PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 74. Pendekar Penyendiri II


__ADS_3

" Pancaran tenaga dalam apa sebenarnya ini?" Hasea semakin waspada. Dia memilih untuk memancarkan tenaga dalam Gumoang. Hampir semua tenaga dalam yang dia miliki dipancarkan nya. Lengan kanan Hasea memancarkan aura warna biru. Tenaga dalam Naga Gumoang. Dia meningkatkan kewaspadaan.


" Tuan , awas..." Hasea menolak tubuh Hasapi . Badan orang tua itu terpental cukup jauh. Pukulan tiba-tiba entah dari mana yang terarah ke Hasapi meleset.


" Siapa kau? Kenapa kau menyerang kami?"


Hasea menatap pendekar yang muncul tiba -tiba tersebut dengan penuh pertanyaan dalam otaknya.


" Kau tidak perlu tau siapa aku, yang perlu kau ketahui adalah hari ini kau akan menuju alam baka.


Terisab melesat , kali ini dia menyerang Hasea, target bunuh nya. Terisab melayangkan tinju. Lengan Terisab dipenuhi kobaran api. Hal yang belum pernah disaksikan oleh Hasea.


Hasea menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia membentuk tameng dengan Tenaga dalam naga Gumoang . Pukulan Terisab mendarat tetapi hanya membentur tameng Hasea. Tubuh Hasea mundur beberapa langkah.


Terisab seperti tidak ingin mengulur waktu. Kali ini dia melompat ke atas. Melesat cepat. Mata Hasea hampir tidak dapat menangkap pergerakan Pendekar penyendiri itu.


" Apa? Dia cepat sekali." Hasea menyadari bahwa Terisab sudah ada di belakangnya. Tapi Hasea sedikit terlambat. Tendangan Terisab mendarat di punggung Hasea. Hasea terpental cukup jauh.


" Kalau begini terus, aku bisa mati." Hasea menjadi khawatir. Sepanjang dia belajar bela diri dan terlibat dalam pertarungan, Terisab menjadi lawan terkuat yang dia hadapi.


Pertarungan tetap berlangsung, puluhan jurus antar kedua pendekar itu saling tukar menukar. Hasea jelas tersudut. Hasea kewalahan,beberapa luka telah dia dapatkan. Sedangkan Terisab, pendekar Legenda itu hanya mendapatkan beberapa pukulan dari Hasea dan pukulan itu hanya menimbulkan luka ringan.


" Dia terlalu kuat. " batin Hasea.


Jurus yang dipergunakan Hasea memang masih terbatas . Dia bertarung dengan menggunakan jurus-jurus sekte Harimuan dan jurus prajurit kerajaan. Hasea mencoba jurus naga terbang membelah lautan, ombak biru. Tetapi jurus itu tidak efektif . Tidak cukup banyak air yang dia bisa serap dari sekelilingnya .


" Anak muda, ku akui kau cukup berbakat. Tapi jelas pengalaman bertarung mu masih sangat rendah. Kalau saja sekte Jingga tidak membayar sesuai untuk kepala mu, mungkin aku akan menjadikanmu murid."


" Apa? Jadi kau ini pembunuh bayaran? Pekerjaan yang sungguh tercela."


"Hahaha..ternyata selain kurang pengalaman bertarung, kau juga kurang pengalaman hidup. Aku hanya membunuh satu dua orang demi segenggam imbalan untuk keperluan hidup ku, lalu bagai mana dengan pihak kerajaan dan sekte-sekte itu yang membantai puluhan ribu orang dengan mengatas namakan demi kebaikan itu? Apa mereka tidak tercela?"


Tiba-tiba mata Terisab memerah. Kedua lengannya mengobarkan api. Api tersebut menyala-nyala dan menyebar ke seluruh bagian tubuhnya. Kini tubuh Terisab diselimuti kobaran api.

__ADS_1


" Sial..kalau saja disini ada sumber air, dengan mudah aku akan bisa mengalahkannya." Batin Hasea. Dia masih berupaya mencari sumber air di sekitarnya tapi dia sama sekali tidak menemukan sumber air tersebut.


" Sudah lah cukup main-mainnya." Terisab kembali melesat mendekati Hasea. Dengan cepat pendekar itu melayangkan tinju ke arah Hasea. Hasea memutarkan kedua tangannya. Dia menyedot semua air yang ada di sekitarnya. Air embun pada daun-daun pohon. Dengan air sedikit itu dia membentuk perisai.


Pukulan Terisab mendarat di tameng air Hasea. Pukulan itu tertahan. Namun tameng air itu juga lenyap. Menguap akibat terbakar api dari pukulan Terisab.


Hasea mundur ke belakang , dia menarik Kipas merak putih dari balik pakaiannya. Menggunakan jurus Naga hitam dan Naga terbang menggulung lautan,angin badai kutub selatan.


Hasea melompat ke atas. Memutarkan badannya. Seketika tercipta tornado. Hasea pusat dari tornado itu.


Terisab takjub melihat Hasea bisa menciptakan tornado . Tapi pendekar itu tampak masih santai. Dia bahkan tersenyum ke arah Hasea.


" Orang itu, apakah urat takutnya telah hilang? " Hasea menjadi bingung. Selama 2 kali dia menggunakan jurus ini, orang yang melihat tornado itu pasti ketakutan. Tapi tidak dengan Terisab. Hal itu yang membuat Hasea khawatir.


Terisab melompat ke udara. Kini kobaran api di tubuhnya semakin membesar . Dia seolah membiarkan tubuhnya terhisap oleh tornado itu.


" Apa kau pernah mencoba memadamkan sumber api dengan angin? Kau salah besar anak muda. Hahaha.."


Terisab kini berada di dalam pusaran Tornado. Api di tubuhnya tidak padam malah angin tornado itu membuat api itu semakin membesar . Kini yang terjadi malah tornado diselimuti api.


" Sial, pantas saja dia masih bisa tenang. Tornado yang diselimuti api ini malah mencelakai ku."


Hasea melompat. Dia menutup kipas merak putih. Seketika tornado hilang.


Terisab tidak menunggu lama. Dia kembali melesat. Tubuh Hasea terkena hantaman pukulan nya. Tubuh Hasea terpental sangat jauh kemudian membentur batang pohon. Dari mulut Hasea termuntahkan darah segar.


Dada Hasea mengalami luka bakar, luka itu sebesar genggaman telapak tangan orang dewasa. Perih akibat panas terbakar dia rasakan .


Hasea berupa bangkit. Dia memaksakan diri untuk menarik lebih banyak tenaga dalam Naga Gumoang. Seluruh tubuh Hasea dipenuhi aura biru menyala.


Hasea melesat ke arah Terisab. Tukar menukar jurus kembali terjadi. Kali ini Hasea bisa memberi sedikit perlawanan. Beberapa pukulan yang dia layangkan mendarat di tubuh Terisab.


" Ternyata kau masih menyimpan kemampuan mu." Ucap Terisab sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibir nya. " Tapi tetap saja itu belum cukup, tetap saja kau pada akhirnya aka mati."

__ADS_1


Hasapi sedari tadi hanya bisa melihat kedua pendekar itu dari kejauhan. Dia tidak berani untuk mendekat . Kobaran api pada tubuh Terisab yang berada jauh dari tempatnya berdiri saja masih terasa sangat panas. Apalagi kalau dia mendekat. Bisa jadi badannya gosong terbakar.


Hasea masih memaksakan diri untuk berdiri walau sekujur tubuhnya telah dipenuhi luka. Sesekali dia mengalirkan tenaga dalam ke lukanya untuk mengurangi rasa sakit.


" Apa ini akhirnya? Apa hanya seperti ini?"


Untuk sesaat, Hasea seolah akan menyerah.


Terisab kembali mendekati Hasea. Dia akan melayangkan pukulan terakhir sampai dia dihentikan teriakan Hasapi.


" Tuan pendekar, tunggu..kalau ini semua hanya untuk sebuah imbalan, bagai mana kalau kami akan membayar anda dua kali lipat. Sebutkan saja berapa bayaran anda."


Terisab menghentikan serangannya. Dia melompat mundur menjauhi Hasea. Kobaran api di tubuhnya berkurang. Namun dia tetap waspada.


" Hm.. menarik, tapi apa tampang kalian memperlihatkan kalau kalian memiliki cukup keping emas untuk membayar ku?"


Senyum sinis muncul di wajah Terisab. Namun senyum itu seketika hilang saat melihat Hasapi membuka bungkusan berisi emas yang sangat banyak. Emas terbanyak yang pernah dia lihat.


Kobaran api di tubuh Terisab kembali muncul. Api itu menyala-nyala. Senyum sinis kembali terpancar dari bibir Terisab.


" Sial..Tuan Hasapi polos apa bagai mana? Apa dia tidak berfikir bahwa yang ada dalam otak pendekar ini hanya harta? Menunjukkan bahwa orang yang ada di hadapannya memiliki banyak keping emas justru akan semakin berbahaya." Hasea tampak kesal walau untuk sesaat dia sadar tindakan Hasapi semata-mata demi keselamatan mereka.


"Hahaha..bagaimana kau bisa berfikir bahwa aku lebih memilih sebagian dari keping emas itu ketika aku bisa mendapatkan semua nya?"


Hasapi tersentak. Sesaat dia tersadar bahwa Terisab malah akan semakin gencar untuk membunuh mereka, tidak saja demi menyelesaikan misi nya tetapi juga untuk mendapatkan semua emas yang dimiliki oleh kedua orang itu.


Terisab mengalihkan fokusnya kepada Hasapi. Dia melesat, kobaran api di lengan kanannya semakin besar.


Belum sempat Terisab melayangkan pukulan ke arah Hasapi, dia kembali melompat sedikit mundur untuk menghindari pukulan Hasea.


" Kau masih saja berusaha, baiklah.. kau yang pertama akan ku bunuh, lalu kemudian orang tua itu."


Terisab melesat ke arah Hasea. Senyum simpul muncul di bibirnya. Dia sadar kondisi Hasea sudah pada titik penghabisan. Tenaga dalam Hasea sudah terkuras hampir seluruhnya.

__ADS_1


" Pukulan naga Api".


__ADS_2