
"Apa-apaan ini?"
Panglima Angkar memasuki ruang utama sekte Banteng Merah dengan murka. Sebenarnya beberapa penjaga telah mencoba menghalangi panglima itu. Tetapi tetap saja, panglima Angkar berhasil memaksa masuk. Para penjaga sekte Banteng Merah yang mengetahui pengaruh besar Panglima itu pada akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa.
" Panglima , apa maksud dari semua ini?"
Meghaa, pendekar tua yang merupakan ketua sekte Banteng merah itu tidak kalah murka akan kehadiran Panglima Angkar yang tiba-tiba. Kemarahan Meghaa semakin menjadi tatkala Panglima itu memasuki ruangan dengan memancarkan aura tenaga dalam yang besar.
" Anda tidak usah pura-pura terkejut Ketua. Anda tau maksud kedatangan ku kemari. "
" Apa maksud mu? Justru aku yang seharusnya marah. Kau memasuki ruangan ini sembarangan dengan sikap menantang seperti itu."
Meghaa kehilangan rasa hormatnya kepada Angkar.
Ketua sekte Banteng Merah itu tidak lagi bisa menahan amarahnya, dia turut memancarkan aura tenaga dalam. Tubuh wanita tua itu diselimuti aura tenaga dalam dengan pancaran warna merah.
Beberapa orang pelayan Meghaa yang sebelumnya berada di tempat itu kehilangan kesadaran. Aura tenaga dalam dari 2 pendekar tingkat Legenda membuat tubuh mereka tidak sanggup menahan tekanan.
"Oh...jadi anda berani menentang kerajaan sekarang?"
Panglima Angkar mengancam Meghaa.
" Kerajaan mana yang kau maksud Angkar? Kerajaan yang selama ini kami biarkan kau yang menguasainya? Jangan jumawa Angkar. Ingat..semua yang kau dapat selama ini, termasuk juga kemampuan dan ilmu tenaga dalam mu itu adalah berkat bantuan ku."
Panglima Angkar terdiam. Memang selama ini Sekte Banteng merah dan khususnya Meghaa lah yang selalu berada dibelakang semua kesuksesan panglima itu. Termasuk kemampuan bela dirinya. Meghaa jugalah yang menuntunnya sampai pada tingkatan yang sebelumnya mustahil dia dapatkan.
" Itu memang benar Ketua, aku tidak akan pernah mengabaikan tentang hal itu. Tapi kali ini anda sudah keterlaluan."
" Apa maksud mu Angkar? Kau lah yang datang kemari dengan tidak sopan. Sekarang kau malah menyalahkan ku atas sesuatu yang tidak aku mengerti."
" Tidak usah berpura-pura lagi ketua. Aku tau keterlibatan anda dalam rencana penyerangan Sekte Matahari Biru ke Kota Pintu Suona."
Raut wajah Meghaa tidak berubah saat mendengar tuduhan Angkar. Tidak ada raut dan rona penyesalan dari wajahnya.
" Hal itu memang benar. Aku harus bertindak lebih cepat, kau terlalu lambat mengambil tindakan. Tindakan mu yang lamban memaksaku untuk mengambil alih. "
" Anda... Entah apa yang menjadi rencana anda. Tetapi kenapa harus kota Pintu Suona? Belum cukupkah kota-kota yang kuserahkan kepada anda? Kota pintu suona sudah sangat baik dibawah kepemimpinan sekte Bulan Purnama. Target pajak yang selama ini aku bebankan kepada mereka juga selalu terpenuhi. Untuk apa mengusik kota dan sekte itu?"
__ADS_1
Panglima Angkar mencerca Meghaa dengan berbagai pertanyaan. Tapi panglima itu juga kemudian mengendurkan aura tenaga dalamnya. Dia hanya menggertak untuk mendapat perhatian. Hal yang juga diikuti oleh Meghaa. Kini tidak ada lagi aura tenaga dalam yang terpancar dari masing-masing mereka.
" Kota itu akan lebih baik dibawah kepemimpinan sekte Banteng Merah. Pajak pendapatan juga akan meningkat drastis bila kami yang memimpin. Sudah sangat lama aku menyampaikan ini kepada mu. Tapi dasar kau memang tidak mau mengerti."
" Lalu apa anda berfikir setelah sekte Matahari Biru menguasai kota itu mereka akan begitu saja menyerahkan kota itu kepada sekte Banteng merah?"
" Hahaha..kau sudah sangat lama menjadi panglima sebenarnya, tetapi sepertinya pengalaman mu masih saja sangat kurang. Apa kau pikir sekte Bulan purnama selemah itu? Kedua sekte itu hampir sama kuatnya. Dengan kekuatan maksimal dari masing-masing sekte itu saat bertarung maka akan mengakibatkan jatuh korban yang sangat besar dari kedua belah pihak . Pada saat-saat terakhir pertarungan itu kami akan terlibat dan memusnahkan sekte Matahari biru. Sekte Bulan purnama secara otomatis juga akan tunduk kepada sekte Banteng merah. Sesederhana itu."
Panglima Angkar terdiam. Dia menelan ludahnya sendiri. Panglima itu tidak menyangka bahwa pendekar wanita yang ada dihadapannya sekarang ternyata bisa menjadi sangat kejam dan licik. Meghaa Sanggup mengorbankan ratusan nyawa hanya demi ambisinya pribadi.
" Anda benar-benar gila ketua. Tapi sepertinya menghentikan anda saat ini adalah hal yang mustah. Lihat saja, aku ataupun pihak kerajaan tidak akan terlibat dalam hal ini. Ini akan menjadi urusan kalian sendiri. Akibatnya kelak, hanya kalianlah yang menanggungnya. "
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Panglima Angkar sebelum berbalik badan dan meninggalkan tempat itu hanya membuat Meghaa tersenyum sinis.
***
" Baiklah ketua Marrupa. Saya dan tuan Hasapi sendiri yang akan meminta bantuan langsung ke sekte Harinuan. Perjalanan kami akan memakan waktu beberapa hari. Tetapi untuk berjaga-jaga tuan Terisab dan tuan Gilok akan tinggal di tempat ini."
Hasea bermaksud menuju sekte Harinuan perkemahan Selatan. Perkemahan terdekat dengan kota pintu suona. Berkat bantuan petunjuk yang Hasea dapatkan dari sekte Obor merah beberapa waktu yang lalu, dia bisa mengetahui semua lokasi perkemahan sekte Harinuan.
***
" Ah sial..selalu saja seperti ini, kenapa setiap kali kita dalam perjalanan selalu saja ada bahaya yang mengintai."
Hasapi tampak kesal. Wajar demikian karena disamping orang tua itu sedang dalam kondisi lelah setelah berjalan kali selama 2 hari, perutnya juga belum terisi apa pun dalam seharian ini.
***
Kutak bersama dua rekannya Padati dan Bokkor masih berdiam diri tempatnya. Ketiga pendekar berkemampuan setara pendekar Langka itu sedang dalam pengintaian.
Sudah beberapa hari ke 3 pendekar sekte bulan gerhana itu mencari informasi tentang Hasea dan Hasapi. Tugas yang diberikan oleh ketua sekte Bulan gerhana itu kepada ke 3 pendekar andalan nya adalah membawa pulang kepala Hasea.
Tindakan Hasea dengan membunuh Alimar salah satu petinggi Sekte Bulan gerhana beberapa waktu yang lalu itu adalah pemicunya.
" Sampai kapan kita akan menunggu?"
Kutak, pendekar yang pintu toddinya sudah terbuka 1 itu tidak sabar.
__ADS_1
" Tenang lah, kita tidak boleh gegabah. Lebih baik kita amati dulu Sampai kita mengetahui tingkat kemampuan mereka yang sebenarnya."
Ke tiga pendekar Sekte Bulan Gerhana itu masih terus mengikuti dan mengawasi Hasea beserta Hasapi. Ke tiga pendekar itu belum bisa mengukur kemampuan Hasea yang sebenarnya. Namun mereka tetap memasang kewaspadaan penuh.
" Aku rasa kita tidak perlu membuang waktu lebih banyak. Pemuda itu mungkin saja memiliki kemampuan tinggi. Tetapi orang tua gendut yang bersamanya tampaknya tidak memiliki kemampuan bertarung."
" Aku rasa padati benar Kutak. Dengan kemampuan kita bertiga, dengan mudah kita akan bisa mengalahkan mereka. "
Diantara ketiga pendekar itu bisa dibilang Padati lah yang memiliki kemampuan lebih tinggi. Walau mereka bertiga sama-sama berada pada tingkat kemampuan pendekar Langka dengan pintu toddi yang sama-sama terbuka 1, tetapi Padati memiliki pengalaman bertarung lebih banyak. Oleh karena itu pulalah walau tidak secara resmi, terapi rombongan itu seperti dipimpin oleh Padati.
" Baiklah...waktunya kita untuk menyerang."
Ke tiga pendekar itu akhirnya melesat mendekati Hasea dah Hasapi. Dalam hitungan detik, ke tiga pendekar itu sudah melompat dan mendarat tepat di depan Hasea. Hasea tidak terkejut, sedari tadi memang dia sudah merasakan ada beberapa orang yang sedang mengawasi mereka.
" Akhirnya kalian muncul juga." Ucap Hasea dengan nada sedikit menyindir.
'Sialan, dia bahkan sudah mengetahui keberadaan kami rupanya.'Batin
Padati.
" Anak muda, kali ini kau akan menerima akibat dari perbuatanmu."
Bokkor dan kedua rekannya memancarkan aura tenaga dalam yang kuat. Tubuh mereka seketika diselimuti aura hitam pekat.
Hasapi yang terlihat terkejut mulai merasa tertekan.
" Siapa mereka?"
" Kalau melihat pakaiannya, sepertinya mereka dari sekte Bulan Gerhana tuan."
Pakaian yang dikenakan oleh ke tiga orang itu memang khas pakaian sekte bulan gerhana
" Mundurlah tuan, aku akan menghadapi mereka."
Ke tiga orang pendekar sekte Bulan gerhana itu segera melesat ke arah Hasea.
Hasea yang sedari awal sudah memasang kewaspadaan kemudian memancarkan aura tenaga dalam. Tubuh Hasea diselimuti aura tenaga dalam berwarna biru bercampur dengan warna keemasan.
__ADS_1
Hasea dapat merasakan tenaga dalam yang besar terpancar dari tubuhnya. Aura tenaga dalam terbesar dari yang pernah bisa dia pancarkan.
Pendekar muda itu memang telah berhasil menggabungkan tenaga dalamnya sendiri dengan tenaga dalam Naga Gumoang setelah Pintu toddinya telah terbuka 3.