
Kaisar Tossao berjalan di depan Hasea. Hasea sendiri hanya bisa mengikutinya tanpa berkata-kata sedikitpun. Namun Hasea tau jelas kemana mereka mengarah. " Kenapa Kaisar membawaku serta ke ruangan itu? Bukankah dia biasanya selalu sendirian ke sana?apa sebenarnya tujuan beliau?" Gumam Hasea. Mereka memang sedang menuju ruang yang biasa Kaisar datangi sendirian itu.
" Ini dulunya adalah ruang pribadi para leluhur ku." Ucap Kaisar pelan tanpa menatap Hasea saat mereka telah tiba di dalam ruangan. " Seharusnya ruangan ini hanya boleh dimasuki oleh orang- orang tertentu saja." Ucapan Kaisar itu membuat hati Hasea menjadi khawatir.
" Apakah kaisar tau bahwa aku beberapa kali datang ke tempat ini? Sepertinya ucapannya memiliki makna di baliknya." Hasea tampak gugup.
" Beberapa waktu yang lalu, ada orang lain yang datang ke tempat ini. Tapi aku menjadi tenang saat mengetahui bahwa takdirlah yang membawa orang itu ke sini." Ucap Kaisar sambil menatap Hasea dalam.
" Kau tentu sudah mengetahui pintu masuk menuju ruangan rahasia itu. " Kaisar Tossao mendekatkan wajahnya kepada Hasea. Ucapan Kaisar itu membuat Hasea mundur beberapa langkah. " Hamba tidak mengerti maksud anda yang mulia." Hasea mulai waspada.
" Tidak usah khawatir. Kau juga tidak perlu menyembunyikannya .Takdir yang menuntunmu ke tempat ini." Ucap Kaisar sambil tersenyum ramah. Kaisar Tossao kemudian mendekati tuas obor untuk membuka ruang rahasia itu. Suara seperti batu bergesekan terdengar setelah kaisar Tossao menarik tuas. Dinding yang menjadi pintu menuju ruang rahasia itu terbelah.
" Masuklah, bukankah kau sudah pernah masuk kesana sebelumnya?" Ucap Kaisar Tossao yang kembali tersenyum. Hasea tampak ragu. Tapi entah kenapa dia hanya menurut. Kalaupun terjadi sesuatu yang jelas Hasea tetap merasa aman, dia dapat merasakan bahwa Kaisar Tossao tidak akan bisa melukainya disana. Orang dihadapannya ini jelas tidak memiliki ilmu bela diri yang cukup untuk melukainya. Aura tenaga dalam juga tidak terpancar dari kaisar itu.
__ADS_1
" Selamat datang pangeran." Seorang pria berbadan tegap lengkap dengan baju zirah memberi hormat kepada Hasea. Hasea terkejut dibuatnya. Dia tidak menyangka ada orang lain di dalam ruangan itu. Tapi yang membuatnya semakin Bingung adalah orang itu manyapanya dengan sebutan Pangeran.
Hasea hanya dapat terdiam. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.
" Anda benar Kaisar, matanya sungguh mirip dengan mata yang dimiliki Tuan putri Larasati." Ucap panglima Suhad sambil memandangi wajah Hasea.
" Apa? Bibi Larasati? Mereka mengenal bibi?" Gumam Hasea dalam hati. Ucapan panglima Suhad itu semakin membuat dia kebingungan. Tapi dia hanya bisa terdiam ditempatnya mencoba mencerna hal-hal yang sedang terjadi.
" Liontin itu, bagaimana anda bisa memiliki liontin saya yang mulia? " Ucap Hasea. Tapi kemudian dia merogoh kedalam pakaiannya , mendapati liontinnya itu masih ada disana membuat Hasea semakin bingung .
" Liontin yang kau pegang adalah liontin yang ku berikan kepada Larasati,ibumu." Ucap Kaisar Tossao . Matanya tampak berkaca-kaca. Seperti ada kesedihan mendalam pada tatapan Kaisar Tossao.
Mendengar ucapan Kaisar itu , entah kenapa Hasea menjadi murka.
__ADS_1
" Ibu? Dia adalah bibi ku, dan kau telah memerintahkan prajuritmu untuk membunuhnya. Kau bahkan tega membantai seluruh keluarganya. Satu-satunya keluarga yang kumiliki."
" Kau membuat nenek ku dan aku menderita untuk waktu yang cukup lama." Hasea berteriak lantang. Lengan kanannya terasa hangat. Lengan itu memancarkan cahaya biru.Mata Hasea memancarkan dendam. Kebingungan yang dia alami saat ini membuat pikirannya semakin kalut.
" Aura ini? Bagaimana mungkin anak semuda ini bisa memancarkan kekuatan yang sangat besar." Gumam Panglima Suhad. Panglima berkemampuan setara pendekar Langka Level 1 itu menjadi waspada. " Yang mulia, anda sebaiknya mundur. Anak ini sangat berbahaya." Ucap Panglima Suhad. Dia berdiri berhadap-hadapan dengan Hasea, Kaisar ada dibelakang Panglima tersebut.
"Larasati...begitu besarkah rasa bencimu kepadaku sampai anak darah daging ku pun kau tidak inginkan?" Ucap Kaisar Tossao . Matanya nanar, pandangannya kosong. Ada penyesalan besar dihatinya. Saat Hasea berkata bahwa Larasati adalah bibi nya, Kaisar akhirnya mengerti bahwa Hasea selama ini tidak mengetahui siapa ibunya.
"Pangeran , sabarlah.. anda jangan gegabah. Sebaiknya anda dengar dulu penjelasan kami." Belum sempat Panglima Suhad menyelesaikan kalimatnya Hasea telah melesat ke arahnya. Seketika kedua orang itu bertukar beberapa jurus. Gerakan Hasea sangat acak , namun setiap pukulannya mengandung tenaga dalam yang sangat besar. Panglima Suhad sungguh kewalahan dibuatnya. Kalau saja panglima itu bukan orang yang sudah lama berkecimpung di dunia persilatan, mungkin dia sudah tewas sekarang. Tidak salah apabila dikatakan pengalaman bertarung yang cukup lah yang membuat panglima Suhad bisa bertahan dari serangan Hasea. Namun demikian tubuhnya tetap saja dilukai cukup banyak oleh Hasea.
***
Teman2 support Author dengan Klik like ya.
__ADS_1