
Hasea yang berjalan bersama rombongan Sekte Harinuan perkemahan Selatan sudah semakin mendekati Kota Pintu Suona. Sekitar setengah hari perjalanan lagi mereka akan tiba di sana.
Hari sudah malam. Kelelahan memaksa mereka untuk beristirahat sejenak.
" Kita harus lebih cepat Ketua, perasaan ku tidak enak." Ucap Hasea kepada Garguek.
" Aku juga berfikir demikian. Baiklah, sudah cukup istirahatnya. Kita harus melanjutkan perjalanan."
***
"Senior, beberapa saat lagi kita akan tiba di kota Pintu Suona. Kondisi gelap seperti ini sedikit memperlambat laju kita, apa tidak sebaiknya kita beristirahat terlebih dahulu?"
" Kita tetap lanjutkan perjalanan. Bila perhitungan mu tepat maka kita akan tiba di sana pada pagi hari."
" Tapi ketua, seluruh anak buah kita telah kelelahan."
" Begitupun anggota sekte Bulan Purnama. Semakin lama kita tiba disana maka semakin banyak tenaga mereka yang kembali terkumpul."
***
Seorang anggota delik sandi sekte Bulan purnama menghadap Marrupa.
" Ketua, anggota sekte Matahari biru sudah semakin dekat. Dalam waktu beberapa saat lagi mereka akan tiba."
Marrupa menatap Gilok dan Terisab bergantian.
" Tidak ada pilihan lain. Kita harus kembali bersiap."
Gilok masih tampak tegar. Orang tua itu, seolah tenaganya tidak berkurang setelah pertarungan panjang seharian ini.
" Baiklah, persiapkan semua anggota kita Honasasom. Ketua Apodi, sekali lagi aku mohon bantuan sekte Walet Hitam. "
" Baik ketua, sudah menjadi tanggung jawab kami untuk membantu anda."
***
Sengku memimpin anggotanya dalam regu serang gelombang ke 3. Di sebelahnya berjalan bersamanya seseorang yang mengenakan topeng.
" Sebaiknya anda tidak melanggar kesepakatan yang telah kita buat."
Sengku menekankan setiap kalimatnya kepada orang bertopeng itu.
" Hahaha..anda bisa memegang kata-kata saya. Kalian urus saja Sekte Bulan Purnama itu, sisanya serahkan kepada kami."
" Baiklah. Semoga kekuatan anggota mu sebesar ucapan mu."
" Buang jauh-jauh keraguan mu. Hal seperti ini adalah perkara mudah bagi kami, tapi aku akui anda adalah orang terpicik diantara yang picik, jalan pikiran anda sungguh sulit di tebak."
" Baiklah disini kita berpisah. Jangan temui aku selain berita baik yang anda bawa. "
Ucapan Sengku itu menjadi salam perpisahan dirinya dengan pria bertopeng.
Pendekar bertopeng itu memisahkan diri dari rombongan Sengku dan melanjutkan perjalanannya sendiri.
***
Matahari perlahan menampakkan diri. Hari memang belum begitu terang, baru sebagian cahaya matahari yang menyinari bumi tetapi hal itu cukup untuk membuat mata manusia memandang pada kejauhan.
Di luar kota Pintu Suona telah berjejer rapi anggota sekte Bulan Purnama dan sekte walet hitam. Pemandangan yang hampir sama dengan hari sebelumnya. Hanya saja kali ini tempat itu lebih berantakan banyak puing dan bekas ledakan dimana-mana. Kalau saja bukan karena sungai besar yang membelah tempat itu, mungkin orang tidak akan mengira tempat tersebut adalah wilayah kota Pintu Suona. Sungai besar itu memang menjadi titik tanda terkenal bagi kota Pintu Suona.
Tidak ada lagi mayat disana karena anggota sekte Bulan purnama dan sekte Walet hitam yang tewas telah dimakamkan dengan penghormatan yang layak sementara mayat rombongan anggota sekte Matahari biru gelombang pertama telah berubah menjadi tumpukan-tumpukan abu. Membakar mayat itu menjadi pilihan paling logis mengingat sempitnya waktu .
Anggota sekte Matahari Biru gelombang pertama telah sampai di depan kota Pintu Suona. Melihat anggota sekte Bulan purnama telah menunggu mereka disana tidak membuat mereka terkejut. Gambaran yang diberikan oleh tim penghubung matahari biru beberapa saat yang lalu membuat mereka lebih siap.
***
" Senior, sebenarnya sampai kapan kita akan menunggu?"
__ADS_1
Seorang anggota sekte Banteng merah seolah protes kepada seniornya. Mereka memang sudah seharian berada di lokasi itu, lokasi yang berjarak sekitar satu hari perjalanan dari kota pintu Suona.
" Kau diam saja. Bukankah sudah jelas perintah yang kita terima?"
Gibon membentak anak buahnya itu. Diantara 400 orang yang dia bawa memang hanya dia seorang yang tahu misi mereka yang sebenarnya. Gibon bersama anak buahnya adalah regu yang dipersiapkan oleh Meghaa Pendekar wanita ketua sekte banteng merah itu untuk menyerang Sekte matahari biru pada pertarungan gelombang ke tiga.
" Tapi senior, beredar isu diantara anggota yang lain bahwa kita ke sini bukan untuk berpatroli menjaga keamanan kota-kota yang berada di bawah pengawasan sekte Banteng Merah. Kita bahkan jauh dari kota-kota itu. Malah kita lebih dekat ke kota Pintu Suona, bukankah kota itu berada dalam pengawasan sekte Bulan Purnama,kenapa kita perlu repot-repot patroli di wilayah yang bukan dalam tanggung jawab pengawasan kita ?"
" Kau...? Kau masih berani membantah?"
" Bukan begitu senior, tapi setidaknya beri tahu kami apa misi kita yang sebenarnya. Dengan anggota regu sebanyak ini, sangat tidak logika apabila kita hanya berpatroli."
" Ini yang akan ku beritahu kepadamu."
Tangan Gibon memancarkan aura tenaga dalam. Gibon melayangkan pukulan ke arah anggota nya itu hingga tubuhnya terpental jauh. Anggota sekte Banteng merah itu seketika meregang nyawa.
" Apa ada lagi diantara kalian yang ingin bertanya?"
Gibon berteriak lantang. Urat lehernya sampai menonjol. Tampaknya pendekar paruh baya itu dipenuhi amarah. Teriakan Gibon menciutkan nyali semua anak buahnya. Terlebih saat salah satu diantara mereka tewas di tangan Gibon sendiri, pemimpin mereka dalam regu kali ini.
" Apa kalian pernah dilatih untuk berfikir dan banyak bicara?"
Gibon masih berbicara lantang. Dia melayangkan pandangannya menyisir semua anak buahnya yang kini hanya tertunduk ketakutan. Tidak satu pun diantara mereka berani menengadahkan wajah.
" Dengar...ini adalah perintah langsung dari Ketua Meghaa. Menentang misi ini artinya menentang perintah Ketua, dan kalian tau apa akibatnya bagi mereka yang membangkang."
Gibon menarik nafas panjang.
" Kita akan menunggu. Akan tiba saat nya tenaga kalian dibutuhkan, mungkin juga ini saat terakhir kalian hidup. Maka manfaatkan waktu ini untuk beristirahat. Kumpulkan tenaga."
Suara pendekar paruh baya itu kembali melembut.
***
" Apa kalian akan tetap melakukan ini? Tidak kah kalian merasakan duka setelah banyaknya nyawa yang hilang dari pihak sekte matahari biru pada pertarungan kemarin?"
Marrupa berteriak lantang.
Marrupa masih berupaya melakukan dialog. Dia berharap banyaknya orang yang tewas dari kedua belah pihak bisa mengubah keputusan sekte Matahari biru.
" Hahaha..orang tua, kau tau ucapan mu tidak akan merubah apa-apa. Kalian mungkin berduka, tetapi sedari awal kami telah menghilangkan duka dari diri kami. Kami sepenuhnya telah siap akan hal itu walau kami akui kami cukup terkejut dengan kehadiran kedua pendekar legenda yang berada di sisi anda kini."
Katullik tidak berbohong. Walau mungkin diantara anak buah yang dia bawa masih terselip rasa takut akan kematian yang mungkin menghampiri mereka, tetapi mereka sadar anggota sekte yang dikirim pada gelombang pertama benar-benar adalah tumbal. Serangan sebenarnya ada pada gelombang ke dua dan ke tiga. Mereka akan memenangkan pertarungan ini bagaimana pun juga.
" Baiklah kalau demikian, ayo cepat kita selesaikan ini." Suara yang keluar dari mulut Marrupa memang pelan. Tapi ucapannya itu seperti menyiratkan akan kembali terjadi pembunuhan besar-besaran.
Terisab maju terlebih dahulu. Berbeda dengan pertarungan gelombang pertama, kali ini dia langsung memancarkan aura tenaga dalam penuh. Seluruh tubuhnya diselimuti kobaran api.
" Serang mereka...."
Seruan lantang Katullik langsung di respons anak buahnya. 500 orang anggota sekte Matahari biru itu segera berlari menyerang anggota sekte Bulan purnama dan sekutunya.
Gilok menyusul Terisab. Tubuh orang tua itu juga diselimuti aura tenaga dalam.
Ke dua pendekar legenda itu adalah orang pertama yang bersinggungan langsung dengan anggota sekte matahari biru. Dalam waktu singkat kedua pendekar itu telah membunuh beberapa orang.
" Honasasom, apabila terjadi sesuatu maka sekte bulan purnama menjadi tanggung jawab mu."
Marrupa melesat cepat. Dia tidak bermaksud untuk menahan kekuatan. Kali ini pertarungan harus segera diakhiri.
Honasasom memimpin ratusan pendekar sekte bulan purnama untuk menyerang anggota sekte matahari biru. Kembali terjadi pertarungan besar. Kekuatan dari dua kelompok besar saling beradu. Terdengar suara dentingan pedang yang saling beradu di mana-mana. Lesatan anak panah beterbangan dari ke dua kubu. Lokasi Pertarungan dihujani lesatan anak panah.
Katullik mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya. Dia bersiap menghadapi Marrupa. Walau kemampuan bela diri dan tenaga dalamnya berbeda tingkat dengan Marrupa, tetapi dia cukup percaya diri untuk menahan serangan orang tua itu sampai anggota sektenya pada gelombang ke 3 sampai.
Seluruh anggota sekte bulan purnama kini ada di area pertarungan. Kontan seisi kota lepas dari penjagaan . Tapi mereka tidak punya pilihan lain. Tidak ada lagi anggota sekte bulan purnama yang tersisa selain mereka yang terluka.
" Kau akan menyesali semua ini."
__ADS_1
Marrupa menyerang Katullik dengan gerakan sangat cepat. Dia tidak bermaksud memberi celah kepada pendekar sekte matahari biru itu.
" Tidak akan ada penyesalan. Sudah cukup lama kalian mengambil keuntungan dari kota ini. Kini biarkan kami yang mengambil alih."
Katullik menahan serangan-serangan Marrupa dengan sekuat tenaga. Beberapa pukulan Marrupa memang bersarang di tubuhnya tetapi orang itu masih bisa bertahan.
***
" Hormat ketua. Ijin melaporkan situasi terkini."
Tim penghubung sekte matahari biru baru saja bertemu dengan kelompok sektenya, regu serang gelombang ke tiga. Dia tidak membuang waktu. Segera dia melaporkan situasi yang terjadi kepada Sengku.
" Apa..? Gilok? Pendekar sekte Naga Api itu? Apa dia benar-benar masih hidup? Bukankah dia sudah lama menghilang? Apa yang dia lakukan di kota pintu Suona? Lalu siapa pendekar Legenda yang lainnya?"
" Tidak satupun diantara kami yang mengenalnya Ketua."
Sengku terdiam sejenak. Kepalanya menjadi berat. Hal ini berada di luar rencananya. Kehadiran 2 pendekar legenda di pihak sekte Bulan Purnama akan memberikan dampak yang besar.
" Kita harus bergerak cepat. Jangan menunda lagi. Regu gelombang ke dua tidak akan bertahan lama."
Sengku memimpin anggota sektenya untuk bergerak lebih cepat.
" Panggil penghubung."
" Baik ketua."
Seorang penghubung lain mendatangi Sengku.
" Kau, segera temui Tuan Tataring, berikan gulungan ini. Sampaikan bahwa aku yang memerintahkan mu.
Pilih kuda terbaik. Arahkan mereka ke kota Pintu Suona. Mereka harus sudah tiba di sana saat kami juga tiba. "
" Baik Ketua."
Penghubung itu segera melesatkan kuda nya dengan cepat, dia berangkat untuk menyampaikan pesan Sengku kepada Tataring, ketua pendekar pembunuh bayaran yang terkenal dengan kekejamannya.
***
Terisab dikelilingi hampir 50 orang pendekar berkemampuan Ahli dan unik. Jumlah mereka yang banyak cukup merepotkan Terisab. Tetapi dengan gesit, pendekar Naga Api itu membunuh satu persatu diantara mereka.
Kobaran api di tubuh Terisab membuat pendekar yang menyerangnya tidak berani untuk lebih dekat. Kontan mereka hanya menggunakan jurus-jurus serangan jarak jauh.
" Bukankah ini terlalu mudah?"
Gilok yang sedikit heran dengan kekuatan serangan gelombang kedua sekte matahari biru kali ini sedikit khawatir . Jumlah pendekar Langka yang mereka hadapi kali ini memang lebih sedikit dibandingkan dengan serangan gelombang pertama.
Belum sempat hilang rasa khawatir Gilok, terdengar jeritan dan tangisan dari arah kota.
" Apa? Apa yang terjadi? "
" Ketua..puluhan pendekar matahari biru menyerang kota dari arah belakang. Kami membutuhkan bantuan."
Marrupa mengeraskan rahangnya. Kali ini mereka terkecoh. Marrupa dan kelompoknya terlalu fokus dengan serangan dari hadapan mereka. Hal yang mereka tidak sadari bahwa serangan gelombang ke dua kali ini terbagi dua. Anggota sekte matahari biru itu menyerang dari dua arah. Dari depan dan belakang Kota. Kini di dalam kota puluhan pendekar langka telah memporak porandakan tempat itu. Mereka sengaja menebar teror untuk memecah konsentrasi kekuatan sekte Bulan Purnama. Menjadikan seisi kota menjadi tawanan adalah rencana mereka.
" Kalian urus mereka. Aku akan mengamankan Kota."
Gilok tidak menunggu persetujuan dari Marrupa. Dia membawa puluhan anggota sekte Bulan Purnama ke dalam kota.
" Hahaha. Sudah terlambat. Pasti kini regu gelombang kedua yang dipimpin Laban telah menguasai seisi kota."
Katullik jumawa. Dia sangat yakin kali ini mereka berhasil mengecoh sekte Bulan Purnama.
" Kurang ajar kau."
Marrupa kembali melesat ke arah Katullik. Pukulan keras dari Marrupa bersarang di dada Katullik membuat pendekar sekte matahari biru itu terpental cukup jauh.
" Senior, biarkan kami membantu mu."
__ADS_1
" Jangan hanya bicara, serang dia."
8 pendekar langka sekte matahari biru melesat untuk menyerang Marrupa .