
" Berapa pun jumlah kalian tidak akan memberi pengaruh."
Marrupa menyerang para pendekar yang mengepungnya. Puluhan jurus dia lancarkan untuk memberi luka sebanyak mungkin pada musuhnya.
" Kita serang dia bersama-sama. Orang tua ini telah kehabisan tenaga."
Salah satu pendekar langka sekte Matahari biru itu dapat melihat bahwa Marrupa sudah mulai kewalahan. Terbuka titik serang di beberapa tubuh Ketua sekte Bulan purnama itu.
Ke 8 pendekar sekte matahari biru memberi serangan yang begitu gencar dan solid ke arah Marrupa. Tubuh Marrupa dipenuhi banyak luka.
Salah satu pukulan berkekuatan besar bersarang di tulang rusuk orang tua itu. Marrupa terbanting ke tanah.
" Sialan, mereka tidak habis-habis."
Marrupa menopang badannya dengan tinju dan lutut kanannya. Rasa sakit di tulang rusuk kanannya membatasi gerak nya.
" Sekarang saatnya. Kita beri dia pukulan terakhir."
Ke 8 pendekar langka itu melesat cepat ke arah Marrupa. Pukulan bertubi-tubi diterima oleh orang tua itu.
" Sepertinya ini lah akhirnya. "
Marrupa mengumpulkan segenap tenaga dalamnya yang tersisa. Dia mengepalkan tinju. Sisa tenaga dalam dia kumpulkan disana.
Satu pukulan keras dilayangkan Marrupa. Pukulan itu bahkan sampai melukai 2 orang pendekar yang menyerangnya. Kedua orang itu seketika terhempas dan tewas.
Marrupa kehabisan tenaga. Dia tersungkur di tanah.
Ke 6 pendekar tersisa akan menyerang Marrupa sampai mereka merasakan hawa panas di sekitar mereka.
" Jangan pikir akan semudah itu mengakhiri semua ini."
__ADS_1
Terisab melesat cepat. Pendekar tua itu seakan terbang dengan kecepatan tinggi.
Pendekar yang sebelumnya menyerang Marrupa belum sempat bereksi sampai mereka mendapat pukulan beruntun dari Terisab. Setiap pukulan yang mereka terima menyisakan luka bakar di tubuh mereka.
" Siapa sebenarnya orang ini?" Salah satu pendekar Matahari biru itu menjadi cemas. Dia dapat merasakan kekuatan dari Terisab.
Terisab tidak memberi ruang. Dia kembali melancarkan pukulan kepada ke 6 pendekar yang ada di hadapannya.
Ke enam pendekar matahari biru terpental, tetapi kemudian mereka berupaya bangkit kembali. Para pendekar itu merapatkan barisan mereka. "Sekarang atau tidak sama sekali." Ucap salah satu diantara mereka.
Ke enam pendekar itu melafalkan jurus Matahari pembakar semesta, jurus pamungkas dari setiap pendekar yang berilmu cukup tinggi pada sekte matahari biru.
Jurus itu adalah jurus yang berbahaya bagi musuh namun juga bagi penggunanya. Normalnya jurus itu dapat dilancarkan oleh seorang pendekar pada tingkat kemampuan legenda. Namun bagi pendekar yang belum sampai pada tahapan tersebut, mereka harus melafalkan jurus itu bersama dengan pendekar lainnya karena jurus tersebut sungguh membutuhkan tenaga dalam yang besar.
" Sialan, apa yang mereka pikirkan?" Terisab sedikit ragu. Dia dapat melihat keenam pendekar itu bersama-sama mencarkan tenaga dalam yang besar. Aura berwarna biru memancar dari tubuh mereka. Tubuh keenam orang itu bahkan seolah akan meledak. Terisab sendiri sesungguhnya sudah mulai kehabisan tenaga setelah bertarung dengan puluhan orang.
" Jurus matahari pembakar semesta." Ke enam pendekar matahari biru membentangkan kedua tangan dan mengarahkan telapak tangan kepada Terisab . Seketika terpancar tenaga dalam berwarna biru dari sana. Cahaya biru itu melesat cepat ke arah Terisab.
" Sialan, tenaga dalam ku tidak cukup kuat untuk menahan rasa sakit ini." Terisab mulai merasakan seluruh tubuhnya terbakar. Tetapi dia tidak berhenti. Sudah terlambat untuk berhenti. Tujuan utama Terisab sekarang adalah menyerang ke enam pendekar yang menjadi pusat serangan yang mengarah pada nya.
Pukulan terahir dilancarkan oleh Terisab saat sudah cukup dekat dengan ke enam orang itu. Pukulan keras dengan seluruh sisa tenaga dalam Terisab .
Kembali terjadi dentuman keras saat Tanaga dalam beradu. Hampir semua orang yang ada disekitar tempat itu menghentikan sejenak segala pergerakan mereka karena terkejut. Suaranya ledakan sangat keras. Kobaran ledakan api membumbung ke langit.
Ke enam pendekar matahari biru hangus terbakar, bukan hanya karena pukulan Terisab tetapi juga akibat tenaga dalam yang mereka pancarkan melebihi kapasitas tubuh nya. Terisab sendiri terpental sangat jauh. Hampir di seluruh tubuhnya terdapat luka bakar. Pendekar legenda itu terjatuh ke tanah kemudian kehilangan kesadaran.
Marrupa yang sudah kehabisan tenaga berupaya untuk bangkit, namun sakit di tubuhnya sungguh bukan sesuatu yang bisa diabaikan. Marrupa kesulitan menggerakkan tubuhnya.
***
Gilok melihat seluruh isi kota porak poranda. Laban, pendekar bertubuh besar dan kekar dengan Gilok besar di tangan kirinya tampak sudah bersiap menunggu kehadiran Gilok.
__ADS_1
" Kalian sungguh bintang, hanya binatang yang bisa melakukan semua ini." Gilok begitu murka melihat banyak mayat orang tak berdosa bergelimpangan di tangah.
" Binatang? Hahaha..terimakasih atas pujian mu orang tua. Tapi dari yang dapat ku lihat sepertinya kau juga menikmati pertempuran ini. Bukan begitu?"
" Diam kau, hanya manusia berhati iblis yang bisa berfikir begitu."
Gilok meberi perintah, dia dan anggota sekte bulan purnama yang dipimpinnya bersiap menyerang.
" Aku rasa itu bukan pilihan yang bijak orang tua. Apa kau tidak melihat sekeliling mu?"
Laban menjentikkan jari kemudian anak buahnya membawa keluar warga kota pintu Suona dengan golok dan pendang di leher mereka. Anak-anak, orang tua baik pria dan wanita, para pendekar Matahari biru itu menjadikan mereka tawanan.
Gilok menghentikan langkahnya. " Kurang ajar, kau..kau sungguh tidak punya rasa malu. Bagaimana mungkin kau bisa menyandra orang-orang tak berdosa?"
" Maafkan aku orang tua, tetapi sudah sejak lama aku kehilangan rasa malu. Hahaha. Perintahkan mereka menurunkan senjatanya."
Gilok terdiam. Dia tidak tau harus bertindak apa. Menyerang Laban dan anak buahnya bukan pilihan yang bijak. Banyak nyawa tak berdosa bisa melayang.
Tidak menunggu lama, anggota sekte bulan purnama perlahan menjatuhkan senjata yang mereka pegang. Tak satu pun diantara mereka berani bertindak gegabah.
Suasana kota menjadi mencekam. Gilok menahan rasa geramnya. Situasi mereka sungguh terjepit. Gilok merasa bersalah karena masuk kedalam perangkap Sekte Matahari Biru. Mereka sama sekali tidak memperkirakan hal ini. Mereka terlalu fokus menjaga Kota Pintu Suona dari luar sehingga abai akan keamanan kota itu sendiri.
***
"Ketua..situasi kota tidak aman, para warga disandera.Para pendekar Sekte Bulan purnama tidak dapat berbuat apa-apa." Seorang delik sandi Sekte Harinuan memberi informasi kepada ketua Garguek. Delik sandi ini memang mereka kirim lebih dahulu seorang diri. Dia menggunakan kuda pilihan, prioritas utamanya adalah mencari informasi sebanyak mungkin segala hal yang terjadi di kota pintu Suona.
" Kurang ajar, sekte aliran hitam sekalipun tidak sepantasnya berbuat hal memalukan seperti itu." Umpat Garguek.
" Bagaimana gambaran besarnya?"
" Pertarungan sesungguhanya berada dalam kendali Sekte Bulan Purnama Ketua, tetapi serangan tak terduga dalam kota menyudutkan mereka."
__ADS_1
" Ketua, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Hasea.