
" Akhirnya kau pulang." Sapa Nenek tua menyambut kepulangan Rimbu. Senyum tipis merekah di bibir nenek itu "siapa pria tampan yang pulang bersamamu."Kedua matanya disipitkannya memandang Rimbu curiga.
" Nenek!!! kenapa menatap ku seperti itu, dia hanyalah pemuda yang bertemu dengan ku di jalan. Dia kelihatan sangat kelaparan. Jadi aku mengundangnya untuk makan bersama kita." Rimbu mencoba menjelaskan, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah.
" Anak muda, ayo bergabunglah dengan kami untuk makan malam." Seorang nenek tiba-tiba muncul di hadapan Hasea saat dia keluar dari bilik setelah selesai membersihkan badannya. Kemunculan nenek itu yang tiba-tiba membuat Hasea sedikit terkejut. " Ah.. ia baik nek, maaf sudah merepotkan Anda." Ucap Hasea yang kemudian mengikuti nenek itu masuk kedalam rumah.
" Ayo makanlah bersama kami. Aku takut kau mati kelaparan. Aku jamin kau akan menyukai masakan nenek Lamsia." Ucap Rimbu menyambut Hasea.
Benar saja, Hasea melahap semua makanan yang dihidangkan di depannya. Sudah sangat lama dia hanya makan ikan atau ayam hutan yang hanya dia bakar seadanya. Kini makanan yang dimasak dengan berbagai rempah dan bumbu penyedap tersaji di hadapannya membuat nafsu makannya meningkat .
" Apakah kau sudah tidak makan selama beberapa tahun? Cara makanmu sungguh mengerikan." Rimbu begitu heran dengan cara makan Hasea yang seperti ingin menelan semua makanan itu sekaligus.
" Rimbu, biarkan anak muda ini makan sepuasnya."
"Jadi siapa namamu anak muda?" Nenek Lamsia menodongkan pertanyaan kepada Hasea sampai dia sejenak berhenti makan. " Nama saya Hasea nek, terima kasih atas makanan ini. Ini sungguh masakan yang enak. Seharusnya anda membuka restoran. " Puji Hasea tulus.
" Sudah pasti enak, dulu memang nenek adalah pemilik restoran paling terkenal di kota ini, setidaknya sampai para pendekar itu mulai bertingkah sesuka hati." Ucap Rimbu kesal.
__ADS_1
" Sudahlah Rimbu, hal itu tidak perlu diungkit-ungkit lagi.Lalu apakah kau sudah memiliki kekasih atau jangan-jangan kau sudah memiliki seorang istri?" Pertanyaan nenek Lamsia itu membuat Hasea dan Rimbu tersendak secara bersamaan. " Nenek..! Pertanyaan macam apa itu?" Protes Rimbu.
" Memangnya kenapa? Itu sebuah pertanyaan yang sangat wajar. Untuk ukuran pria tampan seperti Hasea ini pastilah banyak wanita yang mendekatinya." Sahut Nenek Lamsia sambil tersenyum menatap Rimbu. " Tidak nek, saya belum menikah.. umur saya bahkan belum bisa dikatakan sudah pantas untuk menikah." Hasea segera menjawab pertanyaan nenek Lamsia berharap tidak ditodong pertanyaan aneh lainnya.
Ke tiga orang itu tak henti berbincang sambil menyantap makanan di meja. Sebenarnya Hasea lebih tertarik untuk menyantap semua makanan itu dari pada meladeni kedua orang di hadapannya berbincang, tapi sesekali dia tetap menjawab dengan ramah pertanyaan-pertanyaan aneh nenek Lamsia.
" Terima kasih nek, masakan nenek sungguh enak. Rasanya berat badanku bertambah dua kali lipat." Ucap Hasea sambil menyuapkan sendokan terakhir ke mulutnya.
" Ini nek, simpanlah" Rimbu menyerahkan bungkusan berisi beberapa keping perak kepada Nenek Lamsia setelah mereka bertiga menyudahi makan malam. " Ini perak yang sangat banyak, apa kau mencuri lagi?" Nenek lamsia menatap Rimbu Khawatir. " Tidak nek, itu upah yang ku terima setelah bekerja beberapa hari ini." Rimbu berbohong. Matanya melirik ke arah Hasea. Hasea mengerti arti dari lirikan itu. " Baiklah, sebaiknya kita istirahat. Malam sudah semakin larut." Seru nenek Lamsia.
Hasea hanya terdiam di tempatnya. Dia menatap sekeliling ruangan rumah kecil itu. Hanya ada 2 kamar disana, salah satu nya adalah kamar nenek Lamsia dan yang lainnya adalah kamar Rimbu. "Kau tidurlah di lantai ruang tengah ini." Rimbu seperti bisa membaca pikiran Hasea yang sedang kebingungan mencari tempat tidur. Rimbu membawakan kasur dan selimut dari kamarnya untuk Hasea.
***
" Apa yang kau lakukan? " Tanya Rimbu saat mendapati Hasea sedang bersemedi di ruang tengah rumah itu. Hasea kemudian membuka matanya saat mendengar suara Rimbu menyapanya. " Kau sudah bangun? Bukankah ini masih terlalu pagi?" Balas Hasea tanpa menjawab pertanyaan Rimbu. " Apa mata mu buta? Matahari bahkan sudah hampir berada di tengah langit." Ucap Rimbu sambil membuka jendela. Berfokus dalam semedinya membuat Hasea tidak menyadari bahwa ini sudah hampir tengah hari.
" Dimana nenek Lamsia?" Tanya Hasea kepada Rimbu menutupi rasa malunya. " Nenek, paling sedang bertani di halaman belakang. Biasanya Nenek menyiram beberapa sayuran yang dia tanam di sana setiap pagi seperti ini".
__ADS_1
" Hei.. kau mau kemana? Apa kau akan mencuri lagi?" Ucapan Hasea itu menghentikan langkah Rimbu yang hendak keluar rumah. " Pelankan suaramu, apa kau ingin nenek mendengarmu? Lagi pula bukankah sudah ku katakan , aku hanya mengambil yang jadi hak kami. " Sorot mata Rimbu tajam mengarah ke Hasea, hal itu membuat Hasea sedikit ngeri.
" Daripada kau berdiam diri saja disitu, bagaimana kalau kau ikut aku ke kota. Siapa tau kau bisa mendapat informasi tentang tempat yang kau tuju itu?" Rimbu menawarkan. Hasea setuju, dia memang ingin segera mengetahui letak Bukit menangis.
Kedua orang itu keluar rumah bersama-sama untuk menuju kota. Di sepanjang jalan kembali Hasea memandangi kondisi orang-orang. Matanya memancarkan keprihatinan. " Bagaimana pihak istana bisa berdiam diri melihat semua ini?" Gumam Hasea.
" Orang-orang itu, apa mereka tidak bosan selalu berbuat onar!!" Mata Rimbu memancarkan kemarahan. Dihadapan mereka terdapat beberapa prajurit kerajaan yang mengobrak abrik dagangan seorang tua.
" Kalau kau tidak bisa membayar pajak, jangan sekali-sekali menjajakan barang dagangan di wilayah kerajaan Partungko Naginjang." Ucap salah satu prajurit itu.
" Mohon ampuni hamba tuan, sungguh hamba belum memiliki sekeping pun perak. Barang dagangan hamba belum ada yang terjual selama beberapa hari ini." Ucap pedagang tua itu sambil bersujud memegangi kaki salah satu prajurit yang memiliki pangkat lebih tinggi.
" Apa yang terjadi?" Tanya Hasea kepada Rimbu. " Apa kau tidak bisa lihat? Para prajurit biadab itu menarik pajak sesuka hati mereka. Pihak kerajaan sama sekali tidak memberi kontribusi akan kehidupan orang-orang di kota ini. Tapi mereka mengutip pajak yang tak masuk akal jumlahnya." Ucap Rimbun penuh amarah.
" Hei apa yang akan kau lakukan?" Hasea menarik lengan Rimbun yang bermaksud mendatangi para prajurit itu.
" Lepaskan tanganku, orang-orang kurang ajar seperti mereka pantas mendapatkan pelajaran."
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di beningnya hati ada keruhnya prasangka, di santunnya sapa ada celanya kata. Mohon maaf lahir dan bathin, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H bagi teman2 yg merayakannya.