Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Isi Hati Rian


__ADS_3

Hari ini Aqila mendapat tugas menjemput Yusuf pulang sekolah, Naufal tak mengizinkannya bekerja walau ia sudah meminta bahkan dengan cara memelas sekalipun, Naufal teguh sekali dengan pendiriannya. Aqila paham kalau laki-laki itu merasa kalau ini adalah tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, tapi ia juga kadang bosan dirumah karena Renata yang sekarang menjadi ibu pejabat sedang ikut bersama suaminya diluar daerah


Sebenarnya ia yang menawarkan diri untuk menjemput keponakannya, karena sekalian ingin bertemu Rian, ia memang sempat pulang kerumah Bramadja tadi mengambil mobil karena cuaca mendung dan takut hujan, tapi Rian tidak ada disana, Devano juga bilang laki-laki itu tidak terlihat dikantor


Aqila menajamkan pandangannya saat melihat seorang laki-laki berjalan memegang perutnya, ia celingak celinguk seperti sedang mencari mobil, Aqila tau persis kalau laki-laki itu adalah Rian dari postur tubuhnya


"Kak Rian" Aqila membunyikan klakson dan membuka kaca mobil saat berada disamping laki-laki itu


"Aqila?!" Ekspresi terkejut nampak jelas diwajahnya yang sedikit memar dan banyak mengeluarkan keringat, apa Rian baru saja dibegal atau berkelahi dengan seseorang? Itulah isi pikiran Aqila


"Mobil Kak Rian dimana?"


"Kakak nggak bawa mobil"


"Terus Kak Rian mau kemana?"


"Pulang"


Aqila sempat mengerjapkan mata beberapa kali, apa ini memang benar Rian? Kenapa laki-laki itu melakukan hal ini? Bahkan dari cara berpakaiannya sangat tidak biasa, laki-laki itu menggunakan sarung, baju koko dan peci hitam? Yang benar saja?!


"Ayo aku anterin pulang, tapi ke sekolah Yusuf dulu" Aqila membuka pintu mobilnya, Rian langsung mengatur nafasnya begitu duduk dikursi samping kemudi, jelas sekali ia kelelahan, laki-laki itu membuka pecinya dan mengipas benda itu didepan wajah


"Kenapa hidup sesulit ini?" Rian menatap pemandangan diluar sana sambil sesekali meringis memegang perutnya


"Kak Rian kenapa?" Tanya Aqila, awalnya ia masih agak ragu juga untuk bertanya tapi rasa penasarannya saat melihat penampilan laki-laki itu begitu tinggi, terlebih tentang cerita Naufal yang pernah melihatnya dipukuli


"Qil ada enggak sih cerita laki-laki nakal, nggak terlalu paham agama, tempramental, sulit mengatur emosi dan jarang ngaji dapat jodoh wanita baik dan sholehah?" Tanyanya tiba-tiba, menjawab pertanyaan balik dengan sebuah pertanyaan


"Ada, bahkan yang kelakuannya lebih dari itu bisa dapet wanita sholehah" tanpa ragu sama sekali Aqila mengatakan itu


"Jangan terlalu banyak baca novel berkedok agamis, mana ada perempuan dan keluarga dari perempuan itu yang menginginkan laki-laki seperti itu" Rian malah menjawab dengan sedikit menaikkan suaranya, Aqila jadi bingung sendiri jujur ia tak begitu mengerti masalahnya sekarang


"Asiyah dengan Firaun" jawabnya enteng


"Mana ada asiyah istri firaun, itu istri rasulullah" diberitau Rian malah seperti banteng yang siap menyeruduk tapi tentu Aqila tak ingin kalah

__ADS_1


"Itu Aisyah, makanya belajar agama sana" balasnya tak kalah kesal


"Tuh kan" Rian justru menunduk sedih sampai Aqila sendiri diam, apa ia salah ucap?


"Rata-rata perempuan menginginkan laki-laki yang paham agama, tapi ilmu agamaku sebatas sholat lima waktu, puasa, zakat dan bersedekah" Aqila sebenarnya ingin tertawa melihat reaksi Rian yang biasanya selalu percaya diri sekarang jadi seperti ini, tapi ia kasihan juga sebenarnya melihat laki-laki itu seperti putus asa


"Mereka butuh imam yang baik untuk membimbing, kalau laki-laki itu mau belajar agama kenapa tidak? Mereka bisa saling melengkapi"


"Tapi saingan laki-laki itu adalah para ustadz dan orang yang punya ilmu agama tinggi, laki-laki itu bahkan sering dipukul oleh ayah perempuan itu hanya karena pernah terlihat berdua dengan anaknya, padahalkan mereka tidak melakukan apa-apa"


"Laki-laki itu Kak Rian kan?" Rian mengangguk dengan polosnya tapi kemudian menggeleng


"Teman kakak"


"Oowh kalau begitu Aqila minta nomornya boleh? Naufal bilang ada satu cara dalam islam untuk masalah ini"


"Kalau gitu nanti Kak Rian yang kasih tau" balas Rian semangat


"Tidak bisa, harus orangnya langsung karena kata Kak Naufal ini cukup banyak dan panjang penjelasannya" Aqila sengaja mengarahkan kepala kearah luar menatap gedung dan pohon yang berjejer di sepanjang jalan, padahal ia sedang berusaha untuk tidak tertawa melihat Rian yang seperti itu. Apa cinta memang bisa membuat kepribadian seseorang hilang?


"Kakak kenal nggak sengaja nabrak dikampus dulu, dan seperti kata orang mungkin benar dan berlaku juga untuk kakak, cinta pandangan pertama, dari mata kehati dan menjerat rasa hingga memupuk menjadi cinta"


"Padahal dulu dia tomboy dan nggak pakek hijab, tapi sekarang ia sudah hijrah dan menjadi lebih baik. Kakak inget dulu dia galak banget saat kami nggak sengaja tabrakan di koridor kampus, kemarin kakak ketemu lagi setelah sekian lama dan ingat sekali dengan wajahnya, kakak berniat mengembalikan polpennya yang jatuh hampir enam tahun lalu"


Udah lama tapi masih bisa diinget? Apa Kak Rian sekekanakan itu? Batin Aqila


"Siapa namanya?"


"Rani Permayanti, itu yang tertulis di polpen itu. Saat kemarin kakak nganterin dia pulang ayahnya malah marah-marah karena katanya nggak mau anaknya nikah sama orang kaya gara-gara liat kakak pakek mobil"


"Jadi Kak Rian dapat lebam ini dari pukulan ayahnya?" Rian mengangguk membenarkan


"Terus Kak Rian juga nggak pakek mobil karena itu?" Rian mengangguk lagi


Aqila sebenarnya ingin bertanya lagi kenapa kakaknya terus memegang perutnya, apa perutnya juga kena pukul? Pikirnya. Tapi harus ia urungkan karena mereka sudah sampai disekolah Yusuf

__ADS_1


"Tumben Aunty Qila yang jemput" ucap anak itu begitu Aqila membukakan pintu mobilnya


"Aunty pengen denger apa Yusuf udah bisa ngomong huruf 'R'" anak itu manyun dan memilih bertanya melihat seseorang di kursi samping kemudi


"Uncle nofal juga ikut?" Tanyanya, ia memajukan tubuhnya tapi terkejut saat Rian tiba-tiba menoleh


"Kenapa Uncle Ian jadi kayak gini?" Ia menutup mulutnya, mungkin karena baru pertama kali melihat laki-laki itu memakai pakaian seperti itu


"Memang uncle kayak apa?"


"Kayak uncle nofal" balasnya, mungkin Yusuf lebih sering melihat Naufal berpenampilan seperti itu makanya sampai mengira Rian adalah Naufal


"Uncle ganteng nggak kalau kayak gini?" Bocah itu mengetuk tangannya didagu kemudian menggeleng


"Uncle nofan lebih ganteng"


"eh nggak, Yusuf lebih ganteng" lanjutnya kemudian


"Narsis" Aqila dan Rian kompak sekali mengucapkan itu


Karena hujan yang turun begitu deras, membuat jarak pandang sedikit mengabur, demi keselamatan mereka mampir disalah satu kafe terdekat dari sana


"Uhukk uhukkk"


Aqila heran saat Rian tiba-tiba terbatuk saat memakan es krim yang ia pesan sendiri


"Kak Rian makanya jangan makan buru-buru, pelan-pelan aja" Aqila pikir kakaknya itu belum sarapan dari tadi pagi sampai memesan banyak makanan, mungkin karen terlalu bersemangat ingin memperjuangkan perasaannya


"QIL, KAKAK LAGI PUASA"


Dengan teriakan Rian, terjawab sudah pertanyaan yang lupa ditanyakan Aqila tadi, alasan kakaknya terus memegang perut dan meringis seperti orang kesakitan


.


Banyak Typo...🙏

__ADS_1


__ADS_2