
Satu purnama sudah Hasea menjadi pengawal pribadi Kaisar. Seperti yang dia telah duga sedari awal, pekerjaan itu sungguh membosankan. Mengawal kaisar di istananya sendiri sama sekali tidak memiliki tantangan. Dia bahkan kehilangan waktu untuk latihan bela diri. Selama Hasea memiliki kitab Naga Biru, kitab yang selalu dibawanya itu , belum sekali pun kitab itu dibukanya lagi.
" Jadi Gea sudah benar-benar kembali ke batu Porhis ya?" Gumam Hasea. Bagaimana pun juga, akhirnya dia merindukan roh naga itu. Setidaknya celotehan Gea bisa membuatnya terhindar dari kesunyian. Hasea duduk di tepi ranjangnya. Dia membuka topeng yang menutupi wajahnya. Pengawal pribadi Kaisar memang memakai baju zirah yang diperlengkapi dengan topeng. Seragam pengawal pribadi Kaisar memang mirip dengan prajurit regu Bulan Darah.
Hasea melihat sekelilingnya, prajurit lain yang juga beristirahat di ruang yang sama dengannya telah terlelap dalam tidur mereka. Sementara Hasea..ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
" Bukankah para sesepuh itu berkata bahwa hanya garis keturunan berhubungan darah langsung dengan mereka yang akan dipilih oleh Naga Gumoang." Hasea mengingat-ingat. " Sesepuh Ijeb adalah kaisar terdahulu maka sesepuh Ijeb adalah Leluhur Kaisar Tossao. Lalu aku, apa hubunganku dengan semua ini?". Hasea berfikir keras. Matanya menerawang , tatapannya kosong.
" Apa itu artinya aku memiliki hubungan darah dengan Kaisar? Atau mungkin Aku memiliki hubungan darah dengan salah satu keluarga kaisar?" Hasea semakin bingung. Semakin dia mencoba berfikir semakin kepalanya sakit.
Hasea bangkit dari duduknya. Terdengar suara keramaian dari luar. " Ada apa ini?" Gumam Hasea. Hasea keluar dan menuju suara kegaduhan tersebut. Dihadapannya terdapat ratusan prajurit dengan wajah kelelahan memasuki istana. Kebanyakan dari mereka pulang dengan bekas luka. Dari wajah mereka, Hasea dapat menyimpulkan bahwa para prajurit ini baru saja mengalami peristiwa yang mengerikan. Penampilan mereka sungguh memprihatinkan.
" Kenapa kau diam saja, setidaknya bantu beberapa diantara yang terluka menuju ruang perobatan." Suara salah satu prajurit kepala dari rombongan itu menyadarkan Hasea kemudian dia bergegas membantu memapah mereka yang terluka. Dia memapah para prajurit itu menuju ruang perobatan.
" Akhirnya mereka pulang juga." Ucap Beggu saat berpapasan dengan Hasea. Keributan itu rupanya juga membangunkannya. " Siapa mereka senior?" Tanya Hasea penasaran.
__ADS_1
" Mereka adalah prajurit regu Teratai putih. Mereka baru kembali dari misi. Tau kah kau? Sudah 3 purnama mereka diluar sana. Pasti mereka sudah banyak sekali mengalami kesukaran." Di wajah Beggu tergambar jelas rasa iba.
" Siapa orang itu?" Hasea menatap seorang prajurit yang sedang menunggang kuda. Badannya kekar. Baju zirah nya berbeda dari yang lain. Usianya sekitar separuh baya. Diantara semua prajurit yang baru kembali dari misi itu, pria itu satu-satunya yang sepertinya masih tegar menatap ke depan.
"Itu adalah Panglima Suhad. Dia pemimpin regu Teratai putih."
Kaisar Tossao tampak keluar dari Istananya. Hal itu membuat para prajurit terkejut, mereka semua kemudian memberi salam penghormatan .
Melihat kaisar berjalan ke arah rombongan mereka, panglima Suhad segera turun dari kudanya.
" Segeralah ke ruang pengobatan Panglima, anda tentu sangat lelah." Ucap Kaisar Tossao ramah menyambut kedatangan panglima yang sangat loyal kepadanya itu.
***
" Senior, sudah berapa lama anda berada di Istana ini?" Tanya Hasea setengah berbisik kepada Beggu saat mereka sedang berjaga mengawal Kaisar di ruang baca istana. "Beberapa tahun sudah aku disini, ada apa kau ingin tau?" Tanya Beggu.
__ADS_1
"Ah tidak senior. Hanya saja, selama aku disini sungguh aku tidak pernah mengetahui atau bertemu dengan para pangeran." Ucap Hasea memancing pembicaraan. "Tentu kau tidak akan pernah bertemu dengan seseorang yang tidak ada bukan?" Sahut Beggu merasa bangga karena lebih banyak tau tentang istana dari pada Hasea.
"Maksud Senior? Kaisar tidak memiliki anak laki-laki?" Hasea mendekatkan dirinya kepada Beggu, dia berbicara lebih pelan. " Bukan hanya anak laki-laki. Kaisar bahkan tidak memiliki sadara laki-laki. Hanya ada satu orang saudara perempuan. Tapi dia telah menikah dengan salah satu bangsawan , mereka tidak tinggal di kota ini. Kaisar Tossao seperti kaisar terdahulu, juga tidak memiliki selir. Beliau hanya setia pada permaisuri. " Ucap Beggu sedikit berbisik.
" Kau tau?, Ini seperti sudah ditakdirkan. Apabila terjadi sesuatu kepada Kaisar maka kerajaan ini akan dipimpin seorang perempuan. Entah itu Permaisuri atau salah satu dari antara ke dua tuan putri.
Hasea dan Beggu mengakhiri perbincangannya saat melihat kaisar Tossao telah selesai dengan kegiatan membacanya.
" Ah.. aku ingin sekali berjalan-jalan sendiri saat ini." Ucap Kaisar Tossao kepada prajurit pengawal kepala , nada suaranya cukup tegas sehingga semua prajurit pengawal pribadinya dapat mendengarnya.
" Tapi mungkin aku membutuhkan satu orang diantara kalian untuk menemaniku." Ucap Kaisar itu kemudian. " Biarkan prajurit itu mengawal ku." Kaisar Tossao menujuk Hasea. Hasea sedikit terkejut mendengar perintah itu. Sementara kaisar , sebenarnya dia sudah merencanakan ini sebelumnya. Dia ingin membicarakan sesuatu dengan Hasea.
***
Teman2 terima kasih dukungan kalian telah meng klik like.
__ADS_1
Kalian luar biasa...