
Rombongan pendekar Matahari Biru gelombang ke dua semakin mendekati kota Pintu Suona. 500 orang jumlahnya. Kali ini mereka mengirim lebih banyak pendekar berkemampuan Unik hingga berkemampuan Langka dibanding rombongan gelombang pertama.
" Senior, seluruh anggota sudah bersiap. Sekitar 1 hari lagi kita akan sampai di Kota Pintu Suona." salah satu anak buah Katullik melaporkan kondisi dan situasi kepada ketua regu rombongan ke 2 sekte matahari biru.
" Apakah penghubung sudah memberi kabar?" Katullik bertanya kepada anak buahnya.
" Sayangnya penghubung kita kita belum tiba ketua. Mungkin tengah hari kita akan bertemu dengannya di tengah jalan."
" Baiklah, siapkan semua. Waktu istirahat telah selesai, kita lanjutkan perjalanan.
***
Terisab merasakan ada kekuatan besar sedang mengarah kepadanya. Pikalio, pendekar sekte Banteng merah dan ke 5 rekannya memang sedang melesat ke arahnya. Tenaga dalam dari ke 6 pendekar utusan Banteng merah itu sangat ketara. Mereka memang para pendekar yang sudah berada pada tingkatan kemampuan Langka.
" Hm..menarik, setelah semua ini berakhir aku akan membuat perhitungan dengan sekte Banteng merah." Batin Terisab.
Pikalio dan ke 5 rekannya langsung menyerang Terisab begitu saja. Mereka seolah tidak ingin menunggu lebih lama.
" Dasar orang-orang licik. Mengapa kalian harus menari di panggung orang lain? Apa kalian tidak memiliki keberanian untuk bertindak tanpa menunggangi sekte orang lain?"
Teriakan Terisab mengagetkan ke 6 pendekar Banteng merah itu.
" Apa maksud mu orang tua?"
Pikalio sedikit mengerutkan kening nya. Serangan mereka kepada Terisab termasuk berbahaya tetapi Terisab masih sempat berteriak lantang seolah tidak takut nyawanya melayang.
" Apa kau pikir aku tidak tau kalau kalian berasal dari sekte Banteng merah? hal yang menjadi aneh adalah kenapa sekte aliran putih bekerja sama dengan sekte aliran hitam untuk menyerang sekte aliran putih lain hah?? Dasar kalian para pengkhianat."
Sebenarnya Pikalio cukup terkejut mendengar ucapan Terisab. Dia heran kenapa Terisab bisa mengetahui identitas mereka.
" Jangan banyak bicara. Banyak hal yang seharusnya kau tidak perlu ketahui."
Pikalio dan ke 5 rekannya kembali menyerang Terisab. Puluhan jurus saling bertukar.
__ADS_1
Terisab memasang kewaspadaan penuh. Orang itu sedang dikepung oleh 6 pendekar berkemampuan Langka tetapi dia bisa dengan tenang menghadapi mereka. Pengalaman memang selalu bisa diandalkan.
" Senior, kita tidak bisa terus seperti ini. Kita harus menggunakan jurus itu kalau tidak ingin terbunuh." Salah satu rekan Pikalio menjadi panik. Bukan tanpa alasan, sejauh ini Terisab masih bisa memberi perlawanan . Bahkan sebenarnya luka yang didapat oleh ke 6 pendekar itu lebih banyak dibanding luka yang didapat oleh Terisab.
" Kalau kita menggunakan jurus Banteng menghempas Jagad maka identitas kita akan terbongkar." Ucap Pikalio. Memang sejauh ini ke 6 pendekar utusan Banteng merah itu bertarung tanpa menggunakan jurus sekte banteng merah. Oleh karena itu pula memang kekuatan Serang mereka menjadi berkurang. Mereka bertarung tidak dengan jurus yang mereka kuasai sepenuhnya .
" Tapi apa bedanya senior, identitas kita juga sudah terbongkar." Protes rekan Pikalio yang lain .
" Baiklah, kita serang dia dengan jurus sekte."
Terisab melompat jauh. Beberapa pukulan berhasil bersarang di tubuhnya. Ke 6 pendekar itu akhirnya memang menggunakan jurus sekte banteng merah. Tentu saja kekuatan Serang mereka menjadi berbeda dan hal itu membuat Terisab sedikit terkejut.
" Oh jadi rupanya sedari tadi kalian masih menahan diri? Baiklah, karena kalian sudah menunjukkan kekuatan yang sebenarnya, aku tidak akan mengecewakan kalian."
" Tidak usah banyak bicara kau." Pikalio yang merasa dipermainkan Terisab berteriak lantang. " Sekarang...serang dia."
Ke enam pendekar itu membentuk formasi. Pikalio berada di urutan paling depan, dua pendekar lain di belakangnya dan tiga pendekar sisanya di barisan paling belakang.
" Jurus banteng menghempas Jagad."
Pikalio melesat cepat diikuti oleh ke 5 rekannya. Sekumpulan pendekar itu melesat dengan formasi membentuk mata anak panah.
Pikalio melayangkan pukulan ke arah Terisab. Orang itu dapat menghindar tetapi dua pukulan kembali melesat ke arahnya dengan cepat. Pukulan dari ke 2 rekan Pikalio berhasil mendarat di tubuh Terisab. Terisab terpental beberapa langkah. Darah segar mengalir dari bibirnya.
Pendekar Banteng merah dengan formasi mereka terus mendesak Terisab. Gerakan ke 6 pendekar yang padu padan dengan kecepatan tinggi itu membuat Terisab kewalahan. Sebagian besar pukulan mereka dapat ditangkis dan dielakkan oleh Terisab tetapi sebagian kecil pukulan itu mendarat di tubuhnya. Tubuh Terisab dipenuhi beberapa luka.
Terisab sedikit mengundurkan diri. Dia menarik nafas untuk mengembalikan tenaga yang cukup terkuras.
" Dia sudah terpojok. Jangan beri waktu untuk dia mengembalikan staminanya."
Pikalio kembali menyerukan rekan-rekannya untuk menyerang Terisab. Mereka ber 6 kembali ke formasi, menyatukan tenaga dalam dan Pikalio sebagai ujung tombak. Ke enam pendekar itu melesat cepat ke arah Terisab.
Pikalio dan ke 5 rekannya menyerang dengan kekuatan penuh. Tubuh mereka memancarkan aura tenaga dalam yang lebih besar. Mereka berniat untuk mengakhiri pertaruhan dengan Terisab.
__ADS_1
" Rasakan ini. Pukulan Banteng murka Level 10."
Pukulan Pikalio dan ke 5 rekannya mengarah kepada Terisab. Hanya berjarak beberapa senti saja sampai mereka ber 6 terpental akibat gelombang tenaga dalam yang besar yang terpancar dari tubuh Terisab.
Kedua lengan Terisab merentang ke bawah, dari kedua bola matanya memacar cahaya merah. Tubuh Terisab dipenuhi aura tenaga dalam. Nyala api menyelimuti tubuhnya,lidah kobaran api menyambar-nyambar dari sana.
"A..apa..apa itu. Tubuh orang tua itu tiba-tiba terbakar."
Pikalio dan ke 6 rekannya terkejut bukan kepalang. Baru kali ini mereka melihat tubuh seseorang diselimuti api membara tetapi orang tersebut tidak gosong terbakar.
" Hahaha..ada apa? Apakah Banteng juga takut api? Kalian bermain api tetapi kalian justru takut dengan api yang sesungguhnya. "
Terisab menatap tajam dan mengintimidasi lawannya itu dengan ucapan.
"Kau...jangan kira kami takut dengan tipuan mu itu." Teriak Pikalio yang berupaya bangkit. Walau tubuhnya dan tubuh ke 5 rekannya terpental saat Terisab memancarkan aura tenaga dalam Naga Api, tetapi mereka tidak mendapat luka serius.
" Oh, baiklah. Kita lihat saja apakah setelah ini kau tidak takut."
Terisab memasang kuda-kuda. Ia bersiap untuk melesat. Kobaran api dalam tubuhnya semakin besar.
Terisab melesat sangat cepat. Dengan kecepatan itu yang dapat terlihat oleh mata hanyalah bola api yang melesat cepat . Seperti meteor yang jatuh ke bumi.
Terisab menyasar 2 orang dari ke 6 musuhnya.
"Pukulan naga Api."
Terisab mengarahkan tinjunya kepada salah satu musuh di depannya. Kemudian setelahnya melesat ke orang ke dua di sebelahnya.
Kedua orang itu sebenarnya sudah menahan pukulan Terisab dengan tenaga dalam tetapi tetap saja gagal. Pukulan naga api dengan kekuatan tenaga dalam sebesar itu tidak mampu mereka tahan. Kedua orang itu terpental jauh. Muntahan darah dari mulut mereka berserakan dimana-mana. Pada akhirnya kedua orang itu kehilangan nyawa.
"Apa sekarang kau sudah takut?"
Terisab menoleh ke arah Pikalio. Pendekar sekte Banteng Merah itu hanya mematung. Badannya menggigil, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
__ADS_1
Terisab tidak menunggu lama. Dia melesat ke arah ke 4 musuhnya yang tersisa .Tukar menukar jurus kembali terjadi namun kali ini kondisi sungguh terbalik. Terisab menyarangkan banyak pukulan ke arah mereka.