
" Senior, tolong jagalah sikap anda." Terisab yang terlihat sudah mulai jengkel dengan sikap kekanak-kanakan seniornya itu akhirnya memancarkan tenaga dalam yang sangat besar. Hanya saya dia tidak menggunakan tenaga dalam naga api. Dia tidak ingin kobaran api di tubuhnya menarik perhatian orang disekitar.
Terisab berada diantara Hasea dan Gilok. Prajurit yang sebelumnya menghadang mereka hanya menatap bingung ke arah Sumeru. Sumeru hanya membalas tatapan itu dengan ekspresi yang tidak kalah bingung.
" Terisab, menyingkirlah. Aku tau apa yang ku lakukan."
Terisab hanya terdiam kemudian dia menoleh ke arah Hasea. Entah apa maksudnya tetapi Hasea berhasil bingung dibuatnya.
"Hasea, aku harap kau mengeluarkan kemampuan terbaik mu." Hanya itu ucapan Terisab sampai dia menyingkir dari antara dua orang itu.
Hasea waspada. 'orang tua yang keras kepala' benak Hasea. Hasea memancarkan aura tenaga dalamnya. Bagaimana pun dia harus mempersiapkan diri.
" Tuan, sebaiknya anda tidak gegabah." Hasea mencoba menjalin komunikasi dengan Gilok. Bertarung dengan orang tua itu bukanlah yang ada dalam fikirannya. Awalnya Hasea hanyalah menggertak.
" Tidak usah berbasa-basi." Gilok melesat, dia melayangkan pukulan kepada Hasea. Terisab bahkan tidak sempat menahan orang tua itu.
Hasea menahan pukulan Gilok. Dia tidak terluka. Tetapi tenaga dalam yang terkandung dalam pukulan Gilok itu berhasil membuat Hasea terpental sampai keluar dari restoran.
" Tuan Terisab . Kenapa anda diam saja, hentikan mereka." Teriak Hasapi.
Terisab hanya menggaruk kepalanya. Dia tau betapa keras kepalanya senior tua nya itu. Kata-kata tidak akan bisa menghentikannya.
" Tenanglah Tuan, sepertinya senior Gilok hanya bermain-main sedikit dengan tuan Hasea."
" Bermain-main? Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran para pendekar ini. Bermain-main dengan nyawa itu sungguh konyol."
Hasea waspada. Dia dalam posisi siap untuk menerima serangan Gilok. Benar saja, tidak menunggu lama Gilok sudah ada di hadapannya.
Tanpa basa basi Gilok kembali melayangkan beberapa pukulan kepada Hasea. Hasea yang sudah belajar dari pertarungan terakhirnya dengan Terisab tidak gegabah. Dia berhasil menahan serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Gilok.
Dalam waktu singkat berpuluh jurus telah saling tukar diantara pendekar itu.
Pertarungan itu menarik perhatian banyak orang yang berada di tempat itu. Beberapa orang memang memilih untuk menjauh tetapi tidak sedikit pula yang malah asik menonton. Pertarungan antar dua pendekar berkemampuan tinggi memang sangat jarang terjadi di kota pintu Suona.
__ADS_1
Hasea membaca dengan baik serangan dari Gilok. Jurus yang digunakan orang tua itu sama dengan jurus yang digunakan Terisab hanya saja tidak ada kobaran api di tubuh orang tua itu.
Hasea melesat. Dia melayangkan pukulan kepada Gilok. Jurus sekte Harinuan dia padukan dengan jurus Prajurit Istana hanya saja jurus-jurus itu dia penuhi dengan tenaga dalam Naga Gumoang.
" Anak muda, kemampuan mu cukup lumayan. Sebaiknya kau tidak menahan diri. Orang tua ini butuh sedikit hiburan."
Gilok kembali melesat. Dia melayangkan pukulan naga api. Hasea menerima pukulan itu. Dia menahan pukulan naga api dengan tenaga dalam naga Gumoang.
Akibat dari benturan tenaga dalam Gilok dan Hasea sampai terjadi gelombang tenaga dalam yang besar. Gelombang itu menghacurkan benda dan mementalkan orang-orang yang berada di sekitar mereka.
Orang-orang berlarian. Pertarungan itu tidak lagi menarik untuk ditonton. Bertahan lebih lama di tempat itu sama saja bunuh diri. Sementara para penjaga keamanan, Terisab, Sumeru dan Hasapi hanya berdiri menjaga jarak dari Hasea dan Gilok.
" Anak muda, ada potensi besar dalam dirimu. Tapi hati mu yang dipenuhi keraguan menahan semua potensi itu. Sungguh sangat disayangkan."
Gilok kembali melesat. Kali ini gerakannya semakin cepat tetapi juga beraturan. Hasea hampir saja tidak bisa mengimbangi kecepatan orang tua itu.
" Sialan, apa sebenarnya dia tidak setua kelihatannya." Batin Hasea.
Hasea melancarkan pukulan demi pukulan. Gilok dapat menahan beberapa pukulan itu. Namun beberapa pukulan Hasea juga berhasil melukainya.
Pendekar penjaga berkemampuan rendah yang tadi bermaksud menyerang Gilok sampai menelan ludah. Tidak pernah terpikir oleh mereka kalau orang tua itu memiliki kemampuan bela diri yang sangat tinggi. Untung bagi mereka tidak mencari masalah lebih jauh dengan orang tua itu.
" Tuan, aku tidak mengenal siapa anda. Tetapi anda sudah keterlaluan. Maafkan aku bila akhirnya aku tidak lagi menahan diri."
Gilok hanya tersenyum menanggapi ucapan Hasea.
"Pukulan Naga Api level 5." Gilok bergerak cepat. Hasea hampir tidak bisa melihat keberadaan orang tua itu.
Satu pukulan keras bersarang di dada Hasea. Pemuda itu terpental cukup jauh. Darah segar mengalir dari bibir nya.
Gilok seperti tidak memberi kesempatan kepada Hasea untuk bernafas. Dia kembali bergerak. Kali ini dengan kecepatan penuh. Gerakannya acak, Hasea tidak lagi bisa menebak arah serangan yang datang kepadanya.
Hasea melompat mundur. Dia mengepalkan kedua tangannya. Hasea mengumpulkan tenaga dalam Naga Gumoang yang sangat besar. Aura tenaga dalam dengan pancaran warna biru menyelimuti seluruh tubuhnya.
__ADS_1
" Jurus naga terbang menggulung lautan."
Gilok terkejut melihat air sungai yang ada di sekitar mereka seperti terangkat ke atas. Kumpulan air itu seperti meliuk-liuk ke atas Langit.
Bukan hanya Gilok, Sumeru dan semua penjaga keamanan kota itu sangat terkejut. Terisab bahkan lebih terkejut lagi. Sebelumnya dia telah bertarung dengan Hasea. Tetapi dia sama sekali tidak pernah menerima jurus Hasea yang begitu berbahaya itu.
Hasea mengangkat kedua tangannya ke atas. Di atas Hasea kini terbentuk naga air dengan pancaran tenaga dalam warna biru.
Naga air siap menyerang Gilok.
Mata Gilok melotot. Baru kali ini dia melihat jurus yang bisa menggerakkan air. Gilok memasang kewaspadaan penuh.
" Ombak biru level 5."
Naga air melesat cepat ke arah Gilok. Gilok melompat jauh saat naga air persis beberapa meter lagi darinya.
Gilok berhasil menghindar. Naga air hanya menerpa bangunan di belakang Gilok. Bangunan itu hancur berkeping-keping.
" Anak muda ini, terakhir kali bertarung dengan ku kekuatannya tidak sebesar ini." Terisab terkejut. Sedikit saja Gilok terlambat rasanya nyawanya bisa melayang.
Gilok baru saja berhasil mendaratkan kaki namun naga air kembali melesat dari belakangnya.
Naga air kembali menyerang Gilok. Orang tua itu tidak lagi sempat menghindar.
" Pukulan Naga Api level 10." Gilok menghantam naga air dengan pukulannya. Untuk sesaat naga air itu terhamburkan. Tetapi naga air kembali menyatu.
" Sialan. Naga air ini, pukulanku tidak akan mampu menghancurkannya." Batin Gilok.
Sesaat Gilok melirik ke arah Terisab. Entah apa maksud dari lirikan itu, tetapi Terisab sama sekali tidak bereaksi. Juniornya itu hanya mengangkat kedua bahu nya.
" Kau telah ku peringatkan." Batin Terisab.
" Kurang ajar, aku tidak bisa dipermalukan seperti ini."
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sebenarnya ini 1 Chapter yg dipenggal menjadi 2 hehehe. 1 chapter dgn lebih dari 1500 kata tuh ga enak di baca , ngebosenin jadinya . So.. lanjut baca aja ke chapter selanjutnya ya.