PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 26. Tidak Untuk Dimengerti


__ADS_3

Hasea dan semua rekannya telah kembali ke perkemahan. Kabar tentang Hasea yang meningkatkan kemampuannya dengan pesat segera menyebar di seluruh perkemahan. Oleh sebab itu dia mendapat lebah banyak rasa hormat dari rekan-rekannya. Namun hal itu tidak menjadikan dirinya jumawa.


" Hai bocah..ternyata kau tidak selemah yang ku pikirkan" . Suara Gea muncul di kepala Hasea. " Gea..lama tidak bertemu, apa kau merindukanku?". Hasea menggoda Gea.


" Cuih.. kau baru sedikit ku puji tapi percaya dirimu langsung melambung tinggi begitu" . Gea merasa gengsi mengakui dirinya merindukan berbincang dengan Hasea.


" Kau tau, tenaga dalam ku bertambah pesat. Apakah itu berarti kau akhirnya bisa meninggalkan tubuh ku?" Hasea bertanya karena penasaran. " Apa?.. hahaha.. jangan terlalu berharap. Tenaga dalam yang kau miliki bahkan masih jauh dari kata cukup untuk ku bisa meninggalkan tubuhmu". Ucap Gea mengejek. " Jangan kira aku senang bersemayam di tubuhmu ini, aku juga ingin cepat-cepat pergi dari sini". Yang di katakan Gea benar. Tenaga dalam yang dimiliki Hasea saat ini sama sekali belum bisa mendorong rohnya keluar dari tubuh Hasea. Walaupun juga Gea tidak bermaksud meninggalkan tubuh itu. Karna apabila itu dia lakukan, itu artinya rohnya akan kembali ke batu Porhis.


" Tapi setidaknya dengan pintu toddi mu yang sudah terbuka dan tenaga dalam yang kau miliki di dalam tubuhmu kini kau bisa menggunakan sedikit dari tenaga dalam yang ku bagikan untuk mu untuk menyerang musuh". Ucap Gea dengan bangga.


" Gea, bukankah kau mengatakan kalau umurmu sudah ratusan tahun? Tentu dengan umur selama itu pengalaman dan pengetahuan mu lebih dari cukup" Ucap Hasea sedikit menyelidiki.


" Tentu saja, apa kau meragukan pengetahun dan pengalaman ku?" . Sifat sombong Gea kembali muncul. " Tanyakan apa saja, dengan senang hati aku akan menjawabnya" .


" Kalau begitu seharusnya kau mengetahui siapa para sesepuh itu dan apa sebenarnya hubungan ku dengan mereka". Tanya Hasea berharap kali ini Gea bisa menjawab pertanyaannya.


"Hehe..mengenai hal itu, kau tau walau aku sudah berumur ratusan tahun tapi aku tidak hidup di dunia mu selama itu" . Gea berucap malu-malu.


" Ah.. ternyata kau sama saja. Pengalaman dan pengetahuanmu tidak sejalan dengan Umurmu. Sudahlah, aku mau menemui putri Senni. 3 hari tak melihatnya membuatku merindukan senyuman itu. Kau janganlah mengikutiku. Ini hal yang pribadi" ucapan Hasea itu membuat Gea geram.


"Kau...dasar manusia" suara Gea menghilang dari kepala Hasea.


***


Hasea berjalan di depan tenda Putri Senni. Dia tidak berniat menemui putri Senni secara langsung. Dia berharap putri Senni tidak sengaja melihatnya dan memanggilnya seperti beberapa hari yang lalu.


" Hase..." Suara Putri Senni dari kejauhan membuat Hasea tersenyum. Rencananya berhasil. " Kemana saja kau beberapa hari ini? Apa kau tidak merindukanku?" Goda putri Senni. " Hampir saja aku mati kesepian. Untung ada Altong yang sesekali menemaniku berbincang".


Senyuman di bibir Hasea seketika menghilang . Entah kenapa kalimat terakhir yang diucapkan Putri Senni membuat hatinya gusar.


" Saya baru menyelesaikan meditasi Tuan Putri. Maaf bila baru saat ini bisa mengunjungi anda". Ucap Hasea sedikit lemas.

__ADS_1


" Hei ada apa? Apakah meditasi memang membuat seseorang menjadi pemurung? Kalau memang seperti itu sebaiknya kau tidak usah bermeditasi lagi" . Ucap putri Senni polos. " Sudahlah, ayo masuk dulu , aku baru selesai memasak. Kelihatannya kau juga kelaparan". Ucap Putri Senni sambil tersenyum. Lagi-lagi senyuman itu meluluhkan hati Hasea.


Akhirnya Hasea menuruti ajakan putri Senni.


Hasea melahap hampir semua makanan yang tersedia di meja. 3 hari meditasi membuatnya sangat kelaparan. Putri Senni sampai terbengong melihat Hasea makan dengan rakusnya. " Wah.. tak ku sangka masakan ku ternyata begitu enak. Kau bahkan hampir memakan piring-piring itu..hehehe". Ucapan Putri Senni membuat Hasea sedikit malu. Masakan putri Senni memang sangatlah enak, tapi dengan rasa laparnya yang besar saat ini rasa-rasanya daging mentah pun akan dilahap oleh Hasea.


"Kau sering lah datang kemari, sepertinya kau pengemar masakan ku, aku akan memasak untukmu setiap hari". Ucap putri Senni sembari tersenyum hangat kepada Hasea .


" Tuan putri, mengenai hal itu..sepertinya hari ini bisa jadi pertemuan kita yang terakhir". Hasea menghentikan kegiatan makannya. " Besok saya akan pergi untuk menjalankan misi. Anda juga akan dibebaskan dalam waktu beberapa hari lagi".


" Jadi seperti itu ya?" . Ucap putri Senni sedikit sedih. " Berarti malam ini adalah kesempatan terakhir kita bisa bertemu"


" Apakah anda pernah memandangi bintang di langit selama berada di perkemahan ini? Ketahuilah, Bintang terlihat sangat dekat dari perkemahan ini" . Ucap Hasea dengan undangan terselubung. Dia tidak berani secara langsung mengajak putri Senni keluar malam ini . Dia takut ajakannya di tolak oleh Putri Senni.


" Benarkah? Rasa-rasanya aku melewatkan hal itu selama di tempat ini". Ucap putri Senni berbohong. Sebenarnya beberapa kali Ketua Altong menemaninya menatapi bintang selama dia diperkemahan itu.


" Kalau begitu Baiklah, anda cukup beruntung karena malam ini saya tidak ada kegiatan". Hasea tampak bersemangat. Dia hanya berharap semoga malam ini tidak hujan.


***


"Jadi seperti itu , kau akan menemuinya lagi malam ini?" Suara Gea di kepala Hasea. " Diamlah Gea. Kau tidak mengerti hal- hal seperti ini" ucap Hasea sedikit kesal karena Gea menggangu persiapannya .


" Setidaknya aku mengerti kau jadi bertingkah konyol karena ini. Kau bahkan sudah 3 kali berhenti pakaian.Hahaha.." .Gea menertawakan Hasea .


" Sudahlah, ini urusan manusia . Mahluk tak berperasaan sepertimu tidak akan pernah mengerti" . Ucap Hasea membuat Gea kesal." Sudah ya , aku mau berangkat. Kau jangan mengikutiku . Ini urusan para manusia".


" Kau.." Hasea berhasil memancing amarah Gea. Namun tentu saja akhirnya dia menghilang untuk sejenak.


Hasea mengajak putri Senni ke tempat tertinggi di kawasan perkemahan itu. Mereka berada di bukit dengan hamparan rumput. Ada sebatang pohon besar dengan dedaunan yang sangat rimbun di tengah-tengah perbukitan itu.


Setibanya di puncak bukit itu, Hasea mengajak putri Senni untuk duduk. " Dari sini , bintang akan kelihatan sangat jelas. Ini tempat terbaik untuk menatap bintang. Kupastikan tuan putri terkagum-kagum". Ucapan Hasea hanya membuat putri Senni tersenyum . Dia tidak benar-benar ingin memandangi bintang .Lagipula tempat ini sudah pernah didatanginya bersama Ketua Altong. Dari tempat ini juga dia pernah menatap bintang bersama ketua muda berperawakan tampan tersebut.

__ADS_1


Putri Senni malah menatap Hasea sambil tersenyum . " Ternyata kau tampan juga. Jangan bilang kau sengaja berdandan untukku" . Goda putri Senni. Hal tersebut kontan membuat Hasea malu. Wajahnya bahkan memerah.


" Hei..jangan bilang kau memang berdandan. Aku tak tau kalau seorang pendekar bisa seperti itu". Ucap Putri Senni sambil memicingkan matanya. Hasea semakin salah tingkah dibuatnya.


Entah berapa lama kedua orang itu menikmati malam berselimutkan bintang, tiba-tiba Rintik hujan menetes. Tidak terlalu deras namun rintikan hujan itu cukup untuk membuat mereka kebasahan. " Ayo tuan putri. Kita berteduh dibawah pohon itu". Hasea menarik tangan Putri Senni.


Kedua anak muda itu duduk dibawah pohon. Daun pohon yang rindang cukup melindungi mereka dari air hujan, namun udara dingin tetap menusuk tulang mereka.


Putri Senni merapatkan duduknya kepada Hasea . Tiba- tiba putri Senni merangkul pergelangan tangan kiri Hasea. Jantung Hasea berdegup tidak karuan . Nafasnya bahkan seolah berhenti. Udara dingin yang tadi menusuk tulangnya kini berganti kehangatan akibat dari rangkulan putri Senni.


" Jadi besok kita akan benar-benar berpisah kan?" Ucapan Putri Senni mengembalikan kesadaran Hasea. " Apa kau akan merindukan ku Tuan Putri?" Ucap Hasea dengan suara yang sangat berat .Dia memberanikan diri untuk bertanya. Hanya senyuman yang didapatkan Hasea sebagai jawaban atas pertanyaannya.


Hasea sejenak berfikir. Dia tidak mengerti apa sebenarnya yang dia rasakan sekarang.Tanpa sengaja, Hasea menoleh ke pergelangan tangannya. Dia melihat gelang terpasang di sana.Gelang pemberian Mentari. Tiba-tiba dia merindukan wanita itu. Hal tersebut membuat hatinya semakin kacau.


Putri Senni tidak berhenti menatap wajah Hasea. Hasea membalas tatapan itu. Putri Senni mendekatkan wajahnya ke wajah Hasea. Putri Senni mengecup bibir Hasea. Kecupan singkat yang hampir membuat Hasea mati karena terkejut. Darahnya seolah mendidih. Dia seolah terbius.


" Hujannya sudah reda, ayo kita pulang". Ucap putri Senni sembari tersenyum kepada Hasea. Dia hanya menurut saja saat putri Senni bangkit berdiri.


Sepanjang perjalanan menuju Perkemahan, mereka hanya terdiam. Tangan mereka saling bergandengan seolah tak ingin terlepas. Hasea mengantarkan Putri Senni Sampai ke tenda nya. Senyuman hangat dari putri Senni seperti biasa menjadi penutup perjumpaan mereka malam itu.


" Pulanglah" ucap putri Senni melepas kepergian Hasea. " Jangan lupakan kalimat saktinya". Putri Senni berteriak saat Hasea semakin jauh.


Hasea tiba di tenda tempat dia akan mengakhiri malam. Hasea tampak terbaring di tendanya. Kedua tangannya dia tekuk ke belakang kepalanya. Tangannya dia jadikan alas kepala. Matanya menatap kosong ke arah atap tenda. " Apakah itu tadi kecupan perpisahan? Apa arti dari semua ini?" Pikirnya.


***


-Bonus Chapter malam Minggu untuk para Jones-


Maaf ya teman2 semua, kalau lagi2 bucin-bucin muncul di alur cerita ini . Kedapan nggak lagi- lagi deh


Mohon dukungannya ya. Klik like nya oke..

__ADS_1


Kalian luar biasa lah pokok e...


__ADS_2