Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Papa Egois


__ADS_3

Cahaya rembulan memasuki musim panas bersinar terang, hembusan angin semilir yang bertiup perlahan menerbangkan gorden jendela dari celah yang sedikit terbuka


Papa Arya mengusap air mata Aqila perlahan sampai tak sadar kalau air matanya turut menetes membasahi tangan putrinya


"Apa sesakit itu? Bahkan dalam tidurmu kamu masih menangis nak?" Tanyanya dengan suara lirih, menatap Aqila yang sudah tertidur tapi masih ada setetes air mata yang jatuh dari sudut matanya


"Apa yang sakit hmm? kenapa Aqila menyembunyikan semuanya sendiri? Papa ada disini agar Aqila tak sendiri lagi, Aqila mau siapa? Mau mama? Besok mama datang nemuin Aqila, mau Kak Devan? Kak Darren, Kak Rian atau Reyna? semua ada untuk Aqila"


"Atau Aqila mau Naufal? Kata Rian dia udah bisa ingat semuanya tentang Aqila"


"Jadi sekarang giliran Aqila yang harus sembuh"


"Banyak orang yang menunggu Aqila disini, tolong jangan pernah berfikir untuk pergi" Papa Arya menutup matanya sesenggukan seiring dengan suaranya yang mulai menghilang


"Aqila cuma ngerepotin aja ya pah?" tanya Aqila dengan suara lirih, ia terbangun saat merasakan sesuatu menetes membasahi tangannya, ternyata sang papa yang sedang menangis


"Stop ngomong kayak gitu lagi ya? Aqila bisa kan?" Papa Arya sedikit terkejut melihat Aqila terbangun, tapi lebih terkejut lagi mendengar kalimat yang keluar dari mulut putrinya


"Papa senang direpotin sama Aqila, Aqila dengarkan? Papa senang direpotin"


"Papa bohong, kalau gitu kenapa papa nangis?" ibarat seorang anak kecil yang bertanya alasan yang tidak bisa dicerna dengan mudah oleh otaknya


"Papa nangis liat Aqila kayak gini, papa nangis karena Aqila nggak mau cerita sama papa, papa nangis karena Aqila mendam semuanya sendiri, papa nangis karena nggak bisa bantu Aqila ngurangin rasa sakit itu, papa nangis karena nggak bisa jadi sekuat Aqila dan papa nangis karena penyesalan terdalam papa untuk semua yang telah terjadi"


"Jangan pernah sekalipun terpikir dalam kepala Aqila kata-kata hanya merepotkan, hanya beban, tidak berguna, karena itu memang tugas papa sebagai orang tua"

__ADS_1


"Maaf" Papa Arya menggeleng menggenggam tangan putrinya


"Papa nggak butuh kata maaf, tapi papa mau minta sesuatu sama Aqila, boleh?"


"Papa mau minta apa?" tanya Aqila dengan bibir yang pucat


"Tolong bagi rasa sakit Aqila sama papa, jangan pernah lagi pendam semuanya sendiri, hati Aqila udah terlalu capek buat nanggung semuanya, itu kan yang dulu Aqila bilang?"


"Aqila hanya capek, tolong beri Aqila waktu untuk bisa mengalah lagi" Papa Arya mengikuti ucapan Aqila yang benar-benar membuat dirinya jatuh kelubang yang begitu dalam


"Sekarang Aqila jangan ngalah lagi ya?, Aqila capek? Pundak papa masih kuat buat bantu Aqila, tapi tolong jangan ngalah lagi kali ini, Aqila harus lawan semua rasa sakit itu, jangan biarkan dia yang menang"


"Itu permintaan papa yang pertama, tolong jangan ngalah lagi kali ini bisa kan?" Papa Arya menatap netra indah putrinya yang seperti menyimpan luka dalam yang sulit sekali untuk dijangkau


"Aqila pernah bilang dulu kan? Aqila nggak berani janji tapi usaha" Papa Arya mengangguk mengusap kepala Aqila yang mulai ditumbuhi rambut-rambut tipis


"Papa orang tua yang gagal karena nggak bisa ngerti mana wajah putrinya yang berasal dari hati, papa gagal karena nggak bisa jadi orang tua yang berguna buat Aqila, papa benar-benar gagal" untuk pertama kalinya Aqila melihat Papa Arya menangis seperti ini, padahal saat dirumah ia lebih sering melihat wajah papanya tersenyum saat berkumpul bersama


"Aqila juga bingung dengan diri Aqila sendiri" setelah terdiam cukup lama menatap papanya dengan mata yang mulai memerah, Aqila akhirnya berbicara


"Aqila sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini dari dulu, dengan wajah seperti ini dan rasa sakit yang lebih baik terpendam, hingga sampai sekarang Aqila bingung dengan semua yang terjadi, bukan Aqila tak ingin bercerita tapi Aqila merasa seperti..." Aqila menjeda kalimatnya sejenak


"Orang asing" lirihnya hampir tak bersuara, dua kata terakhir yang di ucapkan Aqila seperti membuat Papa Arya jatuh ke dalam lubang penyesalan yang amat dalam hingga terasa mustahil untuk bisa kembali lagi keatas


Luka yang terpendam dan dialaiminya dari kecil tak bisa hilang atau terhapus begitu saja dari bayangan, kenangan tetaplah kenangan yang diingat sebagai peristiwa yang telah memberi warna pada hidup, entah denga warna yang indah atau warna yang gelap. Disaat Aqila selalu berusaha melupakan semuanya tentang itu dan berusaha menerima semuanya, kenangan itu terus berputar begitu saja layaknya sebuah film dalam otaknya.

__ADS_1


Terbiasa dengan kesendirian, membuat dirinya cukup sulit untuk terbuka, terbiasa memendam semuanya sendiri membuat dirinya selalu merasa mampu menangani segala hal, terbiasa dengan wajah palsu yang selalu tersenyum membuat dirinya cukup kesulitan mengekspresikan wajah yang sesungguhnya di depan banyak orang, terbiasa merasa seperti terasingkan dulu membuat dirinya sekarang seperti orang asing dalam keluarganya bahkan di kondisi seperti ini


"Aku tak pernah bohong kalau impian terbesarku dulu adalah saat kalian mulai melihatku, peduli, dan diperlakukan seperti saudaraku yang lain"


"Tapi kenapa saat Aqila mendapatkannya, Aqila merasa..."


"Sttt" Papa Arya menaruh jari telunjuknya di depan bibir Aqila


"Jangan ngomong gitu lagi ya? Sekarang jangan ada kata seperti itu, Aqila pahamkan maksud papa?" Aqila mengangguk sesaat kemudian ia tersenyum


"Aqila nggak salah dengarkan tadi kalau dia sudah ingat semuanya?" Tanyanya tanpa menghadap wajah sang Papa


Papa Arya yang mengerti maksud kata 'dia' itu lantas mengangguk membenarkan


"Rian bilang seperti itu, dia bahkan rela datang pagi-pagi ke rumah demi menanyakan keberadaan Aqila" ungkap Papa Arya


"Aqila mau kan sembuh demi dia?" Pertanyaan Papa Arya membuat Aqila menggeleng


"Kenapa?"


"Untuk sekarang Aqila nggak mau mengurus masalah hati dengan sesama manusia, di saat-saat ini Aqila ingin lebih dekat kepada-Nya, yang menciptakan segalanya"


"Bagaimana jika Aqila besok pergi tapi tak membawa apa-apa?, padahal Aqila udah hidup selama hampir dua puluh tahun" lirihnya


"Aqila" Papa Arya memanggil nama putrinya dengan lembut

__ADS_1


"Ingat ini baik-baik, kalimat yang nggak boleh Aqila ucapin itu, aku cuma ngerepotin, aku seperti orang asing, dan aku akan pergi, ingat tiga kalimat itu haram hukumnya Aqila ucapkan, ngerti kan?" tekan Papa Arya pada setiap kalimat itu


"Papa egois" ucap Aqila tiba-tiba


__ADS_2