
Apa yang lebih bahagia untuk Aqila daripada ini? Melihat anak laki-lakinya bermain bersama sang ayah dengan bahagia dihalaman rumah, dan putrinya yang sedang membantu meletakkan cookies yang baru selesai mereka panggang diatas piring, sesuatu yang takut ia mimpikan dulu
"Hati-hati sayang, masih panas" ia memegang kaki putrinya yang berada terlalu dekat dengan loyang yang baru saja dikeluarkan dari oven
"Ila suka coklat" anak itu memindahkan satu persatu cookies coklat yang telah selesai dipanggang kedalam piring
"Kenapa?" Aqila menuangkan air panas dalam cangkir teh yang akan disajikan
"Karena coklat enak, coklat bisa bikin kita bahagia"
"Kalau permen Ila nggak suka?"
"Suka, tapi pelmen bikin sakit gigi"
"Permen nggak bikin sakit kalau nggak berlebihan, coklat juga nggak baik dikonsumsi kalau berlebihan"
"Emmm" anak itu hanya mengangguk mendengar penuturan ibunya
"Sekarang bawa keluar, Ila bisa kan?" Ia mengangguk dengan semangat dan mengangkat piring berisi cookies ke halaman belakang, rencananya mereka akan membuat ala ala piknik dihalaman belakang
"Main bolanya nanti dilanjut lagi" Aqila membentangkan tikar dibawah pohon mangga yang lumayan rimbun untuk menghalau cahaya matahari, beruntung tidak banyak semut disana
"Yeay, makan" Bilal yang paling semangat, anak itu langsung meninggalkan Naufal yang menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya
"Pelan-pelan masih panas" Aqila memperingatkan putranya yang langsung mengambil secangkir teh diatas nampan
"Umm enak"
"Rian ngundang kita nanti malam, mereka buat acara dirumah" Ucap Naufal saat Aqila menyodorkan secangkir teh padanya
"Acara apa?"
"Rani hamil, dia belum beritau?" Aqila terkejut sampai sedikit menumpahkan teh yang ia pegang ketangannya
"Awshhh"
"Bunda hati-hati" Aqila malah tersenyum saat mereka bertiga berucap bersamaan
"Kenapa Kak Rian nggak ngasih tau?" Topik kembali kearah Rian
"Mungkin lupa atau bikin kejutan?"
"Dia pasti lupa sama adiknya saking senangnya"
__ADS_1
"Mungkin, soalnya dia ngasih tau juga kepepet kemarin pas nggak sengaja ketemu di restoran"
"Syukurlah ia bisa merasakan peran seorang ayah" Aqila tentu turut senang mendengar itu
"Kapan kita jadi pergi ke lombok?"
"Bukkannya udah sepakat sesuai perjanjian? Minggu depan kan?" Aqila mengernyitkan dahinya heran, mereka pernah membahas ini. Mereka akan pergi liburan ke pulau seribu masjid itu tentu bukan hanya keluarga mereka, tapi semuanya. Hanya saja Rian dipastikan tidak akan ikut karena Aqila tau bagaimana khawatirnya ia pada istrinya
"Kak Devan, Kak Darren, dan Kak Davin ikut?"
"Kalau Kak Devan kemungkinan sibuk sama perusahaan, Kak Darren di rumah sakit dan Kak Davin juga sama"
"Mama papa ikut?"
"Bisa jadi" Aqila juga menanyakan perihal liburan ini pada orang tuanya kemarin tapi mereka menjawab 'lihat saja nanti'
"Kak Ucup ikut?" Layla ikut dalam pembahasa kedua orang tuanya
"Mungkin, nanti kita tanya Paman Devan" untuk Devano dan Darren anak-anak menanggil paman, untuk Rian dia lebih suka di panggil uncle dengan alasan terdengar muda, padahal sama saja
"Kalau Kak Zevan ama Gablil ikut?"
"Nanti kita tanya Aunty Kiran dulu"
"Lama"
"Libulannya masih lama lagi"
"Sesuatu yang menyenangkan akan terasa lama jika ditunggu, tapi sebaliknya waktu akan berjalan cepat jika yang kita tunggu adalah hal yang tidak kita inginkan" Bilal mengangguk tak bertanya lagi, ia fokus mencelupkan cookies pada teh yang perlahan dingin
"Kenapa?" Aqila heran melihat Naufal yang sedang menatapnya
"Kamu terlihat semakin kurus"
"Mungkin karena kelelahan" balas Aqila, ia memang merasa sering lelah beberapa hari terakhir
"Jangan terlalu paksakan diri, istirahat yang cukup" Aqila mengangguk, ia kadang tak sibuk karena anak-anak yang tak rewel
.
Malam harinya mereka datang memenuhi undangan Ryan, hanya keluarga besar dan orang tua Rani saja yang hadir, ini sebagai bentuk ungkapan rasa syukurnya atas kepercayaan yang diberikan Allah padanya
Baru saja memasuki rumah, Bilal dan Layla langsung menghampiri perkumpulan sepupunya di bawah sofa, para anak itu seperti mendiskusikan topik yang sok serius
__ADS_1
"Kan benar dugaanku kemarin" ucapnya menyalami tangan Rian dan Rani, memberikan selamat pada dua pasangan yang akhirnya diberikan amanah setelah lima tahun pernikahan mereka
"Selamat ya kak" Rani hanya tersenyum saat adik iparnya itu mencium tangannya. Ia senior Aqila dulu dikampus, mereka hanya bertemu saat-saat tertentu, hanya saja mereka belum saling kenal saat itu
"Kamu keliatan makin kurus nak, jangan terlalu banyak pikiran" Mama Intan mengusap kepalanya saat Aqila bersalaman. Ia memperhatikan sejak pernikahan Reyna, Aqila terlihat semakin kurus
"Nggak banyak kok, Kak Naufal sering bantu-bantu juga" Aqila sampai heran, apa ia terlihat semakin kurus?, padahal ia merasa tak ada yang salah pada waktu tidur dan makannya
"Aqila kedapur dulu bantuin yang lain" Ia berjalan kearah dapur, tapi hanya melihat Diana disana yang sedang mengelap piring
"Kak Diana sendiri?"
"Yang lain ada pekerjaan masing-masing"
"Qil" Aqila memberikan respon terkejut saat tiba-tiba Diana menyentuh tangannya yang memegang piring, untung benda itu tak pecah
"Kenapa kak?"
"Bisa datang kerumah sakit besok?"
"Siapa yang sakit?" Aqila mengangkat sebelah alisnya, kalau ada yang sakit pasti tak mungkin acara ini bisa berjalan
"Kakak tak bermaksud apa-apa atau berpikiran seperti ini, tapi tak ada salahnya untuk mencoba"
"Apa?"
"Kakak perhatikan tubuhmu semakin kurus, wajahmu terlihat sedikit pucat, kakak sangat benci mengatakan ini, tapi ingat kalau kanker adalah penyakit yang tak sepenuhnya bisa sembuh terlebih jika sudah ganas. Dokter manapun tak ada yang berani memberikan jaminan kanker bisa sembuh seratus persen, kamu pahamkan maksud kakak?" Diana sebagai dokter spesialis onkologi tak pernah meragukan bagaimana luar biasanya perawatan yang diterima Aqila di mayoclinic, rumah sakit penanganan kanker terbaik di dunia. Rumah sakit yang disebut nomor 1 didunia karena banyaknya pasien kanker yang berhasil sembuh
"Remisi, itu kata dokter kak" lirih Aqila. Remisi artinya kalau sel kanker sudah bersih dan tidak terdeteksi lagi, dokter tidak mengatakan sembuh
"Remisi bukan artinya sembuh total, kanker itu penyakit cerdas yang bisa berpura-pura, bahkan setelah bertahun-tahun lamanya" Aqila termenung sejenak, sudah hampir sepuluh tahun lamanya sejak ia menjalani operasi menyakitkan itu
"Jangan takut, kita hanya waspada, maaf kalau kakak membuatmu takut" Aqila menggelengkan kepalanya
"Aku akan pergi besok" ucapnya
"Mama dipanggil nenek" Zara muncul dari pintu dapur
"Iya, mama kesana" Diana menepuk lengan Aqila sebelum pergi, ia tersenyum untuk menguatkan
Aqila melihat anak-anaknya bermain disana, tertawa dengan para sepupunya dan Naufal, suaminya yang sedang berbincang hangat dengan keluarganya
Apa ia sanggup pergi meninggalkan semua ini?
__ADS_1
.
Banyak Typo...🙏🙏🙏