PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 80. Mengusik Gilok


__ADS_3

" Sudah lama aku tidak menikmati masakan restoran. Rasanya aku ingin makan besar.Kau tentu tidak keberatan kalau aku makan beberapa porsi makanan bukan?"" Gilok mentap Terisab penuh harap.


" Setelah bekerja lama menjadi pembunuh bayaran, tentu harta yang kau miliki sudah banyak. Untuk beberapa porsi makanan tentu tidak masalah bagi mu."


" Hei.. senior, tolong jaga bicaramu. Orang-orang bisa saja mendengar ucapan mu." Terisab mempelotiti Gilok dengan geram. Bagai mana tidak, akibat ucapan Gilok beberapa pasang mata menyoroti mereka sekarang.


" Ah..kau terlalu khawatir. Selama ini kau menggunakan topeng bukan? tidak akan ada orang yang mengenalimu saat kau tidak memakai topeng." Gilok tersenyum sambil berbisik.


Terisab memesan banyak makanan dan beberapa gelas arak. Untung bagi dirinya, seniornya itu bukanlah orang yang terlalu suka minum arak. Dia hanya minum minuman memabukkan itu sekedarnya saja. Tetapi tentang makan, orang tua itu tidak membual. Sudah tiga porsi besar makanan


Terisab dan Gilok sedang lahap menikmati makanan yang tersaji di meja mereka sampai kedua orang itu didatangi oleh penjaga kota. Ada 5 orang jumlah mereka. 1 orang diantaranya merupakan pendekar berkemampuan Ahli dan 4 orang lainnya berkemampuan pendekar dasar. Mereka adalah anggota sekte bulan purnama.


***


Sumeru mengajak Hasea dan Hasapi berkeliling kota Pintu Suona. Hari ini adlah hari terakhir para tamu nya itu di kota tersebut sampai mereka akan berangkat ke desa Sipoholon untuk bertemu Hasiahan, pemilik pedang antik berbahan batu langit itu.


"Tuan-tuan, kota ini berada di dalam pengawasan Sekte Bulan Purnama. Kalian bisa lihat sendiri, mereka bekerja cukup baik."


Wajar saja Sumeru bangga. Selain dari pada tatanan kota yang baik,keamanan kota Pintu Suona juga memang terjaga dengan sangat baik. Setidaknya sampai dengan saat ini.


"Saya sebenarnya juga kagum dengan penataan dan keamanan kota ini Tuan Sumeru. Tetapi sebenarnya yang saya paling kagumi adalah kebijaksanaan mereka membiarkan sekte Walet Hitam berdiri di pusat kota, sementara mereka sendiri berada setengah hari perjalanan dari kota ini."


"Hahaha..itulah kelebihan mereka tuan Hasea. Walau mereka ahli dalam tata kota dan keamanan, tetapi mereka sadar bahwa belum ada sekte yang bisa mengalahkan sekte Walet hitam dalam hal perdagangan dan negosiasi. Itulah alasannya sekte kami masih bisa berdiri di kota ini sampai dengan saat ini."


" Jadi begitu ya? Untuk tata kota dan keamanan menjadi urusan sekte bulan purnama, sementara untuk perdagangan diatur oleh sekte Walet hitam?" Hasapi ngengangguk-angguk sembari mengelus-elus dagunya. ' Sungguh hubungan yang saling menguntungkan' Batin Hasapi.


***


" Mohon maaf tuan-tuan bila kami mengganggu waktu makan anda." Pendekar penjaga keamanan yang sepertinya menjadi ketua regu itu menyapa Terisab dan Gilok.


"Mohon anda sekalian memperkenalkan diri dan menunjukkan identitas diri."

__ADS_1


" Apakah kami melakukan sesuatu yang salah?" Jawab Gilok jengkel. Paha ayam yang ada di tangan kanannya menjadi tidak lagi menarik karena terusik oleh para penjaga keamanan itu.


"Maaf tuan, bukan demikian. Ini hanya pemeriksaan rutin saja. Kalian berdua pendatang bukan?beberapa pendatang memang harus kami periksa tuan. Mohon mengertilah. Ini demi kebaikan kita bersama."


Sebenarnya tidaklah demikian faktanya. Pemeriksaan acak memeng kerap dilakukan oleh para penjaga, tetapi yang terjadi saat ini, mereka memeriksa Terisab dan Gilok akibat dari laporan pengunjung restoran yang lain yang berkata bahwa dicurigai ada pembunuh bayaran sedang makan di sana.


"Lalu dari sekian banyak pendatang, mengapa kami yang kau periksa?"


Mata Gilok melotot, sepertinya orang tua itu memang benar-benar kesal. Dia mengepalkan tinju. Aura tenaga dalam yang besar dia pancarkan. Ke 5 pendekar penjaga keamanan itu terkejut. Wajah mereka pucat, mereka saling bertatapan satu sama lain. Namun akhirnya mereka menjadi lebih waspada. Serentak mereka menggenggam gagang pedang masing-masing. Mereka siap mencabut pedang itu apabila sewaktu-waktu Gilok menyerang mereka.


Terisab yang mulai terganggu menggenggam pergelangan tangan Gilok. Dia merasa perlu untuk menahan seniornya itu. Sebenarnya dengan beberapa pukulan mereka akan mudah mengalahkan ke 5 penjaga keamanan kota itu. Namun untuk saat sekarang ini, hal itu bukan tindakan yang bijaksana.


"Ah tuan-tuan, kami hanya pelancong biasa. Kiranya ada hal dari tindakan kami yang membuat tuan-tuan tersinggung, sebaiknya kita bicarakan baik-baik."


Bagi Terisab, melawan para penjaga keamanan kota ini sama saja mengungkapkan jati dirinya siapa. Hal itu sangat dia hindari. Namun sayangnya orang tua yang duduk bersama nya tidak berfikir sejauh itu.


Saat Gilok tampak sudah terkendali emosinya, 5 orang penjaga keamanan lainnya memasuki restoran. Kali ini salah satu penjaga itu adalah pendekar berkemampuan Ahli level akhir.


Yang membuat emosi Gilok kembali memuncak adalah prajurit penjaga rombongan terakhir yang memasuki restoran memancarkan aura tenaga dalam. Mereka datang dengan posisi siap bertarung.


" Sepertinya kalian memang sengaja mencari masalah."


Gilok bangkit. Dia melesat. Pukulan demi pukulan mendarat di tubuh penjaga yang paling rendah kemampuan bela dirinya. Mereka bahkan tidak menyadari kapan datangnya pukulan itu.


4 penjaga keamanan itu terpental tubuhnya sampai keluar resotoran.


***


Sumeru, Hasea dan Hasapi yang akan masuk ruang restoran dikejutkan dengan tubuh para penjaga keamanan terpental di hadapan mereka.


" Apa yang terjadi?" Sumeru refleks menopang tubuh para penjaga yang terbaring itu. Dia tau para penjaga ini tidak sembarangan dalam bertindak. Kalaupun mereka terlibat dalam suatu pertarungan pastilah dikarenakan alasan yang pasti.

__ADS_1


" Tuan Terisab?, Apa yang terjadi?" Hasea berucap dengan wajah kebingungan. Dia sedang melihat Terisab duduk di salah satu meja sementara disampingnya terdapat seorang tua yang sedang dikepung oleh 6 orang pendekar.


" Tuan Hasea, apa anda mengenal mereka?" Tanya Sumeru.


"Tentu saja tuan, salah satu diantara mereka adalah keluarga serumpun tuan Hasapi."


" Kalau demikian, tolong bantu hentikan mereka tuan. Kalau tidak, keadaan ini bisa menjadi semakin rumit."


***


" Panggil bantuan, sepertinya mereka bukan orang sembarangan." Bisik salah satu pendekar penjaga kepada anak buahnya.


" Kau pikir kau mau kemana?pesta baru saja dimulai."


Penjaga keamanan yang hendak meminta bantuan itu baru saja melangkahkan kaki sampai tiba-tiba Gilok sudah ada di hadapannya.


Gilok baru akan melayangkan pukulan kepada pendekar berkemampuan rendah itu sampai dia mendapat tekanan dari aura tenaga dalam yang sangat besar. Gilok menyadari itu bukan aura tenaga dalam Terisab, bukan juga aura tenaga dalam dari Pendekar penjaga keamanan yang baru berabung tadi.


Aura tenaga dalam yang terpancar itu menarik perhatian Gilok. Kini dia telah mengabaikan pendekar rendahan yang ada di hadapannya.


" Aura tenaga dalam ini, sepertinya ini aura tenaga dalam yang sangat besar."


Gilok mengalihkan tatapannya kepada Hasea. Hasea disana dengan pancaran warna biru pada lengan kanannya, aura tenaga dalam Naga Gumoang juga sedang menatap tajam kepada Gilok. Hasea tidak mengenal orang itu namun pemuda itu berharap, dengan dia memancarkan aura tenaga dalam, orang tua itu bisa beralih kepadanya.


" Anak muda, sepertinya kau sedang menantang ku. Ku akui kau cukup berani."


Gilok melangkah perlahan mendekati Hasea.


" Senior tolong jaga sikap anda, dia.."


Terisab yang akhirnya melesat ke hadapan Gilok dan berupaya menghalangi seniornya itu untuk bertindak lebih hanya diacuhkan oleh Gilok.

__ADS_1


" Terisab, tidak usah ikut campur. Siapa pun orang ini tetapi dia telah berhasil menarik perhatian ku. Aku ingin tau sejauh mana kemampuannya."


Gilok tetap melangkah. Dia semakin mendekati Hasea. Seluruh orang yang ada di sekitar mereka bahkan menghindar. Termasuk juga Sumeru. Dia tau dua pendekar dengan aura tenaga dalam yang sangat besar, sebentar lagi akan terlibat dalam pertarungan.


__ADS_2