
Dari balik jendela kamarnya, Aqila menatap langit berwarna jingga kemerahan, setelah sholat magrib, ia memilih duduk di pinggir jendela, memandang lampu rumah penduduk, lampu jalan dan lampu gedung-gedung itu mulai menyala
Pandangannya tertuju pada rumah diseberang jalan, rumah Reynald. Saat ia kadang sendiri disini, karena keluarganya punya kegiatan masing-masing di Indonesia, ia akan pergi kesana, terkadang Ibu Reynald yang mengajaknya makan bersama, Ayah Reynald yang seorang petani buah selalu membagikan buah padanya setelah panen, dan Reynald Aqila bahkan sudah menganggap laki-laki itu sebagai saudara sendiri. Reynald mengajaknya melihat bintang atau kala terjadi fenomena langit yang hanya terjadi beberapa tahun dan menjelaskan apa yang belum diketahui, dokter gigi yang dikenal cukup kaku itu bisa berubah seratus delapan puluh derajat saat bersamanya atau saat bersama pasien kecilnya di tempat praktik
Aqila kadang heran sendiri dengan takdir dan waktu, setiap keluarganya pulang ke Indonesia, entah bagaimana terjadi tapi pasti ia selalu ada kegiatan lain disini, hingga tak bisa ikut pulang, mulai dari pemberitahuan kontrol ke rumah sakit, kegiatan kampus, dan bahkan tugas-tugas yang cukup menguras energi dan membuat kepalanya berfikir keras
Saat pernikahan Darrenpun ia tak hadir disana, karena harus melepaskan jahitan dikepalanya, Aqila benar-benar lupa akan hal itu, dan meminta maaf sebesar-besarnya
Tapi saat ada hari raya idul fitri atau idul adha, mereka akan merayakannya disini, karena saat-saat itu ada beberapa kelas penting yang tak bisa ia tinggalkan dikampus
Masuk ke fakultas bisnis dan mengambil jurusan bisnis management, jurusan yang berbeda dari kuliah sebelumnya, tak membuat Aqila terlalu kesulitan karena ada Papa Arya, Devano dan Rian tempatnya bertanya hal atau istilah yang kurang dimengerti
"Aku pasti merindukan semua yang ada disini" ucapnya pelan
"Gedung-gedung itu, jalan itu yang sering kulewati, rumah ini, rumah didepan sana, dan orang-orang yang aku temui disini, teman-teman kampus, dan Reynald. Aku pasti merindukan semuanya"
Memang tak pernah ada yang abadi di dunia ini, semuanya hanya sementara, pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan
Aqila kembali kedalam kamarnya, membuka lemari dan mulai menyusun baju-baju itu kedalam koper, saatnya ia kembali ke negaranya, menyelesaikan hal yang mungkin ia tinggalkan disana, atau menemui seseorang yang mungkin sudah lama menanti kedatangannya
Ting
Sebuah cincin emas jatuh saat Aqila menarik pakaian yang berada paling bawah di rak atas lemari itu
"Cincin?"
"Cincin siapa ini?" saat Aqila memperhatikan lebih jelas benda itu, sebuah ingatan buram terlintas dalam kepalanya
"Aqila bisa jaga Zara sebentar? Kakak ada urusan sama Kak Diana diluar" Darren membuka pintu kamar itu, Aqila dengan sigap langsung menyembunyikan cincin itu, ia akan menanyakan ini nanti pada yang lain
"Bilang aja mau kencan" gumam Aqila sedikit mendengus, tapi ia tetap keluar menemui keponakannyan setelah melepas mukenah yang dikenakan
"Jaga baik-baik, jangan ajari hal-hal yang salah" peringat Darren sebelum benar-benar pergi
"Cerewet! Kalau gitu ngapain nitip ke Aqila?" Darren memijit pelipisnya, masalahnya Zara hanya bisa betah dan kalem saat bersama Aqila. Sedangkan Diana sudah merasa tak enak kepada adiknya
__ADS_1
"Iya kakak minta maaf, jaga Zara baik-baik"
"Hmmm"
"Aqila bisa jaga Yusuf? Kakak ada urusan sebentar" Baru saja kepergian Darren, sekarang Devano yang datang
"Kakak mau kemana?" Aqila memicingkan matanya
"Kakak mau mmm bertemu client sebentar" Aqila menilai penampilan Devano daribatas sampai bawah, bertemu Client? Dengan jaket hitam yang robek pada bagian lengan, Celana kain dan topi senada dari salah satu brand produk terkenal
"Ketemu Client penampilannya gini ya?, jujur aja mau berdua sama istri" gumam Aqila
"Aqila maaf ya, Kak Devan mau...mmm" Devano membungkam mulut istrinya, Diva memang tak bisa diajari untuk berbohong. Hatinya terlalu bersih untuk hal-hal yang kotor
"Nggak papa kak, Aqila ngerti" Aqila sedikit tersenyum, dengan sengaja ia menginjak kaki Devano saat lewat dihadapan kakak laki-lakinya itu
"Akhh"
"Eh maaf kak, Aqila pikir lantai tadi" Ucapnya menutup mulut seolah terkejut padahal dalam hatinya ia sudah tertawa melihat ekspresi Devano
"Ehh, tumben banget"
"Katanya mau beli oleh-oleh, aku nginep dihotel malam ini, jangan rindu ya, bye" Kirana melambaikan tangannya
"Assalamu'alaikum" ucap Aqila mengingatkan
"Wa'alaikumussalam" Jawab Kirana sedikit berteriak
"Huh" Aqila menggelengkan kepalanya, Mama Intan, Papa Arya dan Reyna juga pamit pergi tadi katanya beli oleh-oleh sebelum pulang. Mereka mengajak Aqila, namun Aqila menolak dengan alasan harus mengemas banyak barang. Kini tersisalah ia, Rian dan dua keponakannya dirumah itu.
"Kak Rian mau pergi juga?" Aqila berkacak pinggang melihat laki-laki itu bangkit dari sofa
"Pergi apanya? Kakak mau ambil air di dapur" jawabnya sedikit sewot
"Aunty Qilla, Yusuf pengen pipis"
__ADS_1
"Yusuf bisa pergi kekamar mandi sendiri kan? Yusuf sudah besar loh" ucap Aqila lembut, mengajari anak kecil tidak boleh dengan membentak mereka
"Uncel Ian bilang, disana ada kecoa, Yusuf takut"
"Kak Rian!"
"Apa?" Laki-laki itu bertanya tanpa ada rasa bersalah sama sekali
"Temani Yusuf ke kamar mandi, dia takut karena kakak bilang disana ada kecoa"
"Uncle becanda Yusuf, disana nggak ada apa-apa"
"Nggak mau, takut" Aqila tertawa mengejek kearah Rian, siapa suruh dia menakutinya, sekalinya dibohongi anak kecil itu tetap tak akan percaya
"Yaudah ayo" Rian dengan berat hati melakukannya
"Zara lagi gambar apa?"
"Byby shalk" balita dua tahun itu menunjukkan kertas putih yang sudah dicoret dengan warna-warna tak beraturan dari krayon
"Oowh Baby shark?"
"Byby Shalk" ucapnya dengan suara yang menggemaskan
"Aunty Qilla, Yusuf lapal" Baru saja Aqila menyalakan handphonenya, suara Yusuf kembali terdengar
"Loh, Yusuf belum makan?"
"Dia tidur tadi saat disuruh makan" Jawab Rian, laki-laki itu mendudukkan dirinya disamping sofa dekat Zara
"Sebentar ya aunty liat dulu didapur"
"Kak Rian jangan lupa jaga"
"Hmmm"
__ADS_1
Aqila kembali dengan beberapa lembar roti panggang dan selai coklat, ia ingat belum lima menit ia pergi kedapur, Rian sudah tertidur