
"Para pendekar itu jumlahnya lebih banyak dari kita sementara Hasea belum juga tiba. Kalau kita paksakan menyerang sekarang kemungkinan besar kita akan kalah". Ucap Lambao penuh pertimbangan. " Kau benar, tapi waktu kita semakin sempit. Semakin kita mengulur waktu, semakin kecil kesempatan kita menyusupkan anggota sekte yang lain dari jalur ini". Ucap Pelong.
" Begini saja, Aku dan Pelong akan berjaga dari atas bangunan itu". Sigam menunjuk salah satu gedung yang tinggi." Kalian seranglah mereka, Aku dan Pelong akan melumpuhkan beberapa dari mereka dengan panah ". Sigam menyampaikan idenya dan hal itu disepakati rekan yang lainnya.
Sigam dan Pelong melompat ke atas bangunan yang paling tinggi diantara yang lainnya. Mereka bergerak sesenyap mungkin agar para pendekar penjaga jalur alternatif itu tidak menyadari kehadiran mereka. Sementara Lambao dan Kones tanpa basa basi langsung menyerang ke 7 pendekar itu.
" Kalian bersiaplah. Sepertinya ada tamu tak diundang mencoba menyerang kita". Salah satu pendekar sekte Aliran hitam itu menyadari serangan Lambao dan Kones.
" Jurus Pukulan Lebah". Lambao mengincar salah satu Pendekar Unik level 1 itu namun pukulannya dengan mudah ditangkis oleh pendekar tersebut .
" Kalian cari mati ya?. Apapun yang kalian inginkan , nampaknya kalian tak akan mendapatkannya hari ini. Apa kalian pikir bahwa kalian berdua bisa menghadapi kami bertujuh? Kalian kesini hanya mengantar nyawa". Ucap salah satu pendekar itu penuh keyakinan. Ke 7 pendekar itu menyerang Lambao dan Kones. Mereka bertukar beberapa Jurus. Ketimpangan jelas terlihat dalam pertarungan itu. Lambao dan Kones tersudut. Namun hal tersebut membuat Ke 7 pendekar itu tidak menyadari keberadaan Pelong dan Sigam.Mereka hanya berfokus pada Lambao dan Kones.
" Kita serang salah satu pendekar Unik itu". Sigam memberi aba-aba. Mereka bermaksud melumpuhkan salah satu dari pendekar yang paling tinggi kemampuannya . Sigam melesatkan anak panahnya disertai dengan tenaga dalam. Selang beberapa detik, Pelong melakukan hal yang sama.
__ADS_1
" Sialan, ada pemanah . Berhati-hati lah ". Ucap pendekar itu menyadari lesatan anak panah yang dilepaskan Sigam. Pendekar itu membalikkan badan dan menepis anak panah Sigam dengan pedangnya. Anak panah Sigam dapat dihalaunya. Namun tidak demikian dengan anak panah Pelong. Pendekar itu bahkan tidak menyadari ada 2 anak panah terarah kepadanya dalam waktu yang berbeda.
" Apa yang...sialan , aku tidak menyadarinya". Pendekar itu hanya bisa memandangi anak panah yang tertancap di dadanya. Dia tumbang meregang nyawa.
" Sialan.. kalian akan menerima balasannya". Salah satu pendekar itu murka melihat temannya tumbang . Tampak mereka semakin gencar menyerang Lambao dan Kones. Sigam dan Pelong dari atas gedung menghujani mereka dengan anak panah. Namun pendekar-pendekar itu dapat mengelak karena sudah menyadari arah datangnya anak panah.
Pertarungan masih terlihat tidak berimbang. Lambao dan Kones benar-benar kewalahan menghadapi 6 pendekar sekaligus. 4 diantaranya bahkan setara kemampuannya dengan mereka. Tampak pada tubuh Lambao dan Kones dipenuhi bekas sayatan pedang.
Sigam dan Pelong melompat dan melesat kearah pertarungan Sigam dan Kones.
" Kita serang mereka bersamaan". Ucap Pelong.
Puluhan jurus saling bertukar . Kini 4 lawan 6 . Walau Sigam dan rekan-rekannya hanya berempat dan jelas kalah jumlah dengan para pendekar yang mereka hadapi, namun pertarungan mulai berimbang.
__ADS_1
" Kau, minta bantuan segera ke sektor timur". Ucap salah satu pendekar itu kepada Pendekar tingkat dasar di sebelahnya . Pendekar itu segera berlari menjauhi pertarungan.
" Gawat , dia berusaha memanggil bantuan. Ini bisa semakin merepotkan ". Sigam menyadari kepergian salah satu pendekar itu. Dia mengambil busur panahnya dan bermaksud untuk melumpuhkan pendekar yang lari itu.
" Jangan berharap. Pukulan Rajawali menerkam nyawa". Salah satu pendekar itu melayangkan pukulan ke arah Sigam. Pukulan itu dipenuhi tenaga dalam.
" Tameng pelindung Raga".
Sigam mengurungkan niatnya memanah. Dia mengalihkan tenaga dalamnya untuk perlindungan. Saat pukulan pendekar sekte Rajawali Merah itu mendarat di tubuh Sigam, Tubuh kedua orang itu terpental cukup jauh akibat benturan dari tenaga dalam yang beradu.
***
dukung author dgn menekan Like Ya teman2
__ADS_1