
Sabbil, tangan kanan Hanure itu sedang berada di dalam hutan seorang diri . Sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Sesekali Sabbil menguap, lamanya menunggu membuat kantuknya muncul secara perlahan sampai dia dikejutkan oleh sesuatu.
Hawa di sekitar tempat Sabbil duduk tiba-tiba menjadi panas. Nafasnya sesak. Keringat bercucuran dari badannya. Dia mengenali aura ini. Beberapa kali dia telah merasakannya juga. Tapi sampai sekarang dia belum juga terbiasa.
" Tuan, tolong tunjukkan diri anda dan anda tidak perlu menekan saya seperti itu. Ini hanya bisnis seperti biasanya."
Seseorang melompat dan mendarat tepat di hadapan Sabbil. Seorang pria bertubuh besar kekar, rambut panjang tidak terurus. Matanya merah. Wajahnya ditutupi oleh topeng merah darah bertanduk. Orang itu adalah Terisab. Pendekar berkemampuan Legenda level 2. Terisab adalah pendekar yang tidak terikat sekte mana pun, dia benar-benar pendekar yang berkelana seorang diri. Pendekar yang bekerja sebagai pembunuh bayaran.
Terisab memang sudah berusia diatas 60 tahun. Tetapi tubuhnya tetap bugar seolah tidak mengenal usia. Kalau saja kepalanya tidak dipenuhi uban, orang yang melihatnya pasti mengira Terisab masih berusia sekitar 30 tahun. Dia bekerja untuk siapa saja yang dapat memenuhi upah bayaran yang dipatok oleh dirinya. Dia juga bisa membunuh siapa saja.Tidak ada kawan atau lawan, hanya ada pekerjaan dan imbalan. Imbalan untuk memakai jasanya termasuk sangat mahal, tapi beberapa orang masih saja bersedia membayarnya. Sekte Jingga kerap memakai jasa Terisab untuk melakukan hal-hal kotor.
" Kau tau syaratnya, cukup katakan siapa orang nya dan bagian tubuh mana darinya yang kau inginkan kubawa padamu?"
Mendengar ucapan Terisab tersebut membuat Sabbil menelan ludah. Bulu kuduknya berdiri. Setiap kata yang keluar dari mulut Terisab seolah diikuti oleh aura kematian.
" Kami menginginkan nyawa seorang anak muda. Anda cukup membawa bagian tubuhnya yang bisa meyakinkan kami bahw anda tidak salah sasaran."
Sabbil menjelaskan segala sesuatu yang sekte Jingga ketahui tentang pemuda buruan sekte Jingga itu, pemuda yang bahkan namanya saja mereka tidak tau. Kemunculan Hasea yang tiba-tiba di tengah-tengah pusaran dunia persilatan di wilayah Kerajaan Partungko Naginjang memang membuat sedikit kegaduhan.
__ADS_1
" Hahaha.. baiklah, kalian sekte aliran putih memang munafik. Masih saja memakai gelar aliran putih tapi berkelakuan seperti aliran hitam. Tapi aku suka itu, sekte seperti kalianlah yang menjaga semangatku untuk tetap hidup. Hahaha.."
Terisab mengendurkan pancaran tenaga dalamnya. Dia menatap Sabbil untuk sesaat.
" Baiklah, aku pergi dulu. Aku akan menyelesaikan tugas ini secepatnya."
Sabbil hanya bisa terdiam memandangi pendekar penyendiri itu menghilang dari pandangannya. Masih tersisa kesan menakutkan di pikiran Sabbil setiap kali bertatap muka dengan Terisab. Sabbil berlalu meninggalkan hutan itu. Dia tidak mau berlama-lama disana.
***
Hasea dan Hasapi terus berjalan menyusuri jalan setapak. Sesekali mereka beristirahat di sebuah penginapan desa atau kota yang mereka lalui. Kedua orang itu sesekali menjadi menarik perhatian orang-orang yang mereka jumpai. Selain karena ketampanan Hasea, sesekali Aura tenaga dalam naga Gumoang terpancar dari tubuh Hasea. Dia sengaja memancarkannya apabila merasakan ada orang yang berniat buruk kepada mereka. Dari pada harus bertarung, Hasea lebih memilih untuk memberi aura tenaga dalam untuk memberi tekanan agar membuat orang-orang itu mundur akibat rasa takut.
"Tuan Hasapi, sejujurnya masih tersisa rasa penasaran di benak ku."
" Apa itu Pangeran? Apa kira-kira yang membuat mu sampai begitu risau?"
" Sebenarnya ini bukan hal yang buruk. Tetapi tetap saja hal ini sedikit menyita pikiran ku. Anda ingat pertarungan ku di kota Raniatte beberapa waktu yang lalu? Anda satu-satunya yang bisa selamat dari tornado yang ku buat." Hasea menghentikan langkahnya. Dia menatap Hasapi
__ADS_1
" Kemudian pada saat pertarungan dengan pendekar sekte Jingga bersama prajurit kerajaan tempo hari, aku tidak heran dengan Renees, dia memiliki sedikit kemampuan bela diri dan tenaga dalam. Tetapi anda? Anda bahkan tidak memiliki tenaga dalam, anda juga tidak memiliki kemampuan bela diri. Tetapi anda masih juga bisa selamat dari serangan pendekar wanita itu."
" Wah, mungkin itu hanya kebetulan. Tapi tunggu dulu, apa itu artinya sebenarnya anda mengharapkan ku terbunuh?" Hasapi tersenyum tipis sambil memandang Hasea dengan tatapan Curiga.
" Ah, bukan begitu tuan. Tapi aku rasa ini sesuatu yang terlalu kebetulan.Tapi ya sudahlah. Mungkin anda memang sedang diselimuti oleh keberuntungan."
Hasea dan Hasapi berjalan memutar memasuki Hutan. Mereka memilih jalan ini untuk mempersingkat waktu tempuh menuju kota Pintu Suona. Saat itu sudah menjelang malam. Pandangan mata sudah mulai terbatas. Angin berhembus pelan menerpa daun pepohonan. Hari memang cerah. Bintang dapat terlihat jelas. Tapi hutan sedikit kering. Memang tidak turun hujan beberapa hari ini.
" Apa sebaiknya kita istirahat dulu? perjalanan..." Hasapi tiba-tiba menghentikan ucapannya. Kedua orang itu saling menatap. Ada hal aneh yang terjadi.
" Tuan Hasapi, apa anda menyadarinya?"
" Saya merasakannya pangeran, udara tiba-tiba memanas."
Mata Hasapi dan Hasea menyisir seluruh tempat di sekitar mereka. Tidak ada apa-apa selain pepohonan dan semak. Hasapi mulai ketakutan. Nafasnya seakan tersengal. Udara semakin memanas. Ini bukan hal yang alamiah terjadi.
" Waspadalah tuan, ada pancaran tenaga dalam yang sangat besar mendekati kita."
__ADS_1
Hasapi hanya terdiam. Dia bahkan tidak tau harus melakukan apa. Waspada baginya juga tidak ada gunanya. Tubuh Hasapi semakin memanas. Orang tua itu hampir saja pingsan.