
" Gea , Ternyata sesepuh Iben ada kaitannya dengan kerajaan". Hasea berucap dalam hatinya. " Setelah beberapa waktu , akhirnya aku bisa sedikit tau tentang sesepuh Iben.".
" Kalau kau sungguh ingin sekali tau siapa mereka, kenapa tidak kau tanyakan langsung kepada para orang tua itu?" . Ucap Gea sekenanya.
" Kau ini asal bicara saja , bagaimana caraku agar bisa berhubungan lagi dengan mereka? selama beberapa kali ini, pertemuanku dengan mereka selalu saja tak terduga dan tak terencana ". Ucapan Hasea itu membuat Gea berhenti sejenak untuk bicara.
" Mungkin kau perlu mencari cara untuk dapat bertemu dengan mereka. Tapi setidaknya sekarang kau tau salah satu dari mereka berkaitan dengan istana. Kau bisa mulai mencari dari sana". Ucapan Gea sebelum suaranya menghilang.
" Baiklah. Akan kupikirkan itu nanti. Sekarang, aku perlu memikirkan cara untuk keluar dari Istana ini . 2 hari aku disini, rasa-rasanya informasi yang kudapat sudah lebih dari cukup". Gumam Hasea didalam hatinya.
" Wah kebetulan sekali. Apa yang dilakukan pedagang serakah itu disini?" . Gumam Hasea saat melihat pedangang yang tempo lalu memasukkannya ke Istana sedang berjalan bersama anak buahnya. Tampak mereka membawa banyak barang dalam 3 kereta yang mereka dorong.
" Tuan.. salam hormat untuk anda". Salam Hasea kepada pedagang paruh baya tersebut. Tentu Hasea telah berganti pakaian dengan pakaian yang pertama kali dipakainya memasuki istana bersama rombongan Pedagang itu sehingga pedagang itu tidak curiga.
" Oh Kau.. bagaimana pertemuan mu dengan bibirmu?" Ucap Pria paruh baya tersebut cuek sambil tetap memperhatikan anak buahnya membongkar barang bawaan mereka ke gudang penyimpanan.
" Berkat anda , saya dapat menemui bibi saya dan melepas rindu.Terima kasih tuan". Ucap Hasea seramah mungkin.
" Baiklah.. baiklah.. kau pergilah , kami sedang berkerja". Pedagang itu merasa sedikit terganggu.
" Tuan, Bagaimana kalau anda membantu saya sekali lagi untuk keluar dari tempat ini?". Tanya Hasea penuh harap.
" Wah.. kau sungguh anak muda yang memiliki banyak uang rupanya". Ucap Pria paruh baya tersebut. Dia teringat saat Hasea memberinya beberapa keping Emas. Tentu kali ini dia juga mengharapkan imbalan apabila harus benar-benar membatu Hasea .
" He..eh.. begitu lah, bagaimana tuan? Apakah anda bersedia?". Hasea berbohong. Bahkan dia tidak memiliki sekeping perak sekalipun saat ini.
" Hm...kalau kau mau melipat gandakan imbalannya, aku akan memikirkannya". Ucap Pria paruh baya tersebut. Sifat serakahnya muncul seketika.
__ADS_1
" Baiklah Tuan. Anda akan mendapatkannya setelah anda membawa saya keluar dari sini". Hasea terpaksa bohong, dia tidak punya pilihan lain. Yang terpenting saat ini baginya adalah segera keluar dari istana dan menyampaikan informasi ini secepatnya ke sekte nya.Perkara imbalan, akan dia pikirkan nanti
***
"Terima kasih Tuan" ucap Hasea setelah mereka berada di luar istana. " Baik lah, tapi ucapan terima kasih saja tidak cukup bukan?" . Pedagang itu menagih imbalannya.
" Begini tuan, saat ini saya tidak memegang sekeping emas pun". Hasea terdiam kemudian tampak sedang berfikir. " Begini saja, anda pegang lah dulu liontin ini. Saya yakin nilainya lebih dari cukup untuk mengganti imbalan yang saya janjikan". Ucap Hasea sambil memberikan Liontin peninggalan ibunya kepada Pedangan paruh baya itu. Dia bermaksud akan menebus liontin itu setelah mendapatkan beberapa keping emas.
Pedagang itu menerima liontin tersebut lalu mengamat-amatinya. " Ini....apa yang??" . Seketika pedagang itu terdiam . Pedangan itu seperti mengenal simbol yang ada pada liontin . Dia menatap Hasea , dia sedang berfikir keras. "Apa sebenarnya yang direncanakan anak muda ini?" . Pikir pedagang itu. " Apakah dia sedang menjebak ku? ". Pedagang paruh baya itu mulai menerka-nerka . "Dari lambang yang ada pada liontin ini jelas- jelas dia adalah salah satu dari keluarga kerajaan. Hanya pihak kerajaan yang memiliki benda semcam ini". Gumamnya dalam hati.
Pedangang itu menatap Hasea ragu. " Ini pasti jebakan". Pikirnya
" Ah.. sudahkah Tuan Muda..tidak perlu seperti ini, maaf saya tidak mengenali anda sebelumnya". Pedangan itu menolak liontin yang diberikan Hasea. Sebenarnya dia masih ragu. Tetapi dia tidak mau mengambil resiko. "Bisa saja aku sedang diuji, kalau aku terjebak, berakhir sudah hubunganku dengan kerajaan". Gumamnya dalam hati.
Hasea kebingungan. Dia tidak mengerti perubahan sikap Pedagang tamak itu. Hasea menggaruk kepala nya yang tidak gatal. " Tapi..ah sudahlah. Masih ada urusan yang lebih penting ". Gumam Hasea dalam hati. " Kalau begitu terima kasih tuan. Saya undur diri". Hasea d meninggalkan pedagang dan rombongannya .
***
" Sigam, bukankan kau merasakan ada yang aneh?" . Ucap Lambao pelan sambil tetap memperhatikan sekitar. " Kau juga memperhatikannya Lambao, kenapa tiba- tiba semua pedagang disini terasa berbeda dengan yang kita temui 1 hari yang lalu?". Sigam berkata setengah berbisik.
" Ya..ada sesuatu yang tidak beres, kita harus waspada".
Lambao dan Sigam tiba di titik petemuan dengan regu delik sandi yang lain. Kones dan Pelong sudah ada disana. Hanya Hasea yang belum tiba.
" Bagaimana? Apakah kalian mendapat informasi penting?" . Tanya Kones kepada Lambao dan Sigam. " Ada hal yang aneh di pasar, tiba-tiba semua pedagang sepertinya bertukar" Jawab Lambao.
"Maksud mu?" tanya Pelong bingung .
__ADS_1
" Mereka bukanlah orang-orang yang kami temui saat pertama kali tiba di Pasar ini". Ucap Sigam menjelaskan.
" Jadi seperti itu, ini menjadi masuk akal. Kami mendapat informasi kalau anggota Aliansi Putih sudah memadati kota ini, mungkin saja mereka menyamar menjadi pedagang di Pasar". Ucap Kones penuh keyakinan.
" Lalu apa selanjutnya? Apakah kalian sudah mendapatkan informasi mengenai jalur alternatif keluar masuk tempat ini?" . Tanya Lambao kepada Kones dan Pelong.
" Ada 2 jalur alternatif menuju kota ini. Jalur itu biasanya digunakan oleh para penyelundup. Hanya saja". Kones menghentikan sejenak ucapannya.
" Rasa-rasanya, kita harus bertarung habis-habisan lebih dahulu untuk membersihkan jalur itu. Karena jalur itu dijaga dan dikuasai oleh pendekar dari aliran Hitam ".
" Jadi seperti itu ya?". Lambao tampak berfikir. " Kita tidak akan tau sebelum mencoba".
Lambao, Kones , Pelong dan Sigam akhirnya berjalan menuju jalur alternatif yang dimaksud oleh Kones. Mereka dapat melihat ada beberapa pendekar disana. Jalur itu adalah jalur tidak resmi menuju kota Ronggur. Biasanya Jalur itu digunakan oleh penjahat atau anggota sekte Aliran hitam untuk memasuki kota.
" Ini sungguh aneh, bagaimana mungkin di kota pusat kerajaan begini ada jalur keluar masuk yang justru dikuasai oleh para pendekar aliran hitam". Sigam berkata sambil mengamati dan memperkirakan kekuatan para penjaga jalur alternatif itu.
" Aku yakin pihak Istana bukan tidak mengetahui jalur ini. Kalau dugaan ku tidak salah, justru sepertinya ada pihak istana yang melindungi mereka". Ucap Kones pelan.
" Apapun itu, kita harus membereskan mereka terlebih dahulu agar Anggota sekte kita memiliki akses masuk tanpa ketahuan".
" Sebaiknya kalian berhati-hati". Ucap Pelong memperingatkan rekan-rekannya.
Pendekar yang akan mereka hadapi memang hanya 7 orang. Hanya saja 5 diantara orang-orang itu sudah berada pada tingkatan pendekar Unik level 1 dan 2 orang lagi setidaknya setara pendekar tingkat dasar level 5.
***
Teman2 semua, tahukah kalian bahwa dengan menekan like, meninggalkan komentar di kolom komentar, memberikan rating bintang 5 dan apalagi kalau sampai memberi vote itu berarti kalian turut serta memberikan Asupan energi dan semangat baru utk Author agar lebih lagi dalam berkarya..
__ADS_1
Kalian luar biasa..