
Padati tidak bermaksud untuk membuang waktu, dia segera melesat. Aksinya diikuti oleh Kutak dan Bokkor.
Walau berbeda jurus dan tingkat kemampuan, ketiga pendekar sekte bulan gerhana ini terkenal sebagai tiga serangkai. Orang-orang menegenal mereka dengan trisula.
Padati adalah pendekar yang mengandalkan pedang. Dia pendekar yang lihai dalam pertarungan jarak dekat.
Kutak adalah pendekar yang mengendalikan tombak, dia pendekar yang lihai dalam pertarungan jarak menengah.
Sedangkan Bokkor lebih mengandalkan pisau-pisau kecil yang berjumlah 8 buah. Pendekar yang satu ini biasanya bertarung dari jarak jauh dengan mengandalkan tenaga dalam untuk melesatkan pisau-pisau yang telah dia lapisi dengan tenaga dalam.
Hasea memusatkan diri. Kali ini dia akan bertarung serius. Tidak banyak waktu yang mereka miliki.
Saat pintu toddi Hasea yang ke tiga terbuka, dia menyadari sesuatu. Tulang naga tua yang dia miliki dapat lebih kuat terhadap serangan berkekuatan tenaga dalam sekalipun apabila dia memusatkan tenaga dalamnya melapisi tulang itu.
Tubuh Hasea terus memancarkan aura tenaga dalam. Tubuhnya diselimuti cahaya biru bercampur keemasan.
Sebenarnya kondisi itu membuat ke tiga pendekar sekte bulan gerhana ketakutan. Mereka dapat merasakan besarnya pancaran tenaga dalam itu. Tapi mereka telah dididik untuk bersikap kesatria. Berpantang bagi anggota sekte bulan gerhana mundur dalam pertarungan sekalipun nyawa taruhannya.
Padati melayangkan pedang berselimutkan tenaga dalam kepada Hasea. Begitupun Kutak, pendekar langka itu memainkan tombaknya untuk menyerang Hasea. Kalau saja Hasea hanya seorang pendekar Langka, mungkin dengan cepat dia akan terbunuh. Hanya saja saat ini kondisinya berbeda. Hasea dapat menghindari setiap serangan Padati dan Kutak.
Kombinasi serangan Padati dan Kutak cukup merepotkan Hasea. Pemuda itu bergerak cepat untuk menghindari setiap serangan musuh nya.
Bokkor memainkan pisau-pisau kecil di sela-sela jarinya. Seketika pisau-pisau itu diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam.
Hasea dapat merasakan delapan pisau kecil melesat ke arah Hasea, namun dia masih harus konsentrasi ke pedang dan tombak yang menghunus ke arahnya.
" Jurus Naga Hitam."
Hasea memutarkan tubuh nya. Kipas merak putih yang tadi ada dibalik bajunya sekarang telah berada di tangan kanannya.
Hasea meliuk, tercipta tornado kecil. Padati dan Kutak terlempar. Pisau kecil yang dilesatkan Bokkor turut terlempar. Namun kemudian pisau-pisau itu kembali menyerang Hasea.
Hasea melemparkan kipas merak putih ke arah Bokkor. Kipas yang telah dialiri tenaga dala naga Gumoang itu berputar-putar seperti bumerang.
Bokkor mencoba menghindar, berhasil untuk sesaat.
" Apa..sialan."
Bokkor tidak dapat menghindari saat kipas merak putih yang tadi dihindarinya berbelok arah dan melesat dari belakang tubuhnya. Punggung pendekar sekte bulan gerhana itu terkoyak. Tubuhnya tersungkur.
Hasea melesat ke arah Padati dan Kutak.
Terjadi tukar menukar jurus antara ke tiga pendekar itu.
Kali ini Hasea lebih agresif. Kepercayaan dirinya sedang penuh.
Tulang naga Hasea yang telah dia aliri tenaga dalamnya sendiri akan bisa menahan setiap serangan Padati dan Kutak sekalipun serangan itu dipenuhi tenaga dalam .
" Sialan..siapa sebenarnya pemuda ini, apa benar dia berumur sesuai penampakannya? "
Padati mulai panik. Belum pernah sekalipun dia melihat atau mendengar ada pendekar Legenda berusia semuda Hasea.
" Sebaiknya kalian menyerah saja, mungkin aku akan mengampuni kalian."
" Kau..? Kurang ajar, seoalah disini kau yang memegang kendali."
__ADS_1
Kutak tidak mau termakan gertakan Hasea . Walau sebenarnya dia juga sadar bahwa mereka bertiga sepertinya memang bukan tandingan Hasea.
" Hahaha..kalau begitu, ayo kita selesaikan ini secepatnya."
Hasea melompat. Tubuhnya diselimuti tenaga dalam yang lebih besar.
Mata Hasea memancarkan cahaya biru terang.
Kipas merak putih kembali ke genggaman Hasea. Kali ini dia melayangkan kipas itu ke arah Padati.
Padati melompat untuk menghindari kipas merak putih.
Melihat kipas itu dapat melukai Bokkor Padati lebih waspada. Pedangnya dia selimuti dengan hampir seluruh tenaga dalamnya.
Padati melayangkan tebasan pedang ke arah kipas merak putih. Dia bermaksud menghancurkan kipas itu.
" Apa yang..."
Padati sangat terkejut. Matanya bahkan melotot seolah akan keluar dari tempatnya. Pedang Padati hancur, kipas merak putih tidak tergores sedikit pun.
" Sekarang giliran ku."
Hasea melompat. Tubuhnya seolah terbang dan melesat ke arah Padati.
" Pukulan lebah."
Satu pukulan bersarang di dada padati, pukulan dengan kekuatan tenaga dalam naga Gumoang itu berhasil mementalkan tubuh Padati yang tidak siap.
Terdengar suara retakan tulang dada Padati saat pukulan Hasea bersarang di sana.
Kutak murka, dia melesatkan tombak ke arah Hasea. Tubuh Kutak berputar sangat cepat . Tombak menghunus ke arah Hasea. Bokkor yang sudah sedikit puluh juga menyerang Hasea.
" Naga terbang menggulung lautan. "
Hasea mengangkat kedua tangannya. Air yang terdapat ditempat itu memang hanya sedikit, namun sudah cukup membentuk naga air kecil.
" Ombak biru level 5 "
Naga air melesat menyerang Kutak. Tombak kutak hancur. Tidak sempat mengelak . Kutak ikut terlempar oleh terpaan naga air berlapis tenaga dalam itu.
" Pukulan bulan gerhana level 10"
Bokkor mengumpulkan semua tenaga dalamnya yang tersisa. Dia melihat Hasea memiliki celah.
Hasea tidak sempat menghindar. Sebuah pukulan mendarat di tubuhnya.
" Apa..? , Bagaimana mungkin dia bisa tidak terluka?"
Wajah Bokkor menjadi pucat. Pukulan pamungkasnya hanya mampu membuat tubuh Hasea mundur beberapa langkah. Namun pemuda itu sama sekali tidak terluka.
" Sialan, dia terlalu kuat."
Padati yang mencoba bangkit tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pukulan gerhana bulan level 10 harusnya bisa melukai pendekar legenda sekalipun.
Padati memutar otak. Pandangannya jatuh ke arah Hasapi.
__ADS_1
" Orang itu bisa membuat konsentrasi pendekar ini buyar." Benak Padati.
Padati melesat dengan seluruh tenaga dalamnya yang tersisa. Dia mengambil sesuatu dari balik baju nya.
" Tuan Hasapi awas.."
Hasea tersadar bahwa Padati mencoba menyerang dirinya. Sementara dia masih harus menghadapi Kutak dan Bokkor yang kembali mencoba menyangnya.
Hasea mengangkat kedua tangannya. Dia menarik naga air dan membentuk bola besar dari air.
" Tuan Hasapi, maafkan aku."
Hasea melesatkan bola air ke arah Hasapi. Orang tua itu terlempar akibat benturan bola air Hasea.
" Naga terbang menggulung lautan. "
Hasea melompat ke udara. Dia memutarkan badan dengan kipas merak putih di lengan kanannya.
" Angin badai kutub selatan. "
Tercipta tornado besar dengan Hasea sebagai pusatnya. Dari dinding tornado itu kilat menyambar-nyambar.
" Gawat.."
Padati ,Kutak dan Bokkor yang telah mendengar bahwa Hasea bisa menciptakan tornado terbelalak. Kini mereka bisa menyaksikan sendiri kehebatan pemuda itu.
Kutak dan Bokkor mengambil bom setan dari balit bajunya.
" Kalau harus mati hari ini, biarka kita mati bersama." Teriak Kutak.
Kutak,Padati dan Bokkor tersedot ke pusat tornado. Walau sebesar apa pun mereka mencoba menahan dengan tenaga dalam namun tetap saja tidak berhasil. Ke tiga pendekar itu tersedot ke dalam pusaran tornado dengan bom setan di tangan mereka masing-masing.
Seluruh tempat di sekitar lokasi pertarungan itu luluh lantah. Pohon-pohon dan bebatuan tersedot ke arah Tornado.
" Kau akan mati bersama kami anak muda. "
Padati percaya diri, dia berfikiran bahwa walau dia tersedot ke pusat tornado namun Hasea juga akan turut tewas akibat ledakan Bom setan mereka bertiga. Hal yang tidak diketahui oleh Padati adalah bahwa rekan mereka, Alimar mati dengan peristiwa serupa tanpa Hasea terluka sedikit pun.
Terjadi ledakan besar di dalam pusaran tornado. Padati, Kutak dan Bokkor memicu bom setan mereka masing-masing dengan tenaga dalamnya.
Ke tiga tubub pendekar sekte Bulan Gerhana itu lenyap akibat senjata mereka sendiri. Semetara Hasea sama sekali tidak terluka.
Hasea mendaratkan kaki nya di tanah.
Tornado yang telah dia ciptakan berangsur berkurang dan hilang.
Sesaat Hasea memandangi lokasi pertarungan mereka. Tempat itu telah hancur berantakan. Untuk sesaat Hasea merasa bersalah,namun kalau seandainya tidak demikian mungkin saja kondisinya lebih buruk.
Ledakan yang diakibatkan bom setan sekte Bulan gerhana itu tidak bisa dianggap remeh.
Hasea menghela nafas panjang.
" Sepertinya aku terlalu banyak menciptakan musuh." Benak Hasea. Tapi kemudian dia terdiam. Dia sadar untuk saat ini, semua hal ini ada alasannya.
" Ah tuan Hasapi, pasti Gea melindunginya. "
__ADS_1