PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 24. Lonjakan Tenaga Dalam


__ADS_3

Hasea dan rekan-rekannya yang lain dikumpulkan di tempat latihan. Hari ini mereka akan memulai meditasi untuk membuka pintu toddi nya masing-masing.


Dari 10 orang yang dilatih , 5 orang diantaranya telah dipilih. Mereka adalah Lambao, Kones, Sigam, Hasea dan Pelong. Lambao dan Kones adalah anak buah Ketua Borong , Sigam dan Pelong adalah anak buah Ketua Sulpi. Sedangkan Hasea sendiri anak buah Ketua Altong.


" Hari ini kalian akan memulai meditasi. Masing-masing dari kalian akan diberikan sebuah pil untuk menjadi pemicu agar pintu Toddi kalian terbuka. Ingat, pil ini hanya pemicu. Berhasil atau tidaknya pintu toddi kalian, semua tergantung kalian masing-masing" ucap ketua Borong dengan lantang.


Ketua Harimotting menatap ke 5 pemuda itu satu per satu. Tatapannya berhenti pada Hasea. Dia dapat merasakan setidaknya satu pintu toddi Hasea telah terbuka. Dia tidak tau bagaimana itu terjadi. Tapi dia berharap hal tersebut pertanda baik.


Ke 5 pemuda tersebut dibawa ke sebuah lembah di hutan. Tempat itu lebih mirip seperti rawa sebenarnya. Ada banyak binatang melata yang beracun dan juga serangga berbahaya disana. Tempat ini sengaja dipilih untuk menguji konsentrasi ke 5 pemuda tersebut.


" Di tempat ini kalian akan melakukan meditasi selama 3 hari. Tanpa makan dan minum. Juga tanpa penjagaan. Jadi sebaiknya kalian berkonsentrasi penuh dan segeralah buka salah satu pintu toddi kalian". Ketua Harimotting berkata pelan penuh wibawa. " Semakin cepat kalian berhasil membuka pintu toddi, maka semakin kecil kemungkinan binatang Beracun di tempat ini mengganggu meditasi kalian".


"Mungkin saja diantara kalian telah ada yang berhasil membuka pintu toddinya sebelumnya" ketua Harimotting sejenak berhenti berbicara kemudian melirik ke arah Hasea dan tersenyum tipis , hal tersebut membuat Hasea menundukkan kepala. " Tapi walaupun demikian, meditasi ini setidaknya akan tetap bisa meningkatkan kemampuan tenaga dalam kalian".


Ke 5 pemuda tersebut duduk bersila. Mereka mengambil sikap meditasi. Ketua Borong mendekati mereka satu per satu.Kemudian ketua tengah itu memberikan satu buah pil masing-masing ke setiap orang . " Kau memang sungguh penuh kejutan" Ketua Borong berbisik pelan pada Hasea. Rupanya dia juga menyadari perubahan Hasea.

__ADS_1


" Saat kalian mengkonsumsi pil tersebut, tenggorokan kalian akan serasa terbakar, sesaat kalian akan berhalusinasi . Tapi tenanglah, itu pertanda pil nya sedang bekerja" ucap ketua Borong dengan lantang.


" Dari sini , kalian sendiri yang menjadi penentunya. Sampai bertemu 3 hari lagi" Ketua Harimotting dan ketua Borong melompat ke atas . Mereka meninggalkan ke 5 orang itu begitu saja.


Ke 5 pendekar Muda itu secara serentak memakan Pil Sumber daya itu. Benar saja. Mereka merasakan sensasi terbakar pada tenggorokannya untuk beberapa saat. Tidak terkecuali Hasea. Hampir 10 menit tenggorokannya seperti terbakar. Seolah dia sedang menelan bara api yang menyala.


Keringat bercucuran dari tubuh ke 5 pendekar tersebut. Hasea ingin sekali meminum air rawa di sekitarnya. Namun dia berhasil menahan diri. Hasea menarik nafas panjang. Dia mulai memejamkan mata dan berkonsentrasi. Perlahan sensasi terbakar di tenggorokannya hilang.


Tiba-tiba Hasea seperti melayang, dia merasa pusing , sekitarnya seolah berputar-putar. Kepalanya terasa sangat berat. Pandangannya serasa nanar. Bersamaan dengan itu dia merasakan dirinya kemudian terjatuh ke sebuah jurang yang sangat dalam. Hasea berteriak sekuat tenaga namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya.


Dia mulai berjalan setapak demi setapak. Meraba-raba sekitar namun tak ada apa pun yang bisa diraihnya.


Hasea melihat setitik kecil cahaya di kejauhan . Hasea berlari menuju cahaya tersebut. Namun saat mencapai cahaya tersebut dan akhirnya dia bisa melihat sekelilingnya, alangkah terkejutnya dirinya. Tempat itu tidak asing. Tampak olehnya orang-orang berlalu lalang. Hasea mencoba menegur orang-orang tersebut.Namun tak satu pun orang-orang disana memperdulikannya. Bahkan orang-orang itu seolah tak menyadari keberadaan dirinya . Semakin dia melangkah, semakin dia mengenal tempat itu. " Desa Hariara? Bagai mana mungkin aku bisa sampai di tempat ini?" .Gumam Hasea kebingungan. Desa itu, tempat yang tidak akan pernah diinjaknya lagi. Tapi disana lah dia. Berdiri ditengah kebingungan.


Hasea terus melangkahkan kakinya. Kesedihan mendalam menyelimuti hatinya . Didepan sana, di kejauhan..Hasea melihat ada segerombolan anak sedang mengerumuni sesuatu. Dia mencoba berlari ke tempat itu. " Dasar anak pembawa sial, anak terkutuk". Teriak salah seorang anak yang paling besar badannya. Meneriaki seorang anak yang sedang dirundung oleh sekumpulan anak-anak itu.

__ADS_1


Anak yang lain melemparkan sebuah tomat busuk kepada anak yang dirundung. " Kau dan nenekmu sama busuknya dengan tomat ini, rasakan ini dasar anak iblis". Anak yang dirundung itu hanya bisa menangis dan tertunduk. Dia seperti menerima semua perlakukan buruk yang terjadi padanya.


" Hentikan, apa yang kalian lakukan?" Teriakan Hasea itu, tak seorangpun menggubrisnya. " Hei kau, bangunlah..lawan mereka , jangan jadi pengecut". Hasea berteriak lebih kuat. Dia sangat marah, ya.. Hasea marah kepada anak kecil itu. Dirinya sewaktu masih kecil.


" Rasakan ini" seorang anak menendang Hasea kecil sampai dia tersungkur. " Dasar pengecut. Pergi kau" Hasea mencoba mendorong anak yang menendang Hasea kecil. Sia-sia... Hasea bahkan tidak bisa menyentuhnya. Tubuhnya menembus anak itu.


" Hai bangunlah, lawan mereka. Kau tidak bersalah. Kau jangan mau diperlakukan semena-mena" . Hasea mendekati Hasea kecil. " Pergilah, aku pantas mendapatkan ini, aku ini pembawa sial" . Hasea kecil berkata sambil terisak kepada Hasea. "Kau..kesalahan apa yang telah kau perbuat sampai kau pantas menerima semua ini?" Hasea sangat marah kepada dirinya yang pasrah itu.


" Apa kau belum mengerti juga? Banyak anak kehilangan bapaknya. Banyak Istri kehilangan suaminya. Keringat warga desa diperas sampai titik darah penghabisan hanya untuk membayar pajak yang besarnya tak masuk akal . Itu semua karena keluargaku adalah keluarga buronan yang hanya memikirkan diri sendiri. Dari awal mereka punya pilihan untuk menyerahkan diri sehingga warga desa tidak terluka,btapi mereka tidak melakukannya. " . Hasea kecil berteriak kepada Hasea .


***


Teman-teman. Tau kah kalian, like yang kalian berikan adalah sumber daya terbaik untuk membakar semangat author dalam berkarya? ..hehehe..terima kasih ya sudah mengapresiasi baik novel ini.


Kalian memang luar biasa..

__ADS_1


__ADS_2