PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 72. Menarik Perhatian


__ADS_3

Sekirana masih terdiam di ruang pertemuan denga wajah pucat. Padahal tubuhnya masih dipenuhi oleh luka bekas pertarungan dengan Altong, namun pendekar wanita itu memilih untuk segera melapor kepada ketua sektenya terkait hal yang baru saja dia alami.


Sesekali Sekarina memegangi perutnya yang terasa sakit akibat pukulan lebah yang dilayangkan Altong kepadanya. Wajah Altong masih tergambar jelas di ingatannya. Namun Hasealah yang sangat mengganggu pikirannya.


" Siapa sebenarnya pemuda itu. Namanya sama sekali belum pernah terdengar di dunia persilatan. Dengan usia yang masih sangat muda tetapi kemampuan bela dirinya sudah setara pendekar Langka."


Panglima Angkar tiba di ruang pertemuan sekte Jingga, rupanya panglima itu diundang oleh Hanure, ketua sekte Jingga untuk bersama-sama mendengarkan hal yang akan disampaikan oleh Sekirana.


" Hormat ketua, hormat panglima." Wajah Sekirana menunduk. Seakan ada rasa malu yang sangat besar yang terpendam yang ingin dia sembunyikan.


" Tidak perlu berbasa-basi lagi. Cepat jelaskan saja apa yang terjadi dengan mu? Dan dimana sisa rekan mu yang lain? Mengapa hanya kau yang kembali?" Panglima Angkar mendesak Sekirana. Hal itu membuat Sekirana menjadi semakin gugup.


" Maafkan saya Panglima. Ke kempat rekan saya tidak berhasil selamat. Pemuda itu membunuh mereka semua. "


" Apa?? Pemuda? Siapa yang kau maksud pemuda?" Panglima Angkar menggebrak meja sampai meja itu hancur berkeping-keping. Semua orang dalam ruangan pertemuan itu menjadi tertekan dan ketakutan.


" Pemuda itu, pemuda yang menyerang pasukan Panglima Ageng Jenti." Sekirana memaksakan mulutnya untuk bersuara. Suara itu bahkan bergetar kerena rasa takut yang menyelimuti Sekirana.


" Apa kau tidak salah? Bagaimana mungkin seorang pemuda bisa membunuh 4 orang pendekar berkemampuan Ahli kecuali dia setidaknya sudah mencapai tingkat pendekar langka?"


" Dia berkemampuan pendekar langka ketua."


Panglima Angkar tampak terdiam. Sesekali dia mengepalkan tinjunya. Rahangnya juga mengeras. " Sialan, aku terlalu meremehkan anak ini."


"Ketua, untuk pertama kalinya misi yang diberikan oleh kerajaan tidak dapat anda selesaikan. Apa pertanggung jawaban anda?"


" Panglima, sebaiknya sebelumnya kita mencari informasi lebih banyak lagi. Kita tentu tidak mau kejadian seperti ini terulang kembali. " Ketua Hanure berusaha menenangkan Panglima Angkar walau sebenarnya dia juga marah kepada panglima itu. Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, selama ini sekte Jingga sangatlah bergantung pada sumber daya pemberian Kerajaan.


Sekte Jingga sendiri sepertinya memiliki kesan tersendiri terhadap Hasea. Pemuda itu benar-benar sedang menabuh genderang perang dengan mereka. Setelah Dramate kini Hasea juga membunuh 2 pendekar andalan sekte itu. Hanya saja Hanure tidak mau hal itu terlalu ketara. Kalau sampai Panglima Angkar mengetahui tentang misi Hanure untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan manusia rawa yang selama ini hanya menjadi mitos, maka Panglima Angkar dan anggota sekte Aliansi Putih lain akan memandang rendah mereka. Mereka akan dianggap tamak karena tidak mau berbagai informasi, karena menyembunyikan suatu hal yang sangat penting.

__ADS_1


" Ketua.. apa kita akan diam saja?" Ucap Sabbil, salah satu tangan kanan Hanure.


" Apa kau bodoh?, Setelah yang dilakukan pemuda itu, bagaimana mungkin kita akan diam saja. Hanya saja informasi tentang pemuda itu masih sangat sedikit yang kita ketahui. Siapkan penghubung. Kita akan serahkan urusan ini kepada Terisab. Pekerjaan ini cocok untuk Iblis seperti dia.


***


" Yang mulia, sebaiknya kita juga bergerak dan melakukan lobi-lobi kepada sekte-sekte yang kita anggap bisa membantu. Saya baru saja mendapatkan informasi dari delik sandi kita, pangeran saat ini sedang diburu oleh banyak oranh. Semakin cepat kita mendapar dukungan maka semakin cepat kita dapat mendeklarasikan Hasea sebagai Pangeran. Hal itu akan semakin baik. " Panglima Suhad sedang berada dalam satu pertemuan rahasia dengan Kaisar. Panglima kepercayaan kaisar itu sedang melaporkan perkembangan kejadian yang sedang berlangsung.


" Baik lah Panglima, aku juga berfikir demikian. Tapi hal ini bisa jadi bumerang juga. Seperti kau tau sendiri Panglima, sekte-sekte aliansi putih telah dikuasai oleh mereka."


" Benar Kaisar. Apabila kita salah meminta dukungan kepada salah satu sekte itu, maka rencana kita bisa bocor. "


Panglima Suhad mendekatkan diri kepada kaisar. Sepertinya hal berikutnya yang ingin dia sampaikan benar-benar ingin disampaikannya pelan dan perlahan.


" Kaisar, kita sebaiknya meminta dukungan pada sekte beringin kuning."


" Apa? Apa kau yakin panglima? Sekte beringin kuning adalah salah satu sekte yang terbesar dukungannya pada sekte banteng merah dan aliansi Putih. Aku ragu mereka akan memihak kita." Wajah Kaisar menampakkan raut kecemasan.


" Maksud mu?"


Sekte Beringin kuning memang terlihat seperti paling besar memberikan dukungan pada aliansi putih. Tetapi sebenarnya sekte itu sangat ingin menggulingkan kekuasaan Banteng merah dari pucuk pimpinan aliansi putih. Hanya saja mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena Panglima Angkar dan sekte anggota aliansi putih lainnya masih mempercayakan kepemimpinan aliansi tersebut di tangan Meghaa, pendekar wanita ketua Sekte Banteng merah.


Panglima Suhad dapat membaca keinginan sekte Beringin kuning itu. Hal tersebutlah yang ingin dia manfaatkan. Dia bermaksud agar kaisar menjanjikan kepemimpinan aliansi putih kepada sekte beringin kuning dengan syarat mereka juga mendukung penuh kaisar dan seluruh keputusannya kelak.


" Tapi apa kau yakin Panglima?"


" Sebenarnya saya tidak terlalu yakin kaisar. Tetapi untuk saat ini pilihan yang kita miliki sungguh sangat terbatas. "


" Baiklah, sebaiknya kau sendiri yang melakukan pendekatan kepada mereka Panglima."

__ADS_1


" Baik Kaisar."


***


Hamsa, ketua sekte Bulan Gerhana sedang mengumpulkan petinggi-petinggi sektenya. Mereka semua sedang menunggu seseorang yang akan menyampaikan informasi tentang terbunuhnya Alimar dan anak buahnya.


" Bagaimana? Apa informasi yang kau dapat?" Tatapan dingin Hamsa mampu menciutkan nyali Beloka. Beloka adalah orang yang ditugaskan oleh sektenya untuk mencari informasi. Dia tidak memiliki kemampuan bela diri apalagi tenaga dalam,namun justru karena hal itulah salah satu penyebab dia menjadi pencari informasi yang cukup handal.


Sebelumnya dia telah mendapat informasi bahwa seorang pemuda dan beberapa orang yang dia juga tidak kenal sedang terlibat pertarungan dengan Alimar dan anak buahnya di kota Raniatte, hanya saja gambaran tentang siapa pemuda itu belum dia dapatkan. Petunjuk yang dia dapat adalah bahwa pemuda ini bisa mendatangkan tornado.


Beloka kemudian memastikan bahwa pemuda itu adalah Hasea setelah menyaksikan sendiri pertarungan antara Hasea dan anggota sekte Jingga. Dia terkejut saat Hasea menggunakan kipas merak putih dan membuat tornado kecil. Hal itulah yang membuat dia yakin bahwa pemuda itu yang membunuh Alimar. Keberadaan Beloka memang tidak terdeteksi oleh Hasea maupun semua orang yang ada di lokasi pertarungan waktu itu. Bagaimana tidak, tenaga dalam saja tidak dimiliki oleh orang itu. Tetapi Hal itu justru membuatnya terabaikan dari perhatian. Tak seorangpun menyadari dia ada disana waktu itu.


" Beloka masih menundukkan wajahnya. Dia tidak berani menatap langsung ketua sektenya yang sedang diselimuti aura tenaga dalam hitam pekat itu.


" Mohon maaf ketua. Hamba belum mendapat banyak informasi, hanya saja beberapa waktu yang lalu pemuda itu sedang terlibat pertarungan dengan 5 anggota sekte Jingga yang berkemampuan cukup tinggi ."


" Apa? Bahkan sekte aliran putih juga memiliki masalah dengan pemuda itu?" Raut wajah Hamsa menjadi datar. " Bagaimana kehormatan kita bisa kembali kalau musuh kita justru dibunuh oleh sekte aliran putih."


" Maaf ketua..kejadian sebenarnya tidaklah demikian. Pemuda itu membunuh 4 diantara mereka." Ucap Beloka sambil menyembunyikan wajah ketakutannya. "Pada akhir pertarungan, dia dibantu oleh pendekar anggota perampok Harinuan. Hanya itu yang saya ketahui."


" Apa itu artinya dia anggota sekte Harinuan?"


" Hamba tidak tau ketua. Tapi sepertinya mereka memang saling mengenal. "


" Kutak, Padati, Bokkor. Kalian selesaikan lah persoalan ini. Pastikan kalian pulang dengan membawa kepala pemuda itu ke hadapanku. " Hamsa menekankan setiap kata-katanya kepada ke 3 pendekar andalah Sekte Bulan Gerhana itu.


" Apa? Apa ini tidak berlebihan? Bagaimana mungkin ketua bisa menugaskan kami bertiga sekaligus untuk menghadapi seorang pemuda." Batin Padati. Raut kebingungan juga dia lihat pada wajah ke dua rekannya. Ke tiga pendekar itu memang berkemampuan cukup tinggi. Mereka ber tiga berkemampuan setara pendekar langka.


" Kenapa? Apa kalian tidak bersedia?" Hamsa seperti bisa membaca pikiran ke tiga anak buahnya itu. " Jangan meremehkan orang ini. Kita sama sekali belum tau batas kekuatannya."

__ADS_1


" Baik ketua, kami pastikan akan membawa kepala pemuda itu ke hadapan ketua."


__ADS_2