
Hasea beranjak bangun dari tempatnya, dia kemudian memandang sekitar. Hasea menangkap Isumbaon dengan matanya sedang duduk di tepian mulut gua sambil mengelus kepala seekor naga. Isumbaon juga tampak sedang berbicara kepada naga tersebut. Isumbaon yang tersadar sedang di perhatikan oleh Hasea menegur anak muda itu.
" Kau sudah bangun rupanya, ku harap tidurmu cukup. Hari yang akan kau lalui akan berat dan panjang." Isumbaon tersenyum dan memandangi Hasea. " Saya sudah siap senior. Tidur saya juga terasa sudah cukup."
" Baiklah. Segeralah bersiap, kita akan memulai pelatihan mu setelah sarapan." Isumbaon menghidangkan makanan di hadapkan Hasea. Rupanya dia telah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Setelah mengisi perut mereka dengan sarapan dan setelah semua persiapan menuju latihan, Isumbaon membawa Hasea ke puncak sebuah bukit. Sejenak dia terdiam kemudian mengeluarkan kipas merak putih dari balik pakaiannya. " Benda pusaka ini sangat berbahaya, apabila suatu saat nanti kau akhirnya bisa menjalin ikatan dengannya maka kuharap kau mempergunakannya untuk kebaikan." Isumbaon memperagakan sebuah jurus. Dia membuka kipas merak putih. Dengan gerakan halus. Isumbaon merentangkan kedua tangannya. Tangan kanannya memegang kipas merak putih. Gerakan yang sangat teratur diperagakan oleh Isumbaon. Hasea memperhatikan detail gerakan tersebut. Isumbaon mengibaskan kipas merak putih ke kiri dan ke kanan. Seketika itu muncul hebusan angin yang begitu kencang dan memutar lama kelamaan membentuk angin ****** beliung.****** beliung itu begitu besardan mulai bergerak beraturan, menyapu semua benda yang dilalui nya. Pohon-pohon kecil, bebatuan, gundukan tanah semua terangkat ke atas.
" Itu hanya bagian kecil dari kekuatan kipas pusaka ini." Isumbaon menghentikan gerakannya. ". Kau bisa mengkombinasikan dengan jurus mu sendiri dan menambahkan tenaga dalam di setiap kipasannya."
" Luar biasa,hanya dengan sebagain kecil dari kekuatannya saja bisa melulu lantahkan tempat ini. Bagaimana kalau semua kekuatannya dikeluarkan." Benak Hasea
Isumbaon kemudian memberikan kipas Merak putih kepada Hasea. " Ingatlah, bagaimana pun kipas merak putih ini hanyalah sebuah benda. Walau dia memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, tetapi dia tidak bisa memilih untuk apa dia pergunakan itu. Tidak ada baik dan buruk baginya. Yang menentukan baik buruknya benda ini adalah penggunanya sendiri. " Isumbaon menatap Hasea tajam seolah dia ingin setiap kata yang dia sampaikan dapat dicerna oleh Hasea.
Isumbaon kemudian membawa Hasea berpindah ke bukit yang lain. Bukit yang lebih tinggi. Bukit yang tidak terkena dampak dari angin ****** beliung yang tadi tercipta karena kipas merak putih. Isumbaon menunjuk sebuah batu yang berada di puncak bukit. Batu itu bulat besar namun permukaannya berbentuk rata. Isumbaon kemudian mengeluarkan sebuah umbi kecil berukuran sebesar kelingking dari sebuah bungkusan kain yang sebelumnya dia simpan dibalik pakaiannya. " Ini adalah akar ginseng merah naga. Ginseng ini merupakan sumber daya yang langka." Isumbaon mengambil ginseng tersebut dari bungkusan nya kemudian memberikan kepada Hasea. Tangan Hasea sampai sedikit bergetar menerima pemberian Isumbaon tersebut. " Sumber daya yang langka." Batin Hasea.
" Untuk memperkuat tulang-tulang mu, kau bisa mengkonsumsi Ginseng ini. Untuk sekarang aku hanya bisa memberimu satu. Karena tinggal itu yang ku miliki. Untuk mendapat tulang yang kuat setara tulang naga, setidaknya kau butuh 5 umbi ginseng." Isumbaon menambahkan. " Ginseng ini hanya tumbuh beberapa dalam kelang dua ratusan tahun. Tumbuhnya juga sangat sedikit dan sangat langka. Sebenarnya ditempat ini ada beberapa rumpun lagi, hanya saja kau harus mengambilnya sendiri dan itu butuh perjuangan yang sangat berat." Isumbaon memang ingin menguji keseriusan Hasea. Dengan memberinya satu umbi ginseng, dia berharap kekuatan fisik Hasea bisa meningkat sehingga untuk selanjutnya Hasea bisa mengambil sendiri kebutuhan ginsengnya dan mampu menghadapai rintangan saat proses pengambilan ginseng tersebut.
__ADS_1
Isumbaon menunjuk sebuah lembah yang berada beberapa puluh meter dari bukit tempat mereka berpijak sekarang ini. Lembah itu didominasi warna biru kehijauan. Ada air seperti telaga kecil di tengah-tengahnya. Air itu mengeluarkan uap seperti asap yang berwarna putih. Di sekitar lembah itu ditumbuhi semak yang memiliki sulur-sulur berduri merambat terkait satu sama lain. Sulur-sulur itu meliuk-liuk seperti ular. Daun tumbuhan itu lebar berwarna ungu. Tumbuhan tersebut juga memiliki bunga yang berbentuk seperti mulut menganga dengan duri-duri tajam seperti gigi ikan Hiu di pinggiran kelopak bunganya. Bunga tanaman tersebut dapat mengatup seolah ingin melahap segala binatang yang berada dekat dengannya.
Semak berduri itu tampak menakutkan. Namun bukan itu yang membuat Hasea ngeri merinding setiap kali memandang ke lembah tersebut. Disana terdapat seekor naga hitam berbadan besar. Mulutnya seolah dipenuhi taring. Cakar-cakarnya runcing dan panjang-panjang. Naga hitam itu nampaknya sangat agresif. " Dari semua naga yang berada di tempat ini, hanya naga hitam itu yang tidak berbaur. Tidak seperti naga yang lain yang lebih suka terbang dan bertengger, naga itu berada sepanjang waktunya di lembah tersebut. Dia seolah terlahir sebagai penjaga lembah itu. " Isumbaon mengingatkan Hasea.
Untuk kondisi normal, naga hitam penjaga lembah itu tidak akan meninggalkan lembah yang dijaganya. Begitu juga dia tidak akan meninggalkan tempat itu. Isumbaon memperlihatkan lembah itu kepada Hasea karena disana lah tumbuhnya beberapa ginseng merah naga yang harus diambil oleh Hasea untuk memperkuat fisiknya. " Sepertinya ini tidak akan mudah, tapi bagaimanapun aku akan berusaha." Batin Hasea. " Lagipu pasti Senior Isumbaon telah pernah ke tempat itu dengan selamat . Buktinya dia memiliki umbi ginseng merah naga."
Setelah mengkonsumsi Ginseng merah naga, Hasea kemudian duduk di atas batu yang berada di puncak bukit tersebut. Badan Hasea terasa hangat tetapi seluruh tulang-tulangnya seolah nyeri yang teramat sangat. Tulang-tulang itu seolah akan pecah. Terdengar suara retakan dari setiap tulangnya. Namun demi mendapatkan fisik dan tulang terbaik, Hasea menahan rasa sakit tersebut dan tetap duduk dengan posisi bersemedi diatas batu. Melihat semuanya berjalan lancar, Isumbaon meninggalkan Hasea. Dia akan berkunjung kesana 3 hari lagi karena untuk tubuh Hasea menyerap khasiat ginseng merah naga tersebut secara keseluruhan, setidaknya membutuhkan waktu 3 Hari.
***
Setelah menyelesaikan 3 hari semedinya, Hasea perlahan membuka mata. Cahaya matahari pagi sedikit menyilaukan matanya. Perlahan mata Hasea menyesuaikan diri. Kini matanya bisa melihat jelas sekelilingnya. Termasuk melihat Isumbaon yang sedang melakukan gerakan- gerakan jurus yang dia miliki. Hasea bisa merasakan betul bahwa setiap gerakan dari jurus itu memancarkan kekuatan yang sangat besar dan mematikan.
Isumbaon memang menghadap ke bibir tebing, membelakangi Hasea sehingga Hasea beranggapan bahwa pendekar berilmu tinggi tersebut tidak menyadari bahwa dirinya telah bangun dari semedinya. Hasea melihat satu batu besar yang digerakkan oleh Isumbaon melayang dan memutar di udara seturut pergerakan lengan Isumbaon. Tiba-tiba Isumbaon berbalik badan, lengannya dia gerakkan cepat dan mengarahkan nya ke arah duduknya Hasea. Bersamaan dengan itu batu besar melesat cepat ke arah Hasea. Tentu saja Hasea tidak siap. Hasea terkejut, dia tidak sempat berfikir untuk melakukan sesuatu. Hanya gerakan refleks yang terjadi. Kedua tangan Hasea secara spontan dia angkat ke depan wajahnya. Dia menyilangkan tangan itu serta matanya menutup. Murni itu adalah gerakan refleks . Hasea tidak menduga sama sekali serangan itu.
Batu melesat cepat ke arah Hasea. Untuk beberapa menit, Hasea tidak tau apa terjadi selanjutnya. " Mau sampai kapan kau menutup mata?." Isumbaon menyadarkan Hasea. Sedari tadi Hasea memang hanya mematung pada gerakan dan posisi terakhirnya. Hasea kemudian membuka mata secara perlahan. " Di mana batu besar tadi, apakah pada detik-detik terakhir dia membelokkan arah batu itu?" Gumam Hasea.
" Ah... Sepertinya kau telah memiliki tulang Naga Muda.Batu yang ku adakahkan pada mu bahkan sampai hancur berkeping-keping saat berbenturan dengan mu." Isumbaon menunjukkan serpihan pecahan batu di sekitar Hasea. " Orang ini, jadi dia bukannya membelokkan arah batu itu tapi malah benar-benar melemparkannya pada ku." Batin Hasea yang kemudian melihat bagian tubuhnya dan tangannya. " Tapi sungguh kekuatan tulang ini sangat luar biasa aku bahkan tidak merasakan batu itu saat mengenai tubuhku."
__ADS_1
" Kau jangan berpuas diri dulu, walau kau telah memiliki tulang naga muda tetapi itu belum lah cukup. Walau dengan tulang naga muda, benda serupa batu atau pukulan berkekuatan sebesar batu tadi tidak akan melukai mu tetapi hal tersebut tidak berlaku untuk benda atau serangan yang diselimuti tenaga dalam." Isumbaon mengingatkan. Memang batu yang dia lemparkan ke arah Hasea sama sekali tidak dia lapisi dengan tenaga dalam.
" Tulang naga muda memang akan kebal terhadap serangan atau pukulan terkuat tanpa tenaga dalam. Untuk tahan terhadap beberapa serangan dan pukulan dengan tenaga dalam, kau harus memiliki tulang naga tua dan untuk mendapatkan tulang dengan kualitas itu, normalnya kau membutuhkan latihan dan semedi hampir ratusan tahun. Tetapi dengan mengkonsumsi 5 ginseng merah naga, kau hanya membutuhkan 1 purnama tentunya juga dengan bersemedi."
Hasea kemudian memandangi lembah tempat tumbuhnya ginseng naga merah. Dia sadar, beberapa hari lagi dia akan menuju tempat itu dan mungkin akan berhadapan dengan naga hitam yang berada disana. Entah apa yang dia pikirkan sampai Isumbaon menyadarkannya. " Sudahlah.. sebaiknya kita pulang dulu, Setelah tiga hari tidak makan tentunya kau pasti sangat kelaparan. Sebaiknya kau isi perut mu dulu. Bagaimanapun latihan-latihan itu bisa menunggu."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Teman2 ayo dukung Author agar lebih semangat dalam berkarya. Caranya mudah kok, cukup;
- Tekan Like
- Tinggalkan jejak di kolom komentar
- Rate Bintang 5
- Vote bila berkenan
__ADS_1
- Share juga boleh.
Kalian terbaiklah pokoknya