
"apa benar ini tempatnya? " Hasapi yang hanya bisa melihat bekas-bekas berdirinya tenda di tempat yang ditunjukkan Hasea hanya bisa mengernyitkan kening.
"Aku yakin ini tempatnya tuan. Tapi entahlah terakhir kali kemari, disini banyak berdiri tenda-tenda perampok Harinuan perkemahan Utara." Hasea juga terkejut melihat tidak ada lagi tanda-tanda keberadaan perampok Harinuan perkemahan Utara di tempat terakhir dia bersama sekte nya itu.
" Aku rasa mereka sudah memindahkan perkemahan. Perampok Harinuan memang terkenal sering berpindah-pindah . Hal itulah yang membuat keberadaan perkemahan mereka sulit dilacak."
" Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?"
" Entahlah, akan sulit mengetahui keberadaan perkemahan itu kemungkinan paling logis adalah kita menuju Sekte Pusat Harinuan. Tapi akan menghabiskan waktu berhari-hari menuju tempat itu. " Hasea menghela nafas panjang . Dia tidak menyangka hanya akan menjumpai bekas-bekas pemukiman perampok Harinuan perkemahan Utara di tempat ini.
" Kita akan tetap ke sana. Lagipula sebelum sampai di tempat itu, kita akan melalui kota Pintusuona. Dalam kitab keluarga ku tertulis bahwa disana bermukim salah satu keluarga petinggi sekte naga api terdahulu yang bernama Pareme."
***
Hasea dan Hasapi sedang berada di jalan setapak menuju kota Pintusuona sampai langkah mereka terhenti melihat segerombolan orang sedang bertarung. Lebih tepatnya satu kelompok dibantai oleh kelompok lainnya. Pertarungan itu tidak seimbang.
" Siapa mereka?" Hasapi cukup terkejut dengan pemandangan di depan mereka. " Entahlah, tetapi sepertinya kita harus terlibat. " Hasea menimpali.
Hasea melesat ke arah berlangsungnya pertarungan. Disana ada 20 orang pendekar berkemampuan Dasar dan Ahli yang sedang membantai kelompok lainnya yang tinggal 5 orang pendekar Dasar diantara mereka yang masih hidup sementara 6 orang rekan mereka telah tewas mengenaskan .
Sesungguhnya Hasea tidak terlalu yakin harus memihak pada kelompok yang mana. Hasea hanya berdiri diantara kedua kelompok itu lalu memancarkan aura tenaga dalam Naga Gumoang . Hal itu berhasil membuat semua orang sedikit terkejut sampai pertarungan terhenti.
" Siapa dia? Apa dia bagian dari sekte Obor merah?" Dramate salah satu pendekar Sekte Jingga bertanya pada rekannya.
" Rasanya tidak, tidak ada anggota sekte Obor merah yang memiliki tenaga dalam sebesar ini. Ketua mereka saja masih berada di tingkat Pendekar Ahli. " Rekannya menimpali.
Hasea masih mematung berdiri diantara kedua kelompok itu. Mencoba mengamati situasi dan membaca kemungkinan yang akan terjadi.
" Tuan pendekar, mohon anda jangan ikut campur. Urusan ini hanya antara sekte Jingga dan Sekte Obor merah. Mohon anda mengertilah." Dramate mencoba menjelaskan situasinya kepada Hasea. Pria itu berbicara hati-hati.
" Oh jadi kalian sekte aliran putih bisa juga bertindak seperti ini? Aku pikir sekte aliran putih tidak akan pernah menjadi pengganggu." Hasea sengaja memperlihatkan kemarahannya. Dia marah melihat 6 orang anggota sekte Obor merah yang mati mengenaskan dengan banyak luka tebasan pedang di tubuh mereka. Pembunuhan yang seharusnya tidak pantas dilakukan oleh sekte yang mengaku beralira putih.
"Tuan, kami tidak tau siapa anda. Tapi jangan membuat sekte Jingga tersinggung. Kecuali anda memiliki hubungan dengan sekte Obor merah, sebaiknya anda jangan terlalu ikut campur." Dramate mulai terusik dengan tingkah dan tatapan amarah Hasea.
" Saat aku memutuskan mencampuri suatu urusan, maka aku tidak akan pernah tanggung-tanggung." Hasea memancarkan aura tenaga dalam yang lebih besar. Lengan kanannya memancarkan cahaya biru.
Semua orang yang berada di tempat itu tertekan akibat pancaran tenaga dalam Naga Gumoang yang lebih besar. Bahkan anggota sekte Obor merah hampir saja pingsan.
" Serang dia." Seruan Dramate langsung dituruti oleh semua rekan-rekannya.
Dua puluh anggota sekte Jingga mencoba melumpuhkan Hasea. Seketika saling tukar jurus terjadi. Hasea yang memiliki kemampuan jauh lebih tinggi dari lawan tarungnya itu dengan mudah dapat memukul mundur mereka. Beberapa diantara mereka dengan segera meregang nyawa.
" Lepaskan merpati pesan. Kabari sekte akan hal ini. " Dramate berkata lantang.
__ADS_1
Hasapi dapat melihat seekor merpati terbang dari antara kerumunan Pertarungan .Itu adalah merpati penyampai pesan yang dimiliki oleh sekte Jingga.
Salah satu anggota Sekte Obor merah yang membawa panah berupaya memanah merpati itu.
" Tidak perlu, biarkan merpati itu menyampaikan pesan kepada sekte mereka." Teriak Hasea mencegah.
" Orang ini, apa dia bermaksud menantang sekte Jingga secara terbuka?" Gumam Renees salah satu anggota sekte Obor merah.
Hasea sudah melumpuhkan lebih dari separuh pendekar sekte Jingga seorang diri . Anggota sekte Obor merah memang memilih untuk tidak terlibat karena mereka yakin bergabungnya mereka hanya akan menjadi beban untuk Hasea.
Dramate dan ke 5 rekannya yang tersisa secara serentak melayangkan tebasan pedang ke arah Hasea. Ke 6 orang itu mengepung Hasea dari segala sudut. Hasea berputar dan melompat ke udara. Hanya suara pedang saling beradu yang terdengar. Pedang para anggota sekte Jingga itu saling beradu.
" Sialan, dari mana sebenarnya asal pendekar muda ini? Namanya tidak pernah terdengar dimana pun. Jurus yang dia gunakan juga sulit untuk dipahami. " Batin Dramate.
Hasea memang menggunakan jurus naga hitam untuk menghadapi orang-orang itu. Hanya saja dia tidak turut menggunakan kipas merak putih. Hasea tidak mau terlalu merusak tempat yang ada di sekitarnya.
Ke 6 orang pendekar sekte Jingga itu kembali melesat ke arah Hasea. Hasea melompat dan bergerak cepat . Pukulan Lebah dia layangkan ke salah satu orang di hadapannya. Orang itu terpental jauh. Seketika meregang nyawa.
" Jurus sekte Harinuan? Tidak mungkin, apakah selama ini sekte Harinuan menyembunyikan jurus rahasia?" Batin Dramate.
Belum sempat Dramate mencerna apa yang sedang terjadi, Hasea telah berada diantara mereka. Satu persatu pendekar sekte Jingga itu dia lumpuhkan dengan Pukulan bulan, jurus prajurit kerajaan.
" Tunggu dulu pendekar..." Dramate menahan rekannya yang tersisa , dia menarik mereka untuk mundur.
" Kami anggota aliansi putih, kami mendukung kerajaan. "
"Aliansi putih? Hahaha.aku tidak memiliki kaitan dengan aliansi berkedok itu. Lagi pula bagaimana kau bisa berfikir kalau aku ada di pihak kerajaan?"
Ucapan Hasea membuat Dramate dan rekan-rekannya semakin bingung dan ketakutan. Keringat dingin memancar dari tubuh mereka.
" Kalian hadang dia, aku akan memberi informasi tentang hal ini kepada sekte." Dramate berlari meninggalkan rekan-rekannya. Sebenarnya dia hanya takut nyawanya melayang. Dia meninggalkan rekan-rekannya begitu saja.
" Sialan, Dramate!!! Bukankan merpati pesan telah diterbangkan?" Teriak Salah satu rekannya.
Hasea tidak bermaksud mengejar Dramate. Hasea menarik sedikit air yang ada di sekitar tempat itu dengan jurus Naga Terbang Menggulung Lautan. Ombak biru level 1.
Air berbentuk naga melayang dan berputar -putar di atas Hasea. Hal itu membuat anggota sekte Jingga semakin ketakutan. Hal yang baru sekali itu mereka saksikan. Seseorang yang bisa mengendalikan air bukanlah hal yang biasa. Bahkan Anggota sekte Obor merah dan Hasapi juga terkejut melihat hal itu.
" Baiklah, segera kita akhiri semua ini. Aku tidak memiliki banyak waktu." Hasea tersenyum sinis.
" Tunggu dulu pendekar." Anggota sekte Jingga melemparkan pedang dari genggaman mereka. Mereka berlutut memohon pengampunan.
" Kami yakin pendekar adalah orang baik. Mohon ampuni kami. Kami menyerah."
__ADS_1
" Katakan apa sebenarnya yang kalian inginkan dari sekte Obor merah itu?" Hasea masih tidak mengendurkan tekanannya.
" Mereka membawa sesuatu yang bisa menuntun kami ke tempat para manusia rawa."
" Manusia rawa? Apa yang kalian inginkan dari sana?" Hasea mengernyitkan kening.
" Mengenai hal itu, kami tidak tahu pendekar. Kami hanya ditugaskan untuk menghadang kelompok ini. Ketua kami meyakini rombongan kelompok Obor merah ini yang membawa informasi tentang tempat manusia rawa.
Hasea mengendorkan tenaga dalamnya. Seketika air berbentuk naga jatuh ke tanah.
" Baiklah, aku akan melepaskan kalian kali ini. Sebaiknya kalian bertingkah selayaknya Sekte beraliran putih."
Hasea melesat dan melayangkan pukulan lebah ke semua anggota sekte Jingga yang tersisa. Tapi pukulan itu hanya membuat orang-orang itu kehilangan kesadaran.
" Tuan pendekar..kami ucapkan terimakasih." Salah satu anggota sekte Obor merah bernama Tahuluc mendekati Hasea.
" Tidak perlu sungkan senior. Saya hanya tidak suka melihat orang yang semena-mena. "
" Bagaimana pun kami harus tetap mengucapkan terima kasih. Akan menjadi kehormatan besar bagi kami apabila pendekar bersedia kami jamu untuk makan malam." Tahuluc mengundang Hasea untuk berkunjung ke sekte nya.
Hasea menoleh Hasapi. Dia dapat melihat Hasapi mengangguk sebagai tanda persetujuan.
***
Kelompok Sekte Obor merah yang baru kembali dengan Hasea dan Hasapi disambut oleh Ugaran, ketua muda sekte itu.
Hasea menyisir ke sekitar tempat sekte Obor Merah dengan pandangannya. Tempat itu tidak terlalu luas. Bangunan-bangunannya juga sederhana. Sepertinya hanya ada tidak lebih dari dua ratus orang yang berada di sana.
Tahuluc menjelaskan kejadian yang mereka alami dan keterlibatan Hasea di dalamnya kepada Ugaran . Ugaran memutuskan untuk menyampaikan hal tersebut kepada ketua meraka besok hari.
" Tuan pendekar, terima kasih anda telah membatu kami. sebaiknya kalian istirahat lah dulu. Perjalanan yang panjang menuju ke sini tentu membuat kalian lelah. " Tahuluc menyuruh anak buahnya untuk mempersiapkan kamar bagi Hasea dan Hasapi.
Hasea dan Hasai diarahkan ke kamar yang disediakan sekte Obor merah untuk mereka menginap.
" Sepertinya kau telah membuat kekacauan." Hasapi menghela nafas panjang.
" Apa maksud tuan?"
" Bagaimana tidak, disaat kita mencoba untuk menghimpun dukungan, kau malah menyulut permusuhan dengan salah satu sekte aliran putih terbesar."
" Tuan, saat ini yang kita perlukan adalah dukungan yang benar-benar tulus tanpa akal bulus di belakangnya. Bagaimana mungkin kita akan mendapat dukungan yang tulus dari sekte yang mengaku aliran putih tapi sanggup membunuh anggota sekte aliran Netral?" Hasea berkata pelan. Sepertinya kali ini dia telah berfikir matang.
" Kalau dipikir benar juga..tapi..."
__ADS_1
" Sudahlah Tuan. Saya telah memikirkan ini. Saya bahkan berencana untuk memancing semua anggota aliansi putih yang bermuka dua untuk menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya"