PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 35. Mencari Jejak Masa Lalu (Kitab Naga Biru)


__ADS_3

Rombongan perampok Harinuan Tiba di Perkemahan setelah menempuh perjalanan yang melelahkan. Seluruh anggota sekte yang terluka segera dirawat di Tenda pengobatan.


" Setelah kondisi semua anggota sekte membaik, kita harus segera memindahkan perkemahan. Tempat ini sudah tidak aman." Ketua Harimotting memulai pembicaraan. Memang semua ketua perampok Harinuan perkemahan Utara sedang berkumpul ditenda pertemuan . Disana juga ada Ketua Garguek. " Aku yakin setalah pertarungan itu , pada akhirnya pihak kerajaan akan bisa melacak tempat ini."


" Saya memohon maaf karena upaya pembebasan ini, banyak anak buah mu yang menjadi korban ketua." Ketua Garguek mengungkapkan rasa bersalahnya kepada ketua Harimotting. " Seharusnya kalian tidak perlu melakukannya. Bagaimanapun nyawa puluhan orang yang menjadi korban itu jauh lebih berharga dari pada nyawa orang tua ini." Tampak di wajah Ketua Garguek memancarkan kesedihan dan penyesalan yang mendalam.


" Jangan begitu ketua Garguek. Bagaimana pun peranan anda masih sangat diperlukan oleh sekte kita. Sebaiknya sekarang kita tetap berjuang demi kesejahteraan rakyat Partungko Naginjang agar pengorbanan para anggota sekte yang telah telah gugur tidak sia-sia." Ucapan ketua Harimotting itu sedikit mengobati rasa bersalah ketua Garguek.


" Pihak kerajaan memang sudah keterlaluan. Seluruh rakyat Partungko Naginjang dijadikan sapi perah." Ucap ketua Garguek geram. Selama di dalam tahanan , sedikit banyak dia menjadi mendapatkan informasi tentang kekejian kerajaan memperlakukan rakyatnya sendiri.


" Lalu apa rencana anda selanjutnya ketua?" Ketua Borong bertanya pelan kepada ketua Garguek.


" Setelah memberi kabar kepada sekte Pusat, Aku akan kembali ke perkemahan Selatan ." Semenjak Ketua Garguek ditangkap oleh pihak kerajaan, Perampok Harinuan perkemahan Selatan yang sebelumnya dia pimpin memang kehilangan marwahnya. Selama Ketua Garguek ditahan , pucuk pimpinan perampok perkemahan wilayah Selatan dipercayakan kepada Cendra. Cendra, orang berkemampuan setara pendekar Langka Level 2 itu bukanlah pemimpin yang bijaksana. Bukannya berpihak kepada rakyat, dia malah mengubah perampok perkemahan Selatan benar-benar menjadi perampok yang hanya mementingkan harta semata. Citra perampok Harinuan menjadi tercemar oleh ulahnya.


" Kami akan mengirimkan regu delik sandi untuk mengawal anda menuju Perkemahan Selatan Ketua! " Ucap ketua Harimotting. " Hal itu tidak perlu ketua Harimotting. Sudah cukup korban yang jatuh karena ku. Lagipula aku akan baik-baik saja. Bagaimana pun, orang tua ini masih bisa menjaga diri." Ucap Ketua Garguek tidak mau merepotkan . Memang hal itu benar, kalau saja dulu dia tidak dikepung oleh 3 pemimpin sekte Aliasi putih sekaligus, Ketua atas Harinuan itu tidak mungkin bisa takluk dan tertangkap.


" Berbicara tentang regu delik sandi,saya jadi penasaran. Bagaimana ceritanya Hasea meninggalkan rombongan kita saat pelarian?" Tanya ketua Borong mengharapkan jawaban yang memuaskan.


" Saya juga kurang mengerti ketua. Hanya saja dia nampak sangat terburu-buru. Dia hanya meminta ijin untuk kembali ke istana.Kalau saya tidak salah ingat, dia berkata sesuatu tentang mencari tau tentang masa lalu." Ucap Ketua Sulpi mengingat- ingat . Kejadia itu memang tidak menjadi fokus ketua Sulpi saat itu. Prioritas utamanya adalah membawa sebanyak mungkin anggota sekte meninggalkan kota Ronggur sehingga dia agak sedikit menghiraukan Hasea.


" Anak itu.. memang ada kebingungan besar di dalam hatinya karena rasa penasaran akan asal usulnya." Ucap ketua Harimotting sambil memegang dagunya. " Semoga dia mendapatkan jawaban atas apa yang dia cari."


***


Aku berharap anggota sekte sudah sampai perkemahan dengan selamat." Gumam Hasea. Dia bersama prajurit kerajaan yang lain masih berada di pasar kota Ronggur untuk membereskan kekacauan akibat pertarungan pihak istana dengan Perampok Harinuan. Setelah berpamitan kepada ketua Sulpi, Hasea memang kembali menyamar dengan memakai pakaian dari salah satu prajurit bulan darah yang Tewas. Dengan begitu, dia bisa kembali membaur dengan prajurit Bulan darah tanpa dicurigai.

__ADS_1


Mayat-mayat dari perampok Harinuan ditumpuk dan dibakar begitu saja oleh para prajurit. Bau gosong yang menyengat terpancar ke seluruh tempat di pasar itu. Sementara pendekar aliansi putih dan prajurit yang tewas dikuburkan dengan layak disertai acara penghormatan. Hal tersebut dilakukan pihak istana tidak lebih hanya untuk meredam kemarahan Aliansi putih akibat banyaknya anak buah mereka yang jadi korban.


Di paviliun pertemuan istana terjadi perdebatan antara utusan Aliansi putih dengan pihak kerajaan. Mereka yang sedari awal yang tidak setuju dengan rencana dari pihak kerajaan menyalahkan Kaisar.


" Kaisar harus bertanggung jawab atas semua ini." Lutok berucap keras dihadapan Kasim Lakuteh. " Dari awal , pihak istana memang sengaja berniat mengorbankan pendekar aliansi putih."


" Permaisuri Lamsia memasuki paviliun." Suara lantang dari prajurit penjaga paviliun yang berjaga diluar menyambut kedatangan Permaisuri bersama dayang-dayangnya. Walau sudah memasuki usia yang tergolong tua, tetapi wajah dan perawakan permaisuri Kerajaan Partungko Naginjang itu masih terlihat sangat muda. Wajah cantik terawat dan tubuh seksi nya membuat mata yang memandang akan menyangka dia masih berumur sekitar 30 tahun di usianya yang sudah menganjak 50 tahun.


" Pendekar Lutok, rasanya reaksi anda terlalu berlebihan." Ucap permaisuri Lamsia pelan namun mampu membuat seisi paviliun hening seketika. " Apakah anda lupa bahwa kita memiliki kesepakatan yang sudah disetujui oleh semua ketua Sekte anggota aliansi putih? Lagipula setelah ini masing-masing dari sekte kalian akan mendapat imbalan yang besar dan sumber daya yang banyak. Aku yakin itu akan sangat sepadan." Ucap permaisuri itu sambil tersenyum tipis.


" Lalu bagaimana rencana ini bisa gagal Panglima?" Tanya permaisuri kepada panglima Angkar. " Sepertinya ada penyusup di istana Permaisuri." Ucap Panglima Angkar. Kepalanya tertunduk tidak berani menatap Permaisuri itu.


" Sudahlah , bagaimana pun setidaknya separuh dari kekuatan perampok perkemahan Utara itu berkurang. Sebaiknya kalian perketat penjagaan di istana ini. Saya tidak mau hal seperti ini terulang. Hal seperti ini bisa membuat Kaisar murka. Tapi untuk sekarang , biar aku yang menanganinya." Ucap permaisuri Lamsia sambil berlalu .


***


" Terserah kau saja bocah. Aku tidak cukup mengerti apa yang kau harapkan sekarang. Terkadang lebih baik tidak mengetahui masa lalu sama sekali." Ucap Gea seperti memendam sesuatu dalam hatinya.


Malam hari setelah merasa istana sudah cukup sunyi, Hasea keluar dari ruang peristirahatan para prajurit. Hanya ada puluhan prajurit yang sedang patroli malam itu. Sesekali Hasea hampir berpapasan dengan tim patroli,namun dia selalu bisa berhasil mengelak. Hasea tiba di ruangan yang ditujunya. Ruangan yang disana terpajang gambar dari sesepuh Iben.


Hasea memasuki ruangan itu setelah memastikan sekelilingnya aman. " Aku masih saja heran Gea, kenapa ada bangunan di lingkungan istana ini yang sama sekali tidak dijaga." Gumam Hasea. Hasea memandangi sekeliling ruangan itu berharap bisa menemukan sesuatu. Tetapi di dalam ruangan itu tidak terdapat apa-apa. Hanya ada satu gambar sesepuh Iben yang terpajang.


" Ada orang datang." Gumam Hasea setelah mendengar langkah kaki memasuki ruangan itu. Hasea segera bersembunyi disudut gelap ruangan.


Kaisar Tossao memasuki ruangan itu seorang diri. Tidak ada pengawal bersamanya. Kaisar Tossao hanya berkeliling di sekitar ruangan kosong itu. Dia menuju ke dinding ruangan. Kaisar Tossao mendekati salah satu obor yang tergantung di tembok ruangan itu.

__ADS_1


" Apa sebenarnya yang dilakukan kaisar itu di tempat ini." Gumam Hasea. Sudah 2 kali dia melihat Kaisar Tossao mendatangi ruangan ini seorang diri. Hal tersebut termasuk aneh mengingat dia adalah Kaisar. Seharusnya dia selalu mendapat pengawalan dari prajurit Istana.


Terdengar suara seperti benda bergesekan saat Kaisar Tossao meraih dan menarik salah satu tangkai obor di ruangan itu. Tembok ruangan di salah satu sudut ruangan seperti terbelah. Setalah tembok itu terbuka , tampak sebuah tangga yang mengarah ke bawah ruangan.


" Gea.. itu tuas untuk membuka ruang rahasia." Gumam Hasea. " Ternyata ada sebuah ruangan rahasia di tempat ini ".


Kaisar Tossao mendekati pintu masuk ruang rahasia itu kemudian masuk kedalamnya.


Hasea mengendap- endap bermaksud untuk mendekati pintu masuk ke ruang rahasia itu. Dia penasaran ada apa disana.


" Bahkan para leluhur tidak merestui ku sampai dengan saat ini . Kitab Naga biru ini tak sekalipun memberikan respon kepadaku". Hasea mendengar samar suara Kaisar Tossao dari dalam ruangan rahasia itu. Hasea memberanikan diri mengintip lebih dalam ke dalam ruangan itu. Tiba-tiba lengan kanan Hasea terasa hangat. Aura biru terpancar dari lengannya itu.


Kitab Naga biru yang berada di meja di hadapan Kaisar Tossao tiba-tiba bergetar. Tampak gambar Naga di sampul depan Kitab itu memancarkam warna biru.


" Apa ini? Apakah segel yang mengunci kitab ini akhirnya terbuka?" Ucap Kaisar Tossao.


Mata Kaisar Tossao nanar ke seluruh ruangan. Dia tidak ingin ada seorangpun yang melihat kejadian itu. Saat pandangan Kaisar Tossao menuju tangga masuk ruang rahasia itu, sekilas dia melihat bayangan Hasea . " Siapa disana?" Ucap Kaisar Tossao yang kemudian mendekati tangga.


" Gawat...sepertinya kita harus pergi." Hasea segera beranjak dari ruangan itu. Seiring dia menjauh dari sana, aura biru di lengan kanannya perlahan memudar dan menghilang.


" Mungkin hanya perasaan ku saja." Gumam Kaisar Tossao setelah memastikan tidak ada orang lain di sekitar ruangan itu. Dia kembali mendekati Kitab Naga Biru. Tetapi cahaya biru pada gambar naga di sampul kitab itu telah menghilang. Kaisar Tossao mencoba membuka halaman kitab , tidak berhasil.


" Apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tadi seolah segel yang mengunci kitab ini telah terbuka, namun kini saat aku mencoba membuka halamannya malah halamannya tidak bisa terbuka. Para leluhur, sebenarnya apa yang kalian inginkan?" Kaisar Tossao menghela nafas. Entah sudah berapa puluh tahun dia mencoba membuka kitab Naga biru itu tapi tidak juga berhasil. Kitab Naga biru itu dikunci oleh segel tenaga dalam yang sangat kuat.


***

__ADS_1


Mohon dukungan dari teman2 semua. Klik like ya. Tinggalkan jg jejak di Comment . Terima kasih


__ADS_2