
Hari ini adalah hari ke 2 Hasea dan rekan-rekannya beristirahat deri latihan sebelum dia akan menjalani meditasi bersama 4 rekannya yang lain. Pagi hari setelah dia melakukan latihan secara mandiri, Hasea kembali berjalan di sekitar Perkemahan. Entah kenapa di sepanjang dia menapakkan kakinya, dia mengingat seseorang.
" Apa kira-kira yang sedang dilakukan nona Mentari saat ini, apakah dia baik-baik saja. Bagai mana kabarnya" Bayangan tentang Mentari berputar-putar di kepalanya. Nampaknya dia sedang merindukan wanita cantik tersebut.
" Hei.. kau.. kemari lah" suara Putri Senni menggilanya membuyarkan pikiran Hasea. Putri Senni menanggil Hasea dari tendanya. Lagi-lagi senyum yang dipancarkan oleh Putri cantik itu membuatnya seolah meleleh.
" Ada apa tuan Putri?, Apakah anda ingin berjalan-jalan lagi?" Tanya Hasea berharap.
" Tidak, aku sedang memasak banyak makanan , kau coba cicipilah masakan ku. Aku bosan Harus makan sendirian"
" Apa dia benar-benar bisa memasak?" Gumam Hasea didalam hatinya. Namun Putri Senni seperti bisa membaca pikiran Hasea tersebut.
" Apa kau tidak percaya aku bisa memasak? Atau jangan-jangan kau takut makanannya kuberi racun?" Putri Senni menyipitkan matanya menatap Hasea Curiga.
" Ah.. tidak seperti itu Tuan Putri" Hasea jadi merasa sungkan.
" Kalau begitu ayo masuklah" putri Senni menarik pergelangan tangan Hasea. Dia menarik Hasea ke dalam tendanya. Mungkin bagi Putri Senni, memegang tangan seseorang adalah hal yang biasa. Namun bagi Hasea.. hal itu bisa membuat jantungnya berdegup kencang, maklum saja sedari kecil dia sangat jarang dekat apalagi bersentuhan fisik dengan seorang wanita.
" Wah... Jadi anda benar-benar bisa memasak ya? Sepertinya makanan-makanan ini lezat" Nafsu makan Hasea muncul saat melihat beragam jenis makanan di meja makan. " Oh jadi benar..tadi kau tidak percaya aku bisa memasak? Kau sampai harus melihat hasil masakanku dulu baru kau percaya?" Putri Senni kembali menatap Hasea dengan tatapan menghakimi.
"Sudahlah , ayo duduk. Kau tidak akan kenyang dengan hanya menatap makanan seperti itu".
" Makanan sebanyak ini, apakah anda bermaksud memakannya sendirian?" Hasea tampak bingung memilih makanan yang beragam itu. Sudah sangat lama dia tidak disuguhkan makanan sebanyak itu.
" Apa kau gila? Tentu saja tidak, kau pikir perutku sebesar apa bisa mencerna ini semua. Tadinya aku akan makan bersama Altong. Hanya saja sepertinya dia tidak bisa berkunjung ke sini" ucapan Putri Senni tiba-tiba membuat Hasea terdiam.
" Ketua Altong? Jadi mereka dekat ya?" Pikiran Hasea menerawang. Tiba-tiba dadanya serasa sesak.
" Oh ia.. Nama mu Hasea bukan? Aku hampir saja lupa namamu" ucapan Putri Senni menyadarkan Hasea dari lamunannya. " Apa yang akan kau lakukan hari ini?" Ucap putri Senni kemudian".
" Saya tidak ada kegiatan hari ini tuan Putri. Ada apa anda bertanya seperti itu?" Hasea menjawab Putri Senni sedikit kurang bersemangat. Entah apa yang membuat semangatnya seperti tiba-tiba hilang.
"Altong berjanji akan menemaniku ke sungai di bagian selatan hutan ini. Katanya disana tempat yang paling indah dari semua tempat di hutan ini, maukah kau menemaniku ke sana?" Pertanyaan putri Senni itu membuat Hasea ragu. Namun akhirnya dia bersedia menemani putri Senni .
***
"Wah...tempat ini ternyata benar- benar indah. Altong tidak bohong " Putri Senni mengagumi keindahan pemandangan di hadapannya . Aliran air yang jatuh dari air terjun itu begitu jernih. Mereka bahkan bisa melihat ikan-ikan berwarna cerah berenang di sana. Di sebrang sungai ada hamparan rumput hijau dengan berbagai macam bunga liar yang tumbuh subur. Bunga berwarna-warni itu sedang bermekaran .
__ADS_1
Beragam Kupu-kupu yang cantik tampak hilir mudik dari bunga yang satu ke bunga yang lainnya. Pohon-pohon rindang di sekitar menambah asri pemandangan itu. Tampak sekawanan rusa sedang meminum air sungai, sepertinya rusa-rusa tersebut tidak terganggu dengan kehadiran Hasea dan Putri Senni.
" Sepertinya aku tidak menyesal telah diculik ke tempat ini.. hahaha" putri Senni merasa lucu apabila mengingat bahwa statusnya adalah seorang tawanan. Dia merasa lebih seperti berlibur.
Hasea tak berhenti menatap Putri Senni. Seolah ada magnet pada wajah wanita itu. Dia bahkan tidak bosan melihat tindak tanduk putri Cantik tersebut. Namun saat kembali terlintas di pikirannya tentang kedekatan Putri Senni dengan Ketua Altong membuat dia tidak berani menatap Putri itu lebih lama.
" Hase..apakah kau mau menangkap ikan-ikan itu untuk ku?" Ucapan Putri Senni lagi-lagi meyadarkan Hasea dari lamunannya .
"Hah...apa anda sedang berbicara pada saya Tuan Putri? " Hasea sedikit aneh dengan cara Putri Senni memanggil namanya.
"Apa kau melihat ada orang lain di sekitar tempat ini? Tentu saja aku berbicara kepada mu , mulai sekarang aku akan memanggilmu Hase.. itu panggilanku untuk mu" putri Senni kembali tersenyum ke arah Hasea. Sungguh senyuman itu membuat Hasea tak berdaya.
" Berapa ekor yang anda inginkan ? Tapi bukankan makanan yang tadi anda masak masih tersisa banyak? Apakah itu belum cukup?" Hasea bertanya bukan tanpa alasan.
" Oh kau tidak mengerti, ikan yang kumaksud adalah ikan -ikan kecil itu.. ikan yg memiliki ekor dan sirip panjang- panjang dan bercorak warna warni itu. Ikan - ikan itu sungguh menggemaskan. Aku akan bawa pulang untuk ku pelihara. Setidaknya mereka bisa menemaniku saat aku sendirian di tenda" Putri Senni tampak tidak sabar ingin membawa pulang ikan-ikan cantik itu.
" Begitu rupanya.. baiklah" Dengan beberapa gerakan yang cepat, Hasea menangkap beberapa ikan kecil. Dia memasukkannya kedalam wadah yang sebelumnya dibawa oleh Putri Senni.
***
Kedua muda mudi itu akhirnya duduk di tepian sungai sambil menikmati pemandangan disekitarnya . Sesekali percikan air terjun membasahi mereka. Namun sepertinya mereka menikmati moment itu.
" Kau cemburu ya Hase? Ayo jujurlah..kau cemburu ya?" Pertanyaan itu kembali membuat Hasea tersudut . " Sial, apa sekentara itu?" Pikirnya.
" Wah.. kau sungguh berani, bisa-bisanya kau cemburu pada ketuamu sendiri" Putri Senni berbicara sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Hasea. " Dia orang yang baik. Sama sepertimu mungkin dia juga hanya terjebak di tempat ini. Kau tau, sendirian di tempat ini selama berhari-hari tanpa ada teman bicara bisa membuatku gila. Mungkin dia menyadari hal itu. Makanya di sela-sela waktunya yang sibuk, sesekali dia menyempatkan diri menemaniku untuk sekadar berbincang-bincang " Ucap Putri Senni sambil menatap sehelai daun yang terhanyut bergulir lambat mengikuti arus sungai.
" Apakah tuan putri marah telah kami culik?" Ucap Hasea penasaran. " Entahlah, aku tidak tau apakah hal ini seharusnya membuatku marah atau malah bersyukur . Kadang, aku juga bosan dengan rutinitas sebagai seorang putri bangsawan. Setidaknya di tempat ini aku mendapat pengalaman berbeda" Ucapan Putri Senni membuat Hasea mengerutkan keningnya.
" Lagipula dengan begini aku akan tau apakah keluargaku benar perduli kepadaku.. hahaha. Ngomong -ngomong berapa besar tebusan yang kalian minta untuk membebaskan ku?"
" Mengenai hal itu.." Hasea tidak melanjutkan ucapannya. "Rupanya dia tidak tau kalau dia akan ditukarkan dengan tawanan kerajaan" pikir Hasea. Perampok Harinuan bahkan tidak menuntut apa- apa dari Keluarga putri Senni.Kepada pihak kerajaan lah mereka menuntut tebusan.
" Oh ia , apakah anda benar-benar tidak menginginkan beberapa ikan ini tuan Putri? Kelihatannya mereka enak" ucap Hasea sambil tersenyum. Dia mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
" Kau belum tau ya.. aku tidak makan ikan Hase.." ucapan tuan putri itu kembali membuat Hasea mengerutkan keningnya. Dia pernah bertemu dengan orang yang tidak makan daging dan juga ikan. Tapi baru kali ini dia bertemu orang yang makan daging tapi tidak makan ikan.
" Kenapa bisa begitu? Anda ini ratunya ikan atau bagai mana?" Ucap Hasea sambil tersenyum. " Hahaha... Aku ini putri duyung" ucap Putri Senni Asal.
__ADS_1
Senyuman Putri Senni sungguh membuat hati Hasea bergejolak. Dia tidak mengerti , apakah dia memang telah jatuh cinta pada wanita itu? Tapi bukankah hatinya telah terisi oleh Mentari? Dia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.
" Tuan putri.." Hasea berkata pelan sambil membuka telapak tangan kanannya. " Apakah anda bersedia menggenggam tanganku?" Hasea memberanikan diri, dia ingin mengetahui persaaan nya sendiri. Apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan dirinya sendiri .
Di luar dugaan Hasea, putri Senni ternyata menurut dan meletakkan tangannya di telapak tangan Hasea. Dia menggenggamnya. " Lalu?" Ucap putri Senni.
" Apa yang anda rasakan?" Hasea bertanya.
"Entahlah, apa yang seharusnya ku rasakan. Ini sedikit aneh. Aku belum pernah sebelumnya tiba-tiba ditodong untuk menggenggam tangan seseorang" ucap putri cantik tersebut . " Lalu kau sendiri.. apa yang kau rasakan?"
" Tenang, damai...merasa aman" ucap Hasea pelan. Benar, memang itu yang dia rasakan saat menggenggam tangan Putri Senni. Tetapi tetap saja hal tersebut tidak menjawab apa-apa tentang apa yang dia rasakan terhadap putri Senni, genggaman tangan dan gejolak perasaan itu malah membuatnya semakin bingung.
***
Putri Senni bercerita banyak hal pada Hasea pada hari itu. Dia hanya mendengar celotehan putri itu, matanya tidak berhenti menatap wajah dan senyuman Putri Hasea. Mereka sadari atau tidak, tetapi genggaman tangan kedua orang itu tidak terlepas sepanjang mereka bercerita
"Hei... lagi-lagi kau menatapku seperti itu" ucap Putri Senni setelah menyadari tatapan Hasea yang tidak berhenti kepadanya. Dipergoki seperti itu membuat Hasea salah tingkah.
" Hari sudah mulai sore, sebaiknya kita pulang " ucap Hasea. Dia menarik tangan Putri Senni, membantu putri cantik itu untuk berdiri.
Kedua orang itu kembali ke perkemahan. Hasea mengantarkan putri itu sampai kedepan kemah nya.
" Terima kasih untuk hari ini, aku sangat senang" ucap Putri Senni sesaat sebelum memasuki tendanya. " Anda tidak perlu sungkan tuan putri. Kapanpun anda minta, saya dengan senang hati akan menemani anda" ucap Hasea dengan senyum terbaik yang dia bisa berikan.
Putri Senni hanya tersenyum mendengar ucapan Hasea itu, lagi- lagi senyuman itu membuat hati Hasea bergetar hebat.
" Hei.." teguran Putri Senni menyadarkan Hasea dari Lamunannya .
" Baiklah, saya permisi tuan putri" ucap Hasea sambil berbalik badan.
" Hase.. " panggil Tuan Putri saat Hasea baru 5 langkah menjauhi tenda nya. Hasea berbalik badan merespons panggilan Tuan Putri itu.
" Jangan jatuh cinta kepadaku, telah banyak hati pria yang ku patahkan" Kalimat yang dulu juga pernah diucapkan Putri Senni kepadanya kembali dia ucapkan . Hasea hanya tersenyum mendengarnya , kemudian dia berjalan meninggalkan putri cantik jelita tersebut .
***
Sedikit bucin? Wajarlah ya.. mereka kan masih remaja. Dilan aja bisa bucin-bucinan.
__ADS_1
Mohon support nya ya teman2. Kalo sekiranya teman2 kurang suka dengan Adegan2 kebucinan ini, tinggalkan jejak di kolom komentar Okey?