
" Apakah hanya itu yang kau inginkan?" Ided yang tiba-tiba muncul di hadapan Hasea sedikit mengagetkannya. "Sebenarnya ada lagi wahai para sesepuh. Saya telah berhasil menguasai jurus naga terbang menggulung lautan, tetapi saya belum bisa menuju tahap selanjutnya." Hasea tertunduk.
" Tentu saja kau tidak bisa, tubuh lemah mu itu bukan lah tubuh pusaka. Hanya manusia dengan tubuh pusaka yang bisa mempelajari jurus Naga Halilintar Membelah Langit." Sesepuh Ijeb yang tiba-tiba berucap lantang membuat Hasea tersudut." Tetapi sesepuh, saya telah mendapatkan benda pusaka dewa sebagai ganti nya." Hasea memberanikan diri. Bagaimana pun dia sudah sejauh ini, untuk berhenti sudah sangat kepalang tanggung.
" Begitu ya..lalu apa masalahnya." Sesepuh Iben menatap Hasea sambil tangannya mengelus dagunya sendiri. " Masalahnya kipas merak putih itu begitu pemilih sesepuh."
" Kipas merak putih? Ya...ya...kau bodoh, dari beberapa benda pusaka dewa yang ada kenapa kau harus memilih kipas merak putih?" Sesepuh Ibah menimpali. "Kipas itu memang terkenal sangat sulit di taklukkan."
" Tapi itu bukan hal yang mustahil." Tiba-tiba sesepuh Ijeb membuka suara. " Si pemuda penghianat itu berhasil menaklukan kipas pusaka itu."
" Siapa pemuda yang kau maksud Ijeb? Apa kau mengenal seseorang yang berhasil menaklukkan kipas itu?" Irarip penasaran.
"Pemuda itu, pemuda yang dulu begitu ku percaya sebagai sahabat sesama penjaga naga. Pemuda yang akhirnya merenggut nyawa ku." Tampak raut kemarahan dari mimik wajah Ijeb.
"Tapi Pemuda itu pula yang mengakhiri ketamakan mu Ijeb, kalau bukan karena dia mungkin dunia telah kau hancurkan dengan kekejian mu." Sesepuh Iben yang sedari tadi hanya terdiam akhirnya bersuara. " Aku masih baik-baik saja, aku juga tidak bermaksud menghancurkan dunia. Aku hanya ingin dunia lebih baik, kalau tidak begitu bagai mana cara ku menekan kebangkitan kekuatan naga neraka?" Sesepuh Ijeb bersuara lantang. Hasea sampai mundur beberapa langkah. Dia sama sekali tidak faham apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
" Sudahlah, hal itu juga sudah berlalu ratusan tahun yang lalu. Bagai mana mungkin kau masih menaruh dendam pada sesuatu yang telah lama berlalu." Sesepuh Igor menengahi perdebatan sesepuh Ijeb dengan sesepuh Iben.
Hasea yang sedari tadi hanya bisa terdiam memberanikan diri untuk bertanya. Bagaimana pun dia telah terlibat dengan semua ini, Hasea ingin mengetahui lebih banyak. Sesepuh Iben akhirnya menceritakan semuanya kepada Hasea.
Sesepuh Ijeb semasa hidupnya telah berhasil menguasai kitab naga biru. Dia juga menjadi raja yang paling berkuasa di seantero dunia persilatan. Kekuatan dan kesaktian yang sangat besar menimbulkan ketamakan pada dirinya. Semua kerajaan dan pendekar sakti dari berbagai sekte baik sekte aliran putih maupun hitam dibantainya hingga tak bersisa. Tindakan-tindakan tidak manusiawi menyelimutinya. Ratusan ribu orang yang tidak berdosa dia bunuh tanpa alasan hanya untuk memenuhi hasrat bertarungnya.
"Dari semua pendekar sakti hanya tersisa satu saja yang dia tidak bunuh." Sesepuh Iben berkata pelan namun dapat di dengar oleh semua yang berada di tempat itu. Sementara sesepuh Ijeb memilih menjauh. Dia tidak kuasa menahan sedih dan rasa bersalah atas tindakannya terdahulu.
" Maksud sesepuh, apakah ada yang lebih sakti dari sesepuh Ijeb pada saat itu?" Hasea memberanikan diri bertanya. " Bisa dikatakan kemampuan mereka seimbang, hanya saja pemuda ini masih lebih waras pikirannya dibandingkan Ijeb." Sesepuh Iben menekankan kalimatnya sambil melirik Sesepuh Ijeb. Dia sengaja menyindir orang itu. " Ketahuilah , walau kita memang terhubung, tetapi kami sama sekali tidak bisa mengetahui apa yang terjadi di dunia tempat mu berasal. Hal ini juga kami ketahui dari penuturan Ijeb." Sesepuh Iben menambahkan.
Berdasarkan penuturan sesepuh Ijeb, bahwa dia sudah berhasil menaklukkan dunia persilatan. Hanya tersisa 1 pendekar lagi yang mungkin menjadi pesaingnya saat itu dan orang itu adalah sahabatnya sendiri. Pendekar sesama penjaga para naga. Pada tubuh pemuda itu juga bersemayam roh naga. Hanya saja, berbeda dengan roh naga yang dijaga oleh Hasea dan para leluhurnya yang merupakan naga air, pemuda ini memiliki roh naga api di tubuhnya.
" Roh naga apa? Jangan-jangan? " Benak Hasea. Hasea kembali teringat roh naga api yang dulu sempat bersemayam di tubuhnya. Gea.
" Apakah mungkin itu roh Gea?" Tanpa sadar mulut Hasea mengeluarkan suara. " Gea..dari mana kau tau nama itu?" Sesepuh Ijeb yang tadi menjauh kembali mendekati Hasea. Hampir saja wajahnya menempel pada wajah Hasea sampai Hasea melangkah mundur dibuatnya.
__ADS_1
" Mengenai hal itu.." Hasea terbata-bata." Kalau saja Isumbaon tidak mengkhianatiku, naga Gea akan bisa ku kuasai begitu juga naga Gumoang." Sahut Sesepuh Ijeb.
" Senior Isumbaon? Apakah pemuda yang sesepuh maksudkan adalah senior Isumbaon?" Hasea terbelalak. Dia semakin bingung, entah apa hubungan isumbaon dan Gea dengan semua ini.
" Jangan katakan kau juga mengenal pengkhianat itu." Mata sesepuh Ijeb tampak melotot kebencian terpancar dari wajahnya. " Senior Isumbaon yang membimbingku selama ini untuk menjalin hubungan dengan kipas merak putih. Beliau juga sangat baik kepadaku."
" Jangan..kau jangan percaya kepadanya". Sesepuh Ijeb mencengkram bahu Hasea. " Tenanglah Ijeb. Kau membuat semua ini semakin rumit." Sesepuh Iben mengingatkan.
Hasea mencoba mencerna semua cerita yang didengarnya. Beberapa hal dapat dia pahami seperti bahwa pada detik terakhir hidupnya sesepuh Ijeb bertarung hidup dan mati dengan Isumbaon. Bahwa mereka sama-sama bertekad untuk melepaskan roh Naga yang ada pada diri mereka berdua agar pertarungan lebih adil, namun setelah bertarung puluhan jurus rupanya Isumbaon berkhianat. Isumbaon pada detik terakhir memanggil roh naga miliknya kemudian mereka membunuh Sesepuh Ijeb. Itulah kesimpulan cerita yang dia dengar. Tetapi Hasea tentu saja tidak bisa percaya begitu saja. Mengingat perlakuan baik yang dia terima dari Isumbaon, dia ingin mendengar penuturan dan penjelasan dari pihak isumbaon sendiri sehingga penggalan-penggalan cerita itu bisa dia terima secara utuh.
"Maafkan saya sesepuh. Tetapi tujuan awal saya datang kemari adalah untuk memohon bantuan membuka 1 lagi pintu toddi saya. Selain itu saya mohon petunjuk untuk mempelajari Jurus Naga Halilintar pembelah langit." Hasea mengungkapkan isi hatinya. Dia ingin segera kembali . Dia menyimpan banyak hal untuk ditanyakan kepada Isumbaon.
Sesepuh Ided mendekati Hasea. Dia kemudian dengan cepat menotok bagian perut Hasea. "Pintu toddi mu yang ke dua sudah ku buka. Pelajarilah lebih dalam ilmu kitab naga biru, perkuat lah fisikmu maka kau bisa membuka pintu toddi mu yang selanjutnya." Sesepuh Ided menambahkan.
" Kemudian mengenai Jurus Naga Halilintar Pembelah Langit, untuk sekarang hal yang bisa kau lakukan adalah menaklukkan kipas merak putih. Inti dari menjalin hubungan dengan benda pusaka dewa manapun adalah dengan menghilangkan motivasi untuk menginginkannya." Sesepuh Ibah menyampaikan petuahnya.
__ADS_1
"Baiklah senior, saya mohon undur diri. Terima kasih atas bantuan kalian, mungkin dalam waktu dekat, saya tidak akan berkunjung. Sesepuh Ijeb..perlu anda ketahui bahwa senior Isumbaon adalah orang yang benar-benar baik." Roh Hasea menghilang tepat setelah kalimat terakhirnya.