
Hasea berkeliling di seputar istana. Dia sedang berpatroli bersama 9 orang regu prajurit Bulan Darah yang lain. Dia sengaja menyusupkan diri pada rombongan patroli itu agar bisa memutari Istana. Baju Zirah dengan topeng yang menjadi seragam dari regu Bulan Darah yang dikenakannya membuat kehadirannya tidak disadari oleh prajurit lainnya.
" Kita akan kemana senior?" . Ucap Hasea pada prajurit disebelahnya. " Apakah kau baru disini?, Tentu saja kita sedang menuju paviliun Barat. Aula pertemuan". Prajurit di samping Hasea berkata pelan.
" Mohon maaf senior, kepala ku cukup pusing hari ini, misi yang akan kita laksanakan beberapa hari lagi sedikit membuatku pusing". Ucap Hasea bermaksud mengorek informasi.
" Kau terlalu percaya diri, prajurit yang akan mengikuti misi itu adalah mereka yang memiliki kemampuan pendekar setara tingkat Dasar level 1 . Apakah kau termasuk didalamnya?" . Prajurit itu berkata kesal, dia tidak yakin Hasea berada pada tingkatan itu.
Hasea dan beberapa Prajurit Bulan Darah lain tiba di Paviliun Barat. Mereka ditugaskan berjaga di pintu masuk Aula pertemuan dan menyambut para tamu yang datang. Rupanya sedang ada pertemuan disana. Pertemuan itu dipimpin oleh Kasim kerajaan. Lakuteh nama Kasim itu.
Banyak orang berdatangan ke Aula tersebut. Hasea dapat merasakan bahwa mereka yang datang adalah para pendekar setidaknya yang telah berada pada tingkat pendekar Ahli.
Walau berada di pintu masuk. Namun Hasea mampu mendengar dengan samar pembicaraan di dalam Aula.
" Selamat datang para utusan Anggota Aliansi Putih. Terima kasih atas kehadiran kalian" . Kasim Lakuteh memulai pertemuan.
" Seperti yang telah kalian dengar sebelumnya. Perampok Harinuan telah melecehkan kehormatan Kerajaan dengan menculik salah satu anggota kerajaan...". Ucapan Kasim Lakuteh tersebut didengar oleh Hasea dengan Samar.
Dari hasil pembicaraan pertemuan itu, Hasea mendapat informasi bahwa pihak kerajaan akan menjebak Perampok Harinuan saat dilakukan pertukaran Tawanan. Setelah menjamin keselamatan Putri Senni, seluruh anggota sekte Harinuan yang hadir selama proses pertukaran tersebut akan dibantai. Termasuk juga ketua Atas Garguek. Dari awal, pihak kerjaan tidak pernah berniat untuk melepaskan orang itu hidup-hidup.
Para anggota Sekte Aliansi Putih telah menyebar anak buahnya di penjuru Pasar.Ratusan orang pendekar mulai dari tingkat pemula sampai beberapa tingkat Ahli .
Tapi satu hal yang belum Hasea mengerti adalah, dengan orang sebanyak itu tentu akan kentara, jebakan mereka akan segera terbaca.
" Apakah mereka sebodoh itu? Bagaimana mungkin mereka bisa mengumpulkan begitu banyak pendekar dalam satu tempat tanpa ketahuan". Gumam Hasea dalam hatinya.
***
__ADS_1
Malam harinya, Hasea mengendap-endap di sekitar Istana. Walau dia tau sedikit informasi terkait rencana menyangkut pertukaran tawanan beberapa hari lagi, tetapi Informasi yg dia dapat belumlah cukup.
Hasea mendengar dari para prajurit istana bahwa malam ini akan diadakan pertemua khusus antara Panglima Angkar dengan Kasim Lakuteh dan beberapa utusan Aliansi Putih untuk merampungkan rencana terkait Pertukaran tawanan beberapa hari lagi. Dengan maksud untuk mengorek informasi lebih, Hasea mencari tempat pertemuan tersebut dan berniat mengendap-endap ke lokasi itu.
" Bagai mana mungkin anda bisa berkata akan melakukan penyergapan di tempat keramaian begitu" .
Hasea mendengar samar suara dari sebuah ruangan. Hasea memang sudah berada di sekitar tempat pertemuan tersebut. Dia beraksi sesenyap mungkin. Dia bersembunyi di salah satu tempat di sekitar ruangan itu . Kehadiran Hasea belum disadari siapa pun.
" Demi meringkus para perampok itu, mengorbankan beberapa warga tidak menjadi masalah". Ucap Panglima Angkar tak berperasaan.
" Kami tidak setuju, bagaimana pun keselamatan warga menjadi yang utama". Ucap seorang pria lainnya.
" Ini tidak benar, hanya karena beberapa Perampok, mungkin saja hal ini bisa menghilangkan nyawa beberapa orang tak berdosa" . Sambung pria lainnya .
" Kami telah cukup lama mengintai perampok Harinuan ini. Mereka tidak akan tega melukai para warga. Hal tersebut akan menjadi keuntungan bagi kita ". Ucap Kasim Lakuteh sambil tersenyum tipis penuh kelicikan.
Seorang pria paruh baya menggebrak meja. Dia adalah Tiyung. Pendekar dengan kemampuan tingkat Ahli Level 3 . Pria itu utusan dari Sekte Rajawali biru. " Kalau begini caranya , sekte Rajawali Biru menarik diri". Ucap pria itu.
" Rencana yang masuk akal, justru hal itu akan menjadi keuntungan bagi kita. Para perampok itu tidak akan menyadari hal ini selama informasi ini tidak bocor". Ucap salah seorang pria di ruangan itu.
" Lalu bagaimana dengan pendatang? Suatu hal yang tidak mungkin tiba-tiba melarang pendatang memasuki kota. Hal itu justru akan menimbulkan kecurigaan". Ucap pria lainnya.
"Biarkan mereka tetap masuk, itu sudah menjadi resiko bagi mereka". Ucap Panglima Angkar dingin. " Baiklah. Rencana telah disepakati. Mengevakuasi para warga biar menjadi tugas kami".
***
Hasea cukup ngeri membayangkan hal yang akan terjadi beberapa hari lagi. " Tampaknya pertarungan besar akan terjadi" . Gumamnya dalam hati. " Sekte harus segera mengetahui informasi ini, kalau tidak para peserta pertukaran akan menjadi sasaran pembantaian pihak Istana.
__ADS_1
Hasea segera bergegas meninggalkan tempat itu. Saat akan melangkah keluar , Didepan sana sedang ada 10 prajurit Bulan darah yang patroli. " Gawat..tampaknya aku belum bisa segera keluar dari sini" . Gumamnya.
Akhirnya Hasea berbalik arah. Dia mencoba menghindari para prajurit itu. Sampai akhirnya dia berada di sebuah ruangan dengan pintu besar yang sedikit terbuka. Dari dalam ruangan dia dapat mendengar suara samar.
" Leluhur..apa yang harus saya lakukan? saya seolah tak mampu mengemban tanggung jawab besar ini". Ucap seorang pria sambil menatap sebuah gambar besar yang tertempel di dinding.
" Siapa orang itu , apa yang dilakukannya sendirian disini". Gumam Hasea dalam hatinya. Hasea mengendap-endap masuk ke ruangan karena penasaran.
" Saya adalah seorang Kaisar. Tapi saya tidak lebih dari sekedar boneka dari Permaisuri saya sendiri". Ucap Kaisar Tossao.
" Jadi dia kaisar" . Gumam Hasea dalam hati. Hasea menatap Kaisar Tossao dan Gambar yang terpampang di tembok ruagan itu. " Tunggu dulu , itu...itu". Mulut Hasea menganga, matanya melotot melihat gambar yang terpampang di tembok.
" Gea.. itu adalah Sesepuh Iben. Itu adalah gambar sesepuh Iben". Ucap Hasea kebingungan, dia bingung kenapa gambar Sesepuh Iben tertempel di tembok itu.
" Apa maksudmu Bocah lemah?" Sahut Gea kesal. Dia sama sekali tidak mengerti. " Dia adalah salah satu sesepuh dari antara 7 sesepuh yang muncul saat aku meditasi". Ucap Hasea masih kebingungan .
"Lalu apa hubungan pria bodoh disana dengan orang itu?" . Gea ikut penasaran.
" Bukankah berlebihan seorang Kaisar juga kau sebut bodoh?. Kalau aku tidak salah dengar, tadi Kaisar itu memanggil Leluhur kepada sesepuh Iben". Ucap Hasea. Tanpa sadar suara pelan keluar dari mulutnya saat bicara dengan Gea.
" Siapa disana ?" . Kaisar Tossao menyadari dan memilih ke asal suara Hasea.
" Gawat. Aku harus segera pergi dari sini". Hasea segera meniggalkan ruangan itu.
***
Teman2 mohon dukungannya. Tekan like. Tinggalkan saran2 di komentar. Beri rating 5 dan Vote.
__ADS_1
Makasih loh ya.
Kalian luar biasa