
'Uhuk..uhuk..' suara batuk di salah satu tumpukan puing-puing menarik perhatian semua orang yang ada di sana.
Ke tujuh orang itu menoleh ke arah suara batuk. Hasea mendekati tumpukan puing itu kemudian menyingkirkan serpihan-serpihan papan dan balok dari sana.
" Hasea.. apa yang terjadi?kepala ku terasa sakit."
" Tuan, anda selamat?" Hasea tersenyum lega. Hasapi tampak meringkuk sambil memeluk bungkusan yang dia dan Hasea bawa. Keping emas dan sumber daya milik Hasea.
" Orang ini.. dalam kondisi seperti sekarang saja dia masih berfikir untuk melindungi emas-emas itu." Gumam Hasea.
"Pangeran, siapa sebenarnya orang ini?" Panglima Suhad tidak bisa menebak apa yang terjadi.
Panglima Suhad bersama dengan anak buahnya juga Hasea merasa heran melihat Hasapi masih bernafas, dia selamat bahkan tidak mengalami luka serius kecuali benjolan di jidatnya yang mungkin disebabkan oleh benturan benda atau puing bangunan yang runtuh.
" Dia orang yang bersama ku Panglima..Ayo bangun lah tuan." Hasea memapah Hasapi untuk bangun.
" Hah.. apa yang terjadi? Dimana restoran kita? Dimana semua bangunan itu? Apa kalian memindahkan ku ke tempat lain?" Hasapi kebingungan . Matanya terbuka lebar menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Dia tidak tau apa yang baru saja terjadi, tapi dia yakin baru saja terjadi kejadian yang sangat buruk melihat bangunan hancur dan mayat bergelimpangan. Bau gosong menyegat bahkan menusuk hidungnya.
" Sudah lah tuan, sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini."
" Tunggu Pangeran, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan." Panglima Suhad mwnghentikan langkah Hasea.
" Di tempat ini? Sekarang?" Protes Hasea.
" Benar juga.. kita harus mencari tempat yang lebih baik untuk bicara. Saya tidak ingin ada orang lain yang melihat kita di tempat ini. Bagaimanapun kabar berita tentang kejadian ini akan segera menyebar. Kita tidak boleh diketahui memiliki keterlibatan dalam hal ini. Setidaknya untuk sekarang. "
" Baiklah, aku mengetahui satu tempat. Lagipula aku ingin memastikan sesuatu di sana." Hasea akhirnya mengajak Panglima Suhad.
Rombongan Hasea berangkat secepat mungkin dari lokasi pertarungan itu. Rumah nenek Lamsia adalah tujuan mereka.Walaupun letak rumah itu cukup jauh dari lokasi pertarungan , tapi Hasea tetap ingin memastikan keselamatan ke dua orang yang tinggal di sana.
***
__ADS_1
"Nek..nenek, tolong buka pintunya." Hasea mengetuk rumah nenek Lamsia. Tidak ada yang menyahut. " Nek..tolong buka.. aku Hasea nek. Ayolah nek, tolong buka pintunya. Jangan bilang kalian tidak ada di rumah."
Mata Hasea berkaca-kaca. Kekhawatiran menyelimuti hatinya. Dia sangat berharap nenek Lamsia dan Rimbu tidak ke pusat kota hari ini, tapi melihat tidak ada yang menyahut dari dalam rumah, membuat hatinya cemas. Hasea hampir saja mendobrak pintu rumah saat pintu itu perlahan terbuka. Ada seorang wanita muda yang sangat cantik yang mengintip dari dalam sana.
"Kau ini.." Hasea mendapatkan pukulan di kepalanya. Wanita itu mengetok kepala Hasea dengan gagang sapu.
" Kenapa kau memukul ku? Aku bahkan tidak mengenal mu. Dimana nenek Lamsia?"
" Nek, si bodoh ini mencarimu."
Nenek Lamsia keluar dari kamarnya.
" Hasea..kami pikir kalian orang lain. Sedang terjadi sesuatu di kota, kami harus waspada. "
" Nek, apakah kalian baik-baik saja? dimana Rimbu nek? Jangan katakan dia ke kota hari ini." Hasea tidak menunggu nenek Lamsia untuk menjawab. Dia segera berlari ke kamar Rimbu.
" Eh.. bodoh, apa yang kau lakukan. Kau sungguh tidak sopan." Wanita muda itu menghentikan Hasea, menjewer kuping Hasea membuat Hasea menghentikan langkahnya.
" Nona muda.. tolong jaga sikap anda." Panglima Suhad protes pangeran nya diperlakukan seperti itu.
"Ia.. kau bersalah, kesalahanmu bahkan tidak bisa diampuni. Dasar kau pria egois."
" Egois? Kau?.. Rimbu??" Hasea memundurkan kakinya ke belakang." Rimbu, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau berdandan seperti seorang wanita?" Hasea tampak memicingkan mata. Tangan Hasea bahkan hampir menyentuh dada wanita itu karena menganggap ini sebuah lelucon sampai pipi kanannya dihadiahi sebuah tamparan keras dari Rimbu.
" Kurang ajar, dasar mesum. Apa yang terlintas di otak mu? Kau pikir kau akan melakukan apa?" Rimbu tampak kesal melihat Hasea.
" Sudah..sudah..Hasea !! sepertinya kau salah paham. Rimbu memang seorang wanita. Dia wanita yang cantik bukan? Selama ini dia memang berdandan seperti seorang pria. Katanya itu untuk pekerjaannya. Dia harus berdandan seperti itu untuk bekerja. "
" Oh...jadi selama ini kau menyamar jadi laki-laki untuk..." Belum sempat Hasea melanjutkan bicaranya, kedua tangan rimbu telah membekap mulutnya.
" Eh.. bodoh..kau pikir kau akan berkata apa?"
__ADS_1
" Jangan salahkan aku, kau tidak pernah berkata kalau kau ini sebenarnya wanita"
"Apa kau pernah bertanya?"
***
Kesemua orang itu akhirnya duduk di ruang tengah rumah setelah melurusakan semua kesalah pahaman yang terjadi.
" Kami tau kejadian di kota. Kami dapat melihat pusaran tornado dari sini. Semua orang mengunci pintu rumahnya. Kami tidak dapat menerka apa yang akan terjadi. Tapi mengamankan diri sepertinya pilihan yang sangat bijaksana saat ini." Ucap nenek Lamsia.
Hasea hanya mendengarkan sembari sesekali melirik ke arah Rimbu. Dia terpesona dengan kecantikan wanita yang semula dia pikir pria itu.
" Pangeran.. sepertinya ini saatnya kita harus membahas sesuatu."
" Pangeran? Si bodoh ini?" Ucapan spontan yang keluar dari mulut Rimbu membuat dia dipelototi oleh panglima Suhad dan ke 5 anak buahnya . Tapi hal itu tidak membuat Rimbu bergeming sedikit pun, wanita itu memang membenci hal-hal yang berhubungan dengan kerajaan. Apalagi prajurit istana. Baginya para prajurit itu hanya biang keonaran.
Hasapi dan nenek Lamsia sebenarnya sama terkejutnya dengan Rimbu. Mereka hanya bisa terbengong tanpa bisa berkata apa-apa saat Jendral Suhad memanggil Hasea dengan sebutan Pangeran.
" Pangeran, saya harap pembicaraan ini hanya diantara kita saja ."
" Katakanlah Panglima. Semua yang akan anda sampaikan, mereka juga bisa mendengarnya."
Panglima sejenak terdiam. Dia sedang mempertimbangkan sesuatu namun akhiranny Panglima memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan .
" Sebelumnya saya harus sampaikan bahwa kita harus kembali ke istana secepatnya. Pasukan Panglima Angkar Sedang memburu anda karena masalah yang anda timbulkan dengan putri Ageng Jenti di tempat ini beberapa waktu yang lalu."
" Panglima perlu anda ketahui bahwa saya akan kemanapun sesuai dengan keinginan saya. Ketika saya memutuskan untuk tinggal , maka saya akan tinggal."
" Tapi pangeran...mohon anda mengertilah. Kelangsungan dan keselamatan seluruh warga Partungko Naginjang di masa yang akan datang mungkin berada di tangan anda." Panglima Suhad menghela nafas.
" Mohon maafkanlah Kaisar. Beliau sungguh tidak bermaksud mengabaikan anda selama ini. Hanya saja beliau berfikir bahwa anda sudah terbunuh sedari kecil. Bahkan saya juga berfikir demikian sampai akhirnya pertemuan kita di ruang rahasia istana waktu itu." Panglima Suhad kembali menghela nafas. Panglima itu sadar hal ini akan sulit dia jelaskan kepada Hasea.
__ADS_1
" Mohon maafkan lah Ayah anda Pangeran. Ada hal besar lain yang harus kita pikirkan selain daripada ego sendiri."
"Kalau dia memang menginginkan ku dari dulu, harusnya dia memberi perlindungan pada ku dan keluargaku saat Panglima Angkar menyerang kami. Kenapa dia hanya diam melihat itu semua?"