
Hasea dan rombongannya bergegas. Hari ini mereka akan meninggalkan desa Sipoholon untuk menuju kota Pintu Suona.
" Kami mohon ijin tuan Hasiahan. Terima kasih atas semua bantuan anda."
Gilok mewakili rombongannya untuk berpamitan.
" Mohon jangan sungkan begitu Tuan, justru kalianlah yang telah membantu kami. Berkunjunglah kapanpun kemari. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian. "
Arinauli menatap Hasea. Tetapan itu dibalas oleh Hasea, sebenarnya pemuda itu ingin berkata-kata hanya saja lidahnya terasa kaku.
Arinauli mendekati Hasea. Jantung Hasea berdegup kencang seolah akan melompat dari tempatnya.
" Terima kasih untuk semuanya."
Ucapan yang keluar dari bibir Arinauli sembari menggenggam kedua telapak tangan Hasea.
Semua orang yang menyaksikan hal tersebut seolah sedang melihat sepasang kekasih yang akan berpisah.
" Heeh...sudah menjadi tugas ku membantu mu."
Hanya itu kata yang berhasil Hasea ucapkan sembari menatap mata wanita cantik itu.
Hasea akhirnya melepas genggaman tangan Arinauli sembari berbalik badan mengikuti rombongannya yang sudah mulai melangkah.
" Tunggu.."
Suara Arinauli menghentikan langkah Hasea dan rombongannya.
Arinauli berlari dan memeluk Hasea. Pelukan erat sebagai tanda perpisahan.
" Kalau dipikir-pikir aku berutang nyawa kepada mu. Suatu saat aku akan membalasnya." Bisik Arinauli di telinga Hasea.
" Kau tidak perlu melakukannya. Cukup berjanji untuk tidak mengulangi tindakan bodoh itu lagi. Mencoba bunuh diri itu hal konyol. Hargailah dirimu dan orang disekitar mu." Balas Hasea.
" Aku akan mengingat itu. Aku berjanji."
Hasea hanya tersenyum menanggapi ucapan Arinauli. Belum sempat dia berfikir, ciuman hangat dari Arinauli telah mendarat di pipi Hasea.
Hasea dengan wajahnya yang memerah akhirnya berbalik badan meninggalkan Arinauli.
Keempat orang itu melangkahkan kaki menuju perjalanan mereka selanjutnya.
***
Hasea dan rombongannya berada di sebuah gerbang besar. Pintu masuk ke sekte Bulan purnama. Bersama mereka ada Apodi, ketua sekte walet hitam.
Sebelum menuju ke Sekte Bulan Purnama Hasea dan rombongannya memang singgah di sekte Walet hitam dan meminta Ketua sekte itu untuk menjembatani pertemuan mereka dengan Marrupa.
Apodi yang mendapati fakta kalau Hasea berhasil mendapatkan pedang antik itu sebenarnya sedikit terkejut. Tetapi pria itu cukup senang. Hal itu justru akan mempermudah pembicaraan mereka dengan Marrupa, ketua sekte Bulan Purnama.
" Mohon sampaikan kalau kami akan bertemu dengan ketua Marrupa."
Apodi menyampaikan pesan kepada penjaga pintu gerbang Sekte bulan purnama.
Selang beberapa waktu, Apodi dan rombongannya dipersilahkan masuk. Marrupa telah menunggu mereka di sebuah ruangan.
" Ah..Ketua Apodi, kebetulan sekali. Baru saja Honasasom akan berkunjung ke sekte anda. Tak disangka malah anda sendiri yang datang kemari."
__ADS_1
" Benarkah? Apakah ada sesuatu ketua?" Tanya Apodi sedikit terkejut.
Walau saling bertetangga tetapi kalau sampai Marrupa mengutus Honasasom Sendiri ke sekte walet hitam pastilah ada hal penting yang akan disampaikan.
" Ah, begitu lah ketua. Ada hal pelik yang ingin aku sampaikan. Tetapi siapa orang-orang yang bersama mu itu ketua?"
Marrupa tidak ingin sembarangan berbicara. Keberadaan Hasea dan rombongannya membuat Marrupa sedikit berhati-hati. Bagaimana pun dia belum mengenal rekan serombongan Apodi itu.
" Nah...sebenarnya merekalah alasan ku kemari ketua. Tetapi melihat kekhawatiran yang tergambar di wajah anda membuat saya ragu. Saya takut ini bukan waktu yang tepat ketua."
Marrupa sedikit bingung. Dia tidak menyangka bahwa guratan wajahnya bisa dengan jelas menggambarkan keresahan hatinya. Tetapi akhirnya dia tersenyum. Bagaimana pun dia harus tetap ramah kepada tamu nya itu.
" Katakanlah, kita akan mendiskusikannya."
" Begini ketua." Apodi menarik Marrupa untuk menjauh dari Hasea dan rombongannya. Dia ingin pembicaraan antara dirinya dengan Marrupa lebih intim.
" Apakah ketua masih ingin menambah koleksi barang antik? Kali ini saya yakin benda ini akan menggenapi pencarian anda yang terakhir. Benda yang anda idam-idamkan selama ini."
" Maksud anda...?"
Untuk sesaat terpancar raut gembira dari wajah Marrupa. Dia mengerti benda yang dimaksud Apodi adalah pedang hitam.
" Ah..tapi entahlah ketua Apodi,untuk saat ini ada hal lain yang lebih penting dari barang-barang koleksi itu."
Wajah Marrupa kembali dirundung kecemasan.
" Ada apa sebenarnya ketua? Kalau berkenan mohon ceritakan kepadaku."
Marrupa akhirnya menceritakan tentang Sekte matahari merah. Saat itu juga dia akhirnya meminta bantuan kepada Apodi.
" Jadi begitu ya, saya tidak tau pasti ketua. Tapi mungkin ini adalah takdir. Sepertinya mereka juga harus mengetahui hal ini."
Hasea tidak mengerti arti dari tatapan itu. Tetapi dia berharap hal itu adalah pertanda baik.
" Maksud anda? Apa hubungan mereka dengan semua ini? Saat seperti ini kita tidak bisa begitu saja percaya dengan orang lain." Protes Marrupa.
" Ketua, kali ini mohon percayalah kepada ku. Aku yakin mereka justru akan bisa membantu."
Marrupa yang sedari awal sedikit ragu akhirnya percaya kepada Apodi.
Kini mereka semua sedang duduk dalam satu meja pertemuan. Disana ada Hasea dan ke 3 rombongannya. Apodi, Marrupa dan Honasasom yang terakhir dipanggil oleh Marrupa untuk bergabung.
Setelah secara singkat mereka semua saling berkenalan, Marrupa membuka pembicaraan .
Marrupa juga akhirnya menceritakan kondisi yang sedang terjadi. Hal tersebut cukup membuat Hasea dan rombongannya terkejut. Apalagi mereka mendengar kemungkinan keterlibatan Sekte Banteng merah di dalamnya.
" Ketua..kalau anda berkenan biarkan kami membantu."
Hasea yang sedari tadi antusias mendengar penuturan Marrupa angkat bicara.
Marrupa hanya terdiam. Tidak mengerti respons apa yang sepantasnya dia harus perbuat atas tawaran Hasea. Marrupa memang sudah berkenalan dengan Hasea dan rombongannya. Tetapi Hasea sendiri belum diperkenalkan sebagai pangeran pada saat perkenalan itu. Marrupa juga belum tau kalau Gilok dan Terisab akan banyak berpengaruh apabila akhirnya mereka turut terlibat untuk melindungi kota pintu suona dari serangan sekte Matahari Biru.
Gilok, Terisab dan Hasea memang menyembunyikan aura tenaga dalam mereka masing-masing. Untuk saat ini, membacakan aura tenaga dalam bukanlah hal yang perlu. Semua pendekar pada tingkat legenda biasa nya memang bisa menyembunyikan aura tenaga dalamnya untuk beberapa waktu.
Marrupa yang sedari awal berfokus pada persoalan Matahari biru juga belum sempat berfikir untuk mengukur kemampuan para tamu nya itu.
" Saya sangat berterima kasih tuan, tapi musuh yang akan kami hadapi ini bukanlah kekuatan kecil. Saya khawatir anda sekalian malah akan terluka." Ucap Marrupa jujur
__ADS_1
Apodi yang paham betul kekuatan dan kemampuan Hasea beserta rombongannya akhirnya angkat bicara. Ada hal yang perlu dia luruskan.
" Mohon maaf ketua...sebenarnya ada hal lain yang ingin kami sampaikan..."
Apodi akhirnya membuka status Hasea. Juga menerangkan tentang maksud tujuan Hasea yang ingin meminta dukungan dari sekte Bulan purnama.
Hal tersebut kontan membuat Marupa dan Honasasom terkejut. Mereka baru sadar bahwa orang yang ada dihadapan mereka sekarang adalah pangeran kerajaan Partungko Naginjang.
Marrupa juga akhirnya perlahan bisa merasakan besarnya aura tenaga dalam dari Hasea, Gilok dan Terisab.
' Bagaimana mungkin sedari tadi aku tidak merasakan ada tiga orang pendekar berkemampuan Legenda di hadapan ku' benaknya.
Marrupa masih tidak berhenti terkejut. Berkumpulnya 4 orang pendekar legenda termasuk dirinya dalam satu ruangan adalah hal yang sangat langka terjadi kecuali memang sedang ada pertemuan besar antar petinggi-petinggi sekte.
" Tunggu dulu, apa ini benar? Sepertinya kita terlalu lama mengungkung diri didalam sekte kita sendiri Honasasom. Bagaimana mungkin berita sebesar ini tidak kita ketahui?"
Honasasom yang dipandangi oleh Marrupa hanya terdiam. Sebenarnya dia sama terkejutnya dengan Marrupa tetapi dia tidak tau harus bereaksi seperti apa selain terkejut.
" Untuk saat ini kami memang sengaja menyembunyikan fakta ini ketua." Hasea memberi penjelasan.
" Mengingat kondisi yang sedang dialami oleh sekte ini, hal terbaik adalah menerima tawaran dari Tuan Hasea ketua."
Apodi mencoba memberi penjelasan kepada Marrupa.
" Hal itu memang benar Ketua Apodi. Bergabungnya tuan hasea, tuan Gilok dan tuan Terisab mungkin akan memberi dampak yang sangat besar. Tetapi mengingat besarnya kekuatan sekte Matahari biru dan kemungkinan bantuan Sekte Banteng merah di belakang mereka rasanya hal itu belumlah cukup. Hal ini tidak semudah itu. "
" Bagaimana kalau ku katakan kepada anda bahwa sekte Harinuan akan terlibat?"
" Apa? Sekte perampok itu? Apa yang bisa diharapkan dari mereka. Mereka hanya memikirkan harta. Bisa jadi mereka malah menjadi bumerang."
" Sepertinya anda salah menilai sekte saya tuan." Protes Hasea jengkel. Ada rasa tidak terima dalam benaknya saat Marrupa memandang buruk sekte nya itu.
" Apa? Sekte anda? Apa anda juga bagian dari sekte itu? Fakta-fakta ini sangat mengejutkan. Apa ada fakta lain lagi yang anda sembunyikan?"
" Sepertinya tidak ada lagi. Tapi mungkin anda perlu tau fakta lain bahwa saya telah mendapatkan dukungan dari sekte Obor merah. Sekte itu memang kecil tetapi mereka tidak bisa diabaikan mengingat mereka adalah pengumpul informasi terbaik di wilayah Partungko Naginjang ini. Kemudian fakta bahwa kemungkinan besar sekte beringin kuning akan memberikan dukungan kepada saya, fakta bahwa Panglima Suhad dan Ayahanda sendiri yang merencanakan semua ini. Itu fakta lain yang mungkin bisa membantu anda. Anda telah mendengarkan semua nya tuan. Sekarang tergantung anda."
Marrupa terdiam. Sesekali dia menarik nafas dalam-dalam.
" Baiklah, katakanlah Anda membantu kami untuk mengurus masalah dengan Sekte Matahari biru. Katakan lah akhirnya kami memberi dukungan kepada anda setelah itu, lalu apa yang anda harapkan kemudian dari kami?"
" Tidak ada lagi, saya hanya mengharapkan dukungan dari sekte anda. Kemudian Sekte anda tetaplah seperti ini. Perlakuan sekte anda terhadap kota Pintu suona sudah sangat baik. Tetap lah seperti itu. Bahkan mungkin cara penataan kota pintu suona akan menjadi contoh bagi kota lainnya kelak."
" Baiklah, kita sepakat. Kami akan memberikan dukungan kepada anda. Saya harap ucapan anda tentang sekte Harinuan juga benar."
" Pegang ucapan saya ketua. Kita akan memberi kejutan besar kepada sekte Matahari Biru itu dan siapa pun orang yang berada di belakang mereka."
" Baiklah. Terima kasih Tuan Hasea, terima kasih Ketua Apodi anda telah membawa mereka kemari. Bantuan anda datang diwaktu yang sangat tepat."
Senyum sumringah merekah dari bibir Marrupa. Sepertinya orang tua itu bisa sedikit lega.
" Tapi aku ingin bertanya tentang satu hal lagi."
Ucapan Marrupa berhasil membuat semua orang terdiam.
" Apakah tawaran tentang pedang hitam itu masih berlaku?"
" Apa....?" Hasea terkejut bercampur jengkel. Dia tidak menyangka Marrupa masih terfikir untuk menyinggung masalah Pedang antik itu.
__ADS_1
" Heeh.. tentu saja ketua, tapi sekarang saya tidak yakin anda memiliki sesuatu untuk ditukarkan dengan pedang ini."