PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 82. Pertarungan Dua Pendekar Sakti II


__ADS_3

Gilok kembali melesat. Sekarang dia berniat menyerang Hasea. Dia tau pemuda itu yang mengendalikan Naga Air. Dengan menyerang Hasea maka naga air itu akan hancur dengan sendirinya batin Gilok.


Gilok melesat cepat. Naga air mengikutinya dari belakang.


" Pukulan Naga Memecah Lembah." Gilok melayangkan pukulan ke arah Hasea.


Hasea menarik kipas merak putih dari jubahnya.


" Gelombang angin naga hitam." Hasea megibaskan kipas merak putih. Tercipta gelombang angin kencang menerpa Gilok sesaat sebelum pukulan Gilok mengenai Hasea.


Gilok terpental terkena terpaan angin yang kuat. Tubuhnya terlempar jauh. Orang tua itu memuntahkan darah segar dari mulutnya.


Naga air menyasar Gilok yang sedang tersungkur. Naga air melesat cepat.


" Tuan Hasea. Cukup, hentikan." Teriakan Terisab berhasil menghentikan Naga Air.


Hasea kembali merentangkan tangannya ke udara. Hasea menahan Naga air. Naga itu seperti hanya melayang di udara tetapi masih dalam posisi siap menerpa Gilok.


Hasea menoleh ke arah Terisab. Dia menunggu tindakan Terisab.


Terisab melesat cepat ke arah Gilok. Dia membantu seniornya itu untuk duduk.


" Apa yang kau lakukan, aku belum kalah. Jangan membuatku semakin terlihat lemah." Gilok menampar tangan Terisab yang coba memapahnya bangun.


"Sudahlah senior. Apa kau akan terus memaksakan diri bertarung dengan pendekar penjaga naga itu? Sekalipun diriku dengan menggunakan tenaga dalam naga api , mungkin dengan sangat mudah dia bisa mengalahkan ku."


" Ah , sial. Jadi dia orang yang kau maksud pendekar penjaga naga itu?"


" Dialah orangnya. Sedari tadi aku coba mengatakannya pada mu. Tapi dasar kau memang orang tua yang keras kepala."


Terisab memapah Gilok untuk bangkit.


" Bukankah kata mu kau hampir saja mengalahkannya? Seharusnya dia hanya pendekar berkemampuan Langka bukan?"

__ADS_1


" Kau benar senior. Tetapi entah apa yang terjadi. Dia seolah menjadi orang yang berbeda. Dia lebih tenang. Lagi pula lihatlah di sekeliling mu. Kita dikelilingi oleh sungai. Air melimpah yang ada di tempat ini sangat menguntungkan posisi nya."


Gilok hanya terdiam mendengar ucapan Terisab.


" Pendekar pengendali air ya?"


" Tuan Hasea. Aku rasa ini hanya salah faham. Orang tua ini sudah cukup melihat pembuktian dari anda." Ucap Terisab membujuk Hasea.


" Pembuktian? Orang tua yang aneh. Apa yang dia pikirkan sebenarnya. Apakah ini hanya permainan baginya?"


Hasea akhirnya mengendurkan tenaga dalamnya. Naga api yang tadi berada di hadapan Gilok jatuh terurai seperti halnya air yang tiba-tiba tumpah dari langit.


Perlahan pancaran aura tenaga dalam naga Gumoang menghilang dari tubuh Hasea. Demikian juga dengan Gilok. Dia tidak lagi berusaha melanjutkan pertarungan.


***


" Tuan, apa sebenarny maksud dari semua ini? Lalu siapa sebenarnya orang tua yang bersama anda?"


" Dia senior Gilok. Masih satu rumpun dengan keluarga ku. Tadinya aku bermaksud mengenalkan dia dengan anda. Hanya saja dia sepertinya memang sedang tertarik untuk menjajal sejauh mana kemampuan anda."


" Lalu apa kira-kira yang dia dapat setelah pertarungan ini?"


" Ah..saya rasa dia sudah mendapatkan pembuktian yang cukup dari anda. Saya yakin setelah ini dia akan turut mendukung anda."


***


" Tuan Sumeru, kami sangat menghargai Anda juga sekte walet hitam, tetapi para tamu anda ini sudah berhasil membuat keonaran besar. Mereka sudah melewati batas. Aku tak tau apakah hal ini bisa dimaafkan atau tidak."


Sumeru mencoba memberi penjelasan kepada para penjaga kota. Awalnya sangat sulit meyakinkan mereka tetapi setelah memberi jaminan bahwa hal serupa tidak akan terulang kembali akhirnya para prajurit itu sedikit melunak.


Setelah Hasapi menjanjikan akan mengganti rugi semua kerusakan yang ditimbulkan oleh Gilok dan Hasea serta juga memberi biaya pengobatan bagi yang terluka, akhirnya pendekar penjaga keamanan kota itu sepakat untuk melupakan hal yang telah terjadi.


" Tetapi ingat tuan Sumeru. Kami melakukan semua ini tidak lain adalah karena menghargai sekte anda. Selain itu, sekte walet hitam akan menjadi jaminan bahwa orang-orang ini tidak akan melakukan keonaran yang lain."

__ADS_1


" Baik Tuan, saya sendiri dan sekte Walet Hitam yang menjadi jaminannya.


Para penjaga keamana kota itu akhirnya meninggalka lokasi. Sumeru hanya bisa menggaruk kepalanya menatap kepergian para penjaga kota itu.


Gilok dengan tenangnya masih bisa duduk di meja resotoran sembari menikmati beberapa gelas arak.


Terisab membawa Hasea mendekat kepada seniornya itu. Setelah semua ini seharunya akan menjadi sangat canggung. Tetapi Terisab akan tetap berupaya menjembatani komunikasi antar kedua pendekar yang baru saja bertikai itu.


" Mohon maafkan saya tuan. Saya akui kalau saya terlalu berlebihan." Hasea memberi senyum terbaiknya. Berharap orang tua itu bisa menerima permohonan maaf nya yang tulus.


" Hei anak muda..jangan merasa kalau kau telah mengalahkanku. Aku hanya sedikit kekenyangan." Protes Gilok.


" Ah sudahlah senior. Tidak ada yang kalah dan menang. Sebaiknya kita lupakan saja hal ini. Ada hal penting lain yang harus kita bicarakan."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa tokoh yang muncul dalam chapter ini


Hasea : Tokoh Utama (MC) Pemuda berusia 16 th. Pendekar penjaga naga. Memiliki tenaga dalam naga biru dalam dirinya.


Hasapi : orang tua gendut yang selalu bersama dgn MC. Masih keturunan Isumbaon. Pendekar penjaga naga Api.


Terisab : pendekar tua berkemampuan Legenda. Masih keturunan Isumbaon. Memiliki tenaga dalam naga api walau tanpa kehadiran Roh naga. Mampu memancarkan kobaran api dari tubuhnya.


Gilok : pendekar tua berkemampuan Legenda. Masih keturunan Isumbaon. Memiliki tenaga dalam naga api walau tanpa kehadiran Roh naga hanya saja orang ini tidak bisa memancarkan kobaran api dari tubuhnya.


Sumeru : Pendekar sekte Walet hitam. Tangan kanan Apodi ( ketua Sekte Walet Hitam)


See, nama2 tokohnya mudah untuk diingat kok? Sy saja bisa hapal sebagian nama2 tokoh dr sebelah yg dengan membacanya saja bisa buat lidah ngilu. Ada Xiao Chen, Wang Chong, Leng Xue, Que Jinxia dll.


Eh btw Author sangat mengidolakan novel LPN. Tapi siapa yg tidak ya kan.. hehehe.


Terima kasih buat support kawan2 semua .

__ADS_1


__ADS_2