
" Tuan...tuan." Seorang pelayan Hasiahan berlari tergopoh-gopoh mendekati tuannya itu. Wajah pelayan itu terlihat begitu riang. Sepertunya ada kabar gembira yang hendak dia sampaikan.
" Ada apa Senta? Kau sungguh tidak sopan . Tidakkah kau lihat aku sedang berbicara dengan tuan-tuan ini?"
Hasiahan sedikit kesal melihat wanita paruh baya yang merupakan pelayannya itu. Saat itu memang Hasiahan sedang menjamu Hasapi dan Gilok. Kedua pendekar yang mendamping Hasea itu memang lebih dahulu kembali dari telaga. Sementara Terisab masih di telaga untuk menunggu roh Hasea kembali ke tubuh nya.
" Maafkan saya tuan, tapi...tapi tuan putri.."
" Ada apa dengan Arinauli?"
Hasiahan menjadi panik. Dia takut ada sesuatu yang tenjadi dengan cucunya itu.
"Tuan putri telah sadarkan diri tuan."
" Apa..?" Ke tiga orang tua itu berteriak serentak.
Hasiahan langsung berlari menuju kamar perawatan cucunya. Dia diikuti oleh Gilok dan Hasapi.
'Pemuda itu, sepertinya dia berhasil."' Batin Gilok seraya tersenyum simpul.
"Arinauli, kau telah siuman ? Akhirnya setelah sekian tahun..." Hasiahan memeluk cucu simata wayangnya itu dengan penuh haru.
" Kakek...kau memelukku terlalu erat." Arinauli meringis. Hasiahan memang terlalu erat memeluk cucu kesayangannya itu karena rasa gembira yang begitu besar. Air mata pria tua itu bahkan tidak berhenti mengalir.
" Maafkan aku.. aku sedikit berlebihan. Lalu bagaimana cucuku? Apa yang kau rasakan? Apa yang sakit? Apa yang kau inginkan? " Tanya Hasiahan menggebu-gebu.
Hasiahan menggenggam tangan cucunya itu. Rasa rindu yang begitu besar membuatnya tidak ingin melepas tangan cucunya itu. Air mata Hasiahan tak berhenti mengalir. Seluruh pelayan di ruangan itu turut merasakan kegembiraan tuannya itu. Empat tahun mereka hanya bisa melihat Arinauli terbaring ,selama itu pula mereka hanya bisa melihat Hasiahan murung dilanda rasa bersalah yang besar.
Gilok tidak berhenti haru melihat pemandangan itu. Kasih sayang seorang kakek yang begitu besar untuk cucu nya. Tak terasa mata Gilok berkaca-kaca melihat momen indah itu.
" Katakan Arina, apa yang kau inginkan? Aku akan memenuhi semua permintaan mu. Aku tidak akan pernah mengabaikan mu." Hasiahan terus saja mencerca Arinauli dengan segudang pertanyaan.
" Kakek, maafkan Arina. Arina telah menyusahkan kakek."
" Tidak, tidak Arina..Kakek yang harus meminta maaf karena telah membiarkan mu sendiri selama ini. Maafkan kakek Arina."
Hasiahan menggenggam kedua tangan Arianuli. Dia menatap dalam pada kedua mata cucu nya itu.
" Katakan..apa yang kau inginkan?"
" Kakek, aku tidak butuh apa-apa..berada disini sudah membuat semua kebutuhanku terpenuhi." Ucap Arinauli pelan.
" Tapi mungkin aku butuh sedikit makan. Perutku sangat lapar."
***
Hasea membuka kedua matanya. Dia dapat melihat Terisab sedang berdiri di depannya. Pria tua itu memelototi Hasea untuk waktu yang cukup lama.
" Hasea, kau kembali?"
__ADS_1
" Terima kasih tuan telah menjaga tubuhku. Dimana tuan Hasapi dan tuan Gilok? "
" Mereka kembali lebih dahulu ke kediaman Hasiahan. Kita tentu tidak mau dianggap melarikan diri bukan? Lalu bagaimana? Apa kau berhasil?"
" Entahlah tuan, untuk mengetahui hal itu kita harus kembali."
Terisab memandangi Hasea dengan tatapan tajam. Dia dapat merasakan lonjakan tenaga dalam yang besar terpancar dari Hasea walau sebenarnya pemuda itu sama sekali tidak sedang memancarkan aura tenaga dalamnya.
'Pemuda ini, entah apa yang terjadi dengannya selama roh nya pergi . Tapi kini Aura tenaga dalamnya begitu besar. Dalam usia semuda ini kemampuannya sudah berada di tingkat pendekar legenda.' Batin Terisab.
***
Arinauli melahap semua hidangan yang disajikan di hadapannya. Wanita muda itu tidak banyak bergerak. Terbaring untuk waktu yang lama membuatnya harus menyesuaikan diri. Hasiahan bahkan ingin menyuapi Arinauli, tetapi wanita muda itu menolaknya. Dia sudah terlalu tua untuk disuapi.
" Kakek... Dimana Hasea?" Tanya Arinauli tiba-tiba disela makannya.
" Tuan Hasea ya.. oh ia tuan Gilok, benar juga. Aku sampai melupakan tabib muda itu. Dimana dia? "
" Mungkin sebentar lagi mereka akan tiba tuan."
Arinauli menyelesaikan makannya. Dia juga telah diberi obat oleh Hasapi. Sumber daya obat yang dititipkan oleh Hasea kepadanya.
Dalam beberapa waktu, akhirnya Arinauli bisa bangkit dari tempat tidurnya. Tetapi tetap saja dia tidak membuat gerakan yang tiba-tiba.
***
Hasea dan Terisab memasuki kediaman Hasiahan. Pelayan membawa kedua orang itu ke kamar Arinauli. Semua orang memang sedang menunggu mereka.
" Terima kasih...entah apa jadinya bila kau tidak datang."
" Heeh..sudah menjadi tugas ku. Tidak usah sungkan begitu." Jawab Hasea sekenanya.
***
" Tuan Hasea.. saya ucapkan terima kasih, anda benar-benar tabib yang hebat. " Puji Hasiahan setelah kesemua mereka duduk sambil menikmati hidangan yang tersaji di meja.
Hasiahan memang membuat jamuan kecil untuk menyambut kembali nya cucunya dari sakit.
"Heeh.. tuan, Sebenarnya saya hanya beruntung saja." Hasea tersenyum simpul. Dia masih tidak enak hati karena berbohong kepada Hasiahan. Tapi bagaimana pun dia telah berhasil menyembuhkan Arinauli. Roh nya kembali dan tenaganya kembali pulih juga dengan bantuan sumber daya obat dari Hasea.
" Kalau tidak ada anda entah apa jadinya diriku ini." Mata Hasiahan berkaca-kaca. Dia memegang tangan Arinauli yang duduk disampingnya tetapi matanya menatap Hasea.
Hasea dan rombongannya bisa merasakan besarnya kasih sayang dan penyesalan yang mendalam Hasiahan kepada cucunya itu.
" Oh ia..karena larut dalam kegembiraan, saya sampai lupa. Berapa imbalan yang harus aku bayarkan tuan?"
" Mengenai hal itu, sebenarnya kami tidak mengharapkan sepeser pun imbalan dari anda tuan."
Jawaban Hasea membuat Hasiahan terdiam untuk sesaat.
__ADS_1
" Tuan,mohon jangan seperti itu. Saya memang tidaklah memiliki banyak harta. Hanya saja saya masih bisa memberi keping emas yang cukup. Mohon anda tidak menolak."
" Sungguh tuan, kami tidak mengharapkan emas anda. Tapi mungkin..."
" Katakanlah tuan, apa anda menginginkan hal yang lain?"
" Maafkan saya tuan, ini mungkin akan mengejutkan anda. Tapi saya dengar anda memiliki benda antik. Apabila anda berkenan, saya akan meminta itu sebagai imbalan. Tetapi saya tidak akan memaksa."
" Begitu ya.." Hasiahan terdiam. Dia memegang dagu nya. Dia tidak langsung menjawab Hasea.
" Tuan, ikutlah dengan ku."
Setelah selesai bersantap malam, Hasiahan mengajak semua tamunya ke sebuah ruangan. Termasuk juga Arinauli.
" Ini adalah pedang yang konon bahannya terbuat dari batu langit. Jujur saya juga tidak tau apa istimewanya pedang ini. Tetapi entah sudah berapa orang yang menginginkannya dengan berbagai imbalan."
Hasiahan menunjukkan pedang hitam berbahan batu langit kepada Hasea dan rombongannya. Pria tua itu mengelus pedang hitam yang sepertinya terawat dengan baik itu.
" Ini adalah satu-satunya benda peninggalan anakku. Orang tua dari Arinauli. Saya tidak tau bagaimana dia mendapatkannya. Tetapi sebenarnya pedang ini sangat berarti bagi ku."
Mata Hasiahan kembali berkaca-kaca. Sepertinya berat baginya untuk melepas pedang peninggalan anak nya itu.
" Tapi bagaimana pun. Ini hanyalah sebuah pedang. Anda telah menyembuhkan Arinauli, anda pantas mendapatkan pedang ini."
Hasiahan menyerahkan pedang hitam kepada Hasea. Untuk sesaat Hasea memandangi pedang itu. Dia dapat merasakan pedang itu bukanlah pedang istimewa.
' Semoga pedang ini bisa menjadi alasan untuk ku melakukan negosiasi dengan Sekte Bulan Purnama.' Benak Hasea.
***
Honasasom dan beberapa petinggi Sekte bulan purnama berkumpul dalam satu ruangan. Pertemuan itu dipimpin langsung oleh Marrupa. Ketua sekte Bulan Purnama.
Informasi terbaru yang mereka dapat bahwa sekte matahari biru sudah semakin dekat dengan hari penyerangan mereka ke kota pintu suona. Sekte aliran hitam itu rupanya memajukan waktu serang mereka setelah selesai dengan semua persiapan mereka.
" Ketua..apa yang akan kita lakukan? Sekalipun sebagian besar anggota sekte kita yang melaksanakan misi telah kembali, tetapi tetap saja kekuatan yang kita miliki sekarang tidak akan dengan mudah untuk bisa memukul mundur sekte Matahari biru."
Honasasom yang paham betul kekuatan sektenya tampak khawatir. Dia tau apabila sekte bulan purnama berhadapan langsung dengan sekte matahari biru, mereka masih memiliki kemungkinan untuk menang walau akan banyak jatuh korban dari kedua belah pihak. Namun kali ini kondisinya berbeda. Sekte matahari biru mungkin saja mendapat bantuan terselubung. Entah itu dari aliansi hitam atau bahkan dari Sekte Banteng Merah.
" Sepertinya ini akan menjadi ujian berat bagi kita. Posisi kita terjepit. Kalau saja kita meminta bantuan kepada aliansi putih, aku yakin mereka akan meminta imbalan pertukaran pemerintahan di kota pintu suona ini. Hal tersebut akan menjadi alasan bagi mereka untuk mengambil alih peran kita akan kota ini. Tetapi apabila kita bersikukuh tidak meminta bantuan, maka kemungkinan besar mereka malah akan membantu sekte Matahari biru."
Marrupa berfikir keras. Mereka berada pada posisi serba salah. Marrupa bukan orang yang mabuk kekuasaan, bisa saja dia menyerahkan kepemimpinan atas kota pintu suona kepada sekte Banteng merah tapi dia tau liciknya sekte itu.
Memberi kuasa akan kota pintus suona kepada banteng merah akan mengakibatkan nasib kota itu tidak jauh berbeda apabila sekte aliran hitam yang merebutnya.
" Lalu apa keputusan anda ketua."
Honasasom yang sedari tadi gelisah menunggu keputusan ketua sektenya itu.
" Kita akan melawan dengan kekuatan kita sendiri. Kota ini akan lebih baik kalau kita sendiri yang menjaganya. Dari dulu dan waktu yang akan datang akan tetap seperti itu. Beri kabar kepada sekte walet hitam. Kita akan membutuhkan bantuan mereka."
__ADS_1
" Baik ketua."
Honasasom menerima perintah.