PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 56. Kekuatan Naga Hitam Penjaga Lembah III


__ADS_3

Hasea perlahan membuka mata. Dia mengenali tempat ini. Ini adalah gua yang ditempati Isumbaon. Isumbaon juga telah duduk di sebelah Hasea. Tampak di tangan kanannya sebuah cangkir berisi minuman yang merupakan ramuan obat. "Apa yang terjadi senior?" Ucap Hasea penasaran. " Menurut mu apa lagi yang terjadi? Naga hitam itu sedikit bermain dengan mu,tapi ketidak siapan mu hampir membuat mu terbunuh."


"Bermain? Harusnya senior yang menghadapi mahluk itu. Setelah itu apa senior masih bisa berkata itu bermain?" Batin Hasea.


" Minumlah ini, ini adalah ramuan dari tumbuhan obat terbaik di tempat ini. Setelah tidak sadarkan diri selama hampir satu minggu, aku yakin tubuhmu membutuhkan asupan tenaga." Isumbaon menyodorkan cangkir yang kemudian disambut oleh Hasea.


" Satu Minggu? Apa aku sungguh tidak sadarkan diri selama itu senior?" Hasea memang merasakan seluruh tubuhnya kehilangan tenaga. Bahkan tenaga dalam nya seolah sudah hilang. Tapi satu minggu tidak sadarkan diri sepertinya sesuatu hal yang berlebihan menurut Hasea. "Kau masih bisa dikatakan beruntung atau lebih tepatnya kalau saja kau belum memiliki tulang naga muda maka bisa kupastikan kau telah meregang nyawa saat pertama kali dihisap masuk ke pusaran tornado itu."


Hasea meminum ramuan yang diberikan oleh Isumbaon. Rasa pahit menjalar di lidahnya. Tenggorokannya terasa hangat saat ramuan itu melewati tenggorokannya. Tubuh Hasea untuk sesaat bergetar. Ramuan itu sangat cepat bereaksi. Perlahan tapi pasti, tenaga Hasea kembali pulih.


" Setelah ini sebaiknya kau makan dulu, kemudian setelahnya kau bisa berlatih lagi untuk mendapatkan kembali tenaga dalam mu." Ucap Isumbaon seolah sangat mengerti kondisi Hasea saat ini.


***


Satu purnama sudah setelah Hasea terakhir kali turun ke lembah tempat tumbuhnya ginseng merah.


Hasea duduk di salah satu puncak bukit. Dia disana hanya duduk terdiam menyilangkan kakinya. Mata Hasea tidak lepas memandang ke arah lembah ginseng naga merah. Dia masih tidak percaya ada mahluk yang begitu kuat dan mengerikan bersemayam disana.


Hasea mengambil sesuatu dari balik pakaiannya. 2 buah ginseng naga merah dia keluarkan dari bungkusan kain. Hasea siap mengkonsumsi Ginseng itu sekali lagi untuk menguatkan tulang naga muda nya. " Setelah ini tinggal 2 lagi maka aku akan memiliki tulang naga tua."


Hasea memakan ginseng naga merah. Kali ini sensasi panas dia rasakan di sekujur tubuh. Hasea sampai harus menekan rasa panas itu dengan tenaga dalamnya yang baru puluh sedikit. Hasea berupaya mengatur nafasnya yang serasa tersengal. Kedua matanya dia pejamkan.

__ADS_1


Satu minggu Hasea hanya diam bertapa diatas batu yang kini dia duduki. Terdengar suara retakan dari dalam tubuhnya. Tampaknya tulang-tulang Hasea mulai bereaksi. Hasea dapat merasakan seluruh tulangnya mengalami peningkatan kekuatan. Tulang-tulang Hasea menguat, lebih kuat dari sebelumnya.


Hasea kemudian sejenak membayakangkan pertarungannya dengan Naga Hitam penjaga lembah. Hal yang baru dia sadari setelah dalam pertapaannya adalah gerakan naga hitam itu bukan tak beraturan. Gerakan naga hitam itu persis seperti gerakan jurus yang di gunakan Isumbaon. Hasea mengingat- ingat gerakan itu dan menghafalnya. Saat selesai dengan meditasinya, Hasea bermaksud untuk mencoba mempelajari jurus itu.


***


Hasea membuka mata. Di hadapannya sudah tersaji banyak makanan. Isumbaon juga ada disana. " Senior, sudah berapa lama anda disini." Sapa Hasea sungkan. " Saya baru tiba, ini ada makanan.. kau harus mengisi perutmu." Kedua orang itu kemudian melahap hidangan dihadapannya.


" Senior, saya sungguh tidak enak hati. Rasa-rasanya saya sudah sangat merepotkan Anda. Sementara saya bukan siapa-siapa bagi anda." Hasea berkata tulus. Semenjak tiba di bukit menangis,Isumbaon memang memperlakukan Hasea dengan sangat baik.


" Ah.. kau tidak usah sungkan. Ini sudah sepantasnya sebagai sesama penjaga naga.Ketahuilah, tidak banyak penjaga naga di dunia ini. Bahkan mungkin hanya ada kita berdua yang tersisa." Isumbaon menatap Hasea kemudian melanjutkan bicaranya. " Kau tau? Dulu ada beberapa penjaga naga yang hidup dalam satu generasi, tetapi kesombongan dan keangkuhan membuat mereka ingin menguasai dunia. Karena ambisinya masing-masing sampai mengorbankan banyak nyawa." Isumbaon berhenti sejenak untuk minum kemudian menyudahi makannya. Tiba-tiba selera makannya seolah hilang.


" Maksud Senior? Saya belum faham." Ungkap Hasea jujur karena memang belum mengerti.


" Saat seseorang sudah merasa paling hebat dan memiliki kemampuan berada di atas orang lain maka ilmu bela diri tidak lagi menarik untuknya. Dia akan menjadi lebih tamak. Menguasai dunia akan menjadi tujuan selanjutnya. Bahkan dewa sekalipun akan dia tantang." Isumbaon menatap sekeliling. Matanya nanar tetapi sebenarnya pandangan itu kosong.


" Senior, apakah ada sesuatu yang sangat menggangu pikiran anda?" Hasea memberanikan diri untuk bertanya. " Ah sudahlah, tidak usah dibahas. Sudah menjadi tekdir mu menjaga naga mu sendiri. Tetapi pesan ku kepadamu, setelah kau berada di puncak tertinggi dunia persilatan tetaplah menjadi manusia yang membumi. Jangan terlalu berambisi, jangan pernah menaruh dendam pada apapun. Kekuatan dari naga memang sangat besar. Tetapi seperti kau ketahui bahwa kekuatan besar hanya akan menjadi baik apabila dipergunakan untuk hal-hal baik . Sebaliknya, kekuatan itu akan menjadi malapetaka saat dipergunakan untuk hal buruk."


" Baiklah senior, saya akan mengingat nasehat anda." Hasea sesat nampak berfikir, ada sesuatu yang dia ingin tanyakan tetapi Hasea masih sedikit ragu.


" Ada apa? Sepertinya ada yang ingin kau sampaikan?" Isumbaon dapat menangkap pikiran Hasea hanya dengan melihat raut wajahnya. " Tidak senior... Hanya saja, saat saya menghadapi naga hitam itu ada sesuatu yang akhirnya saya sadari. " Hasea memberanikan diri.

__ADS_1


" Senior maaf bila saya lancang, tapi apakah benar kalau jurus yang anda peragakan menggunakan kipas merak putih waktu itu sama dengan gerakan naga hitam?"


" Hahaha..kau menyadarinya juga rupanya. Ia..ia. saya mendapat jurus itu dari naga hitam. Itu sudah beberapa puluh tahun yang lalu. Matamu cukup jeli." Puji Isumbaon.


" Apakah anda bersedia mengajarkannya kepada ku senior?" Hasea kembali memberanikan diri. Dia berfikir akan bisa menjalin hubungan dengan kipas merak putih melalui jurus itu. " Sebenarnya saya bersedia saja. Dengan senang hati malah, tetapi kalau kau bisa belajar langsung dari sumbernya kenapa harus belajar dari orang lain?" Isumbaon menatap Naga hitam yang berkeliling di lembah ginseng naga merah. Hasea kemudian juga melakukan hal yang sama hanya saja Hasea sambil menelan ludah saat membayangkan kengerian kalau harus berhadapan lagi dengan naga hitam itu lagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Teman2 ayo dukung Author agar lebih semangat dalam berkarya. Caranya mudah kok, cukup;


- Tekan Like


- Tinggalkan jejak di kolom komentar


- Rate Bintang 5


- Vote bila berkenan


- Share juga boleh.


Kalian terbaiklah pokoknya

__ADS_1


__ADS_2