
Ketua Harimotting bersama Altong dan rombongannya tiba di pusat sekte Harinuan. Di tempat itu juga telah dikumpulkan ketua wilayah yang lain. Ketua Ranggiting dari perkemahan wilayah Timur,Ketua Lapatan dari Perkemahan wilayah Barat, ketua Garguek dari perkemahan wilayah Selatan.
Pertemuan penting sekte Harinuan itu memang sudah dipersiapkan sematang mungkin. Setelah perkemahan wilayah Utara memberi kabar bahwa mereka akan menyampaikan hal penting, Oppui Goppul sebagai pimpinan tertinggi sekte Harinuan memang mengundang semua ketua wilayah untuk datang ke Pusat sekte. Oppui Goppul sendiri yang memimpin pertemuan tertutup itu.
" Terima kasih saya ucapkan kepada para ketua sekalian yang telah memenuhi undangan ini." Oppui Goppul membuka pertemuan dengan mengucapkan salam.
Setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh wibawa. Altong yang juga turut ikut dalam pertemuan itu begitu terkesima dengan aura yang dipancarkan oleh ketua atas sekte nya tersebut.
Altong adalah pendekar berkemampuan paling rendah diantara 6 orang yang sedang berkumpul itu. Bukan hal tidak biasa bagi Altong berbicara langsung dengan pendekar berkemampuan Legenda. Sehari-hari, dia selalu menjalin komunikasi dengan Harimotting yang merupakan pendekar Legenda, hanya saja Oppui Goppul baginya berbeda. Walau berada pada tingkat pendekar Legenda, orang itu memiliki hal yang lain yaitu kharisma. Hal itu membuatnya sedikit canggung.
" Baiklah, karena semua sudah berkumpul maka kita tidak usah berlama-lama lagi. Ketua Harimotting akan menyampaikan topik yang menjadi bahasan kita kali ini."
Ketua Harimotting menyampaikan maksud dan tujuannya. Tentang Hasea dan tentang anak buahnya itu yang meminta dukungan dari sekte Harinuan.
" Hasea? Apakah orang yang anda maksudkan ini adalah pemuda yang ikut dalam misi pembebasan saya yang lalu?" Ketua Garguek bertanya antusias setelah ketua Harimotting menjelaskan hal tentang Hasea.
" Benar ketua, pemuda itulah yang kami maksud."
"Wah, tak disangka. Walaupun sebenarnya pada saat pertarungan di kota Ronggur aku sempat merasakan ada suatu hal yang istimewa dari pemuda itu tetapi yang fakta yang kudengar saat ini sungguh jauh di luar dugaan."
" Apakah ini artinya kisah dalam ramalan itu bisa saja benar? "
Ketua Ranggiting belum mengenal Hasea sama sekali. Namun dia sulit untuk tidak percaya kepada penuturan ketua Harimotting. Tidak ada alasan bagi rekannya itu untuk berbohong.
" Tunggu dulu, katakanlah dia benar adalah pangeran dan pendekar penjaga naga. Tapi apa jaminannya dia akan lebih baik dari Kaisar Tossao?"
Ucapan ketua Lapatan itu membuat semua orang terdiam. Hanya ketua Harimotting dan Altong yang memiliki hak untuk menjawab pertanyaan itu karena merekalah yang mengenal betul bagaimana Hasea.
Hal yang wajar bagi Sekte Harinuan untuk untuk berfikir lama. Beberapa purnama menjadi anggota sekte Harinuan belum bisa menjadi jaminan akan kehebatan Hasea.
" Apakah mungkin ini jebakan?" Ketua Ranggiting menimpali.
" Saya bisa jamin ini bukan jebakan Ketua. Saya kenal pemuda itu. Tidak ada niatan buruk dalam fikirannya." Altong akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.
" Ketua Harimotting, apakah kau sadar dengan memberi dukungan kepada Hasea berarti kita menabuh genderang perang secara terbuka kepada aliansi putih?"
" Saya sadar akan hal itu Oppui Goppul. Oleh karena itulah dukungan dari kita saja tidak cukup ." Ketua Harimotting menghela nafas panjang. " Kita membutuhkan bantuan sekte lain."
" Dari mana kita bisa mendapatkan dukungan itu?"
__ADS_1
" Itu yang masih menjadi beban pikiran ku Oppui. Sejauh ini baru sekte Obor merah yang memberi dukungan. Hasea sedang mengupayakan dukungan dari sekte Walet hitam dan dari penuturan Hasea, Kaisar Tossao akan meminta dukungan dari sekte Beringin Kuning."
" Beringin kuning? Apa itu mungkin?"
" Entahlah, tapi sepertinya Hasea cukup yakin."
Oppui Goppul tampak berfikir keras. Sesekali dia memijit keningnya. Dia sadar, hal yang diperbuat oleh sekte Harinuan sejauh ini belum bisa berdampak apa-apa bagi kesejahteraan rakyat Partungko Naginjang. Inilah momentum bagi mereka untuk berbuat lebih banyak dengan dampak yang besar, tetapi tentu juga disertai resiko yang besar.
Oppui Goppul menghela nafas panjang. Sebua keputusan besar berada di tanyanya.
" Baiklah. Saya telah memutuskan. Ketua Harimotting akan memimpin semua rencana ini. Mungkin inilah saatnya kita mengakhiri penderitaan rakyat." Oppui Goppul menatap semua anak buahnya satu persatu. Dia dapat melihat keraguan di mata Ketua Lapatan dan Ketua Ranggiting. Sementara ketua Garguek sepertinya sepakat. Namun keputusan Oppui Goppul telah bulat. 'Sekarang atau tidak sama sekali.'
" Terima kasih ketua. Saya akan berupaya semaksimal mungkin. Saya sangat membutuhkan kepercayaan dan dukungan penuh dari ketua perkemaha wilayah sekalian."
Ketua Harimotting seperti bisa membaca keraguan pada kedua rekannya itu.
" Hasea...seperti apa sebenarnya pemuda ini." Batin Oppui Goppul. Dia sadar baru saja memutuskan memberi dukungan kepada orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Tetapi kalau saja permohonan itu tidak terucap dari salah satu ketua wilayahnya, maka pendekar berkemampuan Legenda yang berada di puncak kesaktian tingkatannya itu mungkin akan menolak mentah-mentah.
***
" Lama tidak turun gunung membuatku sedikit canggung." Gilok tidak berhenti menatap nanar pada sekelilingnya. Keramaian dan bangunan-bangunan megah di kota Pintu Suona membuatnya tidak berhenti berdecak kagum. Sesekali dia meraba-raba tembok bangunan yang dia lewati. Dia bahkan memperhatikan setiap orang yang berpapasan dengan mereka dari ujung kaki Sampai kepala. Apalagi kalau orang itu adalah wanita muda yang cantik.
" Ah.. kau, apa yang kau tau. Coba kau tinggal berpuluh tahun di dalam hutan, di gunung pula. Apa kau masih bisa untuk tidak norak ketik tiba di kota besar yang dipenuhi wanita cantik ini?"
" Orang tua ini. Apakah dia lupa usianya sudah mendekati titik nol?" Terisab hanya bisa mendengus dongkol .
Gilok menghentikan langkahnya ketika berada tepat di depan sebuah restoran.
" Sebaiknya kita minum sedikit arak terlebih dahulu."
" Ku pikir kita langsung menemui Hasea?" Protes Terisab.
" Ah..kau terlalu tegang. Orang tua sepertimu butuh sedikit bersantai."
" Orang tua? Kau bahkan lebih tua dariku." Batin Terisab.
Terisab tidak dapat mengelak. Seperti kerbau dicucuk hidung, akhirnya dia mengikuti Gilok yang tanpa aba-aba telah melangkah memasuki ruang restoran.
***
__ADS_1
Honasasom, salah satu petinggi Sekte Bulan tampak terburu-buru menghadap ketua sektenya , Marrupa. Bukan kebiasaan diri nya sebenarnya mengganggu meditasi Ketua sektenya itu, namun berita penting yang dia bawa memaksa Honasasom untuk menghadap.
"Ketua, berdasarkan informasi anggota delik sandi kita, sedang ada rencana besar yang disiapkan oleh sekte Matahari biru untuk menyerang kota Pintu Suona."
Marrupa menyimak dengan seksama , namun ketua sekte Bulan Purnama itu tidak tampak terkejut.
" Jadi benar berita yang ku terima selama ini?" Marrupa mengela nafas. "Cepat , panggil dia. Aku ingin penjelasan detail dari Alogo langsung."
Setelah dipanggil, Alogo yang merupakan anggota delik sandi segera menghadap Marrupa.
" Bagaimana kondisinya?"
" Ketua, dugaan anda benar. Ternyata sekte matahari biru memang sedang menyusun rencana menyerbu kota ini. Mereka berencana untuk menyerbu kota Pintu Suona 1 purnama dari sekarang."
" Kurang ajar." Marrupa tidak lagi dapat menahan amarahnya. Dia menggebrak meja yang ada di ruangannya itu sampai hancur berkeping-keping.
" Apa sebenarnya yang mereka pikirkan? Apa mereka pikir kita dan aliansi putih akan diam saja?"
Ruangan seketika tampak hening. Hanya terdengar helaan nafas Marrupa yang tersadar emosinya tidak terkontrol. Ketua sekte bulan purnama itu memang sangat emosional apabila sudah menyangkut tentang keselamatan Kota Pintu Suona dan seluruh warga di dalam nya.
Pintu Suona sudah lama berada dibawah pengawasan Sekte Bulan Purnama. Kota Pintu Suona menjadi salah satu kota yang berpredikat diistimewakan diantara banyak kota yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Partungko Naginjang. Hal itu sudah berlangsung bahkan 5 generasi sebelum kepemimpinan Marrupa.
Sebagai kota yang berpredikat istimewa, hampir seluruh pengaturan dan kebijakan yang berlangsung di kota tersebut diatur oleh sekte Bulan Purnama langsung. Mulai dari kepemipinan pemerintahan,keamanan dan bahkan Pajak.
Dahulu sebelum menggabungkan diri dengan Kerajaan Partungko nangunjang, Pintu Suona merupakan kerajaan kecil yang berdiri sendiri. Kerajaan bulan purnama namanya.
Pada suatu waktu, kerajaan bulan purnama mengalami kekeringan panjang dan wabah penyakit .Hal tersebut membunuh hampir separuh penduduk kerajaan Bulan Purnama.
Sebuah ironi untuk sebuah kerajaan kecil yang memiliki banyak harta dan sumber daya alam ternyata harus takluk seketika oleh alam.
Dahulu di kota itu juga banyak pendekar tangguh yang tergabung dalam kerajaan Pintu Suona. Hal itu membuat kekuatan militer Kerajaan Pintu Suona menjadi disegani, hampir tidak ada sekte aliran mana pun yang berniat mengusik mereka.
Namun pada saat wabah penyakit dan kekeringan yang berkepanjangan melanda kerajaan itu, banyak prajurit kerajaan yang meninggal dunia atau pergi meninggalkan kota itu melihat tidak ada lagi harapan hidup di kota itu. Kejadian itu melemahkan pertahanan kerajaan Pintu Suona. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh sebuah sekte aliran hitam yang bernama Sekte Matahari Biru. Mereka berniat merebut kota itu dari kekuasaan kerajaan Pintu Suona.
Pada saat itu lah kerajaan Pintu Suona mendapat bantuan dari kerajaan Partungko Naginjang. Dengan syarat apabila mereka dapat menggagalkan rencana sekte Matahari Biru maka kerajaan pintu Suona harus bergabung dengan kerajaan Partungko Naginjang. Selain itu, kerajaan Partungko Naginjang juga akan membantu kerajaan Pintu Suona untuk lepas dari wabah penyakit dan masalah kekeringan panjang yang melanda mereka.
Kerajaan Partungko Naginjang secara langsung tidak bisa mengambil kebijakan terhadap kota Pintu Suona. Namun kota itu, melalui sekte bulan purnama secara rutin akan menyetorkan pajak kepada kerajaan Partungko Naginjang. Hal tersebut telah berlangsung untuk waktu yang lama.
" Honasasom,kau segera bersiaplah. Minta bantuan kepada aliansi putih. Aku sendiri akan meminta bantuan kepada pihak kerajaan."
__ADS_1
" Ketua, mengenai hal itu, sepertinya ada sesuatu yang harus kita bahas."