PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 75. Keluarga Serumpun


__ADS_3

" Pukulan Naga Api". Terisab melesat ke arah Hasea. Hasea hanya terdiam, mulutnya tidak dapat berkata-kata . Dia seolah pasrah untuk menerima serangan itu. Pikirannya terganggu akan sesuatu.


" Apa yang dia lakukan?" Hasapi tidak berfikir panjang. Dia berlari mendekati Hasea. Hasapi melompat cepat. Dia sekarang berada diantara Hasea dan Terisab.


Kobaran api yang menyelimuti tubuh Terisab tiba-tiba tersedot ke arah Hasapi. Seluruh api itu seolah masuk begitu saja ke dalam telapak tangan Hasapi.


Terisab terkejut. Dia sungguh tidak tau apa yang sedang terjadi. Tapi pukulannya masih melesat. Kepalan tangan Terisab mendarat tepat di dada Hasapi. Hasapi tidak bergeming sedikit pun. Hasea yang berada di belakang Hasapi terpental beberapa meter. Sementara Terisab dengan cepat melangkah mundur . Dia tidak cukup cepat. Tinju Gea mendarat di dadanya, Terisab terpental cukup jauh hanya dalam satu pukulan. Di dadanya terdapat luka bekas terbakar. Pendekar pengguna api itu mendapat luka karena pukulan api pula. Terisab tidak tau apa yang terjadi , tetapi dia tau pasti ini bukan hal yang baik.


Terisab melakukan beberapa gerakan. Memusatkan tenaga dalam nya ke kedua telapak tangannya. Dia berusaha mengobarkan kembali api dalam dirinya namun gagal. Sebenarnya tanpa kobaran api itu Terisab yakin masih bisa membunuh Hasea dan Hasapi karena sesungguhnya dia tetaplah pendekar berkemampuan Legenda dengan tenaga dalam yang besar. Tetapi tenaga dalam naga api adalah andalannya. Dia masih sangat terkejut dan bingung akan hal yang baru saja terjadi.


" Hei pemuda bodoh, sampai kapan kau akan berbaring disitu?" Suara yang keluar dari mulut Hasapi berubah. Itu bukan suaranya. Itu suara yang Hasea pernah kenal.


" Gea..bagai mana kau bisa bersemayam di tubuh tuan Hasapi?"


Hasapi tidak merespon Hasea. Dia mengalihkan perhatiannya kepada Terisab.


Gea akhirnya kembali bersuara tanpa melihat ke arah Hasea." Kau cepat bangkit lah. Pendekar di hadapan kita ini masih bisa membunuh mu sewaktu -waktu."


" Tapi...tapi bagaimana bisa kau keluar dari batu Porhis?"


Hasapi masih menghadap ke arah Terisab dan Hasea di belakangnya.


" Entahlah, aku tidak tau pasti. Tapi sepertinya ini semua ada hubungannya dengan cincin ini." Gea mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan cincin yang dipakai Hasapi. Cincin yang diberikan Hasea kepada orang tua itu, cincin titipan Isumbaon.


" Cepatlah kita hadapi dia bersama-sama. Waktu ku tidak banyak, tubuh orang tua ini juga sangat lemah. Aku tidak yakin tubuhnya bisa bertahan beberapa menit lagi sampai dia tewas karena tekanan tenaga dalam ku." Gea tampak kesal. Untuk sesaat dia berharap berada di tubuh Hasea. Tubuh yang lebih kuat. Tetapi dia juga sadar hal itu tidak akan bisa terjadi selama Naga Gumoang bersemayam di tubuh Hasea.

__ADS_1


" Baiklah kalau begitu." Hasea bangkit berdiri. Dia seperti mendapat kekuatan baru. Dia siap untuk menyerang Terisab dengan bantuan Gea.


" Sekarang kita lihat, bagai mana kau dapat mengalahkan kami berdua. Kenapa kau tidak memunculkan api yang menyelimuti tubuh mu tadi?apa kau menjadi takut untuk menghadapi Naga api yang sesungguhnya?" Ucap Hasea dengan pasti. Percaya dirinya kembali secara penuh.


Gea juga sudah bersiap. Dia memancarkan sedikit tenaga dalam sesuai porsi yang tubuh Hasapi bisa tampung. Tubuh Hasapi mengobarkan api yang kecil tetapi hal itu cukup membuat Terisab terkejut dan ketakutan .


" Tunggu dulu, apa kata mu? Naga api?" Terisab tertegun. ' apa itu penyebabnya tenaga dalam naga api dalam tubuhku terserap? Apa benar yang dihadapanku sekarang ini adalah naga api?'


" Kau? Benarkah kau naga api? Bukankah seharusnya kau bersemayam di tubuh Isumbaon? Orang yang tak bertanggung jawab itu?" Terisab bertanya lantang. Ada nada kemarahan dari setiap kata-katanya itu.


" Isumbaon? Apa kau mengenal senior Isumbaon?" Tanya Hasea bingung.


" Mengenal dia? Tentu saja aku tau dia. Dia adalah Leluhur ku, sayang nya dia leluhur yang tidak bertanggung jawab. Kalau saja dia tidak menghilang tiba-tiba mungkin nasib kami para keturunannya tidak akan seperti ini. Kalau saja dia tidak menghilang, mungkin saat ini kami sudah menjadi penguasa kerajaan Partungko Naginjang."


Terisab mengendurkan pertahanannya. Entah kenapa tetapi semangat bertarungnya tiba-tiba hilang.


" Kau ini.. kau sungguh roh naga yang durhaka. Tubuh senior Isumbaon adalah tempat mu bersemayam beberapa ratus tahun yang lalu." Hasea kesal.


" Apa? Seingatku, tubuh mu lah yang terakhir menjadi persemayaman roh ku wahai pemuda bodoh. Ah sudahlah. Sepertinya waktuku telah habis. Tubuh orang tua ini tidak akan bisa bertahan lebih lama. Sebentar lagi aku bertahan disini, tubuh orang tua ini akan gosong terbakar. Maafkan aku baru bisa menyapa mu sekarang. Hanya saja 2 kali kemunculan ku beberapa hari yang lalu untuk melindungi tubuh orang tua ini sangat singkat. Baiklah sepertinya aku harus kembali lagi ke batu Porhis."


" Jadi waktu di kota Raniatte itu.." belum sempat Hasea menyelesaikan perkataannya, tubuh Hasapi terjatuh ke tanah. Kobaran api di tubuh orang tua itu juga telah hilang. Orang tua itu kehilangan kesadaran.


Hasea masih terdiam. Dia masih mencoba memahami hal yang baru saja terjadi. Tapi kemudian dia kembali waspada. Dia teringat masih ada Terisab di hadapannya. Seketika dia memancarkan aura tenaga dalam Naga Gumoang. Tetapi Terisab tidak bereaksi, sepertinya ada hal yang mengganggu pikirannya.


" Jadi bagai mana sekarang? Apa kita akan melanjutkan pertarungan ini?" Hasea tidak mendapat jawaban dari Terisab. Pendekar itu mendekat perlahan tanpa memancarkan aura tenaga dalam.

__ADS_1


" Siapa sebenarnya kalian? Apa hubungan kalian dengan naga api dan leluhur Isumbaon?"


Hasea masih sedikit waspada. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Terisab, namun dia dapat merasakan tidak ada ancaman lagi dari Terisab sekarang ini.


" Tuan Hasapi juga adalah keturunan Senior Isumbaon. Apa itu berarti kalau kalian sebenarnya masih satu rumpun keluarga? Wah.. anda sungguh kelewatan Tuan, anda hampir saja membunuh keluarga anda sendiri." Hasea menyindir Terisab.


" Hei..jangan salahkan aku, bagai mana aku tau kalau si tua ini juga keturunan leluhur Isumbaon?" Terisab protes sambil menggaruk kepalanya.


" Tapi bagaimana dengan mu? Sepertinya kau sangat mengenal leluhur Isumbaon, seolah kau pernah bertemu dengannya saja.Hahaha." Tawa janggal Terisab itu malah membuat Hasea waspada. ' Orang ini, dia sungguh tidak cocok tertawa'


" Ya.. bagaimana mengatakannya? Aku bersama dengan Senior Isumbaon untuk beberapa purnama. Banyak hal yang aku pelajari dari nya."


" Apa? Apa itu mungkin? Apa kau bercanda? Kalau saja itu benar itu artinya kau sudah berumur ratusan tahun. Hahaha. Sepertinya aku terlalu keras memukul kepala mu anak muda. Otak mu sepertinya sedikit bergeser."


" Hei.. jangan sembarangan, umur ku masih 16 tahun. Senior Isumbaon lah yang sudah berumur ratusan tahun."


"Apa??? Dia itu manusia atau dewa sampai bisa berumur selama itu."


Hasea hanya terdiam . Dia berupaya meminumkan obat kepada Hasapi yang masih belum sadar.


" Jangan-jangan? Jadi benar dia akhirnya bisa hidup abadi? Benarkah itu? Dimana dia sekarang? Ayo pertemukan aku dengannya. Banyak hal yang harus dia pertanggung jawabkan."


Hasea tidak menggubris Terisab. Dia memapah Hasapi untuk duduk dan bersandar di batang pohon.


Hasapi perlahan membuka mata.

__ADS_1


Hasapi terkejut bukan kepalang. Saat dia berhasil membuka mata seluruhnya dan penglihatannya sudah jelas, dia malah melihat wajah Terisab di hadapan nya. Hasapi terkejut sampai dia mundur dan kepalanya membentur batang pohon.


" Hei, tua bangka..benarkah kau keturunan Isumbaon? Kau tampak bodoh untuk ukuran keluarga Naga Api." Terisab terus memperhatikan raut wajah Hasapi.


__ADS_2