
Tidak terasa Hasea telah melangkahkan kakinya cukup jauh dari lembah yang telah 2 purnama ditempati nya itu . 3 hari sudah dia meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan, Hasea hanya makan dari hasil buruannya di sekitar hutan. Setiap kali beristirahat, dia juga menyempatkan diri untuk bermeditasi. Dia dapat merasakan setiap saat tenaga dalamnya bertambah dengan sangat pesat setiap kali meditasi.
" Ah.. akhirnya aku bertemu dengan pemukiman manusia. Terlalu lama di hutan membuatku gamang akan peradaban." Gumam Hasea saat kakinya menapaki jalan besar.
" Hei, berhenti kau dasar pencuri." Teriakan dari kejauhan membuat Hasea menoleh ke arah suara itu. Di kejauhan, Hasea melihat seorang pria dikejar oleh beberapa pendekar. " Kalian tangkaplah aku jika kalian mampu." Ucap pria itu menantang.
" Kurang ajar, panah dia. Jangan biarkan dia membuat kita kehilangan muka." Ucap salah satu dari antara pendekar itu. Salah satu dari mereka akhirnya mengambil busur panah yang ada di punggungnya. Pendekar itu segera memasangkan anak panah pada busurnya dan melesatkannya ke arah pria bertubuh kecil itu.
Pria bertubuh kecil itu melompat untuk menghindari anak panah yang mengarah kepadanya. Anak panah itu tidak berhasil mengenainya, namun kakinya tergelincir saat akan mendarat. Hal itu membuatnya terjatuh. Para pendekar yang mengejarnya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka seketika menyergapnya.
" Kena kau sekarang, kemana kesombonganmu yang tadi pergi?" Ucap salah satu pendekar. " Kalian dasar tidak tau malu. Beraninya keroyokan bergitu. Kalau kalian benar-benar pendekar, ayo bertarung satu lawan satu." Ucapan pria bertubuh kecil itu membuat para pendekar yang mengerumuninya terkekeh.
Hasea hanya bisa terkagum-kagum melihat peringai pria yang sedang dikerumuni para pendekar itu. Dalam sekali lirikan, Hasea dapat mengetahui bahwa pria bertubuh kecil itu sama sekali tidak menguasai beladiri apa pun tapi nyalinya sangat besar.
" Kau sungguh bermulut besar, apa kau sadar badanmu yang kecil itu tidak cocok dengan kesombonganmu?" Teriak salah satu pendekar. " Setidaknya aku punya harga diri, tidak seperti kalian yang bisanya hanya mengganggu orang-orang". Balas pria bertubuh kecil itu tak kalah lantang.
" Kau.. kau sungguh membuang-buang waktu. Serahkan saja bungkusan perak yang kau curi itu. Maka kami akan memberikan kematian yang cepat dan tidak menyakitkan bagimu." Ancam salah satu diantara para pendekar . " Jangan bermimpi.." pria bertubuh kecil itu tiba-tiba bangkit. Dia melihat celah diantara para pendekar yang mengepungnya. Kesempatan itu tidak dia sia-siakan. Dia segera berlari mendekati Hasea. Kemudian bersembunyi dibalik tubuh Hasea.
" Pendekar , Tolong bantulah saya dari para penjahat itu". Ucap pria bertubuh kecil itu. " Eh.. apa yang kau lakukan . Hal ini sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Lagi pula, dari yang dapat ku dengar ..kaulah penjahatnya di sini." Ucap Hasea cuek. Dia tidak ingin terlibat.
" Hei anak muda, jangan ikut campur. Serahkan pria kecil itu atau kau ikut menanggung akibatnya." Ucap salah seorang pendekar itu. Sengaja nada suaranya dia buat seseram mungkin bermaksud menyakiti Hasea
" Oh tentu saja, hal ini bukanlah urusanku. Aku hanya akan melanjutkan perjalananku." Ucap Hasea Cuek sambil melangkah meninggalkan si pria bertubuh kecil. " Pilihan yang bijak, kau mengambil keputusan yang tepat." Ucap salah satu pendekar itu sambil terbahak-bahak. " Tangkap pencuri kecil itu."
" Kau.. kau sungguh tidak memiliki hati nurani." Ucap Pria bertubuh kecil itu saat Hasea menjauh meninggalkannya.
" Kalian para pendekar sekte Rajawali Merah memang tak tau malu. Sampai kapan kalian akan memeras para warga." Teriak pria kecil itu saat kedua tangannya dipegang oleh para pendekar itu. " Jauhkan tangan kotor mu dari ku." Pria kecil itu mencoba melawan namun Sungguh dia tak berdaya.
__ADS_1
" Kau sungguh banyak bicara. Rasakan ini." Salah satu pendekar itu melayangkan tinjunya ke perut pria kecil itu, pukulan itu membuat pria kecil itu terkapar di tanah tidak berdaya. " Cepat serahkan bungkusan perak itu." Bentak pendekar satunya.
" Pendekar Rajawali merah? Jadi mereka anggota sekte aliran hitam itu?" Teriakan pria kecil tadi membuat Hasea menghentikan langkahnya. Hasea membalikkan badan. Dia melihat pria kecil itu terbaring tak berdaya di tanah sambil memegangi perutnya yang sakit. Pria kecil itu akhirnya kehilangan kesadarannya.
" Sialan, tidak seharusnya aku direpotkan dengan urusan semacam ini." Hasea mengambil batu kecil dari tanah. Dia menggenggam batu itu kemudian mengalirkan tenaga dalamnya kedalam batu itu. Seketika batu itu seperti melayang di atas telapak tangan Hasea yang terbuka. Hasea melemparkan batu tersebut. Dia mengarah ke salah satu pendekar sekte Rajawali merah itu.
Salah satu pendekar itu terpental saat batu yang dilemparkan Hasea mengenai punggungnya. " Apa yang terjadi?" Para pendekar itu terkejut. Mereka secara serentak kemudian menoleh ke arah Hasea. "Apakah itu perbuatannya ?" Gumam salah satu diantara mereka.
" Kau.. kau terlalu ikut campur . Tidak seharusnya kau ikut campur dalam urusan sekte Rajawali merah." Salah satu pendekar itu berteriak mengancam Hasea. Dia kemudian berlari ke arah Hasea. Pendekar itu mengayunkan pedangnya sekuat tenaga ke arah Hasea. Hasea melompat ke samping untuk menghindar. Dia memutarkan badannya dan melayangkan tendangan memutar mengenai lengan pendekar itu. Pedang yang di genggam pendekar rajawali Merah itu terlepas dari tanganya. Kemudian dengan gerakan sangat cepat, Hasea melayangkan tinju yang keras ke arah rahang anggota sekte Rajawali merah itu. Pendekar tersebut terpental cukup jauh. Bahkan terdengar suara retakan saat bogem Hasea mengenai rahangnya. Pendekar itu terkapar tidak berdaya.
" Kurang ajar.. ayo kita serang dia bersama-sama". Ke empat pendekar yang tersisa menyerang Hasea dengan membabi buta. Setiap jurus yang para pendekar itu layangkan dapat dihindari Hasea dengan sempurna. " Para pendekar ini masih berada di tingkatan pendekar pemula tetapi gayanya sudah selangit." Pikir Hasea
Serangan bertubi- tubi dari para pendekar itu sama sekali tidak membuat Hasea kerepotan. Hasea melangkah mundur sejenak. Kemudian dia memutarkan badannya sambil melompat. Sebuah Tendangan keras dia arahkan ke kepala salah satu pendekar itu. Pendekar itu tersungkur. Dari mulutnya mengalir darah segar.
" Gerakannya sungguh gesit." Gumam salah satu pendekar tersisa. Melihat ke tiga pendekar yang tersisa hanya terdiam, membuat Hasea semakin bersemangat melancarkan serangannya. Gerakannya sangat acak. Dia memadu padankan jurus sekte Harinuan dengan jurus prajurit bulan darah. Hal itu membingungkan para pendekar Rajawali merah. Mereka tidak dapat menebak arah pukulan Hasea. Belum sempat mereka berfikir, berbagai pukulan dan tendangan Hasea berhasil mendarat sempurna di tubuh mereka masing-masing.
" Tidak semudah itu kalian bisa lari setelah bertindak kurang ajar." Ucap Hasea pelan tapi mampu membuat bulu kuduk para pendekar rajawali Merah itu berdiri. Hasea mengambil pedang salah satu pendekar yang telah terkapar.
" Jurus pedang sengatan lebah." Hasea mengayunkan pedang di tangannya. Tiga tebasan cepat berhasil dia layangkan ke tiga lawannya itu sekaligus. Seketika ke tiga orang itu meregang nyawa.
***
" Hai kau bangun lah.." Hasea menepuk-nepuk pipi pria kecil itu untuk menyadarkannya .
Akhirnya pria kecil itu menyadarkan diri. " Apa yang terjadi? " Ucap pria kecil itu sembari memegangi perutnya yang masih terasa sakit . " Tadi ada seorang pendekar melumpuhkan mereka semua." Ucap Hasea bohong. " Benarkah?" Ucap si pria kecil sedikit tidak percaya. Tapi karena tadi dia kehilangan kesadaran dan tidak tau apa yang terjadi selanjutnya, akhirnya dia mencoba untuk percaya begitu saja.
" Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini. Kalau sampai anggota sekte mereka yang lain mengetahui ada anggotanya yang tewas maka habislah kita." Ucap pria kecil itu bergegas meninggalkan tempat itu. Hasea hanya bisa mengikutinya dari belakang .
__ADS_1
" Sebenarnya apa yang kau perbuat sampai memancing kemarahan para pendekar itu?" Hasea memulai percakapan saat merasa mereka sudah cukup jauh dari tempat pertarungan tadi. " Aku hanya mengambil yang menjadi hak para pedagang di pasar." Ucap pria kecil itu sambil menunjukkan bungkusan dipenuhi beberapa keping perak.
" Maksudmu, kau mencuri keping-keping perak itu?" Ucap Hasea sambil tersenyum mengejek. " Enak saja, mereka itu yang pencuri. Mereka selalu saja menggunakan kekerasan menarik paksa keping perak dari para pedagang, dengan alasan sebagai bayaran untuk menjaga keamanan. Padahal mereka sendiri biang keonaran di tempat ini." Pria kecil itu meluapkan kekesalannya.
" Kenapa kalian tidak melaporkan hal itu kepada prajurit kerajaan? Apakah tidak ada prajurit kerajaan yang menjaga wilayah ini?" Ucap Hasea sedikit bingung. Dari yang dia ketahui bahwa Sekte Rajawali merah adalah sekte aliran hitam yang menjadi musuh kerajaan. Dengan demikian tentu prajurit kerajaan dengan senang hati akan memberantas mereka. Setidaknya itu yang terlintas di benak Hasea saat ini.
" Kau gila apa bagaimana? Kau tidak sadar ya? Mata mu tidak terbuka? Prajurit kerajaan ataupun para pendekar sekte Rajawali merah sama saja. Mereka hanya bisa merampas harta benda warga dengan semena-mena." Ucap Pria kecil itu penuh amarah.
" Oh ia, namaku Rimbu. Lalu siapa namamu?" Tanya pria kecil itu kepada Hasea. " Saya Hasea, saya baru tiba di tempat ini."
" Bagaimana pun, aku harus berterima kasih kepadamu karena sudah tidak berbuat apa-apa." Ucap Rimbu menyindir. " Eh..kau, setidaknya aku membuatmu kembali tersadar, bisa saja aku meninggalkanmu disana sampai para pendekar Rajawali merah itu datang. Bisa ku bayangkan apa yang mereka pikirkan mendapati mu yang tidak sadarkan diri berada di dikat mayat para rekannya." Ucap Hasea membalas.
" Ia..ia.. terima kasih, lalu kemana tujuanmu?" Tanya Rimbu sambil menatap Hasea. " Aku sedang mencari sebuah tempat yang bernama Bukit menangis, hanya saja aku sama sekali tidak mengetahui petunjuk apapun tentang keberadaan tempat itu." Ucap Hasea sambil menggaruk hidungnya yang tidak gatal.
" Kau sungguh orang yang aneh, bagaimana kau bisa sampai ke tempat yang tidak kau ketahui letaknya dimana. Sudahlah, sebaiknya kau ikut saja dulu denganku. Suara perutmu yang memberontak itu membuatku terganggu." Ucapan Rimbu itu membuat wajah Hasea memerah. Memang perutnya sudah sangat lapar. Wajar saja kalau cacing dalam perutnya memberontak.
Hasea dan Rimbu memasuki sebuah kota kecil .Hasea dapat mengetahui orang-orang di kota itu cukup menderita . Dia dapat melihat pengemis dan gelandangan di setiap sudut kota menjulurkan tangannya berharap bantuan dari orang yang melintas. Para pedagang tidak kalah tragis. Barang dagangan mereka yang kebanyakan adalah sayur mayur dan daging ataupun ikan tampak sudah mulai membusuk. Lalat beterbangan dimana-mana menandakan barang dagangan disana sudah lama tidak laku.
" Kota ini sungguh memprihatinkan." Gumam Hasea.
" Kita melalui lorong ini saja." Ucap Rimbu saat melihat di depan mereka ada prajurit kerajaan yang sedang menarik pajak dari para pedagang. Hasea dan Rimbu berjalan di lorong sempit yang dipenuhi lumpur. Lalat beterbangan dimana-mana, sesekali mereka berpapasan dengan pengemis atau gelandangan yang bajunya compang-camping yang dari tubuh mereka terpancar aroma tidak sedap.
"Kita sampai, kau segeralah bersihkan badanmu disana." Rimbu menunjuk sebuah sumur dengan bilik kecil disampingnya saat kedua orang itu tiba di halaman sebuah rumah yang sudah reot.
***
Manteman terima kasih sudah mendukung author dengan menekan like. Kalo memang menurut kalian novel Ini seru.. bagaimana kalau kalian membagikannya kepada teman-teman yang lain agar lebih banyak lagi yang dapat menikmatinya? CKR?
__ADS_1