PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 95. Serangan Gelombang Pertama


__ADS_3

Honasasom, tangan kanan ketua Marrupa berlari terburu-buru menghadap ketua sekte bulan Purnama itu.


" Ketua, informasi dari delik sandi kita bahwa anggota sekte Matahari biru sudah berada dekat dengan kota Pintu Suona. Empat ratusan pendekar jumlahnya. Beberapa jam lagi mereka akan tiba di gerbang kota."


Marrupa yang memang sudah siap hanya menarik nafas panjang. Dia tidak terlalu terkejut, namun wajahnya mengguratkan kecemasan.


Informasi pendahuluan yang mereka dapat bahwa Matahari biru akan benar menyerang kota Pintu Suona membuat mereka bersiap untuk segala kemungkinan.


" Begitu ya, jadi pertarungan benar-benar tidak akan terelakkan rupanya ."


Gilok dan Terisab yang ada bersama dengan Marrupa dalam ruangan itu tidak menunjukkan eksperesi apa-apa. Mereka sekuat tenaga akan membantu, tetapi tetap saja keputusan ada pada Marrupa.


" Baiklah, persiapkan semua anggota sekte untuk bertarung. Kita beri mereka pelajaran."


Walau Marrupa yakin mereka bisa memukul mundur pendekar sekte Matahari biru gelombang pertama ini, namun sebenarnya tetap saja dia menyayangkan hal ini. Banyak nyawa akan melayang sia-sia.


***


Sebanyak 500 pendekar Sekte Bulan Purnama dan Sekte Walet hitam telah berjejer rapi di luar kota Pintu Suona. Mereka bermaksud mencegat para pendekar Matahari biru di tempat itu sebelum mereka sampai memasuki kota.


Kekuatan gabungan pendekar Bulan Purnama dan Walet hitam sebenarnya cukup besar. Beberapa pendekar Langka terdapat disana. Belum lagi puluhan pendekar ahli dan unik serta ratusan pendekar Pemula dan pendekar dasar.


Sisa ratusan anggota Sekte Bulan Purnama memang masih menunggu di dalam kota. Sengaja mereka tidak mengeluarkan seluruh kekuatan, mereka harus mengimbangi strategi yang dilancarkan oleh sekte matahari Biru.


***


Ratusan pendekar Matahari biru telah tiba di luar kota Pintu Suona. Langkah mereka terhenti melihat ratusan pendekar Bulan Purnama telah menunggu .


" Sepertinya pertarungan terbuka memang akan terjadi." Batin Honasasom.


Marrupa, Gilok dan Terisab berada di barisan paling depan. Ke tiga pendekar Legenda itu telah memasang kewaspadaan penuh. Mereka yang akan memimpin pertarungan terbuka kali ini.


Situasi mencekam di tempat itu membuat bulu kuduk hampir semua orang berdiri. Entah apa yang ada dalam pikiran masing-masing dari mereka. Satu hal yang pasti bisa jadi nyawa mereka akan melayang hari ini.


" Apa yang kita tunggu senior?"


Salah satu anggota sekte Matahari biru yang ada pada barisan paling depan bertanya kepada ketua regu penyerangan gelombang pertama disampingnya .


Wakijan, ketua regu serang gelombang pertama sekte matahari biru itu masih terdiam. Sepertinya dia sedang menakar kekuatan musuh.

__ADS_1


" Bukankah orang itu??? Apakah mungkin orang itu Gilok?" Seru Wakijan. Sepertinya dia mengenali Gilok. Pendekar Legenda yang diberitakan telah menghilang puluhan tahun lalu.


" Gilok? Maksud mu pendekar Legenda yang telah moksa itu? Bagaimana dia ada di tempat ini?"


Emtebe pendekar utusan Sekte Banteng merah itu menjadi khawatir. Di wajahnya terpampang jelas rona kecemasan. Hal yang mereka ketahui sebelumnya adalah setidaknya mereka akan berhadapan dengan 1 orang pendekar legenda yakni Marrupa. Mereka sama sekali tidak memperkirakan akan ada pendekar legenda lain disana. Dengan kehadiran Gilok tampaknya mereka akan mengalami kesulitan.


" Bagaimana ini?"


" Apa nya yang bagaimana? Tekad kita telah bulat bukan? Tunggu apa lagi. Ayo serang..!!!"


Komando Wakijan itu langsung dipatuhi oleh rombongan sekte Matahari Biru dan sekutu mereka itu .


Ratusan pendekar Matahari biru serentak berlari ke arah rombongan sekte Bulan Purnama. Perterungan terbuka akhirnya terjadi.


" Ayo kita beri mereka pelajaran."


Ucapan pelan Marrupa itu sebagai pengganti perintah seruan untuk menyerang. Serentak anggota Sekte Bulan Purnama dan Sekte Walet hitam menyerbu pasukan Matahari Biru.


Pemandangan yang sangat mengerikan terjadi . Pertarungan antara ratusan pendekar dan suara pedang saling beradu terdengar dimana-mana.


Jeritan kesakitan akibat tebasan pedang yang bersarang di tubuh seseorang terdengar dimana-mana.


" Sialan..jangan biarkan orang itu. Ayo kita menghadapinya bersama-sama." Emtebe memanggil rekan-rekannya sesama anggota sekte Banteng merah.


Ke tujuh pendekar sekte banteng merah berkemampuan pendekar Langka itu melesat mengepung Gilok.


" Orang tua, kami lawan mu."


Emtebe berteriak jumawa untuk menutupi rasa khawatirnya.


" Hahaha. Baiklah, menghadapi 7 pendekar Langka sekaligus sepertinya tidak masalah."


Gilok tidak menunggu lama. Dia melesat ke arah ketujuh pendekar itu. Dengan cepat tukar menukar puluhan jurus terjadi diantara mereka.


Marrupa bergerak, walau tidak selincah Gilok namun tenaga dalam yang dipancarkan orang tua itu sangat besar. Dari telapak tangannya dia melemparkan bola-bola yang dibentuk dari tenaga dalam kepada setiap orang yang ada di hadapannya. Puluhan pendekar berkemampuan rendah telah dipukul mundur olehnya.


" Bentuk Formasi Api Matahari, kita hadapi orang tua itu."


Wakijan berseru lantang. Hal tersebut langsung diikuti oleh rekan-rekannya.

__ADS_1


10 orang pendekar berkemampuan Langka dari sekte Matahari biru kini mengepung Marrupa. Mereka membentuk lingkaran dengan Marrupa sebagai pusat lingkaran itu.


Tubuh ke 10 pendekar Matahari Biru itu memancarkan aura tenaga dalam berwarna biru. Mereka bergerak bersamaan. Gerakan mereka sangat padu padan.


Marrupa sempat terdesak dan kewalahan menghadapi mereka.


" Sial, tidak ku sangka kemampuan pendekar sekte matahari biru bisa berkembang sepesat ini." Batin Marrupa.


Marrupa masih berupaya menghindari dan menangkis pukulan ke 10 pendekar itu. Namun sulit, gerakan lawannya itu sangat kompak seirama.


Marrupa mencoba melompat untuk keluar dari lingkaran manusia yang mengepungnya. Gagal, sepertinya gerakannya sangat mudah dibaca oleh musuhnya.


Beberapa pukulan bersarang di tubuh Marrupa. Dia terdesak.


Marrupa mengumpulkan segenap tenaga dalam . Tubuhnya memancarkan aura tenaga dalam yang kuat. Kini tubuhnya diselimuti tenaga dalam yang besar berwarna abu-abu.


Ke 10 pendekar yang menghadapi Marrupa sempat kewalahan dan tertekan akibat aura tenaga dalam yang dipancarkan orang tua itu, lingkaran yang mereka bentuk untuk mengepung orang tua itu sempat tercerai berai. Namun akhirnya mereka dapat lepas dari tekanan. Mereka kembali mengepung Marrupa.


" Tidak bisa terus seperti ini." Batin Marrupa. " Jurus gelombang bulan purnama."


Marrupa melompat tinggi ke udara kemudian dia kembali melesat ke bawah . Tinjunya dia arahkan ke tanah.


Terjadi dentuman besar saat tinju Marrupa menyentuh tanah. Tanah itu seolah meledak. Gelombang tenaga dalam yang besar memancar dari para tinju Marrupa. Terdapat lubang besar bekas pukulan Marrupa di tanah yang dia tinju. Ke 10 pendekar yang mengepung Marrupa terpental jauh akibat gelombang tenaga dalam Marrupa.


Tidak menyia-nyiakan hal tersebut, Marrupa melesat cepat ke salah satu pendekar itu. Dia melayangkan tinju ke salah satu pendekar Matahari Biru yang mengepungnya. Pendekar matahari biru yang disasar Marrupa tidak siap. Sebuah tinju bersarang di dadanya. Pendekar itu kembali terpental jauh sampai akhirnya meregang nyawa.


Honasasom memimpin penyerangan kepada ratusan pendekar sekte matahari biru. Terjadi pertarungan besar. Telah banyak yang terbunuh, sayangnya pendekar yang meninggal berasal dari ke dua belah pihak. Darah berceceran dimana-mana. Teriakan dan tangis kesakitan menggema di seluruh lokasi pertarungan.


Awalnya ada hampir seribu orang bertarung disana. Dalam waktu hanya beberapa jam tersisa hanya separuhnya.


Terisab memukul mundur puluhan orang. Gerakannya sangat liar, seolah dia sangat menikmati pertarungan itu. Dengan mudah dia mengalahkan orang-orang yang ada di hadapannya. Mereka memang bukan tandiang Terisab.


Aksi Terisab yang dengan mudah menumbangkan anggota sekte Matahari biru itu menarik perhatian Pikalio, salah satu utusan sekte Banteng merah.


" Siapa orang itu? Tidak cukupkah kita menghadapi 2 orang pendekar legenda? Sekarang Masih harus ditambah 1 orang lagi?"


Wajar bila Pikalio terkejut. Awalnya informasi yang mereka dapat bahwa sekte bulan purnama hanya memiliki 1 orang pendekar legenda yakni Marrupa. Dengan adanya Gilok membantu Sekte Bulan Purnama sebenarnya sudah membuat sekte Matahari biru dan utusan sekte Banteng merah gelombang pertama itu terkejut. Sekarang mereka kembali dikejutkan oleh Terisab, pendekar berkemampuan Legenda yang mereka tidak kenali.


" Apakah mungkin selama ini Sekte Bulan Purnama menyembunyikan kemampuan sebenarnya? Sekte ini bahkan memiliki 3 orang pendekar berkemampuan Legenda. "

__ADS_1


Salahi, pendekar utusan sekte Banteng Merah yang tidak kalah terkejut melihat kemampuan Terisab menjadi pucat. Mereka sama sekali tidak menduga hal ini.


__ADS_2