
Apodi, ketua sekte Walet hitam itu sedang melakukan pertemuan rahasia dengan Sumeru, salah satu petinggi walet hitam yang menjadi orang kepercayaan Apodi.
" Jadi bagai mana menurut mu Sumeru?"
" Ketua, hal ini sungguh sangat beresiko. Kalau saja kita terlibat dan gagal, bisa jadi sekte kita akan menjadi buruan aliansi putih dan pihak kerajaan."
Sumeru menarik nafas panjang. " Tetapi kalau saja penuturan ketua Natta benar bahwa pemuda itu adalah pendekar penjaga Naga, dan ternyata nantinya berhasil mengambil alih kepemimpinan kerajaan, maka posisi kita juga tidak kalah buruk nya."
" Itulah yang sedang ku pikirkan Sumeru. Tampaknya kali ini kita memang harus berpihak. Hanya saja pada akhirnya kepada siapa pilihan kita jatuh. Itu yang membuatku jadi bingung."
" Begini saja ketua. Kita sebaiknya membantu Hasea untuk melaksanakan rencananya. Kita lakukan secara rahasia."
"Lalu sekte mana yang harus kita hubungi terlebih dahulu?"
"Sekte bulan purnama menjadi yang paling masuk akal ketua. Selain mereka adalah sekte yang paling perduli dengan kesejahteraan warga setidaknya untuk saat ini, sekte bulan purnama juga adalah sekte yang paling dekat keberadaannya dengan Kota ini."
" Baiklah, kita akan segera melakukannya. Aku akan menyampaikan hal ini kepada tuan Hasapi."
***
Hasea dan Hasapi diundang oleh Apodi untuk makan malam. Sudah dua hari Hasea dan Hasapi berada di sekte Walet Hitam. Sudah saatnya Apodi menyampaikan keputusannya.
" Sekte pertama yang akan kita hubungi adalah sekte Bulan Purnama. Tapi untuk yang pertama ini, kami tidak akan terlibat langsung."
" Tapi ketua, kami sama sekali tidak memiliki koneksi dengan mereka. Kami pikir kalian akan membantu kami dalam negosiasi untuk meyakinkan mereka."
" Tuan Hasea, tolong mengertilah. Aku sangat menghargai ketua Natta. Aku akan memenuhi permintaannya sebisa mungkin. Tetapi mengenai hal ini, kalian tau sendiri bagaimana kuatnya posisi Panglima Angkar dan Aliasi putih saat ini."
" Hufth.." Hasea menghela nafas." Lalu bagaimana cara anda menghubungkan kami dengan sekte bulan purnama?"
" Ada satu cara, tetapi jujur saja hal ini cukup sulit dan hampir mustahil dilakukan."
"Tidak masalah Ketua. Kami akan berusaha. Anda hanya perlu mengatakan apa itu."
Marrupa, ketua sekte bulan purnama merupakan seorang kolektor barang-barang antik. Dia sangat terobsesi dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan benda-benda antik peninggalan kerajaan Partungko Naginjang pada dahulu kala. Hampir semua barang antik yang berhubungan dengan sejarah Kerajaan Partungko Naginjang dia kumpulkan.
Sejauh ini , ada satu benda antik berupa pedang yang dipercaya terbuat dari batu langit yang sangat diinginkan oleh ketua sekte bulan purnama itu. Namun dia tidak berhasil mendapatkannya.
Ketua Apodi bukan tidak mengetahui keberadaan pedang antik itu. Hanya saja dia sendiri tidak yakin bisa mendapatkannya karena pemilik pedang itu saat ini adalah seseorang yang tidak tertarik dengan harta. Entah sudah berapa kali Marrupa menawarkan sejumlah emas kepada orang itu tetapi orang itu tidak pernah bersedia melakukan pertukaran.
Pemilik pedang ini bernama Hasiahan. Dia tinggal di sebuah desa bernama Sipoholon. Tidak ada yang lebih berharga baginya selain cucu satu-satunya yang saat ini sedang dalam keadaan sakit. Cucu perempuannya mungkin seumuran dengan Hasea. Dia sudah lama sakit dan tidak sadarkan diri. Berbagai cara dan entah sudah berapa banyak tabib yang berusaha menyembuhkannya. Tetapi semua itu gagal, bahkan setiap tabib yang menangani sakitnya tidak mengetahui perempuan cantik itu terserang penyakit apa.
" Ada rumor yang mengatakan bahwa roh dari perempuan itu dibawa pergi oleh roh naga."
" Roh naga? Untuk apa roh naga membawa pergi roh manusia?"
" Entah lah. Itu hanya sebuah rumor. Tapi bagaimana pun hanya informasi itu yang bisa didapatkan oleh orang-orang."
" Jadi seperti itu." Hasea menggaruk kepalanya. Hal ini seperti tidak masuk akal bagi nya.
"Lalu apa yang bisa kami lakukan?"
" Apabila kalian berhasil menyembuhan cucunya, maka saya yakin apapun yang anda minta akan diberikan oleh Hasiahan."
"Tapi bagaimana caranya? Saya memiliki beberapa sumber daya obat. Tetapi untuk memanggil roh, entahlah. Saya tidak yakin."
" Ah tuan Hasea..bukankah anda pendekar penjaga naga? Kalau hal itu benar,tentu anda pernah berhubungan dengan roh naga bukan?"
__ADS_1
" Ehm.. mengenai hal itu." Hasea menarik nafas panjang. Hasea memang memiliki Roh Naga Gumoang. Tetapi dia belum pernah berkomunikasi dengannya. Satu-satunya roh naga yang pernah berhubungan dengannya secara langsung adalah Naga Api.
" Baiklah. Saya akan mencobanya." Hasea sebenarnya tidak terlalu yakin tapi bukankah sebenarnya dia tidak pernah mencoba?.
***
" Tuan Hasapi, apa anda percaya kepada tuan Terisab?"
" Apa maksud anda?" Hasapi tidak mengerti arah pembicaraan Hasea.
" Aku ingin berbicara dengan roh naga api. Apakah anda bersedia meminjamkan cincin itu kepada tuan Terisab?"
" Apa itu tidak berbahaya? Kita tidak tau pasti apa yang ada di dalam kepala orang itu. Bagaimana kalau akhirnya dia tidak mau mengembalikan cincin itu dan menggunakan roh naga api untuk kepentingan dirinya sendiri?"
" Aku juga berfikir demikian. Tapi apakah ada orang lain yang memiliki tubuh cukup kuat untuk menampung roh naga api untuk sesaat? Tentunya orang yang bisa kita percaya?"
" Bagai mana dengan mu? Kenapa bukan kau saya yang memakai cincin itu?"
" Untuk saat ini hal itu mustahil Tuan. Roh naga Gumoang menolaknya. "
***
" Kau sudah gila Terisab. Sudah berpuluh tahun aku hidup, tapi aku belum pernah bertemu dengan pendekar penjaga naga sekali pun."
" Senior, aku sendiri telah bertarung dengan nya. Pendekar itu penjaga roh naga Gumoang. Ini bukan mitos."
"Hahaha..bertarung dengan penjaga roh naga kata mu? Dan setelah bertarung dengannya kau masih bisa datang ke tempat ini dengan selamat?"
"Senior, tidak ada gunanya aku berbohong. Dia benar-benar penjaga roh naga. Walaupun dia memang masih terlalu muda dan pengalaman bertarungnya masih sangat sedikit."
" Ini konyol.. Sulit dipercaya. "
" Hahaha..apa kau pikir aku takut dengan mainan mu itu Terisab? Kalau bukan karena sisik naga api yang kau pakai itu ,kau bahkan bisa ku kalahkan dengan beberapa jurus saja."
" Kau sungguh egois senior. Mau sampai kapan kau bersembunyi di tempat ini? Bukankah mengembalikan kehormatan keluarga kita adalah impianmu sejak dulu? Lalu setelah adanya kesempatan ini kau malah menyia-nyiakannya."
Entah kenapa Terisab menjadi murka. Pendekar itu menyerang Golok dengan membabi buta.
Gilok menahan serangam Terisab. Pria sepuh itu melompat mundur.
" Jadi begini caramu mengembalikan kehormatan keluarga? Dengan membunuh keluarga mu sendiri?"
"Kau yang memaksaku bertindak senior. Kerasnya kepala mu itu membuatku kehilangan kesabaran."
" Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan meladeni mu."
Kedua pendekar keturunan Isumbaon itu akhirnya terlibat dalam pertarungan. Dengan cepat puluhan jurus antar mereka saling bertukar. Jurus yang mereka gunakan adalah jurus yang sama. Perbedaannya adalah Gilok menggunakan tenaga dalam tanpa kobaran api.
Pertarungan tampak berimbang walaupun sebenarnya Terisab banyak mendapat keuntungan karena tubuhnya diselimuti oleh kobaran api. Gilok tidak bisa menyerangnya dalam pertarungan dekat.
" Sungguh sangat disayangkan senior, padahal kau masih memiliki kemampuan bertarung yang sangat baik.Tapi kau hanya menyia-nyiakannya dengan bersembunyi di tempat ini."
" Apa menurutmu menjadi pembunuh bayaran lebih baik?"
Kedua pendekar kembali saling bertukar jurus. Terjadi kerusakan dimana-mana akibat ledakan tenaga dalam yang saling beradu. Gilok mendapat beberapa luka akibat pukulan dan serangan Terisab. Usianya yang sudah tua memberi kerugian yang cukup besar. Tenaga dalam yang dia miliki memang masih sangat besar tetapi gerakannya lebih lambat dibandingkan Terisab.
Ditambah lagi selama berpuluh tahun, ini kali pertama sampai dia bertarung lagi. Berdiam diri selama berpuluh tahun tentu berpengaruh terhadap kecepatannya.
__ADS_1
Terisab kembali melayangkan pukulan kepada Gilok. Awalnya Terisab hanya menggunakan sebagian dari tenaga dalam yang dia miliki. Awalnya Terisab hanya bermaksud untuk membangkitkan kembali gairah bertarung Gilok.
Namun kini akhirnya Terisab menggunakan seluruh tenaga dalam nya. Dia tidak lagi sungkan. Terisab tidak menyangka bahwa sepuh tua itu bisa mengimbanginya.
" Kenapa Terisab? Apa kau terkejut? Sudah kukatakan. Kobaran api yang menyelimuti tubuh mu itu hanya mainan."
Terisab memang kewalahan. Walau dia berhasi melayangkan beberapa pukulan yang berhasil melukai Gilok, namun luka yang dia dapat juga tidak sedikit. Sesekali Terisab menyalurkan tenaga dalamnya untuk menekan rasa sakit pada luka nya.
Terisab melesat cepat ke arah Gilok. Pendekar tua itu tidak bergeming. Sepertinya dia siap menerima serangan Terisab.
Terisab melayangkan tinju yang dipenuhi oleh tenaga dalam . Gilok mengangkat kedua tangannya. Dia memusatkan tenaga dalam pada ke dua telapak tangannya.
Hanya jarak beberapa langkah, kedua orang itu terpental akibat benturan tenaga dalam yang besar. Keduanya terlempar cukup jauh sampai mendarat dan terbaring.
Untuk sesaat Terisab berfikir kalau keluarga serumpun nya itu mungkin saja sudah mati. Namun melihat orang tua itu kembali bangkit membuatnya sedikit lega.
" Senior, apa anda baik-baik saja?"
" Apa peduli mu?, Setelah menyerangku seperti itu apa pantas kau menanyakan kondisiku?"
Terisab kembali jengkel mendengar ucapan Gilok. Terisab berupaya bangkit. Dia harus waspada apabila sewaktu-waktu Gilok menyerangnya.
" Ayo kau bangkitlah. Kita selesaikan pertarungan ini." Gilok yang telah berhasil bangkit kembali menantang Terisab.
" Kau ini, kalau saja Hasapi meminjamkan cincin itu kepadaku, dengan kekuatan naga api yang sesungguhnya kau akan ku bakar menjadi abu." Ucap Terisab penuh amarah.
" Cincin? Cincin apa yang kau maksud?"
" Cincin yang dipakai orang tua itu. Cincin yang bisa memanggil roh naga api."
" Hahaha... Kau masih saja mengkhayal. Apa semudah itu memanggil roh naga api? Apa roh naga api menjadi semurahan itu dalam menjalin hubungan?"
" Sudah ku katakan, aku tidak membual." Terisab mengoyakkan pakaiannya. " Apa kau tidak bisa melihat bekas luka ini?" Terisab menunjukkan bekas luka bakar akibat pukulan roh naga Api di dadanya.
" Hei..itu bekas luka bakar biasa, apa yang berupaya kau buktikan dengan itu?"
" Sepertinya mendekam terlalu lama di tempat ini membuat otak mu menjadi beku. Apa kau benar-benar berfikir kalau api bisa melukai ku kecuali itu kobaran api roh naga api?"
Untuk sesaat Gilok terdiam. ' Benar juga setelah mempelajari Kitab naga api dan memakai sisik naga api, kobaran api biasa tidak akan bisa melukai nya.'
Gilok mendekati Terisab. Pandangan matanya nya tidak lepas dari luka bakar di dada Terisab.
Terisab hanya terdiam. Dia juga mengendurkan pertahanannya walau Golok semakin mendekat. Dia tidak lagi merasa terancam karena Gilok juga telah menghilangkan pancaran tenaga dalam milik nya.
" Wah..jadi benar ini luka bakar akibat pukulan tenaga dalam roh naga api?" Gilok hampir saja menyentuh bekas luka Terisab sampai Terisab melompat mundur.
" Hei orang tua.. apa terlalu lama di tempat ini juga mengubah selera mu? Terisab menjadi sangat canggung.
" Apa maksud mu?" Untuk sesaat Gilok terlihat bingung.
" Apa..!?" Gilok menampar kepala Terisab.
" Apa kau pikir aku segila itu? Gilok menatap jijik pada Terisab. " Tapi baiklah, sepertinya ada alasan untuk ku pencaya padamu. Tapi sebelumnya aku ingin bertemu dengan pemuda itu."
Terisab nampak kesal. " Kau ini, setelah bertarung dan hampir saling membunuh, kau baru percaya setelah melihat bekas luka ini?"
Terisab begitu jengkel. Dia tidak pernah berfikir dengan menunjukkan bekas luka bisa meyakinkan seniornya itu.
__ADS_1
" Baiklah, aku tau dimana mereka berada. Aku akan mempertemukan kalian bila itu mau mu."