
Hasea berjalan agak jauh dari perkemahan. Dia mencari tempat untuk bermeditasi. Sampai di satu tempat di tengah hutan, dia melihat sebuah lubang seperti gua yang kecil. " Ah..sepertinya tempat itu cocok" pikir Hasea kemudian dia menuju tempat itu .
Hasea duduk bersila. Dia menyilangkan kedua kaki nya. Tangannya dia letakkan di kedua lututnya. Hasea menarik nafas dalam-dalam. " Gea...aku siap" ucapnya penuh percaya diri. " Aku tidak akan pingsan kali ini".
" Bersiaplah" Gea mulai membagikan tenaga dalamnya kepada Hasea. Tubuh Hasea tiba-tiba menerima sakit yang teramat berat. Seolah badannya ditindih beban berton-ton beratnya. Rasa perih yang teramat sakit dirasakannya di tangan kanannya.
" Bocah, apa kau masih sanggup" ucap Gea khawatir. Dia tidak ingin tubuh pemuda itu mati, kalau sampai hal itu terjadi maka kembali lah dia ke batu Porhis entah sampai kapan. " Teruskan.....aku.. masih.. sanggup" ucap Hasea dengan sangat berat. Dia masih menahankan rasa sakit yang diterima oleh badannya.
Aura merah seperti api menyala menyelimuti badan Hasea.Itu adalah aura dari tenaga dalam Gea. Sekitar gua kecil tersebut sampai terlihat terang ditengah kegelapan disekitarnya. Kalau saja ada orang lain yang melihat gua itu dari kejauhan, pastilah mereka mengira ada orang yang menyalakan api unggun disana.
"Argh ...Gea..." Hasea berteriak. Tangan kanannya terasa sangat sakit. Tulang-tulang di tubuhnya serasa dicabut." Aura apa ini?" Gea tampak terkejut. Aura merah di tubuh Gea kini bercampur dengan aura biru , namun aura itu juga menyala seperti api. Hanya saja warnanya biru.
Hasea seperti terlempar melayang entah kemana. Saat dirasa kakinya telah berpijak pada sesuatu, dia mencoba membuka mata. Hasea berada di suatu tempat yang hampa. Sepanjang matanya memandang hanya hamparan putih yang bisa dilihatnya. Tak ada apapun disana. Hanya ada dirinya.
" Gea.. Gea.. apa kau mendengar ku? Gea di mana aku?" Gea tidak menyahut. Hasea mencoba berjalan mengitari tempat tersebut. Tidak ada apapun yang dapat dia jumpai. Semua terlihat sama, hanya ada hamparan putih.
" Gea.. dimana kau? Jangan bercanda begitu" Hasea mulai panik dan kebingungan. Dia berlutut. Dia bahkan tidak dapat merasakan badannya . "Apakah aku sudah mati" pikirnya.
Tiba-tiba tangan kanan Hasea memancarkan aura biru. Saat Hasea melihat tangannya tersebut nampak seperti ada gambar seekor naga melilit tangan itu. Lilitan badan naga mulai dari bahu sampai pergelangan tangannya dengan gambar kepala naga di punggung telapak tangannya.
" Apa ini?, Apakah ini wujudmu Gea?. Ini pasti wujud mu" gumam Hasea dalam hatinya. Dia teringat bahwa Gea pernah berkata bahwa dia adalah Naga. Hasea memegang tangan kanannya . Dia dapat merasakan ada kekuatan besar yang merasuki dirinya.
" Kau....siapa kau..siapa namamu.. apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kau bisa ada disini?" Suara-suara aneh terngiang-ngiang di kepala Hasea. Dia hampir tidak mampu mendengar apa yang mereka katakan . Suara itu seperti bergema dan saling sahut menyahut. Suara itu seperti terucap dari mulut banyak orang yang saling berebut bicara namun tak nampak wujud dari pemilik suara itu.
" Siapa kalian, aku dimana?apakah aku sudah mati?". Hasea berbicara asal.
Tiba - tiba di depan Hasea muncul sesosok pria sepuh. Rambutnya panjang . Rambut itu putih seperti uban. Jenggot yang tumbuh di dagunya panjang sampai ke dada. Jenggot itu juga sudah putih. Wajah pria sepuh itu terlihat sangat putih lebih terlihat seperti pucat. Bola matanya biru. Pakaiannya serba putih. Pria sepuh itu melayang-layang mengitari Hasea.
" Siapa kau? Kenapa kau bisa disini?" Keluar suara dari pria sepuh tersebut namun mulutnya sama sekali tidak terbuka.
"Sa..saya Hasea sesepuh..a..apakah saya sudah mati?" Ucap Hasea semakin bingung.
"Sepertinya dia kelihatan bodoh Ibey" tiba-tiba muncul sesosok pria sepuh lainnya di sekitar Hasea. Pria sepuh itu menatap Hasea mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut. " Sepertinya ini sebuah kesalahan. Dia bahkan terlihat sangat lemah" Pria sepuh itu menambahkan.
" Apakah kau bermaksud mengingkari Naga Gumoang Ijeb?" Tiba-tiba seorang sepuh lain muncul. Dia berdebat dengan sesepuh Ijeb .
" Dia kelihatannya masih sangat polos, tapi dia tampan" Muncul lagi seorang sepuh bersama 3 orang sepuh lainnya. "Tapi penampilan fisik tidak bisa menggambarkan sesuatu Irarip" salah seorang sepuh yang muncul bersamaan dengan sesepuh Irarip bersuara.
Ke tujuh sesepuh berpakaian serba putih itu melayang mengitari Hasea. Hal tersebut membuat Hasea tersudut. Dia tampak sangat kebingungan.
__ADS_1
" Benar, ucapanmu ada benarnya juga Igung, dia tampan. Struktur tulangnya juga bagus" ucap sesepuh lain sambil memegangi pundak Hasea. Hasea sedikit mundur dibuatnya.
" Bagaimana kalau kita mengujinya, kita belah saja tubuhnya" ucap Seorang sepuh lain bercanda.
" Apa ..apa yang akan kalian lakukan , sebenarnya siapa kalian?" Hasea tampak semakin panik. Dia mencoba lari namun kakinya terasa sangat berat.
" Aku setuju dengan mu Ided, kita uji saja" Ucap sepuh lainnya. Ke tujuh Sesepuh tersebut tidak berhenti berdebat. Tidak ada satupun diantara mereka yang tampak mau mengalah. Semua berkata-kata sambil terus mengitari Hasea. Satu sesepuh memegangi pundaknya. Sesepuh lain mempermaikan rambut Hasea, sesepuh lain mengendus-endus Hasea. Semua itu membuat Hasea tersudut.
"Aku masih tidak percaya , ini pasti suatu kesalahan. Bukan kah kau setuju denganku Ibah" Sesepuh Ijeb mengeluarkan suara tegas. Membuat sesepuh lain berhenti mengitari Hasea.
" Kau.. apakah kau tidak melihat Naga Gumoang melilit di tangan kanannya?"
" Sesepuh Igor benar, Naga Gumoang hanya bersemayam pada orang yang tepat" sesepuh Iben membela sesepuh Igor.
" Sudahlah. Lebih baik kita tanya dulu anak muda ini. Dia tampak semakin kebingungan " Sesepuh Iben menenangkan ke 6 sesepuh lain . Dia mengangkat tangannya dan memgarahkannya ke arah Hasea. Tiba-tiba Hasea terangkat ke atas. Sekarang mereka semua melayang disana.
" Hai anak muda, siapa nama mu?" Tanya Sesepuh Ibah. " Nama saya Hasea Sesepuh" Hasea memaksakan diri untuk menjawab. Sebenarnya dia bahkan masih sangat terkejut bagaimana mungkin dia bisa melayang - layang seperti itu. Yang ada dalam benak Hasea, pasti lah dia sudah mati.
" Lalu bagaimana kau bisa ada di tempat ini?" Sesepuh Iben, Igung, Ided, Igor, Ijep dan sesepuh Irarip menunggu jawaban Hasea atas pertanyaan sesepuh Ijeb tersebut.
" Saya tidak tau Sesepuh, saya sedang bermeditasi untuk membuka 1 pintu toddi . Tiba-tiba saya seperti terlempar ke tempat ini" Ucap Hasea dengan mulut bergetar.
" Kalian dengar? Kalian masih menganggap dia memiliki hubungan dengan kalian? Bahkan dia belum membuka satupun pintu toddi nya" Sesepuh Ijeb menentang sesepuh lain. Dia masih bersikukuh.
" Kalau begitu, akan ku bukakan pintu toddi nya yang pertama" sesepuh Irarip melayangkan totokan ke bagian dada Hasea. Seketika saat totokan itu menyentuh dadanya, Hasea seperti tertarik jauh ke belakang, dia seperti melesat menjauhi ke 7 sesepuh itu matanya seperti berat. Dia tak dapat melihat apa-apa. Dia belum sempat mencerna apa yang sedang terjadi namun saat dia membuka mata nya, dia dapat melihat sekitar gua tempatnya bermeditasi.
" Akhirnya kau kembali" ucap Gea lega. " Aku pikir kau telah mati"
" Akupun berfikir demikian Gea. Aku sampai kebingungan. Gea apakah kau mengenali mereka?" Hasea bertanya penuh harap. Dia berharap Gea dapat menjawab hal yang membuatnya bingung tersebut.
" Aku tidak bersamamu saat itu. Apakah kau tidak menyadarinya? Seperti ada yang menahanku sehingga aku tidak dapat menembus tempat yang kau masuki" Benar saja . Gea memang tidak beserta Hasea pada saat itu. Karena pada dasarnya Gea bersemayam di tubuh Hasea. Bukan pada jiwanya. Sementara kejadian yang dialami Hasea, Hanya jiwanya yang pergi ke sana.
" Kalau begitu, apakah kau tetap disini menjaga Tubuhku? wah ternyata kamu sangat baik Gea. Terima kasih ya" Hasea merasa bersyukur tubuhnya tidak terluka. Dia takut saat jiwanya meninggalkan tubuhnya , bisa saja binatang buas dari hutan menyerang tubuh itu.
" Hehe.. tidak usah sungkan, itu sudah menjadi kewajiban ku" Ucap Gea. Namun sebenarnya Gea berbohong, saat jiwa Hasea meninggalkan Tubuhnya, roh Gea terlempar kembali ke batu Porhis di lembah Tobbak Bessek seperti yang dia takutnya. Sepertinya dia benar-benar harus membantu melindungi tubuh Hasea bila tidak ingin kembali terkurung selamanya di batu Porhis.
Gea bahkan sama sekali tidak tau apa yang sedang terjadi dengan Hasea saat dia kembali ke batu Porhis. Namun saat jiwa Hasea kembali ke tubuhnya , Roh Gea juga kembali ke tubuh Hasea, saat itu dia menyadari bahwa salah satu pintu toddi Hasea telah terbuka.
" Bocah lamah, coba kau lihat tangan kanan mu" Gea tiba-tiba berbicara setelah menyadari hal yang terjadi pada lengan Hasea. " Ini.. aku juga bingung dengan gambar ini" Hasea berucap sambil memegang pergelangan tangannya.
__ADS_1
" Ayo kita uji kekuatan tenaga dalam mu" ucap Gea tiba-tiba." Cobalah memusatkan seluruh tenaga dalam mu ke tangan kanan mu, aku yakin semua ini ada hubungannya dengan gambar itu"
" Apa? Kau bercanda Gea, aku bahkan belum membuka pintu toddi ku" Hasea tersenyum sinis.
" Apa yang sedang dipikirkan anak ini" gumam Gea. " Apakah kau benar-benar tidak tau kalau satu dari antara pintu toddi mu telah terbuka?"
" Benarkah? Tapi aku?"... Belum sempat Hasea menyelesaikan ucapannya, Gea langsung menyelanya
" Sudah lah, segera keluar dari tempat ini, ayo kita uji seberapa besar tenaga dalam mu"
Hasea akhirnya menurut . Dia keluar dari Gua tersebut. " sekarang apa yang harus ku lakukan? " Tanya Hasea polos.
" Kau ini... Kau benar-benar bodoh. Pakai salah satu jurus bodoh mu itu. Lepaskan lah pukulanmu pada sesuatu " Gea tampak berfikir. " Kau lihat batu besar itu, jadikan batu itu sasaran mu"
" Seperti itu ya, baiklah" Hasea memasang kuda-kuda, dia siap untuk melafalkan sebuah jurus.
" Jurus pukulan lebah" Hasea mengepalkan tangannya, melayangkan tinjunya ke batu besar tersebut.Gambar naga pada tangan kanan Hasea memancarkan aura biru terang.
"Dhuar..." Terjadi dentuman saat tinju Hasea mendarat di batu tersebut. Batu besar itu pecah bekeping-keping. Hasea bahkan sangat terkejut melihat hal tersebut.
Hasea menatap tangan kanannya yang masih memancarkan sinar biru terang. Namun kemudian cahaya biru itu perlahan redup. Gambar naga di tangannya juga perlahan memudar kemudian menghilang seperti meresap ke dalam kulitnya.
" Kau lihat itu Gea?, Aku yakin kau sendiri bahkan kaget dengan dahsyatnya pukulan ku tadi" ucap Hasea bangga.
" Sudah selayaknya pukulan yang mengandung tenaga dalam seperti itu, kalau tidak begitu apa gunanya orang belajar tenaga dalam" ucap Gea menutupi kekagumannya.
Sebenanya Gea juga terkejut dengan besarnya tenaga dalam yang dapat dikeluarkan oleh Hasea tersebut. Memang bukan sesuatu yang luar biasa untuk pendekar yang telah lama berlatih bela diri dan tenaga dalam. Hanya saja Hasea bahkan baru mencapai tingkatan pendekar unik . Pemuda itu bahkan sebelumnya tidak sadar kalau salah satu dari pintu toddi nya telah terbuka.
" Tapi setidaknya kau tidak perlu lagi mengikuti meditasi bersama orang- orang lemah itu" ucap Gea
" Aku rasa, aku akan tetap ikut Gea. Mereka bisa curiga kalau aku tidak ikut. Lagi pula aku ingin tau lebih banyak" Ucap Hasea sembari kembali ke perkemahan
***
Teman2 please ya..dukungan teman2 semua semacam stimulan , semacam bahan bakar untuk memompa semangat author untuk berkarya .
Menekan tombol like, memberi rating , meninggalkan jejak di kolam komentar apalagi sampai memberi vote...wah itu sih udh ga bisa bilang apa- apa lagi lah.
" Kalian luar biasa" kata Boril ...
__ADS_1
Matur nuhun...