerobos masuk kedalam ruangan itu, melepas tangan Aqila yang memegangnya begitu saja
Tubuhya luruh, air mata turun begitu saja, ia ingin menolak apa yang ia lihat sekarang saat tubuh orang yang ia cintai terbujur kaku dengan wajah pucat di brankar rumah sakit
Rian yang berdiri dibelakang adiknya hanya bisa termatung, tak menyangka laki-laki yang kemarin terus berusaha meminta restunya sudah ada dihadapan pencipta
"Panil adalah sahabat kita, saudara kita dan seperti keluarga untuk kita semua. Dia telah memberi banyak warna untuk menghias hari-hari kita, mari kida do'akan bersama sebagai hadiah untuk dirinya yang sudah membuat kita banyak tertawa dengan tingkahnya dan mari kita maafkan dengan ikhlas jika ada kesalahannya yang ia sengaja maupun tak ia sengaja saat bersama kita" ucap Naufal membuat mereka yang ada disana mengangguk dan mengangkat tangan untuk berdo'a yang dipimpin langsung oleh ketua Felis Catus itu
.
Rembulan bersinar dilangit malam, jutaan bintang menemani dengan cahaya indahnya, angin menciptakan bunyi pada daun pohon yang bergesekan satu sama lain, menerbangkan dedaunan kering yang jatuh berguguran, sekaligus sebagai pengantar rindu yang sudah tak bisa di ucapkan lewat perkataan
Tak ada yang pantas disalahkan, ia hanya perlu memperbaiki hati untuk mengikhlaskan. Tak semudah itu memang tapi tak ada yang baik juga jika hanya berlarut dalam kesedihan. Kehilangan adalah sesuatu hal yang wajar dalam kehidupan. Semua orang pasti pernah merasakan arti kehilangan dalam hidup mereka
"Maaf" suara orang yang tiba-tiba duduk disebelahnya cukup membuat Reyna terkejut, mungkin ia terlalu fokus pada pikirannya hingga tak mendengar suara pintu yang terbuka
"Kenapa Kak Rian minta maaf?"
__ADS_1
"Mungkin kalau kakak merestui kalian ini tidak akan terjadi"
"Tidak ada hubungannya kak, tuhan memang sudah mentakdirkan seperti itu" Reyna menggelengkan kepalanya, tak ada yang salah dalam hal ini
"Ternyata kakak salah menilai"
"Apa?"
"Kamu sudah tumbuh menjadi dewasa sekarang" Rian mengelus surai adik bungsunya, ia tak pernah menyangka kalau waktu begitu cepat berlalu, meninggalkan berbagai hal termasuk pelajaran tentang arti kehidupan untuk bisa melangkah kedepan dengan lebih baik lagi. Seperti sekarang, mulai dari masalah Aqila mereka belajar lebih bisa bersikap adil untuk kedepannya dan sekarang Reyna yang selalu ia anggap manja ternyata mulai tumbuh dewasa dengan pemikirannya yang semakin berubah
"Mau bagaimana lagi? Aku sadar kalau keadaan yang kadang memaksa seseorang tumbuh dewasa, ia harus bisa mengimbangi pemikirannya dengan kondisi yang ia hadapi sekarang, jika tidak ia sendiri yang akan tenggelam dalam lubang yang dalam" Rian hanya tersenyum mendengarnya
"Mengikhlaskan memang tak mudah, tapi kita bisa untuk mencoba, yakinkan diri kalau ada rencana indah yang tuhan siapkan dibaliknya"
"Aku mengerti, dari Kak Aqila aku belajar kalau tuhan memang tak pernah tidur, ia mendengar dan melihat bagaimana perjuangan hambanya untuk mendapat sesuatu"
"Berjuang tak harus tentang mendapat cinta, tapi berjuang juga termasuk untuk melepaskan dan mengikhlaskan"
"Aku akan berjuang untuk itu, untuk sekarang aku hanya masih tak menyangka kalau perpisahan itu secepat ini dan dengan cara yang seperti ini"
__ADS_1
"Perpisahan memang selalu meninggalkan luka dan kadang tak terduga, dari sanalah kita belajar kalau jangan berlebihan saat mencintai karena saat pergi ia akan meninggalkan bekas yang sulit untuk hilang"
"Disanalah letak kesalahanku, mencintainya seperti lem yang merekat kuat, hingga saat dipisah akan meninggalkan bekas"