PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 83. Putri Tidur


__ADS_3

Sumeru mengucapkan salam perpisahan untuk Hasea dan rombongannya. Anggota sekte Walet hitam itu mengantarkan mereka sampai pintu gerbang kota Pintu Suona.


" Tuan, sepertinya disini akhir perjumpaan kita, sampai kita bertemu lagi."


" Sepertinya begitu tuan Sumeru. Kami akan kembali lagi ke kota ini setelah mendapatkan pedang antik milik tuan Hasiahan."


Hasea, Hasapi, Terisab dan Gilok bersama-sama menuju desa Sipoholon. Hasea memang mengundang Terisab dan Gilok untuk turut serta. Hasea mungkin saja akan membutuhkan bantuan dari salah satu pendekar itu.


Gilok sudah sepakat untuk membantu dan mendukung Hasea. Permintaannya hanya satu yakni apabila akhirnya nanti Hasea menjadi pemimpin di kerajaan Partungko Naginjang, maka pemuda itu harus menyiapkan salah satu posisi panglima bagi rumpun keluarga naga api. Hasea tidak keberatan dengan hal tersebut. Lagi pula kelak dia membutuhkan dukungan kekuatan yang besar juga.


" Sepertinya ini pintu masuk ke desa Sipoholon." Hasea bergumam.


Ke empat orang itu memang sedang berdiri di sebuah pintu masuk desa. Tidak ada tertera catatan tentang nama desa itu i pintu masuk namun Hasea yakin ini lah tempat yang mereka tuju. Selama melakukan perjalanan beberapa waktu, petunjuk yang diberikan oleh Sumeru mengarahkan mereka ke desa ini.


***


" Kenapa kau belum berangkat?" Marrupa ketua sekte Bulan Purnama menegur Honasasom yang masih berada di ruangannya. Beberapa waktu yang lalu Marrupa telah memerintahkan anak buahnya itu untuk meminta bantuan kepada sekte Banteng merah terkait rencana penyerangan sekte Matahari Biru.


" Mohon maaf Ketua. Sebenarnya informasi sebelumnya yang saya sampaikan belumlah utuh. Hanya saja saya meragukan kebenaran informasi selanjutnya."


" Apa maksud mu Honasasom? Apa kau mulai belajar menyembunyikan sesuatu dari ku?"


" Bukan begitu ketua. Hanya saja..."


Sekte Bulan Purnama tergabung dalam aliansi putih yang bersama-sama mendukung kerajaan, atau setidaknya mendukung Panglima Angkar dan kroninya. Sudah barang tentu apabila salah satu aliansi mendapat masalah maka anggota aliansi lain akan membantu dengan persetujuan Meghaa selaku ketua Aliansi.

__ADS_1


Berdasarkan informasi yang didapat oleh Hasiahan bahwa kota Pintu Suona yang berada di bawah pengawasan sekte Bulan Purnama akan diserang oleh Sekte Matahari Biru, sekte aliran hitam. Hal yang mengganjal dalam pikirkan Honasasom adalah bahwa sebelum rencana penyerangan itu rimbul, terjadi pertemuan antara Meghaa, pendekar wanita yang merupakan ketua sekte Banteng merah yang juga ketua aliansi putih itu dengan Sengku, pendekar tua ketua dari sekte Matahari Biru.


" Kau gila, apakah itu mungkin?" Marrupa tampak emosi. Dia tidak pernah memiliki fikiran bahwa Sekte Banteng merah menusuk sekte nya dari belakang mengingat hubungan baik antar kedua sekte itu.


" Ketua, apakah anda ingat betapa semangatnya sekte Banteng merah mengusulkan penarikan status istimewa kota Pintu Suona dalam pertemuan aliansi yang terakhir?"


Marrupa tampak berfikir. Ucapan Honasasom benar. Sekte Banteng merah memang sedang gencar-gencarnya mengusulkan penarikan status Istimewa untuk Kota Pintu Suona. Alasannya sederhana, mereka ingin penyamarataan pembangunan di seluruh kota di wilayah Kerajaan Partungko Naginjang tanpa perbedaan.


Namun semua orang tau bahwa alasan itu hanya dibuat-buat. Faktanya sekte Banteng Merah hanya ingin mengambil alih pemerintahan di kota pintu suona dari sekte bulan purnama untuk keuntungan mereka sendiri . Walau mereka menutup rapat-rapat , tetapi tetap saja beberapa tindakan mereka menggambarkan dengan jelas niatan itu.


Dengan potensi sumber daya alam yang besar dan dikenal sebagai pusat perdagangan kerajaan, kota Pintu Suona memang sangat menggiurkan untuk dikuasai.


" Jadi apa yang kau bisa usulkan?kalau meminta bantuan aliansi saja menjadi tidak mungkin, apalagi meminta bantuan kerajaan."


Sebenarnya mereka sadar bahwa sekte Walet hitam dengan kekuatan tarung mereka yang kecil tidak akan banyak membantu. Tetapi sepertinya mereka memang tidak memiliki pilihan lain.


" Kalau demikian baiklah, jangan bocorkan informasi ini kepada siapa pun. Bertindaklah biasa saja. Biarkan sekte Matahari biru tetap berfikir bahwa kita tidak mengetahui rencana mereka."


" Baik ketua."


" Satu hal lagi, panggil pulang semua pendekar yang sedang menjalankan misi. Kita akan sangat membutuhkan bantuan sekecil apa pun itu ."


***


Hasea dan rombongannya tiba di perumahan Hasiahan. Tidak sulit bagi mereka untuk menemukan rumah orang tua itu karena di desa Sipoholon tidak terdapat banyak rumah dan rumah Hasiahan merupakan perumahan terbesar. Tentu saja hal itu menjadikan rumah itu mencolok dibandingkan rumah warga lainnya.

__ADS_1


"Tuan, kami ke sini hanya ingin membantu. Kami dengar cucu dari tuan rumah disini sedang dilanda penyakit misterius."


" Tuan, saya sudah sangat mengerti cara-cara seperti ini. Ini hanya alasan untuk mencari imbalan bukan? Sudah lah tuan sebaiknya kalian pergi saja."


" Anda yang tidak mengerti. Bagaimana kalau ku katakan bahwa aku benar-benar bisa mengobati cucu dari tuan Hasiahan.


" Sudahlah tuan. Sebaiknya kalian pergi saja."


Hasiahan yang terganggu akibat suara perdebatan antara Hasea dengan penjaga keamanannya itu akhirnya keluar dari rumah. Dia ingin tau apa yang sedang terjadi.


"Tuan Hasiahan. Mohon maaf bila waktu istirahat Anda terganggu, tetapi orang ini sesumbar bisa menyembuhkan putri Arinauli."


Hasiahan memperhatikan ke empat tamu yang dia tidak pernah undang itu. Tidak banyak pertimbangan. Alasan untuk menyembuhkan cucu kesayangannya itu, membuat hatinya tidak ragu mempersilahkan rombongan Hasea untuk masuk.


Hasea memang memiliki berbagai sumber daya obat yang mujarab. Tetapi obat-obat itu hanya untuk menyembuhkan luka fisik atau untuk memulihkan tenaga dalam. Untuk kasus penyakit yang dialami Arinauli, cucu Hasiahan itu tentu obat-obat itu tidak berguna.


***


" Ini Arinauli, cucu ku satu-satunya. Sudah 4 tahun ini dia hanya terbaring tidak sadarkan diri. Sudah ratusan tabib pula yang mencoba mengobatinya, tetapi tidak satupun diantara mereka berhasil."


Hasiahan menatap Arinauli untuk waktu yang lama. Dia hanya terdiam. Setiap kali memandang wajah cucunya itu, mata Hasiahan selalu saja berkaca-kaca. Tampak benar kesedihan yang mendalam pada setiap pandangan matanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ampun suhu, nanti malam di Up lagi 1 Chapter ya.

__ADS_1


__ADS_2