PENDEKAR NAGA API

PENDEKAR NAGA API
CH 48. Panglima Ageng Janti


__ADS_3

" Pria ini, nyalinya sungguh besar. Tapi apa yang bisa dilakukannya?" Gumam Hasea. Hasea sungguh kagum dengan keberanian Rimbu, tapi dia juga tau bahwa Rimbu tidak akan memberi perlawanan berarti. Rimbu hanya akan menjadi bulan-bulanan para prajurit itu apabila masih nekat.


" Kau ini berani tapi juga bodoh. Lalu apa yang bisa kau perbuat?"


" Setidaknya aku tidak menjadi pengecut sepertimu?" Rimbu menepis lengan Hasea yang menahannya .


" Hei para prajurit bodoh, apa kalian tidak malu pada ibu kalian. Apakah Kaisar memang mengajari kalian untuk bertingkah kurang ajar seperti itu kepada orang tua?" Teriak Rimbun lantang kepada para prajurit itu.


" Apa barusan kau sedang menghina Kaisar?" Prajurit yang paling tinggi pangkatnya diantara kelima orang itu membalas ucapan Rimbun .


" Ternyata pendengaran mu masih bagus, atau apakah aku harus mengulangi ucapan ku sekali lagi?"


" Kurang ajar, tangkap dia." Prajurit itu memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Rimbu. Rimbu yang sedari tadi memang sengaja memancing amarah para prajurit itu bersiap untuk berlari.


" Kejar pria itu jangan biarkan dia lolos, mulutnya sungguh harus diajari tata krama." Para prajurit itu segera mengejar Rimbu.


" Mulut pria itu bisa membuatnya terbunuh." Gumam Hasea sambil menghela nafas, tapi bagaimana pun tidak mungkin dia membiarkan Rimbu menghadapi para prajurit itu seorang diri.


Hasea mengejar gerombolan prajurit itu. Jumlah prajurit itu memang hanya 7 orang dan hanya 1 orang diantaranya yang memiliki kemampuan setara pendekar unik level 1. Dia adalah prajurit kepala. sementara sisanya hanya berkemampuan pendekar dasar level 1. Tapi sebenarnya untuk saat ini Hasea benar-benar tidak ingin mencari masalah.


Para prajurit itu lebih dulu mendekat kepada Rimbu. Salah satu diantaranya bahkan bisa menjangkaunya dan melayangkan tendangan ke punggung pria kecil itu sehingga dia tersungkur ke tanah.


" Habisi dia." Seru prajurit kepala kepada anak buahnya. Belum sempat para prajurit itu melayangkan pedangnya ke arah Rimbu, sebuah balok melayang ke arah para prajurit. Hasea memang melempar balok itu dari jarak yang cukup jauh. Tetapi kekuatan lemparannya sanggup membuat mereka terkejut.


" Kau jangan ikut campur urusan kerajaan." Gertak prajurit kepala itu kepada Hasea.


" Apa kalian tidak malu dengan jumlah sebanyak itu hanya untuk menghadapi seorang pria kecil?" Hasea tak kalah garang.


" Kurang ajar, sepertinya kalian berdua akan kehilangan nyawa hari ini juga. Serang dia." Seketika itu juga semua prajurit itu beralih ke Hasea.


Belum sempat mereka mendekat, tiba-tiba tubuh Hasea memancarkan aura tenaga dalam yang besar. Lengan kanannya memancarkan cahaya biru. Hasea siap menghadapi mereka semua. " Ayo kalian maju lah . Kita lihat siapa yang lebih dulu menuju alam baka."


Langkah para prajurit itu terhenti. Mereka dapat merasakan aura tenaga dalam yang mengerikan itu. " Kenapa kalian diam saja? Ayo serang dia." Prajurit kepala membentak anak buahnya.

__ADS_1


Prajurit-prajurit itu menyerang Hasea bersama-sama. Seketika mereka melancarkan puluhan jurus kepada Hasea. Namun Hasea bisa mengelak serangan itu.


" Kau cukup lihai juga, tapi kita lihat sampai berapa lama kau bertahan menghadapi kami semua."


"Hah.. terkadang jumlah tidak menjadi penentu." Hasea melancarkan serangan. Dia dengan mudah dapat melihat titik lemah dari setiap prajurit. Satu persatu dibuat terpental oleh pukulannya.


" Rasakan ini, pukulan bulan level 1." Prajurit kepala melancarkan pukulan yang dipenuhi tenaga dalam ke arah Hasea. Hasea mengelak ke samping dan mundur beberapa langkah. " Jurus itu tidak akan melukaiku." Hasea melompat ke arah prajurit kepala. Mereka bertukar beberapa jurus. Hasea melakukan gerakan acak. Semula dia menggunakan jurus sekte Harinuan. Kemudian berganti dengan jurus yang dia pelajari di istana.


" Bagaimana mungkin dia menguasai jurus-jurus kami." Gumam prajurit kepala. " Hai...siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa menggunakan jurus-jurus kami?"


" Siapa aku tidaklah penting sekarang, yang perlu kau ketahui adalah apa yang sedang menantimu di alam baka sana". Gertak Hasea. Bibirnya tersenyum tipis. Ketenangan Hasea membuat prajurit yang lain terdiam . Mereka tahu Hasea bukanlah tandingannya.


" Kau terlalu banyak bicara." Prajurit kepala kembali menyerang Hasea. Lagi-lagi Hasea mampu mengelak walau prajurit kepala itu sudah melancarkan semua jurus yang dia ketahui. Hasea mendaratkan beberapa pukulan telak kepada prajurit kepala. Pukulan- pukulan Hasea itu membuatnya sampai mundur cukup jauh. Dia mulai ragu.


" Kalian memang pengecut. Pengecut seperti kalian tidak pantas menjadi anggota regu serigala gunung." Prajurit kepala itu membentak anak buahnya yang hanya bisa terdiam. Dia melayangkan pedangnya ke salah satu anak buahnya itu. Tebasan pedangnya mengoyakkan perut prajurit itu hingga tewas. " Kalian akan mati di tanganku atau bertarung dengannya."


Para prajurit itu kembali menyerang Hasea ketika melihat rekan mereka tewas di tangan pimpinan mereka sendiri. Mereka tidak punya pilihan.


" Jadi seperti itu ternyata caramu memimpin anak buahmu ya?" Ejek Hasea kepada prajurit kepala. " Tapi bagaimana pun kalian akan bernasib sama."


Seketika Hasea akan menghabisi nyawa prajurit di hadapannya, tetapi kemudian langkahnya terhenti. Dia merasakan aura tenaga dalam yang sangat besar. Nafas Hasea bahkan sesak akibat aura itu.


Hasea dapat merasakan sebuah tombak dipenuhi tenaga dalam melesat ke arahnya. Hasea segera mengelak sesaat sebelum tombak itu mengenai tubuhnya. " Aura ini .. aura ini begitu besar." Gumamnya. Hasea kemudian menoleh ke arah datangnya aura tenaga dalam yang besar itu.


" Hormat kepada Panglima Ageng Janti." Seru prajurit kepala melihat Panglima regu Serigala gunung. " Panglima? Apakah seorang wanita benar-benar bisa menjadi seorang panglima?" Gumam Hasea. Dia dapat merasakan wanita itu setidaknya setara pendekar Langka Level 2 .


" Kau sungguh memalukan. Kau tidak pantas disebut prajurit kepala regu Serigala Gunung." Panglima Ageng Janti menggerakan tangannya. Seketika tombak yang dia gunakan menyerang Hasea bergerak dan melayang di udara. Tombak itu kemudian melesat menuju prajurit kepala. Seketika itu prajurit kepala bersimbah darah dan meregang nyawa. Tubuhnya bahkan masih berdiri tegak dengan tombak tertancap tembus di dadanya.


" Tombak itu adalah senjata pusaka." Gumam Hasea. " Siapa sebenarnya orang ini?" Hasea meningkatkan kewaspadaannya. Dia tidak yakin bisa mengalahkan wanita itu. " Dia adalah putri Ageng Janti. Putri pertama kaisar. Orang itu sangat berbahaya dia tidak memiliki perasaan. " Ucap Rimbu seolah bisa membaca pikiran Hasea. " Kalau dia berada disini, itu artinya prajurit regu Serigala Gunung sudah berada di kota ini."


" Putri Ageng? Apa itu artinya dia saudara tiri ku?" Gumam Hasea. " Pantas saja aku tidak pernah bertemu dengannya di istana. Ternyata dia seorang Panglima."


" Kau sungguh bernyali besar berani mengusik prajurit regu Serigala gunung. Mungkin kau memiliki 9 nyawa. Tetapi dengan senang hati, aku akan membunuhmu berkali-kali." Panglima Ageng Janti menatap Hasea dingin. Putri pertama kaisar itu memancarkan aura tenaga dalam yang lebih besar.

__ADS_1


Hasea belum lepas dari tekanan aura tenaga dalam itu, dia kembali dikejutkan dengan datangnya hampir seribu prajurit regu Serigala Gunung. Beberapa dari mereka menunggang kuda sementara yang lainnya berlari mendekati Panglima Ageng Janti.


" Gawat.. menghadapi wanita itu seorang saja aku tidak yakin bisa menang, apalagi harus mengalahkan orang sebanyak itu." Gumam Hasea.


" Serang dia..." Panglima Ageng Janti memberi perintah yang langsung dipatuhi oleh anak buahnya. Semua prajurit itu bersiap menyerang Hasea.


Mata Hasea menyisir sekelilingnya. " Sepertinya ini cukup. Jurus Naga terbang menggulung lautan."


Seketika itu seluruh air yang ada di sekitar lokasi itu berkumpul seturut gerakan tangan Hasea. Air-air dari kubangan, air hujan yang tertampung di guci-guci sekitar tempat itu terkumpul membentuk naga. Tidak terlalu besar tetapi hal itu mengagetkan semua orang yang ada di tempat itu. Tidak terkecuali Panglima Ageng Janti. Sudah banyak orang dengan berbagai jurus dia hadapi. Tetapi yang seperti ini, baru kali ini dia melihatnya.


" Ombak biru level 1." Air berbentuk naga itu melesat ke kerumunan prajurit di hadapan Hasea. Saat air itu menghantam sebagian besar dari mereka , seketika itu juga mereka terpental . Kesempatan itu tidak disia-siakan Hasea. Dia menarik lengan Rimbu dan membawanya kabur dari tempat itu.


" Jurus itu.. jurus apa sebenarnya itu. Kalau saja aku tidak mengerahkan tenaga dalamku sebagai tameng, mungkin aku akan mendapat luka serius." Gumam Putri Ageng. Puluhan prajurit terluka akibat jurus terakhir yang digunakan Hasea. Beberapa diantara prajurit itu bahkan meregang nyawa.


" Apa kita tidak akan mengejarnya panglima? " Tanya salah satu prajurit kepala sedikit ragu. " Tidak perlu, kita bisa menghadapinya lain waktu. Urus saja prajurit yang terluka."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


 Di beningnya hati ada keruhnya prasangka, di santunnya sapa ada celanya kata. Mohon maaf lahir dan bathin, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H.


***


Teman2, author berharap dukungan dari kalian, cara Utk ngasih support gampang kok


Kalian bisa ;


- Klik like


- Kasih Vote


- Share novel ini ke teman yg lain


- Kasih rate Bintang 5..

__ADS_1


Makasih ya, ga nyangka aja sd sekarang Novel ini sudah 12 ribu viewer..


__ADS_2