PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 62. Cerita Leluhur Hasapi


__ADS_3

Hasapi segera bisa mengenali ukiran naga yang khas di cincin yang diberikan Hasea. Ukuran naga khas lambang keluarganya.


" Apa benar dia masih hidup? Bagaimana kabarnya? Bagaimana rupa nya? Apa dia berlaku baik padamu? Ayo ceritakan padaku." Hasapi menodong Hasea dengan berpuluh-puluh pertanyaan.


" Tunggu tuan, apa anda mengenal orang yang memberikan cincin ini?" Hasea penasaran. " Kenal? Aku bahkan tidak tau rupanya. Aku hanya mengenalnya dari cerita turun temurun keluargaku dan dari kitab yang dimiliki oleh keluargaku."


"Kitab? Kitab apa yang anda maksud? Apa sebenarnya hubungan anda dengan Senior Isumbaon?"


" Ah..sebaiknya kita pulang, nanti akan ku ceritakan kepadamu. Kau tidak berfikir bahwa semua ini kebetulan bukan?"


***


Hasea bersama Hasapi memasuki sebuah gubuk yang hampir saja roboh. Gubuk itu sebenarnya sama sekali sudah tidak layak ditempati tapi hanya itu tempat tinggal yang Hasapi miliki.


"Setelah semua ini, aku akan meninggalkan desa kumuh ini." Kelekar Hasapi.


" Kemari lah, akan kutunjukkan sesuatu padamu." Hasapi mengambil sebuah buku lusuh . Buku yang setiap lembarannya terbuat dari kulit binatang. Usia buku yang sudah sangat tua membuat Hasapi harus berhati-hati membuka lembaran buku itu kalau tidak mau buku itu rusak.


" Ini adalah kitab yang turun temurun yang diwariskan oleh keluargaku.Kau lihat tanda ini? Gambar daun pada buku ini sama persis dengan goresan daun yang ada pada cincin yang kau berikan pada ku. Pertemuan kita bukanlah sesuatu yang kebetulan. Semua itu tertulis di buku ini."


Hasapi kemudian menceritakan semua cerita yang dia dapatkan turun temurun dari keluarganya.


Telah sangat lama keluarganya menunggu kedatangan Hasea atau lebih tepatnya keturunan penjaga naga Gumoang. Seperti yang telah disampaikan oleh Isumbaon sebagai leluhur Hasapi kepada keturunannya terdahulu yakni keturunan Isumbaon jauh sebelum generasi Hasapi.


Pesannya adalah untuk menuntun keturunan penjaga naga Gumoang tersebut menuju jalan masuk bukit menangis. Entah sudah berapa garis keturunan dan berapa ratus tahun mereka menunggu, mereka hampir saja putus asa .

__ADS_1


Hasapi bahkan sudah mulai tidak percaya akan isi kitab itu, menganggap yang tertulis dalam kitab itu adalah bualan semata sampai Hasea mendatanginya di restoran waktu itu. Walau dalam keadaan mabuk, Hasapi dapat melihat gambar naga Gumoang di lengan kanan Hasea. Gambar yang sama persis seperti yang tergambar juga di buku warisan keluarganya. Itu yang meyakinkan Hasapi bahwa Hasea lah orang yang ditunggu keluarganya selama ini.


Hasea jadi mengerti kalau selama ini Isumbaon ternyata memang sudah menunggunya. Pantas saja pria itu tidak terkejut dengan kehadiran Hasea yang tiba-tiba di bukit menangis.


" Baiklah Tuan. Terima kasih atas bantuan anda selama ini. Lalu dengan kepingan emas sebanyak ini apa yang tuan rencanakan selanjutnya?"


" Entahlah, terlalu lama hidup di selimuti kemiskinan membuatku jadi bodoh..hahaha." Hasapi hanya bisa tertawa. Sudah sangat lama dia membayangkan memiliki banyak emas tetapi setelah sekarang dia memilikinya, Hasapi bahkan tidak tau akan dia apakan emas-emas itu. Selama ini hanya tugas untuk mengantarkan keturunan penjaga naga Gumoang yang menjadi tujuan hidupnya dan hal itu telah dia penuhi.


" Saya memiliki Ide, semoga Tuan berkenan." Ucap Hasea.


***


Hasea dan Hasapi melakukan perjalanan bersama. Tujuan mereka adalah kota Raniatte. Hasea menganjurkan agar Hasapi membuka usaha restoran dan penginapan di kota itu. Awalnya Hasapi menolak, tapi akhirnya Hasea berhasil meyakinkan pria tua buncit tersebut.


" Tuan, anda lihat penginapan di depan itu? Itu penginapan yang akan kita beli." Hasea menunjuk sebuah penginapan lengkap dengan restoran di dalamnya. Itu adalah restoran milik nenek Lamsia dulu.


Kedua orang itu duduk di salah satu meja di sudut ruangan restoran. Mata Hasea nanar menyisir seluruh ruangan restoran. Sementara Hasapi, seperti kebiasaannya langsung menenggak beberapa gelas arak yang telah dipesannya.


Mata Hasea berhenti di salah satu meja yang berjarak 5 meja dari mereka. Terdapat 6 orang yang sedang menikmati makanan yang terhidang di meja mereka. Hasea seperti tidak asing dengan salah satu diantara orang-orang itu.


"Sebaiknya seluruh orang di ruangan ini segera pergi."


Suara teriakan yang berasal dari pintu masuk restoran mengagetkan semua orang yang ada di sana. Termasuk Hasea, juga tidak terkecuali ke 6 orang yang tadi Hasea perhatikan. Perhatian mereka teralihkan ke asal suara.


" Mereka Pendekar sekte bulan gerhana, sebaik nya kita pergi ." Samar Hasea mendengar bisikan dari orang-orang yang baru saja meninggalkan restoran dengan ketakutan.

__ADS_1


" Pendekar sekte Bulan gerhana?" Hasea bergumam dalam batinnya. Sebenarnya Hasea tidak terlalu terkejut karena sekte Bulan Gerhana memang kerap kali membuat keonaran di berbagai tempat. Modusnya selalu sama, ingin menyucikan kota-kota di seluruh kerajaan Partungko Naginjang, itulah kata mereka. Alasan yang aneh, karena mereka sendiri merupakan sekte aliran hitam yang kerapkali melakukan hal-hal yang tidak suci.


" Hei tuan..apakah kalian sudah bosan hidup?" Pendekar yang tadi berteriak lantang untuk menyuruh semua orang pergi itu kini mendekati meja yang ditempati oleh ke 6 orang yang sedari tadi di perhatikan oleh Hasea.


" Maafkan kami tuan, kami akan pergi setelah selesai makan." Ucap salah satu diantara 6 orang itu dengan tenang.


" Kurang ajar, apa kalian tidak tau siapa kami? Ketua muda kami akan makan di tempat ini. Manusia kotor seperti kalian bisa merusak kesucian batinnya." Teriak pendekar Bulan Gerhana itu dengan lantang. Saat berbicara, urat-urat di lehernya bahkan menonjol keluar pertanda manusia itu sedang berada di puncak emosinya.


" Tuan, sebaiknya anda pergi dari tempat ini bila anda masih menyayangi nyawa anda." Salah satu pelayan berbisik pelan kepada Hasea. Hasea menoleh ke arah Hasapi yang menelungkupkan wajahnya diatas meja. "Orang ini, bisa-bisanya dia mabuk siang terik seperti ini." Gumam Hasea. Hasapi memang tengah mabuk dan tertidur.


" Tuan, aku bermaksud untuk pergi, tapi lihatlah pemabuk ini." Tunjuk Hasea ke arah Hasapi.Hasea kemudian kembali mengamati orang yang sedang adu mulut yang ada di depannya.


" Tuan, bukankah aku sudah bilang..kami akan meninggalkan tempat ini setelah selesai makan." Tiba-tiba terpancar aura tenaga dalam yang besar dari orang itu.


" Itu.. orang itu bukankah Panglima Suhad?" Mata Hasea terbelalak. Orang yang sedari tadi diamati oleh Hasea ternyata adalah Panglima yang dulu sempat dia hadapi. Hasea tidak langsung bisa mengenali Panglima Suhad karena panglima bersama ke 5 anak buahnya itu memang sedang dalam penyamaran. Hasea baru bisa mengenali orang itu setelah dia berdiri dan mengeluarkan aura tenaga dalamnya.


" Apa yang dilakukan Panglima Suhad di tempat ini? Apakah dia sedang menjalankan misi yang membutuhkan penyamaran? Benaknya.


"Siapa kau sebenarnya?" Pendekar Sekte Bulan gerhana itu berucap sambil terbara-bata. Aura tenaga dalam yang dipancarkan panglima Suhad memang membuatnya tertekan.


"Ada apa Dengga? Kenapa belum kau bersihkan tempat ini untukku?" Suara pelan yang berasal dari arah pintu masuk restoran menggetarkan semua orang di dalam restoran itu. Suara itu walau pelan, tetapi memang sengaja dipenuhi tenaga dalam yang besar . Pertanda orang itu ingin menekan dan memperlihatkan kesaktiannya kepada seisi restoran. Hasea dan panglima Suhad bahkan mengalami tekanan sebagai dampak aura tenaga dalam yang dipancarkan Alimar, ketua muda bulan gerhana itu.


" Mohon maaf ketua Alimar, ada sedikit gangguan..tapi saya akan membereskannya dalam waktu 5 Menit, mohon beri saya waktu. " Setelah meminta ijin kepada ketua nya, Dengga mengalihkan tatapan matanya ke Panglima Suhad, mencoba membalikkan tekanan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Up 1 chapter tambahan hari ini sesuai Janji. :). Walau masih kurang 6 like sih sebenarnya. Hehehe..


__ADS_2