
"Kamu tuh nggak berguna"
"Cuma ngerepotin"
Kata-kata itu terus terngiang dalam kepala Aqila hingga sudah tak memperdulikan lagi suara sekitarnya, atau suara orang-orang yang memperingatkan dirinya, kepalanya seperti sudah dikuasai pikiran-pikiran negatif
Hingga kesadarannya kembali ditarik saat seseorang menarik tangannya dengan keras hingga ia dan orang itu tersungkur di trotoar jalan
"YOU CRAZY!" Maki laki-laki tersebut sambil membersihkan siku dan lututnya yang terlihat mengeluarkan darah
"Sorry"
Orang-orang sekitar sedikit memperhatikan namun saat mereka berdua mengatakan tak ada apa, orang-orang itu mengangguk lantas pergi untuk melanjutkan perjalanan
"AQILA" Papa Arya datang dan langsung memeluk putrinya erat, jantungnya sudah seperti tak berfungsi lagi saat melihat putrinya didepan sana tadi tapi beruntung ada laki-laki yang segera menariknya ke trotoar
"Papa" Aqila ikut memeluk Papa Arya erat dan meluapkan tangisnya disana, ada perasaan bersalah yang dalam dirinya karena bermaksud melakukan perbuatan yang begitu dibenci sang pencipta, entah setan apa yang sedang merasuki pikirannya sampai ia terpengaruh melakukan hal itu
"Thank you for saving my daughter" Laki-laki berambut kecoklatan dengan mata biru yang indah itu mengangguk, niatnya hendak marah kepada Aqila seperti lenyap begitu saja saat melihat gadis itu juga masih syok dengan peristiwa yang baru saja dialaminya
.
Dibenua yang berbeda dengan jarak ribuan kilo yang membentang, seorang hamba mengadu kepada sang kuasa, mengadu tentang hidupnya yang seperti kehilangan dan hatinya dipenuhi rasa bersalah, sedangkan ia sendiri masih bingung apa yang menjadi penyebab itu semua
"Dia ada dalam mimpiku seperti samar-samar, wajahnya tak begitu jelas tetapi suaranya tak asing untukku"
Dengan meraih ponsel yang ada diatas nakas, Naufal berusaha mencari sesuatu dari handphonenya, jika ia adalah orang yang begitu istimewa untuknya tak mungkin jika ia tak punya hanya sekedar foto kan?
"Kenapa tidak ada" gumamnya, tapi jarinya berhenti kala melihat satu folder dengan nama 'secret', folder yang belum pernah ia buka sebelumnya
Dengan tangan gemetar Naufal membuka folder itu dan nampaklah foto wanita berhijab dengan siluet yang hampir sama dengan mimpinya
"Aqila" nama itu lolos begitu saja dari bibirnya, air matanya menetes begitu saja saat bagai kecepatan penuh memori demi memori acak masuk kedalam kepalanya
"Akh" ia merintih kesakitan kala gambar-gambar buram itu mulai terlihat jelas
"Aku akan menjadi pelangi untuknya, pelangi yang mewarnai hidupnya dan pelangi indah yang menandai redanya hujan yang akan terganti dengan kebahagiaan"
__ADS_1
"Jangan menjadi pelangi yang hanya sementara, tapi jadi pelangi yang indah selamanya, warnai hidupnya dengan kebahagiaan dan tuntun ia menjadi lebih baik lagi"
"Om tak perlu bersedih, aku berjanji menjaga ia dengan baik dan mengeluarkan senyum tulusnya bukan untuk membuat orang lain merasa baik-baik saja, tetapi memang kebahagiaan dari lubuk hatinya"
Kata demi kata yang terngiang dalam kepalanya, saat ia yang harusnya menjadi sosok pelangi seperti janjinya justru terkesan abai, bahkan tak pernah tau bagaimana kondisi Aqila sekarang
"Maafkan aku, dimana kamu sekarang?"
"Mari kita berjuang bersama, jika memang Allah menggariskan kita berjodoh, suatu hari nanti kita akan dipertemukan dengan cara yang tak pernah kita duga"
"Kak Naufal harus sembuh, harus sehat, harus berhasil melewati rasa sakit ini, Kak Naufal berjanji menjadi pelangi selamanya, jadi ayo bangun, jangan seperti ini"
Bahkan kalimat Aqila yang membisiki dirinya kala terbaring dirumah sakit muncul begitu saja dalam ingatannya
"Sekarang aku sudah bangun dan mengingat semuanya, tapi kenapa kamu yang pergi? Kenapa orang begitu jahat dengan tak mengingatkan diriku tentangmu"
Naufal melihat jari manis sebelah kiri yang tak terpasang apapun, dimana cincin yang melingkar disana? dimana cincin yang menjadi tanda kalau ia memang sudah bertunangan dengan Aqila, kenapa harus dilepas? Dengan masih menggunakan sarung dan baju koko ia lekas menuju kamar abi dan ummi nya, ia yakin mereka berdua pasti sudah bangun di jam seperti ini
"Abi, Abi, Umi" ia mengetuk kamar mereka cukup keras, ia benar-benar ingin marah sekarang, kenapa ia seolah merasa di jadikan mainan?
"Dimana Aqila? Dimana cincin Naufal? Kenapa Abi begitu jahat tak mengingatkan Naufal tentangnya?" tangisnya pecah begitu saja, saat menyebut nama Aqila
Abi Umar memegang dadanya, tak menyangka Naufal bisa ingat secepat itu, karena menurut pemeriksaan dokter, ingatannya mungkin bisa pulih atau tidak, jikapun bisa itu membutuhkan waktu yang lama
"Kau sudah ingat semuanya?"
"Kenapa abi tega membohongi Naufal? Naufal punya perasaan, Naufal punya janji yang harus Naufal tepati" lirihnya hampir tak bersuara
"Naufal, abi tidak pernah membohongimu sedikitpun, abi melakukan semua ini untuk kebaikanmu"
"Kebaikan apa yang abi maksud? ceritakan pada Naufal, kebaikan apa yang abi maksud?"
"Dokter mengatakan kalau kami memberitahumu, maka kamu akan memaksakan ingatan yang justru berdampak semakin buruk untuk kesehatanmu, karena itu kami membiarkan sampai kamu sendiri yang mengingatnya" Naufal menggelengkan kepala tak percaya sama sekali
"Lalu dimana cincin perak yang ada dijari manis Naufal? Kenapa tidak ada?"
"Sebentar, abi akan mengambilnya untukmu"
__ADS_1
Abi Umar kembali masuk kedalam kamar dan keluar dengan cincin perak yang langsung membuat Naufal terjatuh menggenggamnya
"Dia pergi untuk berobat bukan meninggalkanmu, jika Allah mentakdirkan dia sebagai jodohmu, maka kalian pasti bertemu"
"Maafkan aku Aqila"
.
Pagi-pagi sekali Naufal melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan area ponpes menuju rumah yang pernah dikunjunginya terakhir kali untuk meminang anak gadis orang
Gerbang hitam tinggi itu terlihat masih tertutup sempurna, Naufal membuka helm dan menekan bel pintu dengan tergesa
"Cari siapa nak?" Pak Roni dengan tergesa menghampiri Naufal, sepertinya ia tak menyadari orang yang didepannya saat ini adalah laki-laki yang pernah datang melamar putri majikannya tempo hari
"Aq... Rian ada pak?" Bahkan untum bertanya nama, ia hampir menyebut nama seseorang yang membuat dirinya serasa hampir gila sekarang
"Kenapa lo cari gue?" belum sempat Pak Roni menjawab pertanyaan Naufal, suara dari belakang mengagetkannya, terlihat Rian yang baru saja selesai berlari diikuti Reyna dibelakang
"Bagaimana kondisi Aqila? Nomernya bahkan nggak aktif" tanya Naufal langsung to the point
"Udah inget lo sekarang?" Tanya Rian dengan nada menjengkelkan, padahal ia juga cukup terkejut Naufal sudah bisa mengingat adiknya
"Nggak usah bales pertanyaan dengan pertanyaan bisa kan?"
"Dia baik-baik aja, Bang Devan baru pulang tadi malem katanya kondisi Aqila sudah lebih baik" jawab Rian mengatakan apa yang didengarnya dari Devano, hatinya pun ikut merasa tenang, padahal ia tak tau kalau disana adiknya segera menjalani operasi besar yang mengancam nyawanya
"Alhamdulillah" Naufal mengusap tangannya didepan wajah sebagai bentuk syukur
"Enam hari lagi acara wisuda, kayaknya dia juga bakal dateng" mendengar ucapan Rian, hati Naufal terasa semakin berdebar bahagia tak sabar menunggu waktu itu tiba
"Terima kasih informasinya" senyum Naufal tak dapat disembunyikan mendengar kalau Aqila mulai membaik
"Kita segera bertemu dan aku menantikan waktu itu" batinnya bersorak gembira
.
Maaf kalau lama up teman-teman dan terima kasih dukungannya selalu...😭🙏😭
__ADS_1