
Hasea akhirnya tiba di desa Pintu Jati setelah menempuh perjalanan beberapa hari. Rasa lelah dan laparnya memaksa Hasea untuk mencari penginapan. Hasea memutuskan untuk beristirahat di satu penginapan yang berada di tengah desa . Satu-satunya penginapan di desa tersebut. Setelah membersihkan badan, Hasea memesan makanan di restoran yang juga berada di penginapan tersebut.
" Ku katakan kepadamu, tempat itu benar-benar ada." Hasea mendengar suara dari sebuah meja di sudut restoran . Tampak oleh Hasea seorang pria tua berperut buncit sedang berbincang dengan beberapa orang temannya. " Kau akan menyesal saat aku menemukan tempat itu seorang diri. Jangan mengemis merengek kepadaku saat aku menemukan semua harta Karun di sana."
" Hasapi.. sudah beribu kali dan berpuluh tahun kau ceritakan dongeng itu, tetapi dari yang dapat ku lihat sampai detik ini adalah kau berakhir mabuk di tempat ini dan bahkan tidak bisa membayar arak mu sendiri." Ucapan seorang pria yang ada di hadapan Hasapi diikuti gelak tau orang-orang di sekitarnya.
" Hasapi? Pria gendut itu? Apakah orang itu yang dimaksud oleh nenek Lamsia? Sungguh kebetulan yang menggembirakan. " Hasea tidak melepaskan pandangannya dari meja tempat Hasapi duduk.
" Kalian boleh tertawa sekarang, tapi saat nanti aku sudah kaya.. kita lihat siapa yg tertawa kemudian." Hasapi tampak percaya diri, tetapi semua orang di tempat itu tentu tahu bahwa pria tua itu sudah sangat mabuk. Mereka sama sekali tidak mempercayai ucapan pria tua pemabuk itu.
" Benarkah demikian? Kalau begitu kenapa tidak kau bayar minuman kami untuk malam ini?" Ledek salah satu pria di meja itu yang kembali membuat orang di sekitar Hasapi Tertawa. " Sudahlah, kita tinggalkan saja pemabuk tua ini. Setiap malam selalu saja kita yang membayar yang dia minum."
"Hei.. kembali, untuk malam ini saja tolong bayar minuman ku."
Ucapan Hasapi itu sama sekali tidak digubris oleh teman-temannya. Penjaga keamanan mulai mendatangi Hasapi. Orang-orang berbadan kekar itu begitu yakin bahwa seperti malam-malam sebelumnya Hasapi tidak akan sanggup membayar.
" Tuan, sudah terlalu larut untukmu. Apakah anda memiliki beberapa perak untuk membayar semua minuman ini?" Seorang penjaga keamanan menggertak Hasapi.
Saat orang-orang itu akan menendang Hasapi keluar restoran, Hasea mendekati mereka.
" Tuan.. biar aku yang membayar minuman pria tua ini."
" Anak muda..kau sungguh baik, apakah kau benar-benar manusia? Tidak..tidak, aku yakin kau adalah dewa." Ucap Hasapi melantur.
"Sudahlah tuan. Kebetulan aku sedang memegang beberapa perak.Anggap saja anda sedang beruntung. Tuan, tempat yang anda maksudkan itu..."
__ADS_1
" Hah.. kau penasaran juga rupanya? Jangan bilang aku membual, tapi tempat itu benar ada." Hasapi kembali mengulang dongeng yang biasa dia ceritakan kepada orang-orang. " Disana banyak harta Karun. Keluargaku sudah turun temurun menceritakan kisah ini." Hasapi kemudian terdiam.
" Tapi sudah lah , sama seperti orang-orang itu kau juga pasti menganggap pria tua ini melantur."
" Bukan begitu tuan, justru aku tertarik dengan cerita tuan." Ucap Hasea meyakinkan. "Benarkah? Apa aku sudah terlalu mabuk hingga pendengaran ku jadi berkurang, apakah aku salah dengar ?" Hasapi menanggapi Hasea namun tetap sambil menenggak arak di hadapannya. Hasapi bercerita banyak tentang Bukit menangis. Hasea sebenarnya hampir tidak bisa membedakan ucapan yang benar dan tidak dari perkatan Hasapi. Bagai mana tidak, pria tua itu sudah mabuk. Tapi Hasapi satu-satunya yang bisa memberinya petunjuk akan keberadaan Bukit Menangis.
Setelah bercerita panjang lebar sambil terus menenggak arak, pria tua itu kemudian tertidur begitu saja karena terlalu mabuk.
***
" Tuan, anda sudah bangun rupanya?" Hasea menyapa Hasapi yang baru tersadar dari tidurnya. Hasea memang membawa pria tua itu ke kamar tempat dia menginap. Hasea ingin mengorek informasi lebih banyak lagi.
" Dimana aku? Siapa kau anak muda?" Nada bicara Hasapi sungguh berbeda dengan tadi malam. Tentu saja karena pagi ini dia sudah tidak terpengaruh arak lagi. " Kita masih di penginapan tuan. Anda terlalu mabuk, jadi aku membawa anda kesini. Tuan, mengenai tempat yang anda ceritakan tadi malam."
Hasapi mencoba mengingat-ingat kejadian tadi malam. " Ah.. ini tentang Bukit menangis rupanya? Apa kau benar-benar percaya padaku anak muda?"
"Apa kau ingin menemaniku mencari tempat itu? Tapi ingat harta karun yang ada disana, kita harus membagi dua." Hasapi menatap tajam Hasea. Dia ingin memastikan Hasea tidak sedang berupaya memperdayainya. " Tenang saja tuan, aku sama sekali tidak berfikir tentang harta Karun. Ada sesuatu disana yang aku butuhkan."
"Ini semakin menarik, Kalau begitu baiklah. Setalah makan siang kita berangkat."
***
Hasea dan Hasapi meninggalkan penginapan itu. Mereka mulai melangkahkan kaki meninggalkan desa kecil itu. Tidak banyak orang yang mereka jumpai karena memang tidak terlalu banyak orang yang menempati desa itu. Dari yang Hasapi ceritakan bahwa lokasi Bukit menangis ada di tengah hutan di sebelah barat desa itu. Tapi sebenarnya Hasapi tidaklah pernah ke sana. Dia hanya mendengar cerita turun temurun dari keluarganya yang pernah mengetahui keberadaan tempat itu. Berdasarkan petunjuk itu mereka berusaha mencari Bukit menangis.
Sudah hampir seharian Hasapi dan Hasea menelusuri hutan . Tetapi dari sepanjang perjalanan dan mata mereka memandang hanya ada pohon- pohon besar dan semak belukar disana. Hasea mulai frustasi. " Tuan, sebenarnya apa yang kita cari? Maksud ku, apakah tidak ada petunjuk lain selain suara tangisan yang anda ceritakan itu?"
__ADS_1
Hasapi memang menjelaskan kalau disekitar bukit menangis benar-benar ada suara seperti tangisan. Tetapi petunjuk itu belum begitu terperinci.
" Kalau saja ada arak, mungkin aku bisa lebih mengingat petunjuk itu." Ucap Hasapi yang malah membuat Hasea jengkel. " Orang ini, dalam kondisi sadar saja tidak begitu mengingat sesuatu, apalagi saat dia mabuk." Gumam Hasea.
" Tunggu dulu, kalau tidak salah leluhurku berkata kalau tempat itu tidak bisa dilihat dengan mata orang awam. Semua hal bertentangan dengan kodratnya. Terjatuh untuk melayang, tenggelam untuk mengapung, sepertinya begitu." Ucap Hasapi tidak yakin. " Hanya orang-orang yang dipilih oleh alamlah yang bisa menuju tempat itu, seisi hutan akan menuntunnya ke sana...ya..ya.. itu dia. Aku ingat sekarang." Mata Hasapi tampak berbinar walaupun hal-lah yang diucapkannya sebenarnya tidak membantu.
" Pria tua ini....apakah tidak ada petunjuk yang lebih mudah dimengerti yang dapat dia ucapkan?" Gumam Hasea. " Tuan , tidak adakah hal lain? Dari tadi kita hanya berputar-putar di tempat ini. Kita hanya bisa melihat pohon dan semak belukar. Bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa manusia pernah mendatangi tempat ini. Tidak ada sesuatu apa pun yang menunjukkan keberadaan tempat itu." Hasea mulai tidak sabar. " Anak muda tenanglah. Kelemahan anak muda sepertimu adalah tidak panjang sabar. Biar aku mengingat-ingat lagi." Hasapi menenangkan Hasea.
" Sebaiknya kita istirahat sejenak. Perutku mulai lapar. Apakah tidak ada sesuatu di tempat ini yang bisa dimakan?" Ucap Hasapi sambil memegang perutnya yang mulai keroncongan sambil duduk bersandar di salah satu pohon besar. Matanya mulai mengantuk . " Anda tunggulah disini, aku akan mencari makanan." Ucap Hasea yang kemudian berlalu.
Hasea melihat seekor kelinci diantara semak belukar. Hasea segera mengejar kelinci tersebut namun binatang itu berlari sekencang-kencangnya seolah menyadari kedatangan Hasea. " Sialan.. cepat sekali binatang itu." Hasea terus mengejar kelinci itu tanpa menghiraukan dimana dia sekarang. Saat tersadar sudah berlari cukup jauh dari tempat terakhir dia dan Hasapi tadi singgahi, Hasea terkejut akan apa yang dia lihat di hadapannya . Dia berada di dekat sebuah tebing.
" Tempat ini, dimana ini? Dari tadi kami berkeliling sepertinya kami tidak menemukan tebing ini. Ah.. sudahkah, perut pria tua itu harus diberi makan. Kemana perginya kelinci itu." Hasea tersentak, kelinci yang dia kejar berada di tepi tebing. Kelinci itu menatap Hasea seolah ingin menyampaikan sesuatu. Hasea mendekat namun alangkah terkejutnya dia ketika kelinci itu tiba-tiba melompat ke dasar tebing.
" Kelinci bodoh, apa yang dilakukannya? Apa dia begitu frustasi sampai harus bunuh diri begitu?." Hasea mendekati tepi tebing. Dia menoleh ke bawah namun tidak mendapati kelinci itu di sana. Dasar tebing bahkan tidak mampu dia lihat karena tebing itu begitu tinggi.Dasar tebing pastilah sangat dalam.
Kaki Hasea tidak sengaja menyenggol sebuah kerikil hingga kerikil itu terjatuh ke dasar tebing.
" Batu itu, apa terjadi? Bagaimana mungkin batu itu melayang begitu saja?" Hasea sangat terkejut mendapati kerikil yang terjatuh hanya melayang sebelum Sampai ke dasar tebing.Sejenak Hasea berfikir. " Mungkinkah.." Hasea kemudian mengambil batu yang lebih besar dan menjatuhkannya ke dasar tebing. Lagi-lagi batu itu melayang di pertengahan tidak sampai jatuh ke dasar tebing.
" Terjatuh untuk melayang... Mungkinkah ini maksudnya?" Hasea sedikit ragu namun kemudian dia mengambil ancang-ancang untuk melompat. "Kalau saja ini salah, habislah riwayat ku." Ucap Hasea kemudian melompat dari tepi tebing tersebut.
Tubuh Hasea seolah akan terjatuh ke dasar tebing. Wajahnya pucat. Tubuhnya lemas, tepat sebelum Hasea mulai menyesali keputusannya tiba-tiba dia merasakan tubuhnya seperti melayang. Dia tidak sampai terjatuh ke dasar jurang. Tubuhnya melayang tepat di dekat batu yang tadi dia jatuhkan.
" Ini...sebenarnya apa yang terjadi?" Hasea masih tidak percaya bahwa tubuhnya melayang. Mata Hasea kemudian tertuju pada dinding tebing, disana dia melihat sebuah gua dengan pintu masuk yang kecil. Hasea meraih dinding pintu masuk gua itu kemudian melangkah ke sana. " Bagaimana mungkin tubuhku bisa melayang begitu saja. Dan tempat ini..tempat apa ini?" Hasea masih sulit untuk percaya.
__ADS_1
Hasea melangkahkan kaki ke dalam gua. Semakin jauh dia memasuki gua, semakin tubuhnya terasa ringan. Kakinya bahkan hampir tidak menyentuh lantai gua.Kerikil-kerikil kecil disana juga terlihat melayang begitu saja.