PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 57. Rahasia Sesepuh Ijeb


__ADS_3

Hari ini adalah hari ke sekian Hasea berada di bukit menangis. Sudah hampir 5 purnama dia di tempat itu. Tenaga dalam Hasea sudah pulih seutuhnya berkat bantuan ramuan obat dari Isumbaon. Tulang naga muda di tubuhnya juga sudah semakin kuat berkat mengkonsumsi 3 buah Ginseng naga merah.


Hasea berlatih jurus yang dia dapatkan dari Naga Hitam di salah satu bukit. Isumbaon juga ada disana untuk membantunya. Hasea melafalkan jurus dengan mengingat-ingat gerakan naga hitam dari pertarungan terakhir mereka. Untuk gerakan yang terlewatkan, Isumbaon mengingatkan Hasea dengan memperagakannya.


" Sekarang coba kau pergunakan kipas merak putih, tetapi ingat.. kau harus membangun hubungan yang tulus dulu dengan benda pusaka itu." Ucap Isumbaon kepada Hasea yang kemudian Hasea turuti begitu saja.


Hasea merentangkan kedua lengan nya. Lengan kanan Hasea memegang kipas yang telah terbuka. Lengan kanan dan kirinya dia ayunkan kedepan dan kebelakang. Gerakan itu begitu teratur. Persis seperti yang dia dapat pelajari dari gerakan naga hitam maupun dari pengajaran Isumbaon. Perlahan tercipta angin dari setiap gerakan kibasan kipas merak putih. Memang angin itu tidak lah besar, tetapi bagaimana pun itu adalah suatu kemajuan mengingat 5 purnama terakhir kipas merak putih bahkan tidak memberikan reaksi apa-apa.


" Bagus.. sepertinya kalian sudah mulai menjalin hubungan, bagaimana kalau kau coba salurkan tenaga dalam ke kipas itu?" Perintah Isumbaon. Hasea mulai berkonsentrasi. Tenaga dalam dia pusatkan ke lengan kanannya. Gambar naga Gumoang di lengan Hasea itu memancarkan cahaya biru.


Hasea kini berupaya memusatkan tenaga dalam itu ke kipas merak putih. Perlahan kipas itu diselimuti cahaya biru. " Sepertinya ini berhasil." Batin Hasea. Hasea semakin semangat, dia berupaya mengeluarkan tenaga dalam naga Gumoang yang sangat besar. Lebih besar dari tenaga dalam yang selama ini dia pernah tarik dari naga Gumoang. Hasea kemudian mengulangi gerakan jurus naga hitam, Hasea mengibaskan kipas merak putih secara teratur. Hasea yakin kali ini dia bisa menguasai kipas merak putih begitupun tenaga dalam naga Gumoang dalam tahapan selanjutnya.

__ADS_1


Setiap kali Hasea mengibaskan kipas merak putih tercipta angin yang semula kecil lalu kemudian membesar. Angin itu begitu tidak beraturan. Terucipta banyak angin tornado kecil di setiap kibasan kipas tetapi Hasea sama sekali tidak bisa mengendalikan angin itu.


" Ini terlalu berat, aku sama sekali tidak bisa mengarahkan angin ini."


Tornado yang tercipta lebih seperti badai topan. Seputaran lokasi latihan itu mulai luluh lantah. Tornado- tornado yang tercipta itu menghisap semua benda yang ada disekitarnya. Tornado bergerak tidak beraturan, setiap kali angin tornado itu membentur dinding tebing maka longsor dan hancurlah tebing itu.


Tubuh Hasea terasa sangat berat. Dia tidak lagi mampu menahan dan mengendalikan kipas itu. Kipas itu seoalah bergerak sendiri dan Hasea hanya mengikutinya. " Sialan.. kipas ini, kalau begini terus tempat ini bisa hancur."


***


Hasea duduk terdiam di tempat terakhir dia berpijak. Dia tampak berfikir. " Senior, apakah menurut anda saya tidak pantas?" Hasea berkata demikian bukan tanpa alasan. Kitab naga biru memang dia miliki, naga Gumoang juga memilihnya. Tetapi sampai dengan saat ini,Hasea hanya sampai pada jurus bab 1 dalam kitab itu. Hasea belum bisa melangkah ke bab selanjutnya karena tubuh Hasea tidak mampu menampung tenaga dalam naga Gumoang yang lebih besar lagi karena tubuhnya bukanlah tubuh pusaka sementara kipas merak putih yang seharusnya bisa dijadikan penyalur tenaga dalam itu juga belum bisa dia kuasai.

__ADS_1


" Saya rasa bukan seperti itu. Tubuh mu belum bisa menampung tenaga dalam yang lebih besar lagi itu sangat wajar karena pintu toddi mu sendiri baru terbuka satu." Hal itu memang benar, walau Hasea kini berkemampuan setara pendekar Ahli level 4 yang mana hal itu hanya mungkin diraih oleh para jenius bela diri seperti Altong maupun Putri Ageng Janti namun tetap saja pintu toddi yang baru terbuka 1 tidak dapat menampung lebih banyak lagi kekuatan tenaga dalam yang sangat besar dari naga Gumoang.


Isumbaon kemudian mengambil sesuatu dari bungkusan kain di dalam jubahnya. " Ini adalah sumber daya yang juga sangat langka. Seharusnya benda ini bisa membantu mu untuk membuka setidaknya 1 lagi pintu toddi mu." Isumbaon memberi sebuah pil kepada Hasea. " Tapi senior, ini sungguh tidak perlu.Saya sudah terlalu merepotkan Anda." Hasea menolak.


" Sudahlah, terima saja anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena kau telah mengambil peran, tugas dan tanggung jawab ku di dunia luar sana."


Hasea akhirnya menerima sumber daya itu. Dengan sikap meditasi, Hasea menelan pil itu. Seketika tubuh Hasea terasa tersengat. Roh Hasea seolah tercabut dari raganya. Hasea serasa berputar-putar. Pandangannya mulai mengabur sampai dia kembali bisa menguasai diri. Hasea mendapati dirinya berada di tempat para sesepuh.


***


" Ah..kau datang lagi, kali ini apa yang terjadi?" Sesepuh Igor yang pertama sekali menyapa Hasea. Ke tujuh Sesepuh itu sudah berada di hadapan Hasea seolah memang sudah menunggunya. " Mohon bantuan sesepuh semua, saya ingin membuka pintu toddi saya yang kedua.. hanya saja..." Hasea berhenti bicara.

__ADS_1


__ADS_2