PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 84. Mempertaruhkan Kepercayaan


__ADS_3

Untuk sesaat, Hasea dan rombongannya hanya bisa terdiam sambil menatap Arinauli terbaring di tempat tidurnya. Peralatan pengobatan yang tersemat di tubuh dan wajah wanita muda itu tidak menutupi kecantikan cucu Hasiahan itu.


Hasea menatap Arinauli dengan penuh iba. Kecantikan wanita itu, Hasea baru kali itu melihat ada wanita secantik itu. Wajah sendu nan lembut. Tanpa kata dan ekspresi, tetapi Hasea bisa merasakan bahwa wanita ini adalah wanita yang baik dan lemah lembut. Mungkin dia juga periang.


" Bagaimana mungkin ada orang yang bisa bertahan hidup tetapi tidak sadarkan diri untuk waktu yang sangat lama." Benak Hasea.


" Jadi,diantara kalian berempat siapa yang merupakan tabib?"


Pertanyaan Hasiahan itu memecah keheningan. Terisab, Gilok dan Hasapi serempak memandang Hasea. Hasea merasa tersudut, tetapi ini adalah idenya. Tentu Hasea lah yang harus berperan sebagai tabib kali ini.


" Oh jadi kau tabib anak muda? Dengan umurmu yang masih terlihat muda, Kau Pasti lah Tabib yang sangat hebat."


Hasiahan menebak bahwa Hasea lah tabib nya. Bukan tanpa alasan, tatapan ke tiga teman serombongannya seperti berkata demikian.


" Tuan Hasiahan. Mungkin ini berbeda dari yang anda pikirkan. Tapi bagaimana pun saya akan mencoba."


***


Setelah melihat kondisi Arinauli, Hasea dan rombongannya meminta waktu untuk berdiskusi. Hasiahan menyediakan sebuah kamar untuk mereka.


" Lalu sekarang, apa yang akan kau perbuat? Tindakanmu sungguh gila. Apa kau benar-benar bisa menyembuhkan penyakit?"


Gilok yang merasa dijebak protes. Dari awal memang dia tidak diberi tahu bahwa Hasea akan mencoba mengobati Arinauli. Gilok tau pasti bahwa Hasea bukanlah tabib. Pemuda itu tidak memiliki kemampuan mengobati penyakit apa pun.


" Tenanglah Tuan, saat seperti ini kita harus berfikir jernih dan memikirkan jalan keluarnya."


" Tenang? Bagaimana kau bisa menyuruhku untuk tenang? Apa kau tidak melihat besarnya pancaran pengharapan dari tatapan mata tuan Hasiahan itu? Apa kau tidak berfikir bagaimana sakit hatinya saat mengetahui bahwa kau bahkan tidak bisa mengobati demam biasa sekalipun?"


Gilok semakin geram kepada Hasea. Dia tidak tau apa yang ada di kepala pendekar muda itu.


" Aku telah memikirkannya sebelum kemari. Untuk hal ini Aku membutuhkan bantuan kalian berdua. Itulah alasanku mengajak kalian ikut kemari."


" Lalu apa yang bisa kami bantu?" Terisab yang sedari tadi hanya diam tidak sabar ingin tau apa yang sedang direncanakan Hasea.

__ADS_1


" Jadi begini tuan, ada rumor yang beredar mengatakan bahwa penyakit yang diderita oleh Arinauli bukanlah penyakit biasa."


Rumor yang beredar memang mengatakan bahwa roh Ariani dibawa pergi oleh Roh Naga. Walau sekedar rumor, tetapi hal itu bisa saja masuk akal. Karena tubuh Arinauli sama sekali tidak mengalami luka atau penyakit apapun. Semua organnya bekerja dengan baik. Ariani bahkan tetap bertumbuh walau tidak sadarkan diri.


" Memang ini hanya rumor, tapi tidak ada salahnya mencoba bukan?"


" Baiklah, lalu apa hubungannya dengan kami?"


Penjelasan Hasea yang sepenggal-sepenggal membuat Gilok semakin geram. Ingin sekali rasanya dia mengetok kelapa pemuda yang bertele-tele itu.


" Kalian tau tuan, roh naga Gumoang bersemayam di tubuhku, tetapi aku sama sekali tidak pernah berkomunikasi dengan dia. Hanya ada satu roh naga yang pernah ku ajak berbicara."


" Maksudmu roh naga api?" Terisab dengan cepat mengerti apa yang dimaksud oleh Hasea.


" Benar tuan, kita harus minta bantuannya. Aku ingin meminta tolong pada salah satu diantara kalian." Hasea terdiam sejenak.


" Kita harus memaksa roh naga Api untuk hadir. Untum hal itu akan dibutuhkan pendekar dengan kemampuan legenda."


" Maksudnya Hasapi akan meminjamkan cincin itu kepada salah satu diantara kami?" tanya Terisab.


"Benar tuan, saya harap anda bersedia meminjamkan tubuh anda."


Hasea menatap Terisab.


***


Hasea mengajak ke tiga temannya itu ke sebuah muara sungai. Tempat yang cukup jauh dari desa Sipoholon.


Hasapi menyerahkan cincin itu kepada Terisab.


" Dengan kemampuan anda sebagai pendekar legenda, seharunya tubuh anda akan bisa menampung Gea untuk waktu yang cukup lama. "


Terisab memandangi cincin yang diberikan oleh Hasapi kepadanya sampai akhirnya dia memakai cincin itu.

__ADS_1


Terisab memandangi lokasi mereka berdiri. Dia mengerti kenapa Hasea memilih tempat ini. Di tempat ini terdapat banyak sumber air. Apabila Terisab terlena dan akhirnya ingin memiliki roh Gea untuk selamanya maka Hasea akan berupaya menyadarkannya dengan bertarung.


Hasea menarik Gilok menjauh dari Terisab.


" Tuan, saya tidak tau apakah roh naga api yang akhirnya mempengaruhi pikiran tuan Terisab atau mungkin tuan Terisab yang justru mengambil alih . Semoga saja tidak keduanya. Tetapi apabila benar itu terjadi, saya mohon kepada anda untuk membantu saya menyebut kembali cincin itu."


Gilok hanya menatap aneh kepada Hasea. Dia tau bahwa pendekar muda ini belum sepenuhnya menguasai tenaga dalam Naga Gumoang, kalau saja Terisab benar-benar berniat menguasai Gea maka dengan bantuan Gilok saja tidak akan bisa mengalahkan tenaga dalam roh naga api.


" Tenang saja Tuan, saya percaya kepada tuan Terisab. Ini semua hanya upaya antisipasi saja."


***


Terisab berdiri berjarak sekitar 20 meter dari Hasea. Dia siap untuk menerima pukulan pendekar muda itu. Walau Terisab sudah memakai cincin pemberian Hasapi, tetapi tidak ada jaminan mereka bisa mengundang roh naga api.


Hal yang Hasea ketahui adalah bahwa Gea muncul saat nyawa orang yang memakai cincin itu dalam bahaya. Oleh karena itulah Hasea akan menyerang Terusab.


Hasea bersiap. Dia mengangkat kedua tangannya ke udara.


"Jurus naga terbang menggulung lautan."


Air dalam jumlah yang sangat besar tersedot dan melayang di udara mengikuti gerakan tangan Hasea. Terbentuk naga air di sana. Naga air itu memancarkan cahaya biru. Di sekitar tubuh naga itu menyambar-nyambar kilat berkekuatan besar.


Terisab hanya terdiam memandang naga api yang dikelilingi kilatan itu. Entah apa jadinya kalau ternyata Tidak muncul saat Naga api untuk melindungi dirinya.


Terisab hampir saja menggunakan tenaga dalam nya sebagai perlindungan sampai dia merasa ada yang aneh dalam tubuh dan fikirannya.


Kepala Terisab terasa berat. Pandangannya kabur, seolah dia akan kehilangan kesadaran.


Tubuh Terisab terasa hangat. Kobaran api yang sangat besar menyambar-nyambar dari dalam tubuhnya. Seluruh tubuh Terisab dipenuhi lidah api yang menyala-nyala.


Terjadi dentuman besar saat naga air menyentuh tubuh Terisab. Untuk sesaat Naga air buyar berhamburan sampai kumpulan air itu menyatu kembali membentuk naga air. Sementara tubuh Terisab terpental cukup jauh.


Gilok dan Hasapi yang sebenarnya berada cukup jauh ikut terpental. Bebatuan besar dan bukit di sekitar telaga itu pecah seperti terkena ledakan besar.

__ADS_1


__ADS_2