Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Reynald


__ADS_3

Aqila terpaksa harus meminjam mobil dirumah papanya, Papa Arya sudah mengatakan kalau ingin memberikannya, tapi Aqila menolak karena mereka sudah punya satu mobil dan dua motor dirumah, inipun hanya karena urusan mendadak ia mau kesini, karena Kirana yang tak jadi mengantarnya, untunglah Naufal mengizinkan walau tanpa Kirana


"Hoekkk hoekkk" ia menolehkan kepalanya melihat Rian yang membersihkan mulut dengan air yang mengalir dari keran ditaman


"Kak Rian kenapa?" Ia membantu memijit tengkuk kakaknya


"Kakak nggak tau Qil, kepala kakak pusing"


"Kak Rani mana?" Ia biasa melihat kakak iparnya kadang sudah bergelut dengan tanaman, hobinya sama dengan Mama Intan yang lebih fokus dengan berbagai jenis tanaman di hari tuanya


"Dia nemenin bunga cari bunga anggrek di toko bunga"


"Hoekkk"


"Kakak hamil mungkin" ucapan Aqila membuat Rian mendelik


"Qil, kakak masih normal, kamu pikir kakak perempuan?!" Rian malah balik ngegas, ia sangat sensitif sekali


"Siapa yang bilang kakak perempuan? Maksudku Kak Rani yang hamil tapi kakak yang ngalamin kayak gini" jawaban Aqila membuat Rian terdiam, ia tak ingin membuat istrinya kecewa atau merasa tak pantas kalau ternyata memang bukan


"Coba cek dulu aja kak, takdir itu Allah yang atur, kecil kemungkinan bukan berarti mustahil" ucap Aqila menyemangati kakaknya, ia tau apa yang ada dipikiran Rian


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


"Apa iya?" Rian bertanya pelan pada dirinya sendiri, bagaimana kalau ternyata itu benar?


.


Menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya, Aqila akhirnya sampai dibandara, gadis itu celingukan mencari Reynald, sudah hampir empat tahun mereka tidak bertemu, terakhir saat Reynald datang menjenguk si kembar yang baru lahir. Itupun saat dokter gigi itu belum menikah, sampai Aqila tak tau bagaimana wajah wanita yang berhasil membuat Reynald jatuh cinta


"Valisha" laki-laki itu melambaikan tangan kanannya, tangan kirinya menggandeng anak perempuan yang berusia sekitar delapan tahun

__ADS_1


"Lama tidak bertemu" Aqila menangkupkan tangannya didepan dada dan menyalami istri Reynald


"Aqila" ucapnya memperkenalkan diri


"Anna" perempuan dengan rambut hitam kecoklatan dan mata berwarna abu itu tersenyum membalas uluran tangan Aqila


"Hai, nama kamu siapa?" Aqila menyamakan tingginya dengan anak perempuan berusia delapan tahun itu


"Lala"


"Gadis yang manis, panggil saja Aunty Qila"


Aqila turut senang melihat teman yang dulu membantunya di Rochester kini bisa hidup dengan baik, walau pernah terikat rasa cinta, laki-laki itu akhirnya bisa menemukan pendampingnya. Aqila tak menyangka sekali do'anya menjadi kenyataan saat bilang mungkin Reynald akan jatuh cinta pada ibu pasiennya


Butuh perjuangan cukup panjang bagi laki-laki itu hingga akhirnya membuat Anna berada disampingnya, menghadapi suami wanita itu yang egois, hanya mementingkan nama baiknya yang akan hancur didepan keluarga, padahal itu adalah salahnya sendiri. Ia hanya menginginkan anak laki-laki untuk melanjutkan bisnis keluarga dan tidak menganggap Lala sama sekali sebagai putrinya, karena itulah setiap pulang ia akan bertengkar dengan Anna karena putrinya yang sudah lama menunggu tapi ia abaikan begitu saja


Saat Reynald berhasil meyakinkan Anna untuk bercerai demi kesehatan mental putrinya, Anna akhirnya setuju terlebih melihat Lala yang kadang ketakutan saat melihat ayahnya sendiri. Reynald hadir dalam hidup Lala, menggantikan banyak peran ayah yang hilang, hingga membuat gadis kecil itu bisa merasakan kehadiran sosok ayah dihidupnya


Butuh waktu tiga tahun lebih bagi Reynald untuk menghilangkan trauma Anna terhadap hubungan pernikahan, ia meyakinkan wanita itu kalau semua laki-laki tak sama dan putrinya butuh seorang ayah, ia berjanji akan membuat mereka bahagia


"Maaf harus merepotkanmu menjemput kami"


"Ini tidak merepotkan sama sekali, aku juga sering merepotkanmu dulu" Aqila mengingat saat ia hidup di Rochester, entah apa yang terjadi kalau ia tidak bertemu Reynald disana


"Berapa lama kalian di Indonesia?" Ia heran melihat pasangan itu hanya membawa satu koper dan satu tas


"Hanya sepuluh hari untuk liburan, pindah kesini tidak semudah itu" Aqila mengangguk, pindah negara memang tidak semudah itu, ada beberapa syarat dan aturan panjang yang tentu memerlukan waktu tak sedikit


"Kapan kalian berangkat ke Lombok?"


"Mungkin besok, hari ini kami ingin istirahat di rumah nenek, duduk lama di pesawat cukup melelahkan" Aqila memahami itu karena ia memang pernah mengalami


.

__ADS_1


Rian mondar mandir di dalam kamar, ia ingin memberitau Rani tentang hal ini, tapi bagaimana kalau istrinya sedih dan berpikir bukan perempuan yang sempurna? Ia bingung ingin bertanya pada siapa, kedua adik perempuannya sudah tak ada dirumah, agak sepi rasanya. Karena itu Mama Intan dan Papa Arya tak mengizinkan mereka bertiga membeli rumah baru saat sudah menikah, karena pasti dua orang tua itu akan sangat kesepian


Saat membuka pintu, ia kebetulan melihat Diva yang baru juga keluar dari kamar, membawa seranjang pakaian kotor. Rian berpikir apa bisa bertanya pada kakak iparnya?


"Kak Diva" Diva sampai mengangkat alisnya, takut ia salah dengar karena tak biasanya Rian memanggil dirinya


"Kenapa?"


"Emmm" Rian malah bingung ingin menceritakan dari mana


"Kalau dulu Kak Diva hamil bagaimana?"


"Maksudnya?" Diva agak kurang mengerti maksud pertanyaan adik iparnya


"Dulu gimana caranya Kak Diva tau kalau kakak hamil, apa ada tanda-tanda?"


"Rani hamil?" Pertanyaan itu langsung ia lontarkan, ia mengerti sepertinya Rian masih agak ragu memberitau


"Aku nggak tau, tapi Aqila bilang mungkin karena liat aku yang muntah-muntah, padahal aku pikir cuma masuk angin aja" Rian bahkan sampai izin tak datang ke kantor pada Devano, kakaknya itu sempat mengira dirinya hanya alasan


"Bisa jadi, fenomena itu disebut couvade syndrom atau kehamilan simpatik, saat suami merasakan apa yang dirasakan istrinya saat hamil"


"Kak Devan juga gitu ya?" Rian heran kenapa kakaknya bisa tau


"Awal-awal juga ia yang merasakan"


"Tapi aku bingung, gimana cara ngomonginnya ke Rani, takut dia sakit hati ngira aku bandingin dia sama perempuan lain" Rian menunduk, ia benar-benar bingung sekarang


"Belum dicoba kan?" Diva tau kegundahan hati adik iparnya ini, ia sangat mencintai istrinya tapi dalam dirinya juga terbesit keinginan ingin dipanggil dengan kata ayah, namun ia lebih memilih pilihan hatinya daripada itu


"Coba bicarain pelan-pelan aja, terus minta tes, kalau nanti Rani salah paham, kakak bantu bujuk"


"Makasih kak" Diva mengangguk dan pergi membawa sekeranjang penuh cuciannya. Rian berpikir untuk bertanya juga pada Devano, pasalnya ia tak pernah melihat laki-laki itu muntah seperti ini

__ADS_1


__ADS_2