
Hasea dan Hasapi melanjutkan perjalanan. Kini mereka tiba di sebuah hutan lebat. Tidak ada tapak jalan disana. Tetapi Hasea dapat melihat beberapa tanda yang dia kenali di batang pohon atau batu besar. Walau tanda itu kecil dan samar tetapi Hasea tau bahwa itu adalah tanda dari sekte nya. Mungkin itu adalah tanda menuju Perkemahan Selatan.
Beberapa orang mengawasi gerak gerik Hasea dan Hasapi dari kejauhan. Mereka adalah penjaga keamanan sekte Harinuan perkemahan Selatan.
" Seharusnya tidak ada orang yang berkeliaran di tempat ini, apa yang dilakukan oleh kedua orang itu di tempat ini?" Suwandi yang merupakan ketua tim penjaga keamanan itu masih terus memantau Hasea dan Hasapi.
Hasea dan Hasapi terus melangkah, mereka semakin mendekati perkemahan Selatan kelompok perampok Harinuan.
" Ketua, mereka semakin dekat dengan perkemahan. Apa yang akan kita lakukan?"
" Sebaiknya kita menghalau mereka. Letak Perkemahan kita tidak boleh terbongkar."
Suwandi dan ke 5 anak buahnya melompat dari dahan pohon yang tadi mereka jadikan pijakan.
" Berhenti, apa yang kalian lakukan disini?" Siwandi menghardik.
Hasea tidak langsung mengenali penjaga keamanan sekte nya itu. Anggota sekte Harinuan memang tidak mudah untuk dikenali apabila hanya melihat penampilan dan pakaian mereka.
" Hormat senior. Kami tidak ingin membuat masalah. Kami hanya akan menuju suatu tempat."
" Tempat apa yang kalian maksud? Hanya ada satu tujuan tempat di hutan ini."
Hasea tidak langsung menjawab. Dia berhati-hati dalam berucap. Bagaimana pun, Hasea belum mengenali orang -orang ini.
" Mungkin tempat itu yang akan kami tuju."
" Apa maksud mu? Siapa kalian sebenarnya?"
" Kami dari perkemahan Utara."
" Apa..? Perkemahan apa maksud mu?"
" Kalau senior tidak mengerti, itu artinya kita memang berbeda jalan. Mohon biarkan kami lewat."
" Kurang ajar, apa kau kira akan semudah itu kami melepas kalian? Serang mereka."
Ke lima anak buah Suwandi dengan cepat menyerang Hasea dan Hasapi.
Hasea meladeni serangan mereka, tetapi pemuda itu lebih banyak menangkis dan menghindari serangan kelompok itu. Tidak satupun pukulan dia lepaskan.
__ADS_1
Hasea dengan segera mengenali jurus yang digunakan orang-orang yang menyerangnya. Tetapi dia belum sempat berbicara. Anggota sekte Harinuan perkemahan Selatan itu terus saja menyerangnya.
" Senior sekalian, cukup."
Hasea memancarkan aura tenaga dalam Naga Gumoang. Tubuhnya dipenuhi pancaran tenaga dalam berwarna biru. Orang-orang yang disekitarnya menghentikan serangan mereka.
Anggota sekte Harinuan itu berhenti menyerang Hasea. Bukan karena mengikuti ucapan Hasea. Mereka terhenti karena tertekan dengan aura tenaga dalam Hasea.
" Cukup...hentikan.Senior, kita berada di pihak yang sama, kami hanya ingin bertemu ketua Garguek.
" Hentikan..."
Teriakan Suwandi itu sebenarnya sudah tidak berguna. Anak buahnya sudah dari tadi mengambil langkah mundur dari Hasea.
" Siapa kalian sebenarnya?"
" Bukankah sudah ku katakan ? Kami dari perkemahan Utara. Ada hal penting yang harus kami sampaikan kepada ketua Garguek."
" Begitu ya? Jadi kalian juga anggota sekte Harinuan? Kenapa tidak memberi tahu dari tadi. Ayo ikut kami."
***
" Mohon maaf hamba mengganggu meditasi ketua. Ada orang yang ingin bertemu dengan anda. Katanya mereka berasal dari perkemahan Utara."
" Apa? Siapa orangnya ? Bukankah perkemahan Utara sangat jauh jaraknya dari tempat ini. Ada hal penting apa gerangan sampai ketua Harimotting mengutus anak buahnya sejauh ini?"
" Dia bernama Hasea Ketua. Dia bersama seorang tua."
" Hasea? Cepat suruh dia kemari."
" Hormat ketua."
Hasea memberi salam kepada Garguek. Hal tersebut diikuti oleh Hasapi.
" Ah..Hasea...lama tidak bertemu. Apa kabar mu? Ada angin apa gerangan yang membawa mu ke perkemahan ini?"
"Begini ketua, ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Lebih tepatnya saya ingin meminta bantuan ketua."
" Begitu ya." Garguek mengelus dagunya. " Kalau perihal dukungan itu, Oppui Goppul telah memutuskan. Sekte Harinuan akan memberi dukungan kepadamu."
__ADS_1
" Syukurlah ketua, tapi senenarnya ada hal lain lagi. Hal ini lebih genting."
Hasea menceritakan perihal rencana penyerangan sekte Matahari biru ke Kota Pintu Suona. Juga tentang maksudnya meminta bantuan untuk membantu Sekte Bulan Purnama mempertahankan Kota Pintu Suona itu.
" Jadi seperti itu." Ketua Garguek menarik nafas panjanh.
" Baiklah. Perkemahan Selatan akan membantu. Bagaimana pun aku berutang Budi kepada mu. Ini juga demi keselamatan warga Pintu Suona"
" Terima kasih ketua. Tetapi kita harus segera berangkat. Saya takut apabila menunda, kita akan terlambat."
Tidak menunggu lebih lama, ketua Garguek mengumpulkan semua petinggi perampok Harinuan perkemahan Selatan.
Dengan berpakaian bak pelancong biasa mereka berangkat ke Kota Pintu suona. Kurang lebih 500 orang jumlahnya. Diantaranya adalah ketua Garguek, pemimpin perkemahan Selatan dengan kemampuan pendekar legenda itu. Bebarapa orang dengan kemampuan pendekar Langka, puluhan orang berkemampuan pendekar ahli dan unik. Sisanya merupakan pendekar berkemampuan Dasar dan pemula.
***
" Ketua, gelombang kedua telah berangkat. Gelombang pertama dalam beberapa hari mungkin akan tiba di kota Pintu Suona."
Otto, tangan kanan Sengku melapor kondisi terkini terkait rencana penyerangan sekte Matahari biru ke kota Pintu Soluna itu kepada ketua nya.
Sekte Matahari biru mengirimkan anggota sektenya ke Pintu Suona dalam 3 gelombang. Setiap gelombang diberangkatkan dengan jarak 1 hari. Hal itu mereka lakukan untuk mengurangi kecurigaan dari sekte lain.
Sekte Matahari biru mengirimkan sedikitnya 400 orang dalam setiap gelombangnya. Terdiri dari beberapa pendekar tingkat Langka, puluhan pendekar tingkat ahli dan unik. Sisanya adalah pendekar tingkat dasar dan pemula.
Dalam setiap gelombang yang dikirimkan oleh Sekte matahari biru juga disisipi oleh puluhan pendekar berkemampuan Langka dari sekte Banteng merah. Hanya saja mereka menyamar dan berpenampilan selayaknya anggota sekte Matahari biru. Hal itu dilakukan untuk memutupi kecurigaan dari aliansi Putih.
Sengku sendiri, ketua sekte Matahari biru itu akan berangkat pada gelombang ke tiga.
***
"Ketua, Sekte Matahari biru telah memberangkatkan anggotanya pada gelombang pertama..mereka berencana berangkat dalam 3 gelombang."
Meghaa mendapat laporan dari anak buahnya.
" Begitu ya? Biarkan mereka bertempur lebih dahulu. Kita akan terlibat pada serangan gelombang ke tiga."
Meghaa telah merencanakan hal ini secara matang. Dia akan membiarkan sekte Matahari biru bertarung dengan sekte Bulan Purnama dalam dua gelombang serangan . Pendekar anggota sekte banteng merah yang dia sisipkan diantara anggota sekte Matahari Biru akan ikut membantai Sekte Bulan purnama. Namun pada akhir pertarungan gelombang ke tiga, para pendekar itu akan berbelot menyerang anggota sekte Matahari Biru.
Meghaa juga telah menyiapkan anggota sektenya sebanyak 400 orang yang terdiri dari puluhan pendekar Langka dan Ahli serta ratusan pendekar Unik sampai pemula untuk menunggu di sekitar kota Pintu Suona. Orang-orang ini akan terlibat dalam pertarungan atau lebih tepatnya direncanakan untuk membantai anggota sekte Matahari biru pada akhir pertarungan gelombang ke tiga. Pada saat itu, Meghaa yakin bahwa kekuatan kedua belah pihak baik sekte Matahari Biru ataupun Sekte Bulan Purnama telah habis. Dengan demikian maka sekte banteng merah dengan mudah akan memukul mundur sekte matahari biru kemudian kota Pintu Suona akan bebas. Akhirnya sekte Bulan purnama akan berutang Budi kepada sekte banteng merah atau setidaknya hal tersebut akan menjadi bukti bahwa Sekte Bulan purnama tidak lagi bisa diandalkan untuk menjaga kota pintu suona tanpa bantuan sekte Banteng Merah. Saat itulah sekte Banteng merah akan mengambil alih.
__ADS_1
Rencana yang sangat licik, tapi sepertinya rencana itu telah disusun sedemikian rupa dan akan berhasil kalau tidak ada halangan yang berarti.