PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 34. Kebebasan Ketua Garguek


__ADS_3

"Amankan Putri Senni" . Perintah panglima Angkar kepada anak buahnya yang lantas membawa pergi Putri Senni menjauh.


Panglima Angkar melesat cepat menuju pertarungan Ketua Garguek dengan para utusan Aliansi putih itu. Melihat hal itu Ketua Harimotting tidak tinggal diam . Dia melesat cepat untuk menghadang Panglima keji itu. Saling tukar jurus tak terelakkan.


" Sepertinya kalian mempersiapkan segala sesuatunya dengan cukup matang". Teriak panglima Angkar. "Bagaimana mungkin rencana ini bisa bocor. Pasti ada penghianat yang menyusup ke istana". Gumamnya.


" Rencana ini berantakan. Dari awal kami sudah tidak setuju" . Tiyung berucap kepada Lutok . Dia panik melihat situasi yang ada. Mendapat perlawanan dari perampok Harinuan bukanlah sesuatu yang diharapkannya.


" Kau tenanglah. Jelas-jelas kita menang jumlah. Mereka dengan mudah akan kita ringkus". Belum selesai Lutok si pendekar langka utusan Sekte benteng merah itu berkata , tiba-tiba rombongan anak buah Borong memasuki wilayah pasar.


" Kurang ajar.. dari mana datangnya mereka". Gumam Lutok dalam hati. Dia melesat , ketua Borong adalah targetnya. Dia paham, dengan mengalahkan satu dari antara petinggi perampok Harinuan itu akan menjatuhkan mental para anggota Perampok Harinuan yang lain.


" Rasakan ini dasar perampok biad*p". Lutok melayangkan kapak ditangannya ke arah Ketua Borong. Ketua borong yang sudah siaga menepis kapak besar itu dengan pedangnya.


" Kau juga hadir rupanya Lutok. Aku pikir hidupmu sudah berakhir setelah pertarungan terakhir kita". Ketua Borong memang pernah mengalahkan Lutok. Hanya saja itu pada saat Ilmu tenaga dalam Lutok belum sebesar sekarang . Semenjak pihak istana membagikan banyak sumber daya, tenaga dalam para pendekar Aliansi Putih memang berkembang pesat.


" Jangan jumawa kau Borong. Tenaga dalamku meningkat pesat . Namun nampaknya kau tidak berubah". Lutok kembali melayangkan pukulan-pukulan dan serangan bertubi-tubi kepada ketua Borong. Ketua Borong sampai kewalahan dibuatnya.


Sementara itu Ketua Harimotting terus mendesak Panglima Angkar. Panglima kerajaan itu sedikit kewalahan dibuatnya. " Untuk ukuran orang tua sepertimu, kau cukup menganggu ketua Harimotting, tetapi itu belum cukup untuk menyalahkanku". Panglima Angkar menarik sesuatu dari balik jubahnya.


" Keris pusaka kembar". Ketua Harimotting menjadi waspada. 2 keris di tangan Panglima Angkar itu bukanlah keris biasa. Keris itu merupakan senjata pusaka Bumi.


" Pandangan mu cukup jeli ketua Harimotting. Kau beruntung bisa merasakan kekuatan keris ini".


Kedua keris di tangan Panglima Angkar dia lemparkan ke atas. Keris itu melayang-layang seperti berputar di langit. Aura hitam bercampur merah terpancar dari pusat pusaran keris itu.


Panglima Angkar melompat. Dia meraih keris itu. Dia seolah terbang. Tubuh panglima Angkar kemudian melesat menungkik ke arah Ketua Harimotting.


Ketua Harimotting mengangkat dan memutarkan kedua tangannya di depan dada. Tangannya membentuk lingkaran. Seketika itu terbentuk tameng tenaga dalam dihadapannya. Dia siap menerima serangan Panglima Angkar.


Ketua Harimotting sampai terpental beberapa langkah. Begitu pun Panglima Angkar.


Terjadi ledakan besar saat tenaga dalam kedua pendekar sakti itu beradu. Besarnya ledakan itu bahkan membuat orang- orang di sekitar ketua Harimotting dan Panglima Angkar ikut terpental. Bahkan ketua Garguek ikut terkejut mendengar ledakan itu.

__ADS_1


" Sungguh merepotkan. Kalau tau begini , lebih baik aku tetap mendekam di tahanan istana". Ketua Garguek merasa bersalah melihat banyak anak buah perampok Harinuan terluka. Beberapa diantaranya bahkan meregang nyawa.


Ketua Garguek kembali melancarkan serangan-serangan kepada ke 3 pendekar langka di hadapannya. Walau dia pendekar Legenda , namun menghadapi 3 orang pendekar langka sekaligus bukanlah perkara mudah.


" Gawat.. ketua Altong nampaknya sudah kehabisan tenaga". Hasea yang melihat ketua Altong terdesak oleh serangan bertubi-tubi dari lawan tandingnya menjadi khawatir.


" Kita harus membantunya." Ucap Lambao, dia bersama ke 3 rekan Regu delik sandi yang lain melesat cepat ke arah Ketua Altong. Ke 4 orang itu segera melancarkan serangan kepada pendekar langka utusan Aliansi putih itu.


" Kalian para bocah ingusan terlalu turut campur." Pendekar aliansi putih itu geram melihat kehadiran regu Delik sandi perampok Harinuan.


Hasea menutupi wajahnya dengan kain kemudian melesat bermaksud membantu rekan-rekannya . Untuk saat ini dia tidak ingin dikenali oleh pihak istana.


Tiyung melesat untuk menyerang Ketua Altong . Ketua Altong merasakan ada aura dari tenaga dalam yang besar mengarah kepadanya. Dia menjadi waspada.


Belum sempat Tiyung menghampiri Ketua Altong, sebuah anak panah diselimuti tenaga dalam mengarah kepadanya. Dia melompat jauh menghindari anak panah itu. Tapi dia sedikit terlambat. Anak panah sempat menggores pergelangan tangannya.


" Apa kau tidak malu keroyokan seperti itu?". Ketua Sulpi tiba-tiba ada dihadapan Tiyung. " Jangan banyak bicara kau.." Tiyung melayangkan jurusnya kepada Ketua Sulpi. Kedua pendekar itu saling bertukar jurus. Pertarungan mereka tampak seimbang.


Sementara Ketua Harimotting masih bertukar jurus dengan Panglima Angkar. keberadaan keris pusaka kembar membuatnya kewalahan menghadapi panglima Angkar.


" Ini harus segera diakhiri". Ketua Garguek bergumam dalam hati. Dia melihat sekelilingnya. Prajurit dan pendekar utusan Aliansi putih mendesak dan memojokkan para pendekar sekte Harinuan. Pertarungan itu tampak tidak seimbang.


Ketua Garguek menarik nafas panjang, dia melompat melesat keatas. Bahkan ke 3 pendekar di hadapannya hampir tidak bisa melihat pergerakan ketua Atas Sekte Harinuan tersebut.


" Ajian Lembah Harinuan Hitam". Ketua Garguek meninju keras tanah setelah dia mendarat. Terjadi ledakan yang sangat besar di tanah tersebut. Gelombang tenaga dalam yang besar menjalar dari tanah . Ketiga pendekar langka yang menghadapinya terpental jauh. Satu diantaranya meregang nyawa tidak siap menerima gelombang tenaga dalam itu sementara dua yang lainnya terkapar lemas di tanah.


Lambao, Kones, Sigam dan Pelong bersama dengan Ketua Altong berhasil memojokkan pendekar Langka di hadapan mereka. Melihat hal itu, Hasea beralih untuk membantu ketua Sulpi.


" Ketua, anda tidak apa-apa?" Ucap Hasea setelah dia tiba di hadapan Ketua Sulpi. " Kita sebaiknya menghadapi dia bersama-sama. Pertarungan ini harus segera diakhiri. Perasaann ku tidak enak. Sepertinya belum semua kekuatan dari pihak kerajaan dan aliansi putih mereka kerahkan".Ucap Ketua Sulpi khawatir.


Hasea bersama dengan ketua Sulpi melancarkan serangan bertubi- tubi kepada Tiyung. Pendekar sekte Rajawali biru itu terdesak. Bergabungnya Hasea dalam pertarungan itu memberi kerugian besar baginya.


Lengan Hasea terasa hangat. Aura biru memancar dari lengan kanan pemuda itu.

__ADS_1


"Gea.. apa yang terjadi". Ucap Hasea setelah merasakan lengannya sedikit hangat dan berat. " Sepertinya Naga Gumoang ingin sedikit pamer". Ucap Gea lirih.


" Kalau begitu baiklah. " Jurus pukulan lebah". Hasea menghantam tulang rusuk Tiyung dengan tinjunya setelah melihat ruang terbuka disana. Tiyung terlempar jauh, hal itu bahkan mengagetkan Panglima Angkar yang berada cukup jauh dari mereka. Tiyung terkapar dan seketika itu meregang nyawa.


" Anak ini, tenaga dalamnya sungguh mengerikan" . Gumam ketua Sulpi dalam hatinya.


" Mau sampai kapan kau menunggu? Walau sejauh ini pasukan kita berhasil memojokkan para perampok itu , tapi tetap saja dari pihak kita juga akhirnya harus jatuh korban". Ucap salah satu pendekar langka utusan sekte Beringin Kuning kepada Kasim Lakuteh. Sedari tadi mereka memang hanya menyaksikan pertarungan itu dari jauh.


" Tenanglah. Jumlah Mereka sudah cukup untuk membantai para perampok itu". Ucap Kasim Lakuteh tersenyum simpul.


" Kau sudah gila. Semakin lama, akan lebih banyak korban dari pendekar Aliasi putih. Sementara kau hanya mengerahkan sebagian dari prajurit mu". Ucap seorang pendekar utusan sekte Bulan Purnama. " Ini tidak bisa dibiarkan". Pendekar itu meraih sesuatu diri tangan Kasim Keji itu. Dia menembakkan sesuatu ke langit. Seketika tampak ledakan berwarna kuning di langit . Hal itu menarik perhatian semua orang yang terlibat pada pertarungan.


" Gawat ..mereka meminta bantuan. Dengan jumlah mereka yang sekarang saja sudah sangat merepotkan. Ini seperti pertarungan yang mustahil untuk Kami menangkan". Gumam ketua Garguek dalam hatinya.


"Ketua, Sudah saatnya kita pergi". Teriak Ketua Sulpi. Dia tidak tau apa yang akan terjadi. Satu hal yang dia yakini, tanda di langit tadi bukan sesuatu yang akan menguntungkan mereka saat ini.


Tiba-tiba rombongan prujurit dalam jumlah sangat besar memasuki pasar dari segala penjuru. Hujan anak panah dari belakang para prajurit itu terarah kepada para pendekar perampok Harinuan. Banyak diantara mereka tewas terkena anak panah itu.


" Mundur.." teriak ketua Harimotting. Dia tidak mau semakin banyak anak buahnya yang akan menjadi korban.


" Ajian pengunci Raga". Ketua Harimotting mengerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya saat melafalkan jurus pengunci tersebut ke arah panglima Angkar. Seketika tubuh panglima tersebut terasa berat. Tidak menyia-nyiakan hal itu , ketua Harimotting melesat menjauhinya. Dia sadar , ajian pengunci Raga hanya akan mempengaruhi panglima tersebut untuk beberapa saat saja. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketua Harimotting membuatnya bisa cepat berlalu dari hadapan Panglima Angkar.


" Kita pasti akan bertarung lagi suatu saat Lutok". Ucap Ketua Borong. Pada saat terakhirnya ketua Borong memusatkan tenaga dalamnya untuk memukul mundur Lutok. Setelah itu dia berlalu dengan cepat menjauhi pendekar Sekte Rajawali merah itu.


Seluruh anggota perampok Harinuan yang masih hidup mundur dari arena pertarungan. Mereka lari menjauh secepat mungkin, ketua Sulpi, ketua Altong dan yang lainnya turut serta dalam pelarian itu. Namun hampir separuh diantara mereka telah tewas di tangan para pendekar aliansi putih dan prajurit istana.


" Ketua ..saya mohon ijin untuk tinggal. Ada hal yang harus saya urus. Ini tentang masa lalu saya". Ucap Hasea pelan kepada ketua Sulpi. Belum sempat ketua Sulpi menjawab, Hasea telah menjauh dan menghilang dari rombongan sektenya.


Prajurit istana tidak berhasil mengejar perampok Harinuan tersebut. Sementara pada pendekar Aliansi putih juga sepertinya tidak berniat mengejar mereka. Banyaknya korban dari pihak aliansi putih membuat mereka sedikit kecewa kepada pihak kerajaan yang dari awal hanya mengerahkan sedikit prajurit.


***


Dukung Author ya teman2. Tekan Like nya boleh?..

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2