Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Undangan


__ADS_3

Siapa yang ingin terluka? Siapa yang ingin merasakan sakit? Siapa yang ingin hidup menderita? Tentu tak ada di dunia manusia yang memilih hidup seperti itu. Takdir setiap insan telah ada sebelum lahir di dunia yang fana dan kejam ini. Takdir yang menentukan bagaimana sang hamba menjadi makhluk yang taat atau justru merusak dibumi sang pencipta


Di tengah ranjang pasien rumah sakit dengan berbagai peralatan di sekelilingnya, terbaring lemah gadis berhijab dengan wajah yang nampak pucat dan mata yang tertutup rapat


Takdir yang dijalani Aqila seperti ini, berjuang, berjuang dan berjuang. Karena sesungguhnya hidup lebih kearti tentang seberapa keras perjuangan kita menjalani dunia yang penuh drama dan permainan


Berjuang untuk mendapatkan haknya sebagai anak dan saudara yang kurang dipedulikan, berjuang untuk melupakan rasa cinta dan sakit saat orang yang membuatnya tertarik justru memilih saudaranya, dan sekarang berjuang untuk hidup melawan penyakit yang bersarang dalam tubuhnya demi keluarga, teman dan laki-laki yang berjanji membawa banyak warna dan kebahagiaan layaknya pelangi. Tapi apakah janji itu nyata? Atau sekadar buah manis untuk membuat dirinya percaya


"Kemoterapi akan kita lakukan sampai ukuran sel kanker dalam otak mengecil dan bisa segera dioperasi untuk pengangkatannya"


"Apa sel kanker ini tak bisa hilang sepenuhnya dokter?" Papa Arya rasanya masih menahan diri untuk percaya kalau penyakit ini tak bisa sembuh


"Penyakit kanker tak sepenuhnya bisa sembuh apalagi sudah termasuk ganas seperti kondisi Aqila saat ini, kita hanya bisa mengendalikannya saja agar mengecil dan tak menyebar ke organ lain" jelas Dokter Diana, ia mengerti perasaan keluarga pasien pasti ingin yang terbaik untuk putrinya


"Apa suatu saat sel kanker ini bisa kembali lagi?" Kali ini Devano yang dilingkupi rasa penasaran sekaligus takut bertanya


"Bisa, bahkan pasien dengan kanker jinak atau stadium awal yang sudah dinyatakan sembuh bisa kembali dan menyebar ke organ baru"


Mereka semua yang ada disana mengangguk lemah, mereka pasti akan memberikan segala yang terbaik untuk Aqila


"Kenapa sampai sekarang Aqila belum sadar dokter?" Perasaan khawatir seorang ibu kepada putrinya tentu hal yang wajar


"Setelah kemoterapi pasien mengalami kelelahan karena itu kita tunggu sebentar, Aqila tak pingsan tapi mungkin lelah dan kesakitan karena itu memilih memejamkan matanya daripada terus merasakan itu semua"


Setelah bertanya beberapa hal, Papa Arya, Mama Intan dan Devano keluar dari ruangan dokter Diana menuju ruangan Aqila


"Kembalilah ke kantor Devano, jangan menunda-nunda pekerjaan, atau tanggal pernikahanmu juga papa tunda" ucap Papa Arya tegas, mendorong bahu putra sulungnya saat Devano hendak ikut masuk ke ruangan Aqila


"Pah..." Devano tak terima dengan ucapan papanya, sejak malam itu ia yakin mamanya pasti memberitahu papanya tentang hal itu, dan bisa dipastikan Papa Arya sudah mencari tahu siapa perempuan itu


Pintu ruangan Aqila ditutup rapat menyisakan Devano yang terdiam didepan pintu, jika papanya mengatakan hal seperti itu, bukankah artinya pernikahannya sudah disetujui oleh ayahnya


Devano tersenyum dan melihat adiknya yang terbaring dari tirai jendela yang sedikit terbuka


"Maafin Kak Devan Aqila, Kak Devan berkali-kali nyakitin kamu, tapi kamu justru memberi kebahagiaan untuk kakak. Melihat wajahmu tersenyum dan bahagia kakak bisa ikut merasayakannya, karena itu cepat sembuh ya?, jangan pernah berpikir untuk pergi" ucap Devano dengan mengusap kaca jendela rumah sakit


.

__ADS_1


Dikoridor kampus yang cukup sepi, laki-laki dengan perawakan tinggi berjalan tergesa menuju kearah ruang dosen hingga saat diujung koridor, ia menabrak perempuan yang sepertinya juga sedang terburu-buru


"Kalau jalan liat-liat dong!" Perempuan yang ditabrak laki-laki itu marah seraya mengumpulkan bukunya yang terjatuh


"Lo juga yang salah" Rian tentu tak terima dirinya disalahkan, baginya perempuan yang saat ini memakai pakaian serba hitam itu juga salah


"Jangan nyalahin orang lain deh, jelas-jelas lo yang nabrak duluan" ucap perempuan itu menatap mata Rian tanpa ada rasa takut sedikitpun


"Lo..."


"Udahlah gue buru-buru, nggak sempet layanin omongan lo" tanpa menunggu Rian menyelesaikan ucapannya perempuan dengan rambut sebahu itu sudah berlari seperti terburu-buru


"TUNGGU!" Rian memegang polpen berwarna biru tua yang terjatuh, tapi terlambat karena perempuan itu sudah menghilang di ujung koridor


"Rani Permayanti" ucap Rian membaca nama yang ada pada polpen itu, ditulis dengan kertas putih dan ditempel dengan selotip memanjang di badan polpen


"Kita pasti ketemu" ucap Rian memasukkan benda itu dalam tasnya dan kembali melanjutkan langkahnya lebih pelan dari sebelumnya


"Assalamu'alaikum" Rian mengucap salam setelah mengetuk ruangan bertuliskan 'Ruang Dosen' yang menjadi alasan dirinya terburu-buru


"Wa'alaikumussalam"


Ruangan dosen sepi saat itu, hanya Bu Maya yang ada disana, mungkin dosen lain sedang istirahat karena kebetulan sudah masuk jam makan siang


"Ada apa Bu Maya manggil saya?" Rian mengernyitkan dahi dengan pandangan heran, karena Bu Maya adalah dosen di fakultas seni bukan bisnis


"Ada sesuatu penting yang ingin ibu diskusikan dengan kamu" jawab Bu Maya dengan tatapan penuh keseriusan


"Apa bu?"


"Ini tentang Aqila" mendengar nama adiknya disebut, Rian memasang telinganya mendengar penjelasan apa yang akan diucapkan oleh Bu Maya


"Kamu tentu tau kan adik kamu terkena kanker otak stadium tiga?" Rian menganggukkan kepalanya tapi kemudian berhenti dan menatap Bu Maya


"Kok ibu tau? Siapa yang ngasih tau? Aqila? Renata? Atau Naufal?" Tanya Rian


"Aqila nggak pernah ya cerita kalau ibu dan Naufal yang bawa dia kerumah sakit saat tak sadarkan diri hampir satu jam, dari sana dokter mengatakan kalau dirinya divonis kanker otak stadium tiga"

__ADS_1


Rian terdiam sejenak, mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut sang dosen yang terkenal di fakultas seni itu.


"Lalu?"


"Kamu sudah tau kan kalau penyakit itu mempengaruhi bagian otaknya yang lain, seperti cara pikir dan daya ingat" Rian lagi-lagi mengangguk karena memang ia sudah mendengar penjelasan dokter tentang itu


"Apa sebaiknya Aqila tak ambil cuti dulu? Dan fokus pada pengobatannya?" Tanya Bu Maya penuh perhatian


"Memangnya adik saya kenapa bu?"


"Aqila sering seperti orang linglung dalam kelas, dosen lain juga sering bilang gitu padahal dalam kelas ia dikenal sebagai mahasiswi yang cerdas dan aktif"


Rian terdiam sejenak dan mengusap wajahnya kasar, ia akan berdiskusi nanti dengan Aqila dan orang tuanya


"Terima kasih informasinya bu" jawab Rian dengan sopan


"Maaf Rian bukan ibu bermaksud ikut campur urusan keluarga kalian, tapi apa benar Aqila akan menikah dengan Naufal?"


"Benar bu, undangannya belum tersebar mungkin..."


"Assalamu'alaikum" seorang laki-laki memasuki ruang dosen dengan nafas terengah-engah


"Wa'alaikumussalam Naufal, ada apa?" Ya, laki-laki itu adalah Naufal


"Naufal mau nganterin ini buk" ucapnya meletakkan kertas warna biru yang cantik dengan bungkus plastik mengkilat


"Baru aja dibicarain" mungkin bagi mereka berdua yang tak mengenal Bu Maya menganggap kalau guru itu ramah, padahal kalau di fakultas seni Bu Maya meraih predikat sebagai guru paling killer


"Jadi bener? Kamu nempatin janji buat dia bahagia?" Bu Maya ingat betul dengan kata-kata Naufal di rumah sakit hari dimana mereka mengetahui penyakit Aqila


"Janji apa?" Tanya Rian meminta penjelasan namun Naufal justru memandangnya dengan tatapan tengil


"Hai kakak ipar" Naufal menunjukkan senyum yang justru membuat Rian jengkel, walaupun satu fakultas dan satu kelas nyatanya mereka tak dekat, jadi aneh saja rasanya saat Naufal tiba-tiba menjadi adik iparnya


"Jangan gitu deh, gue jijik dengernya" Bu Maya dan Naufal tertawa melihat reaksi Rian, mungkin karena sering melihat laki-laki itu bersikap dingin, tegas, dan kadang nakal jadi merasa aneh kalau Naufal bersikap seperti itu. Bahkan mungkin bukan hanya Rian, tapi mahasiswa yang lainpun begitu


"Semoga saja Aqila tak salah memilih jodoh" batinnya kemudian undur diri setelah pamit dengan Bu Maya, mengabaikan Naufal yang juga menatapnya

__ADS_1


"Undangan ini istimewa, karena Naufal belum kasih kepada tamu lain, cuma ibu aja" Bu Maya tertawa mendengar itu dan mengangguk walau sedikit ragu


.


__ADS_2